Write Without Boundaries

Bloofers Story : Blog Of Friendship

Mbak Nelia Pertiwi

Mbak Nelia sahabat duni mayaku. Semua berawal dari pertemanan di FB dan beberapa mengikuti audisi penulisan buku kita sama-sama lolos. Kita saling memuji dan membalas dengan kata senang bisa satu buku.

“Aku bangga bisa satu buku dengan Nelia Pertiwi,” yang kemudian dia akan mention dengan “Saya sangat tersanjung bisa satu buku dengan Dimas Saputra.”

Dan akupun tersanjung, bagaimana aku yang penulis buku pemula diperhatikan oleh Nelia Pertiwi yang aku telah coba seacrhing di google tentang dirinya.

Aku suka membaca tulisan ibu muda yang cantik, karyawati perusahaan swasta dan aktivitas sosial lainnya tapi masih sempat menulis di sela-sela padatnya jam kerja.
Buku antologinya seratus lebih dan beberpa buku tunggal dan dia tetap down to earth.

Kadang sabtu atau minggu aku merindukan sapaannya bila bisa on line, tapi semakin aku sadar dirinya sangat sibuk dan tidak bisa setiap saat bisa on line untuk sekrdar bertegur sapa.

Mbak Nelia pernah bilang,” Maaf aku gak bisa ol fb siang hari karena FB di kantor di blokir juga beberapa blog juga nasibnya diblokir dengan sistem protect IS security Head Office yang menjaring apapun yang berbau blog dan FB is forbidden to use.

Aku sempat heran gila kantor multinasional tapi kok cupu abis! Masak semua di blokir. Mbak Nelia beberapa kali mengeluh akan lingkungan kantornya yang membatasi akses dan merasa tidak nyaman setelah hampir sembilan tahun mengabdi.
Ah aku tidak terlalu paham dengan urusan blokir memblokir karena aku yang bekerja di salah satu perusahaan swasta sama sekali tidak ada sistem blokir akses website.

Dalam suatu chating di malam menjelang pagi saat kopi aku masih mengepul uap panas dan segudang ide on my golden time ingin aku curahkan.
Aku melihat ternyata penulis idolaku tengah on line dan aku tergelitik untuk menyapanya,     “Belum tidur Mbak?” Dan kucercap nikmatnya kopi tubruk panasku.

Lama dirimu menjawab dan selalu begitu. Aku faham pasti kamu tengah konsentrasi dan mempercepat on line FB agar cepat kelar hal yang dianggap penting dan off line secepatnya karen masih ada suami dan puteri kecilmu yang lebih penting untuk ditemani.

Akhirnya ku hanya bisa puas dengan sapaanmu yang datar seperlunya,”Maaf aku off dulu Lila puteriku minta buatin susu dan pasti harus ditemani tidur lagi.”

Tapi sungguh aku begitu sangat maklum bahkan aku kagum dengan time magement-nya yang sangat ketat.

Sungguh aku berusaha banyak bejar dari mbak Nelia Pertiwi untuk memanfaatkan waktu. Mbak Neila tidak segan untuk share tentang apapun dalam dunia penulisan. Dia tetap low profile dan secara halus menolak dalam sebuah group penulisan yang meminta dia memegang salah satu tema acara on line. Dengan alasan kesibukan dan sulitnya ber-FB tapi beliau selalu mengatakan tetap feel free to share.

Dan semakin kagum karena banyak buku-buku yang semakin bertambah, aku kerap inbox,”Selamat Mbak banyak sekali buku-buku terbit semoga barakah!”

Dan aku semakin mengagmi ibu muda yang cantik dengan semburat lesung pipinya saat tersenyum cantik, walau hanya aku saksikan dari berbagai postingan foto dirimu dan keluarga.

Aku sperti secret admirer.

“Mbak bagi tips-nya dong biar bisa menulis produktif seperti Mbak. Sepertinya tidak pernah habis ide untuk menulisnya.” Aku inbox beliau.

Dan sent ada rasa debar kunanti setiap share-nya.
Ketika inbox aku buka dan inilah jawaabanmu yang selalu sarat makna semangat dan tidak sedikitpun tersirat kesombongan,” Menulis adalah belajar adalah proses yang tidak ada selesainya, bahkan semakin kita menekuni makin banyak yang kita tidak ketahui. Inilah never ending process. Menulislah apapun yang ingin kau tulis dengan hati. Menulislah tanpa batas. Wrting without boundaries.”

*****

Ternyata dirimu semakin sibuk tampaknya, aku sempat membaca antalogi terakhir tentang Long Distance Relationship. Ah ternyata mbak Nelian menjalani LDR dengan suaminya.

Aku terkesan dengan tulisannya yang apik dan mengalir. Ada sisi kemalangan yang aku bisa rasakan tapi sisi kemandirian dapat terbaca karena pisah anatar propinsi dengan suaminya. Sehingga mau tidak mau Mbak Nelian kembali menyetir sendiri kemana-mana setelah berapa lama SIM A nya kadaluwarsa.

Aku bagai seorang paparazi yang banyak penasaran tentang penulis produktif dan juga penyemangatku.

Tapi setelah antologi LDR terbit rasanya hampir tiga bulan dirimu vakum, beberapa kali aku kirim inbox sekedar say hello menanyakan,” Sedang menulis apa ? Ada buku baru apa lagi ? Kenapa tidak ada buku terbit lagi ?”  Tapi tidak ada jawaban.

Aku ternyata merindukan mbak Nelia, apalagi saat aku patah hati karena Diana  kekasihku ternyata lebih memilih Dick bos kantornya, ah Diana memutus diriku dengan meremehkan aku yang memilih profesi sebagai penulis.

Saat ku terpuruk  mbak Nelia menghiburku. Padahal dia tidak mengerti fisik aku , tapi dia membesarkan hatiku dengan teori-teori tentang jodoh, “ Bila saatnya pasti mendekat tapi jika saatnya menjauh walau sudah dalam pelukan maka akan tercerai juga.”

Hingga terjawab sebuah misteri lamanya mbak Nelia tidak lagi banyak menerbitkan buku, tiba-tiba muncul buku antologi poligami dan aku membaca sebuah kisah poligami yang engah di alami seorang wanita.

Aku penasaran siapakah wanita yang sebenarnya mbak Nelia ceritakan? Dirinya kah atau dia hanya menceritakan kisah orang lain ? Aku nekad meng-in boxnya dan alangkah pedihnya jawaban beliau,”Ini adalah hal sama teori yang pernah aku bilang. Jika sudah saatnya maka akan mendekat, tetapi bila memang allah sudah berkendak untuk stop! Maka saatnya sampai kita pada suatu masalah yang mengharuskan kita dalam sebuah pilihan yang dinamakan perceraian.”

Kuternganga dan kenapa hatiku merasa ikut sakit atas apa yang menimpa inspiratorku, sahabat dalam duma yang aku kagumi. Tiba-tiba sekilas terkelebat rasa andai beliau ada di dekatku, pasti aku tak akan segan untuk menyandarkan tubuhnya dalam dadaku dan kubiarkan air mata sakit atas pengkhianatan suaminya yang terpisah jarak dan waktu untuk sepuasnya menumpahkan air matanya. Ternyata walau belum pernah jumpa fisik ternyata aku sungguh menyayanginya.

Biodata Penulis

Nenny Makmun – Alumni Magister Management Universitas Sebelas Maret Surakarta. Karyawati di salah satu perusahaan swasta. Menulis tanpa batas (Write without boundaries) dalam http://noorhanilaksmi.wordpress.com/. Buku terbit : Kumpulan Puisi Harian Online Kabari Indonesia – Romansa 36 (Leutika), Kumpulan Cerita Anak Anya dan Peri Biru (Leutika), Kumpulan Cerpen Dalam Sebuah Closet (Leutika), Kumpulan Cerita Anak Negeri Dongeng  Ketika Ketty Menjadi Nomor 2 (Leutika), Antologi Puisi Mutiara Relung Hati (Leutika), Books Your Blog Write Without Boundaries (Leutika). Buku tunggal 5 buah dan antologi 100 buah.

Email : nennyrch02@yahoo.com

FB : Nenny Makmun – Twitter @ichandfay

About these ads

2 responses

  1. Salam hangat sahabat Bloofers :)

    December 17, 2012 at 5:59 pm

    • Salam hangat jufa Boofers :) terima kasih sdah mampir

      December 18, 2012 at 4:43 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s