Write Without Boundaries

Kematian Dalam Antologi

Kode Barcode / ISBN : SDUDMK80712
Jumlah Halaman : 45
Harga CD eBook : Rp 20.000,-
Format Buku Kertas : Rp 49.000,-
Uraian Singkat :

Bismillaahirrahmanirrahiim.

“Memorabilia, Cinta, dalam Seikat Darah Ukhuwah”

Untuk memberi sebuah sambutan atau katakanlah “permulaan” dalam sebuah kumpulan puisi yang nantinya milik seluruh pembaca, sungguh sebuah beban berat walau akhirnya menjadi hal yang mendebarkan sekaligus membahagiakan bagi saya.

Ada semacam ketakutan atau kekhawatiran yang diam-diam menghuni benak ketika- setelah tuntas- menghikmati keseluruhan puisi-puisi yang ditulis 57 penyair dalam Seikat Darah Ukhuwah yang digagas oleh penyair muda Muhammad Asqalani Eneste ini, lantas harus mengabarkan kepada para pembaca seperti apa sari-inti yang terkandung dalam kumpulan puisi-puisi ini. Ketakutan dan kekhawatiran yang terasakan, bahwa dengan kabar ini nantinya malah akan mengurangi pemahaman makna (tafsir) yang seharusnya  indah nan luhur yang akan di tangkap oleh masing-masing pembaca menjadi makna yang buruk.

Namun mengesampingkan perasaan takut dan khawatir tersebut, nyatanya getar-getar bahagia perlahan terus menyelinapi ruang hati saya yang paling dalam bahwasanya, saya memang merasa bahagia mendapati puisi-puisi yang terlahir tidak saja dari jiwa-jiwa yang putih tetapi juga dari “cinta” yang utuh mengendap dalam pikiran masing-masing penyairnya.

Hingga puisi-puisi ini bisa di kabarkan dengan tenang dan jernih. Namun juga penuh semangat yang berkobar. Seperti rindu yang terus berdegub hidup menjelmakan taburan bunga-bunga semerbak terbawa dari masa lalu (kanak) ketika semua terlahir dalam keadaan “suci” dan “sendiri”.

Keadaan yang telah mengekal dalam memorabilia ini menjadi muasal anak-anak puisi lahir, kemudian merangkak setindak demi setindak menjadi kukuh dan teguh dalam menguraikan makna dan rasa menuju wajah (dunia) dan hati yang remaja.

Hingga keseluruhan puisi-puisi ini pun melebur kedalam ranah yang digetarkan oleh alam semesta menyentuh wajah, hati, dan pikiran kita menjadi semacam doa yang tulus secara bersama-sama tersimpulkan kedalam  ikatan serupa “ikrar” dalam lini masa dakwah yang berpendar-pendar dewasa. Menakjubkan!

Maka tidaklah berlebihan jika puisi-puisi dalam Seikat Darah Ukhuwah ini mampu menjalinkan energi satu dengan lainnya menjadi sebentuk sinergi (semangat) membara yang mampu membangkitkan rasa optimisme akan bentuk-bentuk fanatisme yang selama ini kerap mencederai hubungan antar sesama, memunculkan perasaan cemas dan gamang bagaimana nanti keberadaan masa depan generasi mendatang di bumi kita seiring lajunya peradaban.

Disamping itu tentunya telah terbentuk juga riak-riak harapan tentang masa depan “sastra” kita yang dengan adanya gerak bersama seperti sekumpulan Seikat Darah Ukhuwah ini, semoga semakin menggelombangkan arus sastra menuju kemajemukan dan keindahan bahasa sebagai citra bangsa yang tak bertepi.

Namun juga tidak bisa di pungkiri bahwa segala yang ada pada kita adalah fana, segala yang dicipta mutlak kembali ke penciptanya. Meskipun begitu keseluruhan puisi yang ditulis 57 penyair ini mampu meniupkan “ruh” (mempengaruhi) dan  mengajarkan kepada kita:

teruslah berjuang dan berbagi kepada sesama walau hanya dengan segoresan kata

Mohon maaf atas segala kekurangan dan kelemahan saya dalam memberikan kabar di atas yang semoga tidak mempengaruhi perasaan dan pemahaman segenap pembaca.

Maka, sambutlah sekumpulan puisi Seikat Darah Ukhuwah.

***

Jakarta, 19 Juni 2012

Lailatul Kiptiyah– Penulis Puisi dan Penikmat Sastra

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s