Write Without Boundaries

#15HariNgeblogFF2

Kerudung Merah

Impian bagi saya yang sudah 4 bulan tinggal di kota Medan untuk bisa mendatangi danau Toba. Kalau naik pesawat dari Jakarta menuju Medan, saya selalu meminta untuk bisa duduk di kursi A agar bisa menatap Pulau Samosir yang dikelilingi Danau Toba. Pemandangan seperti itu bisa saya nikmati kalau kondisi cuaca cerah.

ke Medan untuk kembali menjalani aktivitasku sebagai pekerja di sebuah perusahaan negeri ini. Sayang cuaca waktu itu sangan tidak bagus, beberapakali pesawat yang aku tumpangin mengalami guncangan. Alhamdulillah setelah 2 jam 15 menit, pesawat mendarat di Bandara Polonia Medan dengan selamat.

Setelah mengurus beberapa pekerjaan yang tertinggal akibat kemaren meeting di Jakarta, bersama-sama teman-teman kantor (yang kebetulan kebanyakan dari Jakarta) kami pun berangkat menuju Tongging- tepat kami berangkat dari Medan selepas sholat maghrib.

Karena kami melakukan perjalanan malam, tidak banyak bisa banyak bercerita tentang situasi perjalanan kami menuju Berastagi, yang menjadi ceckpoint pertama kami. Jalan menuju Berastagi dari Medan cukup baik. Tapi ada beberapa tempat yang jalanan banyak lubang. Maklum saja, jalan ini merupakan jalan propinsi yang banyak dilewati truk-truk besar. Untung saja kami menggunakan mobil yang groundclearence agak tinggi, sehingga tidak khawatir akan lobang-lobang jalanan. Mungkin ini sangat tidak cocok kalau saja menggunakan citycar.

Puas kami menikmat jagung bakar dan segelas bandrek panas, kami pun melanjutkan perjalan. Kurang lebih 20 menit perjalanan dari puncak Penatapan, kamipun memasuki kota kecil yang dinamakan Berastagi. Dulu tahu nama Berastagi hanya dari permainan monopoli dengan harga villa yang tinggi. Tak disangka saya bisa menginjakkan di kecamatan yang masuk dalam wilayah Kabupaten Karo ini.

Berastagi merupakan kota kecil yang banyak menghasilkan sayuran dan buah. Bahkan kalau dipasaran ada nama Jeruk Medan, itu sebenarnya dari kota ini. Selain penghasil sayuran dan buah-buahan ternyata Berastagi juga penghasil bunga yang dikirim ke luar negeri. Udara yang dingin memaksa kami untuk mampir makan malam. Satu jagung, segelas bandrek ditambah dinginnya udara malam kota Berastagi tak mampu mengisi perut kami. Dipilihlah warung kaki lima di pinggir pasar buah. Banyak menu ikan yang ditawarkan ke kami.

Saya pun memberanikan menanyakan menu apa yang paling enak. Si ibu kerudung merah yang penjual menawarkan untuk mencoba “ikan mas arsik”. Saya pun menerima tawaran menu ibu si penjual. Beberapa rekan saya memilih ikan nila bakar.

Tidak terlalu menunggu lama hingga menu pilihan kami berada didepan kami. Tampak potongan ikan mas dengan bumbu warna kuning sudah tersedian di depan saya. “anyep”(dingin) batin saya.

Bagi saya kalau makanan yg sudah anyep, kayaknya kurang enak. Dengan menggunakan sendok alami pemberian Yang Maha Kuasa, saya mencicipi ikan mas arsik tersebut.

Hmmm… pas banget dilidah, kerasa banget bumbu-bumbunya dan terasa pedas lada beberapa saat setelah saya menelan makanan ini. Alhasil saya pun melahap dengan segera makanan khas tanah Karo ini.

Ibu berkerudung merah masih asik melayani pelanggan-pelanggan lain yang sama juga tengah menikmati enaknya ikan mas arsik. Tanpa pengawet! Dan masih segar benar-benar alami. Jarang aku dapatkan di metropolitan tempat asalku pertama kali bekerja.

“Wah enak sekali Bu ikan arsiknya!” aku mengacungkan jempolnya kepada si ibu yang pasti mudanya cantik. Walau penampilannya sederhana  tapi kecantikan sang ibu teepancar dari wajahnya.

Tiba-tiba dari balik pintu muncul gadis dengan kerudung merah yang sama bagai jelmaan sang ibu yang kini sudah mulai senja, tapi gadis ini masih belia dan sangat cantik dengan kerudung merahnya.

“Wis..Wis…!” aku tergagap karena Seno menyikut aku yang masih berpeluh keringat dengan bumbu sambalnya yang pedas dan tangan yang masih bercelemotan nasi menatap gadis berkerudung merah dengan melongo.

“Eh Sen! Sialan kamu nggak bisa liat temen cuci mata!” kataku sengit.

“Dasar!” Seno menimpali.

Aku nekad ingin berkenalan daripada penasaran,” Bu boleh kenal dengan puterinya?” aku main tembak saja.

Si ibu hanya tersenyum. Aku jadi penasaran.

“Ibu nama saya Wisnu, kami sedang berlibur. Kebetulan dikasi cuti ama kantor. Siapa namanya ?” aku menatap tajam gadis berkerudung merah yang merona pipinya merah jambu karena keberanian aku menatapnya.

“Namanya Nila Mas, tapi maaf ya Nila bisu tuli jadi dia tidak tahu juga apa yang kita bicarakan. Maaf ya Mas kalau sudah selesai silakan bayar ke Bapak di depan…” kata ibu Nila santun.

Aku tersadar, tiba-tiba aku jadi teringat tujuan awalku adalah melihat Danau Toba lewat Tongging yang memberikan keindahan yang berbeda dan belum banyak yang terjamah oleh industri pariwisata.

Sambil membayar aku terakhir kali menatap gadis berkerudung yang mencuri hatiku dalam seketika. Kutangkap sebuah sorot mata sendu yang sangat menawan. Tapi….ah sudahlah sepercik debar telah kumulai di sini.

Ilustrasi : rumametmet.com

Bursa Efek Jakarta, 15 Juni 2012,

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s