Write Without Boundaries

Catatan Harian

Little Kartini Bahagia Bersamamu …

Bahagiaku Bersamamu

my littke kartini

Dan lihatlah para Kartini cilik melenggang di panggung mini dengan beraneka ragam busana daerah. Wajah-wajah anak Indonesia yang masih lugu dengan binar mata menyanyikan lagu Ibu Kita Kartini bersemangat.

21 April merayakan hari Kartini menjadi hari istimewa karena dua puteriku juga melakukan aktivitas yang sama dengan teman-teman lainnya di TK Gardenia Bukit Golf.my littke kartini 2

Icha dan Fay bangun mereka sudah memilih baju yang akan dipakai di Kartinian.

Icha dengan baju kebaya pink Jawa sementara adik Fay memakai baju hijau kuning Betawi.

Icha sudah sibuk ikutan mendadani Fay, tapi adik ternyata milih-milih juga mana yang di mau.

Fay maunya hanya bedakan, eyes shadow dan blash on. Sementara lipstik dan maskara tidak mau.

Dan mbak Icha lengkap, berhubung Kartini modern rambut dikepang saja dan bukan kondean karena emaknya juga nggak bisa ngonde.

Acara Fay lebih pagi pukul 07.30 jadi anter Fay dulu. Sampai di sekolah banyak teman-teman Fay yang lucu-lucu beraneka ragam Bhineka Tungggal Ika.

Tetep saja udah cantik Fay memilih main-main yang tomboy, lihatlah dia sibuk main umpat di kolong tong besi, lalu menyeberang  jembatan besi dan ayunan kencang.

Acara Fay kelarsetelah maju di panggung untung nggak pakai acara nangis ya dhe! Good job deh Sayang!

Pulang bawa goody bag dan piala. Asiiikkk …

Dan mbak Icha acara pukul 10.00 dan setelah siap menjemput sahabatnya Naura lalu ke sekolah untuk melakukan hal yang sama dengan Fay.

Mbak Icha juga alhamdulillah tampil dengan sedikit malu-malu, yang penting sudah tampil dan berani ya mbak Sayang, good!

Dan hari ini tambah koleksi pialanya di rak. Alhamdulillah.

Kebahagiaan sederhanaku saat bersama kalian bisa menulis buku-buku ini Sayang ….

happy cooking_truffle 4

Semoga Ibu tetap terus berkarya dengan tetap di samping kalian … karena bahagiaanku bersamamu ….


Ulasan About Me Dari Bunda Anisae

Link :

http://coretankecilanisa.blogspot.com/2014/04/MenulisTiadaHentiNennyMakmun.html

go to Ritz Carlton_4

Berbagi dan menginspirasi

Aku mengenalnya dari facebook. Lebih tepatnya dari sebuah grup menulis Antologi Es Campur yang kubuat (cie …). Yang membuatku tertarik adalah julukannya sebagai ratu antologi. Ya, namanya telah menghiasi ratusan buku antologi yang diikutinya melalui event-event menulis yang sering diadakan di banyak grup. Ternyata dia tak hanya berkiprah pada penulisan di buku antologi saja, tetapi juga pada beberapa novel yang berhasil ditulisnya

Penulis yang sangat produktif ini bernama Nenny Makmun, seorang ibu dari dua anak yang kini berdomisili di Bogor. Berikut ini ada sedikit ulasan tentang jungkir balik beliau dalam menekuni dunia literasi yang dapat menjadi pelajaran bagi kita terutama yang hendak terjun di dunia kepenulisan.

Nenny Makmun merupakan seorang penulis yang cukup produktif mengingat telah hampir 400 buku antologi yang ada karyanya di dalam buku tersebut. Ia mengaku telah tertarik dengan dunia kepenulisan sejak masih duduk di bangku kelas 4 SD dan terus berlanjut hingga duduk di bangku kuliah. Wanita lulusan program pascasarjana jurusan management Universitas Negeri Surakarta ini pernah bekerja di PT. Samsung Elektronik Ind dan mengundurkan diri pada tahun 2013 awalnya ia mulai mengirimkan puisi karyanya di berbagai majalah lokal.

Penulis telah menelurkan lima novel dan delapan buku antologi yang diterbitkan pada penerbit mayor. Sedangkan pada penerbitan indie, penulis berhasil menelurkan hampir 400 buku. Angka yang sangat fantastis, bukan? Untuk judul buku, kita bisa melihatnya di FB My Book atau di blog.

Karya penulis berupa novel yang diterbitkan pada penerbit mayor diantaranya: Ketika Mulai Mencintai, Di sudut Hati, Karena Aku Memilihmu, Cinta Tanpa Batas, dan Forgotten Angel. Sebelumnya, ia juga pernah mengalami “kemacetan” di mana karya-karyanya hanya sebatas menjadi diary.

Sejak kuliah ia tidak pernah mengirim karya ke media dikarenakan kesibukan pada Unit Kegiatan Mahasiswa lainnya. Lalu, ia mulai menulis lagi pada tahun 2011 dan menertbitkan kumpulan Puisi Romans 36 untuk menyeimbangkan kejenuhan kantor dan keterusan sampai sekarang.

Menurutnya, waktu yang tepat digunakan untuk menulis adalah ketika anak-anak sekolah dan pada saat anak-anak tidur. Jika ditanyakan soal dukungan keluarga, tentu saja baik keluarga maupun kerabat dekat sangat mendukung dan menyupportnya dalam berkiprah di dunia kepenulisan.

Bagi Nenny Makmun, menulis adalah suatu panggilan sehingga ia mengaku hampir tidak ada duka, sebab ia melakukannya dengan suka cita meskipun rasanya sedih juga saat karya yang susah payah ia tulis ditolak penerbit atau event. Namun, ia menjalaninya dengan santai. Hal yang menjadikannya suka pada dunia kepenulisan adalah ketika ia tahu bahwa pembaca menyukai tulisan karyanya dan member banyak masukan.
Jadi secara tidak langsung, antara penulis dengan pembaca saling bertukar pikiran.

Berikut ini adalah tips dari Nenny Makmun untuk kita semua terutama yang bercita-cita menjadi seorang penulis.
• Bila ada ide muncul, langsung catat di note biar tidak lupa.
• Disiplin bagi waktu, mengamati dan mendengarkan curhatan juga bisa menambah inspirasi.
• Menulis itu adalah panggilan dan kebahagiaan. Jadi, jalani dengan senang. Jangan terlalu berharap banyak. Yang penting, lakukan terus. Hal yang paling utama adalah semakin banyak yang membaca, maka akan semakin banyak kita mentransfer ilmu. Dan niat kita baik berbagi karya. Jadi tidak terbebani, santai, dan menyenangkan.

Terakhir, ternyata Nenny Makmun sedang menunggu terbitnya dua novel yang telah di acc dan berharap bisa terbit di tahun ini. Ia mengaku tidak memiliki target tertentu, hanya terus melangkah mengikuti setiap event antologi yang kebetulan bisa ia ikuti. Impiannya ke depan adalah bisa terus menulis tanpa harus meninggalkan kewajibannya sebagai seorang ibu rumah tangga. Ia menikmati mengurus dua buah hatinya yang bernama Fay dan Icha.
Nenny Makmun bisa dihubungi lewat twitter @ichandfay. Bisa juga add fb Nenny Makmun.
- See more at: http://coretankecilanisa.blogspot.com/2014/04/MenulisTiadaHentiNennyMakmun.html#sthash.gmG5uMZk.FBpy7e2b.dpuf

Berbagi dan menginspirasi

Aku mengenalnya dari facebook. Lebih tepatnya dari sebuah grup menulis Antologi Es Campur yang kubuat (cie …). Yang membuatku tertarik adalah julukannya sebagai ratu antologi. Ya, namanya telah menghiasi ratusan buku antologi yang diikutinya melalui event-event menulis yang sering diadakan di banyak grup. Ternyata dia tak hanya berkiprah pada penulisan di buku antologi saja, tetapi juga pada beberapa novel yang berhasil ditulisnya

Penulis yang sangat produktif ini bernama Nenny Makmun, seorang ibu dari dua anak yang kini berdomisili di Bogor. Berikut ini ada sedikit ulasan tentang jungkir balik beliau dalam menekuni dunia literasi yang dapat menjadi pelajaran bagi kita terutama yang hendak terjun di dunia kepenulisan.

Nenny Makmun merupakan seorang penulis yang cukup produktif mengingat telah hampir 400 buku antologi yang ada karyanya di dalam buku tersebut. Ia mengaku telah tertarik dengan dunia kepenulisan sejak masih duduk di bangku kelas 4 SD dan terus berlanjut hingga duduk di bangku kuliah. Wanita lulusan program pascasarjana jurusan management Universitas Negeri Surakarta ini pernah bekerja di PT. Samsung Elektronik Ind dan mengundurkan diri pada tahun 2013 awalnya ia mulai mengirimkan puisi karyanya di berbagai majalah lokal.

Penulis telah menelurkan lima novel dan delapan buku antologi yang diterbitkan pada penerbit mayor. Sedangkan pada penerbitan indie, penulis berhasil menelurkan hampir 400 buku. Angka yang sangat fantastis, bukan? Untuk judul buku, kita bisa melihatnya di FB My Book atau di blog.

Karya penulis berupa novel yang diterbitkan pada penerbit mayor diantaranya: Ketika Mulai Mencintai, Di sudut Hati, Karena Aku Memilihmu, Cinta Tanpa Batas, dan Forgotten Angel. Sebelumnya, ia juga pernah mengalami “kemacetan” di mana karya-karyanya hanya sebatas menjadi diary.

Sejak kuliah ia tidak pernah mengirim karya ke media dikarenakan kesibukan pada Unit Kegiatan Mahasiswa lainnya. Lalu, ia mulai menulis lagi pada tahun 2011 dan menertbitkan kumpulan Puisi Romans 36 untuk menyeimbangkan kejenuhan kantor dan keterusan sampai sekarang.

Menurutnya, waktu yang tepat digunakan untuk menulis adalah ketika anak-anak sekolah dan pada saat anak-anak tidur. Jika ditanyakan soal dukungan keluarga, tentu saja baik keluarga maupun kerabat dekat sangat mendukung dan menyupportnya dalam berkiprah di dunia kepenulisan.

Bagi Nenny Makmun, menulis adalah suatu panggilan sehingga ia mengaku hampir tidak ada duka, sebab ia melakukannya dengan suka cita meskipun rasanya sedih juga saat karya yang susah payah ia tulis ditolak penerbit atau event. Namun, ia menjalaninya dengan santai. Hal yang menjadikannya suka pada dunia kepenulisan adalah ketika ia tahu bahwa pembaca menyukai tulisan karyanya dan member banyak masukan.
Jadi secara tidak langsung, antara penulis dengan pembaca saling bertukar pikiran.

Berikut ini adalah tips dari Nenny Makmun untuk kita semua terutama yang bercita-cita menjadi seorang penulis.
• Bila ada ide muncul, langsung catat di note biar tidak lupa.
• Disiplin bagi waktu, mengamati dan mendengarkan curhatan juga bisa menambah inspirasi.
• Menulis itu adalah panggilan dan kebahagiaan. Jadi, jalani dengan senang. Jangan terlalu berharap banyak. Yang penting, lakukan terus. Hal yang paling utama adalah semakin banyak yang membaca, maka akan semakin banyak kita mentransfer ilmu. Dan niat kita baik berbagi karya. Jadi tidak terbebani, santai, dan menyenangkan.

Terakhir, ternyata Nenny Makmun sedang menunggu terbitnya dua novel yang telah di acc dan berharap bisa terbit di tahun ini. Ia mengaku tidak memiliki target tertentu, hanya terus melangkah mengikuti setiap event antologi yang kebetulan bisa ia ikuti. Impiannya ke depan adalah bisa terus menulis tanpa harus meninggalkan kewajibannya sebagai seorang ibu rumah tangga. Ia menikmati mengurus dua buah hatinya yang bernama Fay dan Icha.
Nenny Makmun bisa dihubungi lewat twitter @ichandfay. Bisa juga add fb Nenny Makmun.
- See more at: http://coretankecilanisa.blogspot.com/2014/04/MenulisTiadaHentiNennyMakmun.html#sthash.gmG5uMZk.FBpy7e2b.dpuf

Berbagi dan menginspirasi

Aku mengenalnya dari facebook. Lebih tepatnya dari sebuah grup menulis Antologi Es Campur yang kubuat (cie …). Yang membuatku tertarik adalah julukannya sebagai ratu antologi. Ya, namanya telah menghiasi ratusan buku antologi yang diikutinya melalui event-event menulis yang sering diadakan di banyak grup. Ternyata dia tak hanya berkiprah pada penulisan di buku antologi saja, tetapi juga pada beberapa novel yang berhasil ditulisnya

Penulis yang sangat produktif ini bernama Nenny Makmun, seorang ibu dari dua anak yang kini berdomisili di Bogor. Berikut ini ada sedikit ulasan tentang jungkir balik beliau dalam menekuni dunia literasi yang dapat menjadi pelajaran bagi kita terutama yang hendak terjun di dunia kepenulisan.

Nenny Makmun merupakan seorang penulis yang cukup produktif mengingat telah hampir 400 buku antologi yang ada karyanya di dalam buku tersebut. Ia mengaku telah tertarik dengan dunia kepenulisan sejak masih duduk di bangku kelas 4 SD dan terus berlanjut hingga duduk di bangku kuliah. Wanita lulusan program pascasarjana jurusan management Universitas Negeri Surakarta ini pernah bekerja di PT. Samsung Elektronik Ind dan mengundurkan diri pada tahun 2013 awalnya ia mulai mengirimkan puisi karyanya di berbagai majalah lokal.

Penulis telah menelurkan lima novel dan delapan buku antologi yang diterbitkan pada penerbit mayor. Sedangkan pada penerbitan indie, penulis berhasil menelurkan hampir 400 buku. Angka yang sangat fantastis, bukan? Untuk judul buku, kita bisa melihatnya di FB My Book atau di blog.

Karya penulis berupa novel yang diterbitkan pada penerbit mayor diantaranya: Ketika Mulai Mencintai, Di sudut Hati, Karena Aku Memilihmu, Cinta Tanpa Batas, dan Forgotten Angel. Sebelumnya, ia juga pernah mengalami “kemacetan” di mana karya-karyanya hanya sebatas menjadi diary.

Sejak kuliah ia tidak pernah mengirim karya ke media dikarenakan kesibukan pada Unit Kegiatan Mahasiswa lainnya. Lalu, ia mulai menulis lagi pada tahun 2011 dan menertbitkan kumpulan Puisi Romans 36 untuk menyeimbangkan kejenuhan kantor dan keterusan sampai sekarang.

Menurutnya, waktu yang tepat digunakan untuk menulis adalah ketika anak-anak sekolah dan pada saat anak-anak tidur. Jika ditanyakan soal dukungan keluarga, tentu saja baik keluarga maupun kerabat dekat sangat mendukung dan menyupportnya dalam berkiprah di dunia kepenulisan.

Bagi Nenny Makmun, menulis adalah suatu panggilan sehingga ia mengaku hampir tidak ada duka, sebab ia melakukannya dengan suka cita meskipun rasanya sedih juga saat karya yang susah payah ia tulis ditolak penerbit atau event. Namun, ia menjalaninya dengan santai. Hal yang menjadikannya suka pada dunia kepenulisan adalah ketika ia tahu bahwa pembaca menyukai tulisan karyanya dan member banyak masukan.
Jadi secara tidak langsung, antara penulis dengan pembaca saling bertukar pikiran.

Berikut ini adalah tips dari Nenny Makmun untuk kita semua terutama yang bercita-cita menjadi seorang penulis.
• Bila ada ide muncul, langsung catat di note biar tidak lupa.
• Disiplin bagi waktu, mengamati dan mendengarkan curhatan juga bisa menambah inspirasi.
• Menulis itu adalah panggilan dan kebahagiaan. Jadi, jalani dengan senang. Jangan terlalu berharap banyak. Yang penting, lakukan terus. Hal yang paling utama adalah semakin banyak yang membaca, maka akan semakin banyak kita mentransfer ilmu. Dan niat kita baik berbagi karya. Jadi tidak terbebani, santai, dan menyenangkan.

Terakhir, ternyata Nenny Makmun sedang menunggu terbitnya dua novel yang telah di acc dan berharap bisa terbit di tahun ini. Ia mengaku tidak memiliki target tertentu, hanya terus melangkah mengikuti setiap event antologi yang kebetulan bisa ia ikuti. Impiannya ke depan adalah bisa terus menulis tanpa harus meninggalkan kewajibannya sebagai seorang ibu rumah tangga. Ia menikmati mengurus dua buah hatinya yang bernama Fay dan Icha.
Nenny Makmun bisa dihubungi lewat twitter @ichandfay. Bisa juga add fb Nenny Makmun.
- See more at: http://coretankecilanisa.blogspot.com/2014/04/MenulisTiadaHentiNennyMakmun.html#sthash.gmG5uMZk.FBpy7e2b.dpuf

Berbagi dan menginspirasi

Aku mengenalnya dari facebook. Lebih tepatnya dari sebuah grup menulis Antologi Es Campur yang kubuat (cie …). Yang membuatku tertarik adalah julukannya sebagai ratu antologi. Ya, namanya telah menghiasi ratusan buku antologi yang diikutinya melalui event-event menulis yang sering diadakan di banyak grup. Ternyata dia tak hanya berkiprah pada penulisan di buku antologi saja, tetapi juga pada beberapa novel yang berhasil ditulisnya

Penulis yang sangat produktif ini bernama Nenny Makmun, seorang ibu dari dua anak yang kini berdomisili di Bogor. Berikut ini ada sedikit ulasan tentang jungkir balik beliau dalam menekuni dunia literasi yang dapat menjadi pelajaran bagi kita terutama yang hendak terjun di dunia kepenulisan.

Nenny Makmun merupakan seorang penulis yang cukup produktif mengingat telah hampir 400 buku antologi yang ada karyanya di dalam buku tersebut. Ia mengaku telah tertarik dengan dunia kepenulisan sejak masih duduk di bangku kelas 4 SD dan terus berlanjut hingga duduk di bangku kuliah. Wanita lulusan program pascasarjana jurusan management Universitas Negeri Surakarta ini pernah bekerja di PT. Samsung Elektronik Ind dan mengundurkan diri pada tahun 2013 awalnya ia mulai mengirimkan puisi karyanya di berbagai majalah lokal.

Penulis telah menelurkan lima novel dan delapan buku antologi yang diterbitkan pada penerbit mayor. Sedangkan pada penerbitan indie, penulis berhasil menelurkan hampir 400 buku. Angka yang sangat fantastis, bukan? Untuk judul buku, kita bisa melihatnya di FB My Book atau di blog.

Karya penulis berupa novel yang diterbitkan pada penerbit mayor diantaranya: Ketika Mulai Mencintai, Di sudut Hati, Karena Aku Memilihmu, Cinta Tanpa Batas, dan Forgotten Angel. Sebelumnya, ia juga pernah mengalami “kemacetan” di mana karya-karyanya hanya sebatas menjadi diary.

Sejak kuliah ia tidak pernah mengirim karya ke media dikarenakan kesibukan pada Unit Kegiatan Mahasiswa lainnya. Lalu, ia mulai menulis lagi pada tahun 2011 dan menertbitkan kumpulan Puisi Romans 36 untuk menyeimbangkan kejenuhan kantor dan keterusan sampai sekarang.

Menurutnya, waktu yang tepat digunakan untuk menulis adalah ketika anak-anak sekolah dan pada saat anak-anak tidur. Jika ditanyakan soal dukungan keluarga, tentu saja baik keluarga maupun kerabat dekat sangat mendukung dan menyupportnya dalam berkiprah di dunia kepenulisan.

Bagi Nenny Makmun, menulis adalah suatu panggilan sehingga ia mengaku hampir tidak ada duka, sebab ia melakukannya dengan suka cita meskipun rasanya sedih juga saat karya yang susah payah ia tulis ditolak penerbit atau event. Namun, ia menjalaninya dengan santai. Hal yang menjadikannya suka pada dunia kepenulisan adalah ketika ia tahu bahwa pembaca menyukai tulisan karyanya dan member banyak masukan.
Jadi secara tidak langsung, antara penulis dengan pembaca saling bertukar pikiran.

Berikut ini adalah tips dari Nenny Makmun untuk kita semua terutama yang bercita-cita menjadi seorang penulis.
• Bila ada ide muncul, langsung catat di note biar tidak lupa.
• Disiplin bagi waktu, mengamati dan mendengarkan curhatan juga bisa menambah inspirasi.
• Menulis itu adalah panggilan dan kebahagiaan. Jadi, jalani dengan senang. Jangan terlalu berharap banyak. Yang penting, lakukan terus. Hal yang paling utama adalah semakin banyak yang membaca, maka akan semakin banyak kita mentransfer ilmu. Dan niat kita baik berbagi karya. Jadi tidak terbebani, santai, dan menyenangkan.

Terakhir, ternyata Nenny Makmun sedang menunggu terbitnya dua novel yang telah di acc dan berharap bisa terbit di tahun ini. Ia mengaku tidak memiliki target tertentu, hanya terus melangkah mengikuti setiap event antologi yang kebetulan bisa ia ikuti. Impiannya ke depan adalah bisa terus menulis tanpa harus meninggalkan kewajibannya sebagai seorang ibu rumah tangga. Ia menikmati mengurus dua buah hatinya yang bernama Fay dan Icha.
Nenny Makmun bisa dihubungi lewat twitter @ichandfay. Bisa juga add fb Nenny Makmun.
- See more at: http://coretankecilanisa.blogspot.com/2014/04/MenulisTiadaHentiNennyMakmun.html#sthash.gmG5uMZk.FBpy7e2b.dpuf

Berbagi dan menginspirasi

Aku mengenalnya dari facebook. Lebih tepatnya dari sebuah grup menulis Antologi Es Campur yang kubuat (cie …). Yang membuatku tertarik adalah julukannya sebagai ratu antologi. Ya, namanya telah menghiasi ratusan buku antologi yang diikutinya melalui event-event menulis yang sering diadakan di banyak grup. Ternyata dia tak hanya berkiprah pada penulisan di buku antologi saja, tetapi juga pada beberapa novel yang berhasil ditulisnya

Penulis yang sangat produktif ini bernama Nenny Makmun, seorang ibu dari dua anak yang kini berdomisili di Bogor. Berikut ini ada sedikit ulasan tentang jungkir balik beliau dalam menekuni dunia literasi yang dapat menjadi pelajaran bagi kita terutama yang hendak terjun di dunia kepenulisan.

Nenny Makmun merupakan seorang penulis yang cukup produktif mengingat telah hampir 400 buku antologi yang ada karyanya di dalam buku tersebut. Ia mengaku telah tertarik dengan dunia kepenulisan sejak masih duduk di bangku kelas 4 SD dan terus berlanjut hingga duduk di bangku kuliah. Wanita lulusan program pascasarjana jurusan management Universitas Negeri Surakarta ini pernah bekerja di PT. Samsung Elektronik Ind dan mengundurkan diri pada tahun 2013 awalnya ia mulai mengirimkan puisi karyanya di berbagai majalah lokal.

Penulis telah menelurkan lima novel dan delapan buku antologi yang diterbitkan pada penerbit mayor. Sedangkan pada penerbitan indie, penulis berhasil menelurkan hampir 400 buku. Angka yang sangat fantastis, bukan? Untuk judul buku, kita bisa melihatnya di FB My Book atau di blog.

Karya penulis berupa novel yang diterbitkan pada penerbit mayor diantaranya: Ketika Mulai Mencintai, Di sudut Hati, Karena Aku Memilihmu, Cinta Tanpa Batas, dan Forgotten Angel. Sebelumnya, ia juga pernah mengalami “kemacetan” di mana karya-karyanya hanya sebatas menjadi diary.

Sejak kuliah ia tidak pernah mengirim karya ke media dikarenakan kesibukan pada Unit Kegiatan Mahasiswa lainnya. Lalu, ia mulai menulis lagi pada tahun 2011 dan menertbitkan kumpulan Puisi Romans 36 untuk menyeimbangkan kejenuhan kantor dan keterusan sampai sekarang.

Menurutnya, waktu yang tepat digunakan untuk menulis adalah ketika anak-anak sekolah dan pada saat anak-anak tidur. Jika ditanyakan soal dukungan keluarga, tentu saja baik keluarga maupun kerabat dekat sangat mendukung dan menyupportnya dalam berkiprah di dunia kepenulisan.

Bagi Nenny Makmun, menulis adalah suatu panggilan sehingga ia mengaku hampir tidak ada duka, sebab ia melakukannya dengan suka cita meskipun rasanya sedih juga saat karya yang susah payah ia tulis ditolak penerbit atau event. Namun, ia menjalaninya dengan santai. Hal yang menjadikannya suka pada dunia kepenulisan adalah ketika ia tahu bahwa pembaca menyukai tulisan karyanya dan member banyak masukan.
Jadi secara tidak langsung, antara penulis dengan pembaca saling bertukar pikiran.

Berikut ini adalah tips dari Nenny Makmun untuk kita semua terutama yang bercita-cita menjadi seorang penulis.
• Bila ada ide muncul, langsung catat di note biar tidak lupa.
• Disiplin bagi waktu, mengamati dan mendengarkan curhatan juga bisa menambah inspirasi.
• Menulis itu adalah panggilan dan kebahagiaan. Jadi, jalani dengan senang. Jangan terlalu berharap banyak. Yang penting, lakukan terus. Hal yang paling utama adalah semakin banyak yang membaca, maka akan semakin banyak kita mentransfer ilmu. Dan niat kita baik berbagi karya. Jadi tidak terbebani, santai, dan menyenangkan.

Terakhir, ternyata Nenny Makmun sedang menunggu terbitnya dua novel yang telah di acc dan berharap bisa terbit di tahun ini. Ia mengaku tidak memiliki target tertentu, hanya terus melangkah mengikuti setiap event antologi yang kebetulan bisa ia ikuti. Impiannya ke depan adalah bisa terus menulis tanpa harus meninggalkan kewajibannya sebagai seorang ibu rumah tangga. Ia menikmati mengurus dua buah hatinya yang bernama Fay dan Icha.
Nenny Makmun bisa dihubungi lewat twitter @ichandfay. Bisa juga add fb Nenny Makmun.
- See more at: http://coretankecilanisa.blogspot.com/2014/04/MenulisTiadaHentiNennyMakmun.html#sthash.gmG5uMZk.FBpy7e2b.dpuf


Kebahagiaanku Bersamamu

Dan The Bay Bali Menyatukan…

the bay bali

 

“Ibu lihat ada Brown di sini…” Icha tampak girang melihat segerombolan kelinci yang ada di kandang dan beberapa ekor lepas.

“Wah iya kenapa Brown ada di sini ya Dhe ?” Kataku menanggapi puteri kecilku yang tengah girang menemukan seekor kelinci berwarna coklat seperti yang dimiliki Naura sahabatnya di kompleks Bukit Golf Jakarta.

Selanjutnya aku menyaksikan pemandangan begitu bahagianya puteriku melihat kelinci-kelinci lain yang merupakan teman-teman Brown.

Dengan girang dia memberikan satu persatu nama,”Wah itu Black! Gold! Polkadot! Snow White! Olaf!” nama-nama asing yang kerap di dengar dari buku cerita yang aku bacakan menjelang tidur malam atau film yang baru saja populer di Desember 2013 kemarin Frozzen dengan tokoh boneka salju bernama Olaf.

Setelah puas bermain-main dengan kelinci berlari dan dipeluknya, dia mulai memperhatikan anak-anak sebayanya yang tengah asik menggambar di bawah pohon rindang. Seorang petugas menyapanya dan langsung membimbing untuk menggambar.the bay bali_2

 Aku duduk agak menjauh menikmati keramahan sekeliling di Sunday Market yang sebelumnya tidak pernah aku rencanakan sama sekali.

Setelah 9.3 tahun aku bekerja mencoba mengaplikasikan ilmu S2 yang aku peroleh dengan kerja keras. Aku menempuh S2 sambil bekerja pada sebuah perusahaan farmasi sebagai seorang detailer. Senin sampai Jumat aku bekerja dengan target-target bertemu dokter untuk menerangkan obat-obat ethical yang aku pegang dan tentu saja satu paket dengan target omset yang kadang membuat aku stres kalau tidak tercapai.

Hari Sabtu dari pagi sampai malam aku kuliah Magister Manajemen di Universitas Sebelas Maret Surakarta. Aku berusaha keras merampungkan kuliah dengan tepat waktu. Dan berhasil satu setengah tahun aku kelar meraih gelar S2.

Aku mulai loncat mencari pekerjaan lain dan aku diterima di sebuah perusahaan elektronik multinasional sebagai Sales Support.

Dua tahun bekerja aku menemukan jodohku dan menikah. Setahun kemudian aku memiliki seorang puteri Icha. Bukan hal yang mudah memiliki bayi dan bekerja kantoran. Kadang ada perasaan tidak tenang karena Icha hanya dengan bibi di rumah.

Tidak ada pilihan kami berdua harus bekerja demi kelangsungan hidup di kota Jakarta yang serba mahal dalam segala hal.

Dan waktu berjalan bagitu saja sepertinya banyak yang aku lewatkan begitu saja pertumbuhan puteriku yang semakin beranjak besar.

Acara sekolah play group sesekali bisa aku ikuti bila dapat ijin dari pihak kantor yang juga menuntut tinggi akan kehadiran aku di kantor.

Kadang hanya bisa melihat dari foto-foto yang dikirim ibu teman balitaku yang berbaik hati memotret Icha dalam suatu kegiatan sekolah.

Sedih saat dia mulai suka protes,”Kenapa anak-anak lain di antar ibunya, sementara Icha hanya di antar bibi dan mang Dawi (tukang ojek langganan).”

Aku hanya bisa menjawab,”Sabar ya Sayang, Ibu juga ingin selalu dekat denganmu tapi sabar ya suatu saat nanti pasti Ibu pulang ke rumah dan selalu menunggui kamu. Sekarang Ibu kerja dulu mengumpulkan uang untuk biaya sekolah Icha sampai besar.”

***

Dan waktu berjalan hingga tidak terasa suami yang bertugas di luar Jakarta meminta untuk aku mengundurkan diri. Sebuah kesepakatan yang maju satu tahun dari rencana.

Suami mulai keberatan karena load kerjaan aku di Jakarta meninggalkan puteriku, sementara beliau juga tidak bisa dekat kami berdua merasa khawatir akan perkembangan Icha yang dipegang bibi.

Tentu saja bukan keputusan yang mudah 9.3 tahun aku bekerja mencoba mengejar karir tiba-tiba harus mengundurkan diri.

Tapi demi melihat perkembangan buah hati kami dan tidak keurus, apalagi bibi semakin tua sementara Icha juga mulai suka ikut les-les maka tidak ada pilihan atau sebenarnya pilihan terbaik untuk aku kembali ke rumah.

Sejenak mengabaikan S2-ku, karirku semata menjadi ibu rumah tangga utuh untuk keluargaku.

***

Hanya ikhlas yang bisa aku lakukan, aku seorang ibu dan kewajiban utamaku memang mengurus rumah dan menjaga amanat suami.

Untuk mengisi hari-hari di rumah aku kembali menulis agar otak tetap bekerja dan tidak merasa terpuruk.

Nyatanya perlahan aku mulai menikmati menjadi seorang ibu Rumah Tangga apalagi 9.3 tahun tidak mengurus rumah banyak sekali yang harus dibenahi.

Dan saat aku menulis ini setengah tahun aku menjadi Full Time Mother nyatanya kebahagian sederhana adalah bisa selalu dekat dengan puteriku. Mengetahui perkembangan dia menit demi menit, mendengar celoteh dia saat menjemput sekolah dengan kejadian-kejadian yang di alami di kelas.

Saat aku menunggu dia di gerbang sekolah jelang pulang sekolah, kerap tanpa sengaja aku jadi memperhatikan anak-anak lain yang menunggu jemputan. Mata anak-anak balita itu begitu bening dan binar mata mereka berbeda saat yang menjemput ibunya sendiri dengan hanya pembantu.

Binar mata anak yang dijemput ibunya terlihat sangat ceria dan sepertinya banyak hal yang ingin segera diceritakan tetapi sebaliknya kalau yang jemput tukang ojeknya, mbak atau bibi mereka hanya terdiam dan sinar matanya tampak redup.

Aku menjadi trenyuh, kemarin-kemarin Icha mengalami hal seperti itu,”Maafkan Ibu ya Nak, tapi Ibu janji tidak akan meninggalkan kamu lagi. Ibu akan bekerja semampu Ibu di dekatmu. Ibu mungkin hanya menjadi penulis biasa dan mungkin saja tidak memperoleh secara materi lebih seperti waktu Ibu bekerja di perusahaan multinasional tapi Ibu bahagia masih diberi kesempatan mendampingimu di masa emasmu.”

***

Sunday market kuhirup udara segar dan semilir angin di Nusadua Bali dalam kenyaman perut yang terisi makanan dengan bumbu nusantara The Bay Bali bagai surga dunia kurasakan.the bay bali_5

 Aku mengajak puteri kecilku berlibur membayar hampir lima tahun aku tidak mendampinginya karena kesibukan kantor. Hasil kerja 9,3 tahun dengan ijin suami aku alokasikan untuk berlibur bersamanya karena suami tidak bisa ikut beliau harus tetap dinas. Dan memang aku hanya ingin berdua saja dengan puteri kecilku yang sekarang tengah berlari mendekatiku sambil membawa hasil gambarnya.

“Lihat Ibu gambarku, keren-kan ?” katamu percaya diri.

 “Kereeen sekali Nak.”

Dan memang aku terharu akan gambar puteriku, sebuah coretan seorang ibu dan anak perempuannya bergandengan tangan lalu di bingkai dalam gambar love. Di bawahnya bertuliskan” I Love You Mom.”

Aku masih saja terharu dan tiba-tiba Icha sudah menarik aku sambil berteriak,”Ayo Ibu sekarang kita main istana pasir! Lihat pantainya sangat indah dan bersih! Dan lihat Ibu itu sepertinya ada kura-kura! Kereeeeen sekali Ibu! Kapan-kapan kita harus ajak Ayah kemari ya Ibu!”

“Tentu Sayang … Ayahmu harus sesekali disuruh berlibur dan kita bisa bersama-sama menikmati kebersamaan di The Bay Bali yang amazing ini!”

 The Bay Bali dengan segala keindahan dan fasilitas yang ramah membantu aku menyatukan hati dengan Icha yang bertahun-tahun sebelum bangun tidur aku tinggal berangkat kantor dan malam saat pulang dari kantor yang selalu macet dari tol ke tol sudah tidur terlelap.

Makanan di berbagai restoran yang luar biasa. Layanan di pantai, yang fantastis, termasuk buah-buahan segar eksotis yang dibawa dengan es minuman.

Klub anak-anak yang fantastis. Kami mengunjungi dekat candi dan pasar. Staf yang sangat ramah dan orang yang menjalankan hotel adalah orang yang hebat. Untuk kemewahan dan indulgensi, termasuk fab spa, itu adalah untuk tidak boleh dilewatkan.

Dan aku mengejar Icha yang sudah ingin melepas kegembiraannya di pantai Pirates Bay dengan aktivitas yang menyenangkan.

the bay bali_4

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Proyek Menulis Letters of Happiness: Share your happiness with The Bay Bali & Get discovered! www.thebaybali.com 


Side of Just Me : When I Try to Share …

Ketika Harus Bicara …

ts_arsip kino (8)

Jujur hal yang aku hindari adalah ketika harus banyak bicara di depan orang banyak. Aku tidak terlalu percaya diri makanya dari dulu aku memilih apa-apa di balik layar.

Bukan nggak mau share tapi entah kenapa grogi kalu sudah di depan orang banyak, makanya lebih suka ngobrol on line.

Dan pada suatu waktu harus talk show dan membuat beberapa hari waktu talk show  22 Febuari 2014 tidur nggak nyenyak, kepikiran aja. Pokoknya udah minta bantu sana-sini dan doa.

Tapi aku coba untuk meyakinkna diri kalau aku harus berbagi dengan cara apapun termasuk talk show dan aku coba apa adanya saja.

Bersyukur dipandu mbak Riri Ansar dan mas Novanka Raja juga dari pihak Gramedia MC nya mas Rully yang komunikatif juga.

Kereen deh melihat bertiga bisa bicara lepas. Maybe someday bisa ya …

ts_arsip kino (10)

Dan untungnya aku ada teman sesama penulis mas Petra Shandi yang asik banget deh kerja sama dalam jawab pertanyaan, jadi bisa ada jeda napas bila sulit pertanyaannya.

Rada bingung waktu ditanya masalah menciptakan konflik yang bagus bagaimana ? dan cara menentukan karakter yang kuat gimana nemunya ?

Aku jawab konflik yang bagus dan seberapa tajam konflik itu kembali ke personal juga si, karena bisa saja kita ciptakan masalah dan sudah dianggap paling meruncing dan ribet tapi belum tentu anggapan orang lain. Dan biasanya memang aku share dengan orang lain kalau buat cerita. Apakah konflik ini sudah cukup menarik bila ada tanggapan balik sebagai masukan itu bisa jadi materi untuk meneruskan tulisan kita.

Bang Petra juga menyarankan banyak membaca dan banyak menggali akan bermacam-macam konflik dari berbagai sumber bisa lagu, membaca, menonton atau jalan-jalan. Ini juga akan membangunkan inspirasi menciptakan konflik. Pokoknya keren penjelasan Bang Petra Shandi.

Sama-sama kita jadi bertukar pikiran. Dan kebanyakan anak-anak ABG yang datang. Gak apa-apa pencintanya Anak Baru Gedhe. Lucu dan imut masih …serasa jadi muda lagi.

Sementara karakter biasanya memang ngebayangin orang-orang yang kenal atau diam-diam tahu tapi bisa juga saran Bang Petra dari tokoh-tokoh terkenal artis.

Tentu saja secara pribadi saya mengucapkan terima kasih pada Kinomedia Writer Akademik buat kesempatan untuk bisa share fun dan warm.

Masih banyak dan liputan terlengkap ada di : http://kinomediawriter.co.id/kinomedia-goes-to-tb-gramedia-grha-cijantung-jakarta-pebruari-2014/

Keterangan :

Foto-foto : milik Kinomedia Writer Akademik


Penggalangan Buku Antologi Untuk Sinabung

Doa Untuk Sinabung #Pray For Sinabung

Bersabarlah Tanah Karo

Sinabungpun memuntahkan lahar

Bagai protes alam yang menyadarkan

Betapa kita adalah kecil dan tak berdaya

Ketika Sinabung meletus meluapkan awas panas

Tangisan dan jeritan ketakutan

Lenyap dengan dentuman

Korbanpun berjatuhan

Duka pun tak terelakan

Hanya doa-doa dan harapan

Memohon pengampunan dan kebaikan

Sang Khalik pencipta alam untuk

Meredakan bencana ini

Bersabarlah tanah Karo

Kita akan selalu bersama

Satu negeri yang berduka

Cimanggis Bukit Golf_14022014 22:04

Sumber link : https://www.facebook.com/groups/1401962033392032/

Menghimbau kepada saudara sekalian yang telah menyatakan bergabung dalam Persatuan Penyair Peduli Bencana, yang karyanya telah siap untuk segera dikirimkan ke Rose Marry St, dan mentransfer donasi sumbangan yang telah disepakati ke rekening mbak Seyhan Zuleha. Sebab buku episode 1 akan segera diproses. Kita targetkan maksimal tanggal 20 Februari sudah mulai bisa disusun.

Selain itu, karya-karya juga diperlukan untuk dibacakan saat acara Ngamen Sastra Keliling Kota. Jjadi semisal karyanya belum genap 5 bisa dikirim dulu sedapatnya agar bisa digunakan ngamen.

Jadwal ngamen yang telah terlaksana kemarin Minggu 9 Februari di kota Malang, diikuti mbak Seyhan Zuleha dari CRTV Malang, Bpk Bambang Eka Prasetya dari Magelang, Andry Pituin dari Cianjur, Dll.

Jadwal ngamen berikutnya:
1. 16 Februari di Kota Trenggalek, yang telah memberi konfirmasi kehadiran: Ummi Salma Pacitan, Seyhan Zuleha, Ary Nurdiana Ponorogo, Tulus Setyadi Madiun, St Sri Emyani Trenggalek, Koko Prianto Trenggalek dan beberapa lain dari kota Trenggalek, Tulungagung dan sekitarnya.

2. Tgl 2 Maret di Kota Ponorogo.

Bagi rekan lain yang berada di Indonesia, dapat berkoordinasi untuk jadwal kegiatan ngamen berikutnya di kota masing-masing.

Salam Peduli Bencana.


Aksi JPIN Peduli Bencana_Pray For Kelud

Teguran Bijak

 

Jangan bersedih saudaraku

atas teguran ini

karena hakikatnya setiap teguran

akan menjadikan kita lebih dekat

dan menjadi lebih bertaqwa

 

Jangan meratap saudaraku

tapi berdoalah dan memohon

segera berlalu apa yang terjadi

dan kita menjadi manusia

yang lebih baik lagi

 

Bersabarlah saudaraku

kita semua peduli dan bersama

dengan kalian

jangan menyerah

mari kita tunaikna hidup ini

dengan lebih tawakal

 

Roemah Cinta Boekit Golf, 17022014 19:17

AKSI JPIN PEDULI BENCANA

pray for kelud

Bapak/Ibu yang berniat untuk membantu korban bencana Kelud, dapat disalurkan melalui Rekening JPIN Peduli Bencana 2014 yakni Bank BRI unit Kras Kediri, No Rek. 6277-01-019389-53-3 an. Ririn Rahayu Astuti Ningrum. Bantuan akan kami salurkan kepada mereka yang membutuhkan.

Nimas Kinanthi (Ririn Rahayu Astuti Ningrum)
Koordinator Program JPIN Peduli Bencana 2014


Talk Show Gramedia Cijantung 22 Feb 2014 14.00 – 16.00

Kinolover,

Buat kalian yang ingin mengenal lebih dekat Penulis-penulis dari Kinomedia dan ingin berbagi pengetahuan dunia menulis mereka, datang yuk ke TB Gramedia Grha Cijantung, Pasar Rebo-Jakarta hari Sabtu 22 Pebruari 2014 jam 14:00 – 16:00 wib. Selain bisa tanya jawab langsung, kalian juga bisa dapetin 5 novel gratis! Acaranya FREE, cukup datang dan mari berbagi ilmu bersama!kinomedia goes to gramedia cijantung

Talkshow kali ini menghadirkan 2 penulis super romantis, Nenny Makmun dan Petra Shandi yang akan dipandu oleh penulis novel inspiratif Riri Ansar juga Novanka Raja. Jadi, rugi banget deh kalau sampai tak datang!

Catat tanggalnya ya!
cc Zettu


Talk Show Novel Cinta Tak Mendendam_Ketika Mulai Mencintai & Di Sudut Hati

Bismillah…

Dear all kalau mau sama-sama share tentang novel bersama saya dan Mas Petra Shandi  silakan datang  :

Talk show 22 Pebruari jam 2-4 sore, di Gramedia Cijantung, Jakarta

Tempat Talkshow tgl 22 Pebruari jam 2-4 sore, mba Nenny dan Bangpet di Gramedia Cijantung, Jakarta

TB. GRAMEDIA CIJANTUNG
Mal Cijantung,Lt 3 No.5-8
Jl.Pendidikan l,Cijantung Pasar Rebo,Jaktim
Telp.(021)8779 7856-57
Fax.(021)8779 2622

Kita bisa berbagi tentang novel with fun “Cinta Tak Mendendam” karya Mas Petra Shandi dan novel saya “Ketika Mulai Mencintai” dan “Di Sudut Hati”

Cinta Tak Mendendam_Petra Shandi

petra shandy_cinta tak mendendam

Ketika Mulai Mencintai dan Di Sudut Hati_Nenny Makmun

KMM dan DSH with coffe morning

Dears …

Catat ya di agenda untuk menyempatkan hadir dan bertukar pengalaman.

 Acara terselenggara oleh : Kinomedia Writer Academy

Cc : Mas Novanka Raja_Mba Riri Ansar


Me and My Novel

Ketika Mulai Mencintai

ketika mulai mencintai_cover by novanka raja

go to Ritz Carlton_6

Novel : Ketika Mulai Mencintai

Penulis : Nenny Makmun
Penerbit : Zettu
Terbit : Agustus 2013
Tebal : 194 hal
Harga : Rp. 30.500,-

Sinopsis :

First love never die! Zita tidak pernah bisa lari dari kenyataan kalau hatinya mengkristal hanya untuk cowok ini. Hingga tertutup mata hatinya ada seorang cowok yang telah menyukainya dari masa kecil mereka bahkan mungkin pernah menyatu milyaran tahun lalu.

Hati yang terlanjur membeku, entah membutuhkan waktu berapa lama untuk membuatnya kembali bernyawa. Mampukah kekuatan cinta yang ada menyusun kembali kepingan-kepingan hati yang berarak hingga pada titik ketika mulai mencintainya walaupun terlambat.

I knew I loved you before I met you , I think I dreamed you into life, I knew I loved you before I met you, I have been waiting all my life.

2. Di Sudut Hati

cover DSH

go to Ritz Carlton_8

Novel : Di Sudut Hati

Penerbit : Rumah Oranye
Penulis : Nenny Makmun
Terbit : September 2013
Tebal : 226 hal
Harga : Rp. 37.500,-

Sinopsis :

Kadang cinta hadir tiba-tiba tidak melihat kondisi apapun. Tresa dan Aksan sama-sama jatuh cinta. Cinta tidak pernah salah, kondisilah yang sering melarutkan cinta dalam sebuah perjalanan terjal.

Karena cinta tidak hanya berbicara pengorbanan tetapi juga tentang keberanian.

Cinta bukanlah sebatas harapan namun juga komitmen.

Pada akhirnya, setiap cinta akan menemukan kisahnya, sekedar cerita perjalanan hidup yang tetap tersimpan di sudut hati atau cinta akan menghantarkan pemiliknya pada kebahagiaan.


Kinomedia WriteAintment : Nenny Makmun

Cek linknya : http://kinomediawriter.co.id/kinomedia-writainment-nenny-makmun/

me and my novelSinopsis : Di Sudut Hati

Link : http://kinomediawriter.co.id/sinopsis-novel-di-sudut-hati-karya-nenny-makmun/

cover DSH

Sinopsis : Ketika Mulai Mencinta

Link : http://fiksi.kompasiana.com/novel/2013/09/29/novel-ketika-mulai-mencintai_nenny-makmun-594116.html

ketika mulai mencintai_cover by novanka rajaFoto : Milik Kino Media Writer

Enjoy Reading Dears ….


Inspirasi sharing

Jatuh Bangun Penulis

Me And My Novel

Sebenarnya ini bukan apa-apa tapi kalau boleh aku menganggap sebagai awal perjuangan ketika akhirnya dua novelku bisa diterima di penerbit mayor dan bertengger di toko buku Gramedia, Toga Mas, Gunung Agung.

            Sebuah resolusi di awal tahun 2013 setelah sekian banyak buku indie yang aku hasilkan dari berbagai event dimana sebelumnya banyak sekali naskah-naskah yang ditolak penerbit sempat mebuat aku merasa putus asa.

            Saat itu aku masih bekerja kantoran menulis hanyalah sekedar hoby yang bisa menjadi terapi hati karena bisa membantu meminimalisasi stress kerjaan di kantor.

            Saat memulai menulis lagi yang sempat aku tinggalkan berat tapi semakin kemari aku mulai mendisiplinkan diri dan menyukai dunia tulis kembali. Sampai pada titik aku mengundurkan diri dari kerjaan karena tuntutan sebagi ibu.

            Aku tidak mau berdiam diri sebisa mungkin mulai terus bergerak dengan menekuni tulisan. Awal yang berat apalagi berharap tulisan kita dinilai orang dengan tinggi. Aku tidak mau muluk-muluk, yang ada adalah berusaha dan berusaha.

            Hingga ada kesempatan aku mencoba mengirim novel-novel yang hanay tersimpan di leptop ke sebuah penerbit. Alhamdulillah selama tiga bulan menunggu ada khabar kalau novelku di acc dan akan diterbitkan nasional.

            Rasanya saat itu aku sangat bersyukur dan semangat menulis lagi sebuah novel yang aku kirim ke agensi yang sama, bahkan dalan dua bulan mendapat khabar kalau acc juga.

            Sepertinya baru kemarin-kemarin aku menangis karena banyak sekali naskah yang ditolak dan aku putus asa mau gimana lagi.

            Tapi kekuatan hati semakin ditolak penerbit naskah kita, aku semakin banyak mencari tahu tips-tips agar naskah disukai penerbit sekaligus pembaca. Dengan mempelajari tulisan teman-teman penulis, berdiskusi di grup penulisan, berlatih setiap hari untuk mendapatkan feelnya, tidak takut mencoba tulisan apa saja, aktif ikut audisi indie, sharing  banyak mendapat ilmu dan informasi.

            Sekarang sedang menunggu dua novelku terbit lagi setelah novel pertama berjudul Ketika Mulai Mencintai dan Di Sudut Hati beredar.

            Sungguh tulisan ini adalah juga sharing bahwa Tuhan akan memeberi jalan pada kita bila kita teguh dengan impian yang baik dan terus berusaha tanpa putus asa. Saya yakin secara material tidak bisa dirasakan sepenuhnya sekarang tetapi tulisan adalah jejak amal yang bisa terus hidup walau penulisnya tiada.

            Aku percaya segala usaha tidak ada yang sia-sia, selalu semangat meraih mimpi-mimpi indah kita. Akupun menikmati jatuh bangun untuk jadi penulis, sebuah mimpi menjadi penulis yang dicintai pembacanya.

tulisan diikutkan event : http://inspirasi.co/


Selamat Jalan Mima…Selamat Jalan Sahabat…

Mengenalmu tidak terlalu dekat, hanya sebatas kamu suka mengomentari tulisanku.

Dan hari ini setelah  bebrapa bula dirimu terbaring dengan sakit yang tidak pernah bisa aku mengerti secara logika, maaf karena aku bukan dokter.

Hari ini saat aku puasa dan mencoba prihatin tawakal untuk sebuah obsesi dirimu menghembuskan nafas terakhir, tanpa sempat kita share tentang novel yang sedang aku buat.

Kamu ternyata suka menulis, dan amazing saat memberi masukan tentang novelku yang terbengkalai.

Tapi sahabat sekarang bukan hanya mengejar obsesi pribadi, demi kamu aku akan rampungkan novel yang akan aku dedicated untukmu.

Umur rahasia Tuhan, you are so young…but sometime we just accepted what God’s destination for us.

Selamat jalan sahabat, walau sejenak mengenalmu…tapi kamu mengingatkan sesuatu yang sangat berharga akan kematian yang juga akan kita lewati.

Tenanglah di alam fana…your daughter “Chika” akan baik-baik saja!

nennyrch02: http://hukum.kompasiana.com/2011/01/11/watch-out-kejahatan-terhadap-wanita-berkeliyaran/Bookmark

Mima Oktafianty: ibu white itu siapa

nennyrch02: temen

Mima Oktafianty: untung aku ga pernah ngangkot lg skrg…

Mima Oktafianty: tp jadi was2

nennyrch02: iya itu temen baik juga, satu perumahan

Mima Oktafianty: keadaannya belum tau?

nennyrch02: pastinya trauma…difotonya aku liat babak belur

nennyrch02: dan berdarah…

nennyrch02: kasian sekali….bener2 prihatin

Mima Oktafianty: ya allah

Mima Oktafianty: blm diketahui penjahatnya

nennyrch02: belum mudah2 cepet di temukan …apalagi suaminya kan kapten polisi

Mima Oktafianty: tp kok udah ada fotonya

nennyrch02: di foto ama kakaknya di BB

nennyrch02: tadi aku di liatin

Mima Oktafianty: ooh

Mima Oktafianty: mksd aku.. si bu white nya dah ktmu?

nennyrch02: aku serching di internet belum ada beritanya

nennyrch02: udah

Mima Oktafianty: ck ckc ck kasian ya

nennyrch02: di buang di tol Citerep

nennyrch02: di tolongin

Mima Oktafianty: di ambil semua nya?

nennyrch02: itu juga yang belum tau

nennyrch02: baru kemarin senen kejadiannya

Mima Oktafianty: ooo

nennyrch02: moga2 cuma barang aja yang diambil

Mima Oktafianty:  iy smoga

Mima Oktafianty: uang bs d cari lg

Last message received on 1/11 at 1:43 PM

 


Pengumuman Hasil Event Ini Kultumku

Alhamdulillah

Minggu, 25 November 2012

 
Pengumuman Hasil Event Ini Kultumku

Bismillahirrahmanirrahim
Setelah melalui penghitungan, inilah dia poin tiap peserta

1. Syarifah Zahrina Firda – Kemana semangatmu wahai pemuda? #Jumlah nilai : 365
2. Erni Nuraeni Azizah – Bermimpilah! Karena mungkin sebagian dari mimpimu, adalah kehidupanmu saat ini. ##Jumlah nilai : 380

3. Nenny Makmun - Meraih Kesuksesan Dengan Hati #Jumlah nilai : 385
4. Nuri Aprillia Ramadhona – Mentarbiyahkan Cinta: Seperti Ran dalam Conan, Sylvester Stallone, atau Ubbad bin Bisyr#Jumlah nilai : 405
5. Saya Lisa Alishobat Ishomuddin – Remaja Kini #Jumlah nilai : 365Dengan demikian, 2 peraih nilai tertinggi yang berhak mendapatkan hadiah adalah….
no 3 dan 4. Kepada Mba Nenny Makmun dan teh @Nur Aprilia Ramadhona. Mohon sms ke 0852233929033. Format, Bismillah -spasi- nama

Terima kasih untuk semua peserta. InsyaAllah, secara berkala kultum-kultum ini akan kami posting di Blog KPS.

Alaisallahu biahkamil hakimin
Tentu saja ada kekurangan, namun hasil ini tidak bisa diganggu gugat. Demikian semoga maklum. Nantikan “Ini Kultumku” berikutnya. Yang punya usulan tema silakan tulis di kolom komentar…

Diposkan oleh di 16:12


Semoga Bermanfaat

Rumah Baca – Rumah Khayalan KAISA

gift to tb Kaisa (1)

Membaca tentang Rumah Khayalan KAISA di

http://s4ngp3ngkh4y4l.wordpress.com/2012/12/02/rumah-baca-kaisa/

saya tertarik untuk share buku dongeng buat adik-adik di sini.

Hari ini telah saya kirim dua buku anak-anak. Semoga suka ya …. :)


Project Novel Keroyokan

Synopsis novel keenam “Susan Ngesot”
by Ririen Narsisabiz Pashaholic on Saturday, October 6, 2012 at 1:37pm ·

Hay semua, setelah sukses nerbitin novel kuntilanak gaul yaitu menceritakan percintaan kuntilanak dan tuyul.

Nah kali ini ririen yang imut bakal garap novel lagi yaitu SUSAN NGESOT.

Saat mendengar susan pasti yang ada di benak kalian adalah boneka yang lucu dan imut, terkenal di tahun 90 an. Kini susan hadir lagi tapi kali ini susannya ngesot. nah lho? Bingung kan? makanya simak synopsisnya.

Reni gadis cantik, imut nan chubby, reni punya saudara kembar namanya Rena. Rena ini jatuh cinta sama pacarnya reni, pacarnya reni pun jatuh cinta sama Rena akhirnya mereka berselingkuh di belakang reni. Suatu saat reni memergoki pacarnya berselingkuh dengan Rena. Reni langsung down, ia sangat marah sama Rena.

Reni mengeluarkan uneg-unegnya annya di facebook, ia update status “SAUDARA KEMBAR GILA, TEGA MEREBUT KEKASIH SAUDARANYA SENDIRI”

Terus ada 5 orang yang koment, mereka adalah Rere, Rangga, Natasya, Rahma. Mereka itu menghibur Reni, dengan kata-kata bijak lah.

Akhirnya Reni menjalin persahabatan dengan Rere, Rangga, Natasya, Rahma. persahabatan mereka tidak hanya terjalin di facebook tapi juga terjalin di handphone alias telpon-telponan.

Suara Reni imut banget sehingga Rere, Rangga, Rahma memanggil Reni dengan sebutan SUSAN. Suatu hari si Natasya enggak sengaja ngucapin kata, “SUSAN NGESOT” akibat ucapan Natasya Reni kecelakaan dan arwahnya gentayangan. Wujud Reni berubah, Reni jadi kecil seperti boneka susan, parahnya lagi Reni ngesot.

Reni berusaha menemui natasya minta mencabut ucapannya tapi Natasya g bisa melihat dia. menemui teman-teman yang lain pun hasilnya nihil mereka tak bisa melihat Reni. Tapi si Rangga bisa melihat Reni karena Rangga mempunyai kacamata ajaib pemberian kakeknya, kalo menggunakan kacamata itu ia bisa melihat makhluk halus, saat rangga bertemu Reni, Rangga ngakak. karena baginya Reni adalah hantu terlucu dan imut yang pernah ia lihat.

Rangga berjanji akan membantu Reni. sejak saat itulah persahabatan Reni dan Rangga makin erat. kemanapun Rangga pergi ikut. Hingga akhirnya reni jatuh cinta dengan Rangga. suatu saat Reni mengungkapkan cinta pada Rangga, tapi sayang menolak Reni alasannya beda alam dan Rangga masih mencintai mantannya.

Reni patah hati ia pergi ke discotik alam gaib, ia ingin melupakan sakit hatinya dengan minum-minuman keras. di discotik itu Reni bertemu pocong yang suka dugem.

Apakah Reni akhirnya bisa jatuh cinta ke pocong itu?

Nantikan aja novelnya, Susan ngesot hanya ada di novel gue!! masih dalam penggarapan. siapa yang mau jadi patner gue?

Bab 1 masih digarap Sonya. yang mau ngasih ide tambahan juga boleh.


Brakfast ba-bi Damn :)

Pingiiin marah juga kesal! pagi-pagi ternyata beberapa rekan kantor sedang pesta (maaf!) ba-bi….

Aduh itu bau menyengat banget … kita bertiga yang berderet dalam satu urutan kursi kerja benar-benar nek (ENEG), langsung deh minyak kayu putih yang bertengger di meja aku kita samber bergantian.

Kita semua menghirup minyak kayu putih.

Selidik punya selidik ternyata teman-teman nm (non muslim) NGGAK SEMUA LHO ! sedang ber-brakfast riang menikmati ba-bi breakfast dalam kemasan siomay. Upppsssssss……itu baunya bertebaran booo! dan kami speechless

Ah nasib-nasib nguli di perusahaan beragam budaya, tapi kurang manner (Maaf!)


Kapal Pecah Home!

Rumah Bak Kapal Pecah Tapi Icha Gembira

Catatan hari ini 17 Sep 2012

Pulang kantor aaaaks rumah aku tinggal rapi jadi kaya kapal pecah, olalala ternyata rumah kedatangan tamu teman ayah dan ada anak-anak kecil.

Dan puteriku Icha sedang bergembira berasama teman barunya Kakak Ivi memakai baju kaos kuning sama dari Sea World (Agaiin! seteah sabtu terpuaskan di SW) dan bondu dengan beragam binatang laut bertengger di kepalanya. It’s so funnny!

Pingin marah dan kesal rumah yang harus rapi! (gak bisa gak rapi masalahnya :) ) jadi hilang sama sekali karena Icha dan Fay tampak ceria dengan teman-teman barunya.

Rrumah yang barusan rapi karena pagi sebelum ngntor sudah tertata rapi dan pulang kantor   jadi acak adut gak jelas, mainan udah di susun dan rapi kabur ke sana-kemari, sandal berserakan, buku-buku bertebaran dan berbagai charger leptop, hp, notebook. Semuanya waaaakkkksss…..My Home =Kapal Pecah

Tapi Alhamdulillah bersyukur semakin banyak yang berkunjung pasti Insya Allah mendatangkan banyak rezeki.

Jadi siapa takut rumah berantakan kaya kapal pecah ? gampanglah dirapiin lagi … it’s a part my duty as mom and cleaning the house is my hobby Right !

Dan aku sudah sangat terbiasa …

Uppps ya Ibu pastilah rumah dengan anak-anak kecil tidak bisa selalu rapi but inilah seninya kali ya.

Beruntung banyak yang suka berkunjung dan menginap di istana kecil kami.

My Home Sweet Home ….

 Saatnya nguli dulu ah !


My Boring Day

Rasanya Hari Ini Jenuh!

Nggak tahu hari ini tidak ada semangat kerja sepertinya ada hubungan kemarin, masih masalah hati.

Ah masalah hati ketika ketidakmengertian atau disengaja….

Dan kesumpekan hari Senin ini…” I Hate Monday but I Wanna Enjoy This Time With “ kunikmati my green tea latte dan kuresapi setiap detik kenikmatannya.

My  Green Tea Late 

But  I Wanna Be Happy, Enjoy and Keep My Spirit

picture ilustrasi : koleksi pribadi taken own my pic


My Nulisbuku Story

Is So Easy and Simple

Saya suka menulis dan telah lama penasaran kalau bisa tulisan terealisasi dalam bentuk buku.

Kemudian ada teman mengajurkan berkunjung ke blog www.nulisbuku.com dan so amazing sangat menarik. Saya mulai utak atik naskah yang selama ini tertumpuk  dalam leptop untuk bisa dibukukan.

Saking penasaran dan ingin memegang naskah dalam bentuk buku aku kejar sehari dari mengumpulkan naskah, membuat lay out cover sederhana dan mulai up load .

Karena pertama kali tentu saja agak gaptek tetapi apa yang tersedia di nulis buku sangat friendly user jadi aku mulai asik meng up load dan mengikuti step by step perintah yang sudah terprovide.

Nulis buku benar-benar web site yang mewujudkan para penulis pemula bahkan senior untuk membukukan tulisan-tulisan mereka.

Setelah mengup-load dan done! Kita transfer seharga buku yang telah kita sepakati dengan nulis buku,

Saatnya berdebar menuggu hadirnya buku yang akan dicetak kurang lebi 1-2 minggu di luar hari kerja sabtu dan minggu.

Saat pertama kali membuka bungkusan dari NB sungguh deg-degan, dan rasa penasaran terbayar dengan sebuah buku yang dicetak rapid an manis.

Buku pertama saya di NB adalah buku : Kumpulan Puisi Anak-anak Bangsa  kemudian berlanjut banyak ikut antologi dan ternyata terbit di NB.

Dari event September tahun lalu 11project11buku saya banyak menghasilkan buku karena tulisan saya banyak menjadi buku.

Hingga sekarang kurang lebih tulisan saya terbit di NB ada  31 buku terbit.

Hasil cetakan NBbenar-benar rapi dan erat lemnya sehingga awet.

So don’t miss itu made your book here.

Berkunjung ke koleksi buku ku

http://noorhanilaksmi.wordpress.com/my-books-kumpulan-puisi-romansa-36/


Loker

copas dr grup penulisan :


Rezeki Kemenangan Di Awal Shaum

Alhamdulillah di tag sahabat saya mas HW Prakoso menginfokan juara dua sayembara penulisan mini cerita yang dilakukan teman-teman Penulis di Yaman. Sebuah anugerah yang memacu untuk terus berkarya. Terima kasih buat juri tersebut (untuk lengkapnya ada di link) :

Melihat perjuangan temen2, jadi semakin semangat menulis lagi.. (Walau sebenernya pengin di balik layar aja.. hehe)

Selamat buat bunda Nenny Makmun, dapat Juara 2 Sayembara Cerita Mini Internasional PPI Yaman.
http://www.ppiyemen.com/wp-content/uploads/2012/06/PEMENANG%20DAN%20100%20NOMINATOR%20TERBAIK.pdf

Info dari Nimas Kinanthi, selamat juga buat yang lain..

Semoga memotivasi teman-teman pembaca blog Writing Without Boundaries !
Semakin berkarya di bukan ramdhan sahabat….

Sebuah Anugerah Juara Ke Tiga Penulisan Puisi

Dengan FLP Bekasi Event Tujuh Warna

Akhirnya piala dan piagam datang juga. Narsis habis foto dengan piala dan piagam yang merupakan prestasi dalam penulisan puisi yang diselenggaralan Forum Lingkar Pena Bekasi Desember 2011.

Jujur ini sangat surprise mengingat puisi adalah sebuah keindahan kata dan saya bisa mewujudkan walau bukan juara utama, tapi saya cukup berbesar hati dengan apa yang teraih. Semoga semakin memacu dan menginspirasi teman-teman untuk terus menulis. Tetap menulis tanpa batas dan menulislah dengan hati.

Dan inilah yang banyak memberi motivasi saya dalam menulis dua puteriku yang sangat aku sayangi. Ibu love you all!


CONTOH 2: CERPEN YANG LAYAK MENANG LMC 2012

 

Attar*

(*Juara II LMCR Rohto 2011

Oleh Afifah Afra

Jadi, siapakah jajak insan yang hendak kau jerat dengan jejala retinamu, Jelita? Tanpa peduli detak waktu yang terus berputar, kau terus saja menebar jaring pandangmu. Padahal, piranti penjeratmu begitu sempit. Sementara, padang ini membentang seluas mata memandang.

Dan, tempat ini pun pastinya tak selaras dengan napas keindahan yang kau asakan. Ini bukan wahana penenggat penat. Bukan pula sarana rehat. Ini sebuah tempat yang sangat akrab dengan bahaya. Lihatlah puncak gunung yang terbelah, dengan kepulan asap solfatara yang menguar dari celah kawah. Tataplah bebatang pohon yang pekat. Rumah-rumah separoh rencah, perabot nan sisakan kerangka besi atau belukar hangus yang menghamparkan permadani kelam.

Semua itu, mestinya mampu menggemparkan saraf ketenangan di otakmu. Kau tahu penyebabnya, Jelita? Ya, gumpalan awan panas itu, yang disebut orang-orang sebagai wedhus gembel, telah melelehkan semuanya. Juga gelontoran lumpur dan bebatuan panas yang tiba-tiba termuntahkan dari lambung gunung, yang menjulang di depan kita. Tahukah kau, mereka akan datang sewaktu-waktu tanpa kita duga? Sudah banyak yang bergelimangan sebagai korban. Jadi, mengapa kau tak pergi juga?

Ya, Jelita. Aku mampu mendeteksi kelindan pikirmu. Kau tak lelah, dan mungkin tak akan lelah. Ada sesuatu yang besar, yang menggumpal di dadamu. Sebuah obsesi yang panasnya mungkin mengalahkan bahang wedhus gembel. Paling tidak, aku telah membuktikannya. Sejak lima hari terakhir ini, kau selalu mendatangi tempat ini, bahkan sebelum cahaya mentari menyambangi alam.

Begitu fajar merekah, deru suara kendaraanmu yang bingar, menggetar semak belukar yang hangus terbakar. Saat itulah, aku melihatmu turun dari jeep putih itu, berjalan pelan, dan berdiri memandang lautan pasir ini, dengan sepasang mata penuh kabut. Seharian penuh kau menapakkan kaki mungilmu yang terbungkus sepatu boot, memahat tapak-tapak frustasi, menyusuri depa demi depa lokasi yang telah porak poranda. Kau hanya akan berhenti jika gelap bertandang. Kau pergi dengan seonggok resah, yang kutebak tak membuatmu sanggup lelap saat beristirahat. Buktinya, paginya,dengan setia kau datangkembali.

Kau mencari sesuatu, atau seseorang. Atau seseorang yang telah menjadi sesuatu. Mungkin pasir, mungkin batu. Napasmu menghembuskan  kesedihan. Bahkan, seolah-olah elan hidupmu telah tercerabut, menyublim dan menyatu dengan hawa.

Kau tampak begitu kusut. Rambutmu yang tergerai indah, mungkin lama tak tersentuh sisir. Beruntung, kain hitam yang kau balutkan di rambutmu itu,  mampu melindungi mahkota bajangmu itu. Pakaian yang kau kenakan pun selalu itu. Kulot baby jeans biru, t’sirt hitam, dan mantel panjang menutup lebih dari separoh tubuhmu. Juga syal itu. Syal warna pelangi yang selalu saja berkibar-kibar dimainkan angin.

Namun begitu, tak ada yang bisa menutupi pancaran pesona wadagmu, Jelita. Bahkan, aku pun terpesona tatkala memandangimu. Wajahmu yang lembut, sangat mirip gurat lukisan gadis-gadis klasik yang melintas di petala imajinasi para perupa abad pertengahan. Maka, aku pun tak bisa menyimpan rasa cemburu, sekaligus mengira-ngira, betapa bahagianya orang yang berhasil  merapat di pelabuhan hatimu.

Matahari telah begitu terik, keringat menganak sungai dan menderasi wajahmu yang memerah lelah. Saat itulah, kau mendekatiku. Tetapi, tatapan matamu begitu kosong. Kau tak ingin menyapaku, dan hanya bersedia untuk duduk di sebuah batu di sampingku. Batu yang juga telah pekat tergampar awan panas.

“Attar … di mana kau?” kau bersuara. Aku terkesima. Ya,baru kali ini aku mendengarmu bersuara.

“Attaaaaaaar!” tiba-tiba kau berteriak, sangat nyaring. Seperti sebuah katarsis yang ingin coba kau hempaskan. Sayangnya, teriakan yang pastinya dilambari sekian joule energi itu, menjadi tak bernilai apa-apa saat tertelan hamparan luas yang kini telah berubah menjadi lautan pasir.

Ya, lautan pasir.

Jelita, bolehkah aku bercerita? Dahulu, padang pasir itu adalah sebuah aliran sungai. Sebuah jurang sedalam lebih dari duapuluh meter. Aliran sungai yang membawa kesegaran dari pegunungan. Namun, saat sang arga murka, ia mengeluarkan jutaan ton material vulkanik, yang digelontorkan lewat aliran sungai ini. Pohon, semak dan bebatuan, kini terbenam pasir. Bahkan juga rumah-rumah yang berada di sekitar aliran sungai. Jika lembah ini sekarang telah rata dengan tanah, bisakah kau bayangkan, betapa dahsyat kejadian itu, Jelita?

“Attaaaaaaar!”

Attar? Lengkinganmu yang kedua menghentakkan kesadaranku. Nama itu, ya … tiba-tiba ada yang terasa lekat dalam diriku. Sangat lekat. Coba, beri waktu aku barang sejenak untuk mengheningkan cipta, Jelita. Rasa-rasanya, aku mengenal nama itu.

Sebentar … sebentar, Gadis Ayu! Sepertinya, slide episode itu ada di memoriku. Aku akan memutarnya kembali. Nah, itu … aku melihat film itu terputar kembali.

“Attar, pulang kau! Jangan coba-coba menentang maut!” teriak seorang lelaki tegap, berseragam lapangan yang khas: celana kakhi, kaos lengan panjang, rompi, sepatu boot dan berbagai peralatan yang tak terlalu asing bagiku. Ya, karena hampir empat atau lima tahun sekali, saat hura-hara itu datang, orang-orang seperti mereka selalu saja aku jumpai bertebaran di tempat ini.

“Tak mungkinlah aku pulang, Bang!” lelaki muda itu berkata, keras dan tegas. Sembari berdiri tegak, ia menatap lurus lelaki tegap itu dengan pandangan menusuk. Ah… aku sungguh sangat terkesan padanya. Ia memiliki sepasang mata setajam elang. Pandangan itu melekat kuat pada jejaring memoriku, dengan ujung-ujung dendrit yang begitu peka terhadap memori baru. Itulah sebabnya, begitu kau menyebut nama itu, dengan seketika slide itu muncul di lanskap anganku.

“Aku sudah memutuskan jadi relawan. Aku akan berjuang sebisanya di sini! Jika aku pergi, meninggalkan mereka yang tengah terluka, aku akan sama derajatnya dengan pecundang.”

“Jangan mengorbankan diri. Kubur idealismu sejenak saja. Wedhus gembel bisa datang seketika dan melumatkan tubuh kita. Sudah ada beberapa relawan yang menjadi korban. Apa kau tidak takut?”

“Tidak ada yang kutakutkan di dunia ini kecuali kepengecutan itu sendiri!”

“Attar, sekali lagi aku menasihati. Kau masih terlalu muda. Sangat muda, malahan. Masa depanmu masih sangat panjang. Dan, kau belum berpengalaman menjadi relawan bencana alam.”

“Aku pernah  ke Padang saat gempa, beberapa kali  tanah longsor, dan ….”

“Letusan merapi berbeda dengan bencana apa pun di negeri ini, Attar!” suara lelaki berkumis lebat itu meninggi. “Di sini, kita harus berhadapan dengan badai piroclastic yang sewaktu-waktu meluncur dengan kecepatan ratusan kilometer per jam.Sangat berbahaya jika kita berada di titik luncuran itu. Jadi, pulang sajalah! Nanti, jika status awas sudah diturunkan, kau bisa datang lagi dan menjadi relawan untuk aktivitas yang lebih aman. Recovery misalnya. Bakti sosial, pengobatan massal, atau apalah … yang penting bukan rescue. Terlalu besar risikonya.”

Anak muda bermata elang itu bergeming. Entahlah. Rasa takut dalam jiwanya mungkin telah menguapdan melayang ke angkasa, bergabung dengan atmosfir bumi. Meski koordinator relawan itu berkali-kali mengusirnya, tetap saja ia selalu siap dengan seragam dan peralatan tim rescue-nya.Ia bahkan selalu menjadi yang pertama hadir. Dengan tenang ia meloncat ke atas landrover berban mati—atau terkadang mobil haglun alias kendaraan amfibi milik PMI yang menjadi mobil operasional para relawan.

Apakah Attar itu, anak muda berhati baja yang kau maksud, Jelita? Lelaki muda yang menjadi salah satu dari belasan relawan yang saat subuh menyaksikan ‘neraka’ membentang di hamparan bekas Sungai Gendol. Belasan relawan yang lantas terbelalak menyaksikan luapan material Merapi yang menimbun daerah aliran sungai yang semula berkedalaman sekitar 25 meter itu.

Pijar jingga memancar dari areal yang sangat luas. Terasa menyilaukan mata di pagi yang masih pekat. Rasa-rasanya, permukaan itu telah diselimuti selapis tebal, dan lebar: permadani bara.

“Mengejutkan!” desah pimpinan tim rescue itu. “Musibah ini justru terjadi pada titik yang dikira aman, KM ke 17. Lava pijar dimuntahkan dari Merapi, dan hanyut di aliran sungai ini. Berapa banyak korban yang jatuh? Lihatlah, daerah ini telah tertimbun material erupsi. Rumah-rumah penduduk di tepi sungai tak terkecuali.”

“Ini … ini benar-benar neraka di depan mata,” bisik lelaki muda bernama Attar itu. Ada rasa gugup melanda jiwanya. Yah, siapa yang tak akan bergetar hatinya ketika berhadapan dengan sisa bencana sedahsyat erupsi Merapi saat itu?

“Kau takut?” tanya sang pimpinan.

Attar mendengus. “Tidak! Sekali aku memancang tekad, maka tak ada seorang pun yang akan mampu menghentikanku.”

Oh, sungguh anak muda berhati karang. Siapamukah anak muda itu, Gadis Ayu?

“Kepala batu!” rutuk si senior.

“Lihat, itu ada sebuah rumah!” teriak Attar. “Ya Allah, ada seseorang berdiri di depan pintu. Seorang nenek! Lihat, ia melambaikan tangan ke kita! Ayo, kita tolong!”

Attar bergerak cepat. Namun tangan kokoh sang senior menariknya. “Jangan gegabah. Semua harus penuh perhitungan. Kita memang akan menyelamatkan mereka, tetapi keselamatan kita sendiri juga harus kita perhatikan. Menuju rumah itu harus melewati hamparan lumpur pijar. Kau mau,tubuhmu menjadi seperti ini?!”

Sang senior memasukkan sebatang bambu yang sejak tadi ia pegang ke sebuah tempat yang mengepulkan asap. Sisa-sisa lava. Beberapa relawan berseru kaget, ketika melihat bambu itu terbakar.

“Benar-benar mengerikan!”

“Yeaah! Bayangkan, suhu asal material ini, ketika meluncur dari Merapi, sekitar seribu derajat celcius. Sekarang, mungkin sudah mulai mendingin, tetapi tetap saja bisa menghanguskan tubuh kita.”

Attar mengangkat wajah. Ada resah membayang. Aku tahu, ia gelisah melihat nenek tua yang melambai-lambaikan tangan di tengah kepungan lumpur dan material pijar.“Tetapi, Bang! Kita harus mencari cara, bagaimana bisa mencapai rumah itu, dan menolong nenek itu,” desahnya.

“Ada satu cara, tetapi memang penuh risiko,” desis sang senior. Ia pun kemudian memerintahkan pada relawan mengambil batang-batang bambu yang telah mereka persiapkan. Beruntung, bambu itu tidak sampai terbakar ketika bersentuhan dengan lumpur panas, mungkin karena suhu lumpur yang berada di permukaan tanah, tak sepanas sisa lava yang ada dalam genangan. Namun, tetap saja lumpur itu bisa membuat kaki melepuh jika dilewati secara langsung.

“Sekarang, siapa yang hendak mencoba meniti bambu ini?”

Para relawan saling pandang. Namun, tanpa banyak berpikir, si kepala batu itu melangkah mantap. “Aku yang akan mencoba!”

“Tidak!” tegas sang senior. “Kau belum berpengalaman.”

“Aku yang akan ke sana!” tanpa menunggu persetujuan sang pimpinan, Attar beranjak. Ia meniti perlahan titian bambu yang melintasi hamparan penuh lumpur pijar.Sangat hati-hati, namun lincah dan cekatan. Ia menjadi tontonan para lelaki dewasa yang memperhatikannya dengan dada berdebar.

Ah, aku pun ikut merasa berdebar. Bagaimana jika kaki itu tergelincir, dan tubuh itu jatuh dalam genangan lumpur panas yang bertebaran di sana-sini? Namun, anak muda itu memang hebat! Attar, ia berhasil melintasi titian, dan kini ia kembali dengan menuntun seorang perempuan tua dengan tangan kanannya, sementara tangan kiri dengan erat mencengkeram tongkat bambu yang menjadi tumpuan ke lumpur itu. Beruntung, meskipun masih sangat muda, ia memiliki postur tubuh yang sangat atletis. Tinggi besar, dan terlihat sangat kuat. Sementara, si nenek tampak kurus dan ringkih.

Seruan dan gumaman kagum tercetus dari bibir-bibir para relawan, melihat anak muda itu berhasil menyelamatkan si nenek tua. Sebuah evakuasi gagah berani, yang dilakukan oleh seorang yang mungkin masih duduk di bangku SMA.

“Kau hebat!” si senior menepuk bahu Attar. Wajahnya terlihat haru. “Tetapi, kita harus tetap hati-hati. Di sini, maut mengincar kita dari segala penjuru. Kau masih terlalu muda, tentu banyak yang akan kehilangan jika kau ….”

“Siapa yang akan merasa kehilangan sekalipun ragaku lumat?” tiba-tiba Attar mendesah. “Tak ada, Bang! Tak ada.”

Lelaki muda itu memandang langit yang mulai cerah, sebab sinar mentari mulai menebarkan bilah-bilah lembut cahayanya. Ada keputusasaan … sedikit, tergores di mata yang selalu bersinar tajam itu. “Jika kedua orangtuaku sendiri tak menganggap ada keberadaan anaknya, apakah aku harus merasa masih ada orang yang mengharapkan kehadiranku? Tidak, Bang! Justru di sini, di tengah jeritan orang-orang yang ditimpa bencana, aku merasa kehadiranku dibutuhkan. Kau tahu Bang, itu sangat berarti bagiku. Bagi orang yang sejak kecil tinggal di panti asuhan, lalu dipungut oleh keluarga yang hanya butuh seorang anak sebagai status, namun tak pernah memberikan perhatian karena terlalu sibuk mengejar dunia.”

Ucapan Attar terdengar ketus.

“Jadi, jika Abang dan teman-teman yang lain terus memaksa aku untuk pergi, maka aku tak akan pergi. Aku akan bergerak sendiri, menolong mereka yang membutuhkan. Aku nggak peduli meskipun wedhus gembel melumatkan tubuh aku. Bagiku, mati karena membantu orang lain, jauh lebih baik daripada hidup tanpa ada yang menghargai aku.”

Tak ada yang bersuara. Semua terkesima dengan ucapan Attar.

“Baiklah,” kata sang senior, akhirnya. “Terserah saja apa maumu. Yang jelas, sebagai pimpinan, aku tidak ingin ada anak buahku yang jatuh sebagai korban!”

“Haaai!” teriak seorang relawan yang tengah beraksi di dekat reruntuhan sebuah rumah, tiba-tiba. “Di sini ada mayat anak kecil!”

Belasan manusia berseragam relawan lengkap itu berlarian mendekat, termasuk Attar. Ah, ada yang teriris-iris dalam diriku menyaksikan sesosok tubuh kecil yang kini tinggal tulang belulang itu. Sosok itu begitu kecil, tak ada satu meter tingginya. Aku tahu siapa bocah itu. Ia bernama Danang, anak yang dilahirkan sekitar dua tahun lalu. Ia tengah sangat lucu-lucunya. Pipinya tembam, senyumnya indah, menggemaskan.

Lantas terdengar seruan relawan yang lain, yang berada tak jauh dari reruntuhan rumah tersebut. “Hei, ini ada mayat perempuan. Hangus, tapi belum begitu hancur. Masih terlihat jelas wajahnya. Ya Allah, mungkin ini ibu si anak itu ….”

Para relawan terdiam. Seperti ada yang menyumbat tenggorokan mereka sehingga tak mampu sedikitpun mengeluarkan suara. Pemandangan di depan mereka, benar-benar menyayat hati. Aku terpekur. Ya, aku pun mengenali perempuan itu. Benar, ia ibu Danang. Seorang ibu muda yang trengginas, baik hati dan lumayan ayu. Mereka tengah tidur berpelukan saat musibah itu datang. Hawa panas yang kuat mengejutkan sang ibu, sehingga ia terbangun. Ia berlari cepat keluar rumah, akan tetapi, gelontoran lava itu menghantamnya. Mereka terpelanting dan tewas dengan tubuh hancur.

Ah, musibah Merapi kali ini, benar-benar dashyat. Tak hanya karena luncuran awan panas, namun juga karena aliran lava yang termuntahkan dan memadati Sungai Gendol. Ratusan korban meninggal, rata-rata dalam kondisi hangus. Bahkan, tulang-tulang mereka banyak yang remuk. Aku telah berkali-kali menjadi saksi kemarahan Merapi yang secara siklik merancah Bumi. Tapi, kemarahan kali ini, begitu getas.

“Angkut jenazah ke landrover!” perintah sang senior.

Cepat Attar dan beberapa relawan berlari memenuhi perintah sang pemimpin. Mereka bekerja begitu keras, dan aku yakin, ikhlas. Uniknya, mereka bekerja tanpa sorotan kamera media. Ya, karena bagi mereka, popularitas itu tak penting. Kepuasan saat berbuat untuk sesama, itulah yang mereka cari. Bukan sekadar tatapan kagum para manusia. Surga pasti merindukan orang-orang seperti mereka.

Matahari semakin tinggi. Para relawan terus bergerak, menyisir pemukiman yang telah rancah menghitam itu. Belasan korban dievakuasi. Attar menjadi salah satu relawan yang paling bersemangat, meskipun ia adalah relawan termuda di sana.

“Bang, di rumah itu ada seorang kakek yang masih hidup!” Attar menunjuk ke sebuah rumah yang separoh ambruk, sekitar 200 meter dari lokasi mereka beraktivitas. “Aku akan mencoba menolongnya!”

“Hati-hati Attar!”

Remaja itu bergerak lincah. Kakinya yang dilindungi sepatu khusus—yang sebenarnya telah mulai gigis tersantap bahang—melangkah cepat. Namun baru beberapa puluh meter, sang senior mendadak berteriak.

“Awas, luncuran awan panas mengarah kesini! Lariiii!!!”

Para relawan berhamburan. Attar tertegun. Dengan jelas, ia melihat kakek tua itu melambai-lambaikan tangan dengan teriakan minta tolong yang tak terdengar, dikalahkan suara bergemuruh awan panas, namun tampak dari gerakan mulutnya.

“Attar, lariiii!”

Attar nyaris terjatuh ketika dengan cepat beberapa  relawan menarik tubuhnya.

“Jangan mengorbankan diri sendiri!” bentak seorang relawan.

“Tidak, aku akan menolong kakek itu. Ia membutuhkan kita!”

“Awan panas akan menghanguskan kita!”

“Tidaaaak!” Attar berontak. Namun tenaga tiga orang lelaki dewasa yang kekar itu tak mampu ia lawan. Remaja itu dengan paksa dimasukkan ke dalam landrover yang dengan cepat meninggalkan tempat itu.

Ah, barangkali rasa sesal terasa begitu dahsyat menghantui Attar. Ya, karena aku tahu pasti. Luncuranwedhus gembel itu menghantam tubuh sang kakek. Lelaki sepuh itu terbanting, berkelonjotan, lalu diam … Ia tewas dengan kulit terkelupas seperti barusan keluar dari wajan penggorengan.

Dan Attar, aku menyaksikan sesalnya yang bercampur linangan air mata, ketika beberapa hari kemudian ia datang. Ia berlutut di depan rumah sang kakek, menangis tersedu.“Maafkan aku… maafkan aku!” bahunya terguncang-guncang. Ia menangis sepuasnya, sampai sang senior datang, mencoba menenangkannya.

Bagaimanapun, Attar hanya seorang remaja SMA yang masih belum mampu mengendalikan emosinya. Namun wahai Jelita, aku sungguh mengaguminya. Jika kau pun memiliki perasaan yang sama, memang Attar layak mendapatkan semua kekaguman itu. Kita sehati dalam hal ini.

Nah, kau ingin tahu, di mana Attar sekarang?

Baiklah, kuceritakan kisah sore itu. Aku tak mengerti, mengapa Attar datang seorang diri ke lokasi bencana ini. Ia datang dengan wajah muram. Langkahnya gontai. Ia menyusuri bangunan-bangunan yang ambruk, dan separoh tertimbun pasir. Ia tersenyum getir ketika melihat beberapa sepeda motor yang tinggal rangka besinya. Menggigit bibir melihat seekor sapi yang juga tinggal tulang belulang, dan menjerit lirih ketika menyaksikan sesosok jenasah yang terjepit di antara puing bangunan.

Di atas, langit mulai pekat. Bukan hanya karena malam bertandang, tetapi juga karena mendung bergelayut berat. Tetes-tetes air mulai membasahi bumi. Hujan membuat Attar segera berlari, mencari tempat berteduh. Aku terkejut. Ah, mengapa ia justru berteduh pada sebuah rumah yang tinggal puing? Yang memang menyisakan sebagian atap, tetapi bukankah dinding tempat ia bersandar, telah sedemikian rapuh.

Dan, oh Tuhan… ketika hujan semakin deras, aku melihat dinding itu berderak. Attar tak sadar, karena sepasang matanya terkatup rapat. Ia duduk nyaris tertidur, mungkin karena letih, sehingga tak mengerti apa yang tengah terjadi. Ya Tuhan… ingin sekali aku berlari untuk menarik tubuh lelaki itu ketika puing itu mulai ambruk dan menimbun tubuhnya…

Aku ingin berlari, tetapi tak mampu. Tak mampu! Kau tahu, inilah tamparan terhebat yang pernah aku rasakan, setelah sebelumnya aku menjadi saksi atas gelontoran ribuan tol material erupsi nan berpijar, yang meluluh-lantakkan dusun-dusun di sepanjang aliran Sungai Gendol.

Oh, Jelita… kau mencari Attar? Ada hubungan apa antara engkau dengan Attar? Apakah kau saudaranya, adiknya, sahabatnya?

“Apakah bapak pernah melihat seorang anak muda, usia 17 tahun, bertubuh tinggi besar, berambut lebat dan bermata tajam serta alis tebal berada di sekitar sini?” tanyamu, pada seorang lelaki berseragam relawan –  mendadak melintas di tempat itu.

“Oh, Attar maksudmu?” tanya relawan itu. Aku mengenal relawan itu. Ia adalah sang senior.

“Attar. Ya, Attar. Di mana dia?” suaramu terdengar sumringah.

“Dia… hilang. Sampai sekarang, kami kehilangan jejaknya.”

Dia tidak hilang! Dia ada di sana. Tertimbun puing-puing bangunan yang ambruk. Mengapa kau tak bertanya padaku, Jelita? Aku saksinya.

Mendadak aku tersadar. Kalaupun kau bertanya padaku, aku tak mungkin bisa menjawabnya. Ya, karena aku hanyalah sebatang pohon trembesi raksasa, yang telah hidup sejak puluhan tahun yang lalu. Berkali-kali aku menjadi saksi meletusnya Merapi. Dan di peristiwa kemarin, aku ikut tersembur awan panas. Daun-daunku pun mengering. Tetapi, aku masih bisa tumbuh lagi. Tak seperti Attar,  terkubur di sana.

Kusaksikan awan yang pekat menutupi pandanganmu. Kau berjalan terhuyung, tanganmu bergetar saat membuka pintu mobilmu. Mendadak, aku teringat kata-kata Attar.

Siapa yang akan merasa kehilangan sekali pun ragaku lumat? Tak ada, Bang! Tak ada.”

Kau salah, Attar. Ada yang sangat kehilangan saat kau tiada. Gadis itu. Dan aku.

*Afifah Afra, nama pena Yeni Mulati, tinggal di Surakarta

Ibu  tiga putra-putri cerdas-ceria ini, telah menulis sekitar 40 judul buku, puluhan cerpen, puisi dan artikel. 

Saat ini,  menduduki jabatan   Direktur Produksi PT Indiva Media Kreasi

(*Sumber: http://lmcr.rayakultura.net/blog/attar/


Letter To My Best Friend Ila Rizki Nadiana

 Ila Rizki Nadiana

Aku tahu kamu sedang terluka karena hatimu yang tengah tersakiti, seorang pria telah memuat hatimu patah hati. Dan aku tahu kamu tidak butuh dokter yang bisa menyembuhkan sakit dengan obat.

Aku ingin Ila lupakan sejenak denga kisah Heart Emergency, aku ingin memberikan buku ini padamu. Dengan membacanya kamu akan merasa lebih bersyukur karena selalu ada sakit terlewati untuk meraih kebahagiaan sejati.

Ila saat Rahasia Hati harus terkuak dengan paksa, meninggalkan perih lara maka yakinlah Tentang Cinta yang selalu hadir bersamaan antara sedih, lara, bahagia dan harapan. Bagai hukum alam love is equal with sadness and happiness so trust me! Menemukanmu menjadi sahabat baikku adalah anugerah yang indah dari Allah.

Jadi berdoalah kaupun akan menemukan seseorang saat harus Hati Memilih. Dengan kesadaran penuh dialah pria terbaik yang telah bersama kalian lewati dengan cerita indah tentang hujan.

Kau berceloteh padaku, “Nine pria inilah yang telah meluluhkan aku dengan kelembutannya dan kesejukannya. Nine bagiku “Hujan Punya Cerita Tentang Kita”.

Ila yang cantik, aku sebagai sahabat bahagia akhirnya engkau bisa menemukan Yang Kedua, setelah cinta pertama harus berlalu bagai kabut. Ternyata biarkan kabut berlalu dan hadir suasana sejuk mendamaikan hati.

Ila aku bahagia kau akhirnya temukan sebuah cinta, yang kau damba bersama merengkuh Selamanya Cinta ……

Sahabatmu

Nine Icha Fay

Sst….jangan pernah ragu to tell me everything :)

NB : Kalau boleh jujur sih ingin dapat semua bukunya tapi duh kenapa sih harus milih lima ? Bukune ? Kenapa nggak semua saja…

Baiklah aku pilih : Heart Emergancy, Yang Kedua, Hujan Punya Cerita Tentang Kita,  Tentang Cinta dan dan Selamanya Cinta.

Terima Kasih ….