Write Without Boundaries

Cerita Anak

Tulisanku di Koran Berani dan Majalah Berani Agustus – September 2012

Beberapa tulisan di muat di koran Berani dan majalah Berani Edisi Agustus – September

surat info pemuatan

 

Tim Bersepeda Lingkungan di Berani Magazine

Cerita Anak Bersambung Hitungan Kancil dan Buaya


Cernak Di Muat Di Lampung Post 4 Dec 2011

Ini link nya :

http://www.lampungpost.com/dunia-anak/17555-kisah-sepasang-sepatu-.html

 

Enjoy Reader !


Di Muat Majalah MENTARI – Tahun XXVIII Minggu Ke V Mei 2011

Hitungan Kancil Dan Buaya

“Wah kita  harus cepat mencari tempat baru, semua tanaman sayur dan buah semakin menipis,penghuni di sini terlalu padat. Kita harus mencari lahan baru yang lebih menjajikan.” Pikir keluarga kancil yang mulai dihantui rasa takut akan kelaparan.

Memang Hutan Linggar pada awalnya sangat nyaman bagi kehidupan kancil dan binatang-binatang lain tetapi semakin hari yang menetap di daerah hutan Linggar semakin banyak, sehingga kerap kali terjadi perebutan makanan di antara mereka. Hukum rimba yang berlaku siapa yang kuat dan perkasa dialah yang menang dan menguasai daerah.

cerita selanjutnya bisa dilihat di HKDB


Cernak : Dinda Tidak Bodoh!

Beberapa hari ini nilai-nilai Dinda selalu dibawah angka enam, padahal sebelumnya Dinda selalu memperoleh nilai di atas angka delapan. Bunda Fitri heran dengan merosotnya nilai Dinda.

“Dinda, apakah kamu ada masalah Nak ? ” Bunda Fitri menanyakan apa yang mungkin terjadi dengan putri kesayangannya.

“Tidak Bunda, Dinda tidak kenapa-kenapa hanya saja Dinda memang kurang konsentrasi.”

Beberapa kali Bunda Fitri menanyakan, Dinda selalu menjawab tidak ada masalah dengan dirinya, sehingga Bunda Fitri hanya bisa bersabar dan tetap mencari tahu masalah turunnya nilai putri kesayangannya.

Dinda sebenarnya sudah bisa memahami materi apa yang akan menjadi ulangan di kelasnya, tetapi berkali Dinda mencoba membaca tulisan yang ada menjadi buram, dan Dinda semakin kesulitan bila dia pas kebagian duduk di agak belakang dan samping papan tulis. Dinda hanya bisa meraba soal yang tertulis dan menjawab dengan ragu-ragu setipa pertanyaan yang ada tercatat. Sepertinya ada yang tidak beres dengan matanya.

“Aduh kenapa jadi tulisan buram semua ya? aku tidak bisa melihat dengan jelas, jangan-jangan mataku sakit? Aduh bagaimana ini?” Dinda merasa ketakutan sendiri.

Rasa resah menggelayuti pikiran sepanjang pelajaran sekolah, tiba-tiba “Dinda, coba kamu jawab pertanyaan nomor 11.” Tiba-tiba suara Bu Guru Ani mengejutkan lamunannya.

Dinda terkaget-kaget, dan kembali dia hanya melihat sekumpulan semut putih yang berbaris, tulisa di papan tulis benar-benar menjadi kabur kadang nampak menjadi dua tulisan yang bertumpuk.

Dinda mulai membaca dengan gemetar ” Z aaat h h hijjjau daaaun padaa tangaan…”

“Haaahaaahaaa, haaahaaahaaa…huuu.” Suara murid-murid kelas 3 B menertawakan Dinda yang tergagap-gagap membaca dan salah.

“Ah Dinda malu-maluin kelas kita nih!” Seru Dodo yang memang suka usil di kelas.

“Dinda ternyata nggak bisa baca! Anak bodoh” Seru Dodi yang kembaran Dodo, yang sama usil dengan kembar identiknya.

“Dinda, ayo teruskan no 11.” Bu Ani agak keras, tapi juga agak curiga karena Dinda mengernyitkan matanya dan kebingungan.

Dinda malu dan berlari ke luar kelas, matanya terasa panas dan air mata mengalir perlahan.Kesal dan malu di bilang anak bodoh oleh si kembar Dodo Dodi.

Di taman sekolah Dinda duduk menenangkan hatinya.

“Dinda kamu sakit?” Tiba-tiba bu guru Ani sudah ada di sampingnya.

Dinda menggelengkan kepala, “Pasti bu guru Ani akan menanyakan hal yang sama seperi Bunda.” bisik hati Adinda.

“Ibu tahu, kamu bukan anak bodoh. Nilai kamu merosot hampir 2 minggu ke belakang, dan tadi Ibu memperhatikan setiap gerak-gerik kamu. Saat ulangan dan saat pelajaran Ibu. Sepertinya kamu ada masalah dengan penglihatan ya?” Selidik bu guru Ani.

Adinda tidak bisa membohongi apa yang barusan bu guru Ani katakan, karena memang bu guru Ani tahu persis gerak-geriknya di kelas.

“Sudah hampir 2-3 minggu ini mata saya menjadi sangat buram Bu Guru, tapi saya takut bila harus ke dokter dan memakai kacamata seperti orang tua.”

“Dinda, akan lebih parah bila kamu tidak mau berterus terang ke orang tua kamu akan kondisi kamu yang sebenarnya, kamu bisa tidak naik kelas kalau membiarkan hal ini.” Nasehat bu guru Ani.

“Apa yang kamu takutkan sebenarnya hanya ketakutan sesaat, dengan berkaca mata bukan berarti kamu anak cacat kok! juga bukan berarti kamu seperti orang yang sudah tua sayang, itu hanya proses yang terjadi dari diri kita.”

“Maksud Bu Guru?”

“Dinda harus bilang ke Bunda, dan Bunda akan antar kamu ke optik untuk di periksa, pecayalah itu tidak sakit dan bila memang perlu memakai kaca mata pasti Bunda akan memilihkan yang pas buat kamu, biar tetap cantik.” Panjang lebar bu guru Ani menerangkan.

“Tapi Bu Guru nanti aku di ejek-ejek jadi si ‘Bolooor’, Dinda teringat sepupunya yang pakai kaca mata yang tebal sekali, lalu dipanggil si ‘Bolooor’ duh nama yang nggak keren sama sekali di telinganya, apalagi sampai melekat menjadi ‘Dinda Si Bolor’.

“Dinda, siapa yang berani ngjek-ngejek nanti Ibu Guru nasehati. Ibu rasa kamu tidak akan jadi ‘Si Bolor’ asal kamu dengar saran dokter agar lebih menjaga kesehatan mata.” Kata bu Ani yang ikutan geli dengan sebutan Si Bolor barusan terlontar dari Dinda.

Sesampainya di rumah Dinda menyerahkan surat dari bu guru Ani buat bundanya, dan “Ya ampun Dinda, ternyata selama ini kamu ada masalah dengan penglihatan, kenapa setiap Bunda tanya kamu tidak berterus terang ?”

“Hmmm benar kamu takut dijuliki ‘Si Bolor’, seperti kata bu guru Ani.” tanya Bunda Fitri lanjut.

Dinda mengangguk.

“Dinda, Dinda…sudah ayo tidur siang nanti sore kita ke optik.”

Hari Senin yang cerah, Dinda sudah memakai kaca mata dan sekarang tidak lagi kesulitan membaca tulisan yang ada di papan tulis. Tidak ada lagi sekumpulan semut putih juga tulisan dobel membayang, dan teman-teman kelasnya semua memaklumi. Tidak ada panggilan Si Bolor juga. Ternyata cek kesehatan mata juga tidak sengeri bayangan Dinda sebelumnya.

Ilustrasi : Google.com

link :DUMALANA


Cernak : Perlombaan Menyusun Perangko

PERLOMBAAN MENYUSUN PERANGKO

Fay tidak bisa tidur karena besok adalah waktu untuk mengikuti perlombaan menyusun perangko.

Fay tidak ingin kalah dalam perlombaan besok, apalagi mengumpulkan perangko-perangko bekas adalah hobby Fay.

Fay sudah mengumpulkan perangko bekas sejak kelas 2 Sekolah Dasar dan sudah 1 tahun ini Fay berburu perangko bekas. Berawal dari Mbak Icha,  kakak Fay yang mengikuti Najwa sahabatnya suka membeli perangko bekas di toko buku dan berburu perangko bekas dari bekas-bekas surat Eyang jaman dahulu yang menumpuk di gudang menjadikan kegiatan yang menyenagkan bagi Fay.

Perangko-perangko di mata Fay sangat unik, sebuah kertas kecil dengan sejuta cerita. Perangko yang memuat berbagai foto, Fay mengelompokan perangko dalam negeri menurut jenisnya dan untuk perangko luar negeri dikelompokan per negara.

“Sel tukeran perangko Bung Karno 2 Sen dengan 5 Sen dong, aku belum punya koleksi yang 5 Sen.” Usul Fay.

“Baiklah, kebetulan aku ada 2 dan aku tidak punya Bung Karno yang 2 Sen jadi lengkap koleksi kita.” Gisel sahabat Fay setuju. Jadilah 2 sahabat kecil saling barter perangko bekas.

“Fay minggu depan seri apa yang kamu ikutkan perlombaan menyusun perangko ?” Tanya Gisel mengenai perlombaan filatelis.

“Aku masih bingung juga nih, rahasia dong kamu kan juga ikut lomba kan?” Kata Fay.

Gisel tersenyum, “He he iya ya rahasia juga.”

Dan seminggu tiada terasa, Fay berdebar di arena perlombaan menyusun perangko yang diselenggarakan perkumpulan Filatelis Indonesia.

Perlombaan dimulai, Fay mulai menggunting plastik sampul serapih mungkin, digunting segi empat, dan mulai melipatkan plastik ke perangko-nya sehingga perangko menjadi bersampul plastik dan terlindung. Kemudian bagian belakang direkatkan dengan selotip tapi tidak sampai mengenai kertas perangko. Semua dilakukan hati-hati dan cermat.

Waktu terus berjalan tidak terasa 1 jam yang disediakan panitia akan habis. Fay tergesa merampungkan lipatan terakhir dan menyelesaikan susunan terakhir.

Selesailah seri perangko  bunga-bunga kuno tersusun rapi.

Akhirnya pengumuman pemenang dibacakan Fay berdebar menanti.

” Untuk juara pertama di raih oleh Jasmine dengan perangko serial Bung Karno, juara ke dua di raih oleh Naura perangko serial Hasil Bumi Indonesia, dan terakhir juara ke tiga diraih oleh Fayre dengan serial Bunga Indonesia.” Kata MC Acara Filatelis 2011.

“Bunda aku juara ke tiga.”  Antara kecewa tapi senang Fay maju ke depan menerima piala dan piagam penghargaan.

Bunda bertepuk dan memberi Fay selamat dengan senyum bangga.

“Maaf Bunda Fay belum bisa juara pertama.”

“Fay dalam perlombaan jangan hanya mengutamakan menang, karena menang dan kalah adalah selalu menjadi badian dalam pertandingan, utamakan sportifitas dan membangun kepercayaan diri.”

Fay mangangguk-angguk, tetap bertekad untuk terus menekuni hobby nya, karena dengan filatelis Fay banyak memperoleh pengetahuan.

Selamat Pagi Adik-adik : Tekuni yang menjadi hobby karena dengan tekun dan serius akan menghasilkan suatu prestasi.

ilustrasi : koleksi pribadi dan google.com

Menyimak dan comment cerita lain yuk :

http://dumalana.com/2011/04/14/cernak-hitungan-kancil-dan-buaya/#more-4367

Write without boundaries – http://noorhanilaksmi.wordpress.com/
Noorhani Laksmi

Noorhani Laksmi
View all posts by Noorhani Laksmi

Cernak : Di Muat Koran Kompas Minggu 05 Juni 2011

KOMPAS ANAK

HATI YANG TULUS           

Di pinggir kerajaan Tujuh Pelangi hiduplah seorang kakek tua bersama cucu perempuannya yang bernama Mercy. Setiap hari mereka berdua bersama-sama berkebun, menanami halaman rumah dengan berbagai macam bunga yang kemudian diolah menjadi minyak wangi yang sangat harum, kemudian mereka jual di pasar yang terletak ditengah kerajaan.

Kakek Robin namanya, amat menyayangi Mercy…baginya Mercy adalah segala-galanya, apapun yang diinginkan oleh cucunya pasti akan dipenuhi, demikian pula sebaliknya Mercy pun amat menyayangi satu-satunya orang yang amat dekat dan merawatnya sejak kecil.

 Matahari bersinar cerah, terasa hangat, Mercy dan kakek Robin asyik menyiangi tanaman bunganya, tiupan angin yang berhembus terasa segar dan wangi karena banyak sekali bunga-bunga bermekaran dan siap untuk diolah menjadi pewangi tubuh.

“Kakek, Mercy mau memetik bunga mawar yang disebelahsanaya…biar besok kita bisa buat minyak wangi dan lusa kita jual ke pasar…Mercy ingin membeli pakain hangat buat kita…sebentar lagi musim dingin akan tiba…”kata Mercy.

“Iya Mercy, kakek setuju …sekalian kita beli persediaan makan buat musim dingin, Mercy biar kakek saja yang memetik bunga mawar karena duri-durinya kadang sangat kejam, bisa melukaimu…kamu terusin pekerjaan ini saja…” kata kakek Robin.

Mercy pun melanjutkan untuk menyiangi dan kakek Robin mulai memetik bunga mawar yang siap untuk dijadikan minyak wangi.

Berdua mereka asyik bekerja hingga sore hari menjelang, tiba-tiba…

“Aduh..,aduh…Mercy tolong kakek…”

Kakek Robin ternyata tertusuk duri mawar dan langsung pingsan.

“Kakek, Kakek …kenapa…Tolooong..toloong…tolooong…!” teriak Mercy ketakutan.

 Terbayang jika kakeknya meninggal dan harus dengan siapa lagi ia akan hidup…akankah menjadi gadis sebatang kara?

Sudah beberapa hari Kakek Robin tertidur, beberapa tabib sudah dipanggil untuk membangunkan dari tidurnya tapi tak seorangpun yang mampu.

“Kakek bangunlah..Mercy takut, Kakek harus dengan siapa lagi Mercy hidup…Kakek jangan tinggalkan Mercy…” tangis Mercy, sekeras apapun Mercy menangis kakek tercintanya tidak beranjak untuk bangun juga.

Untuk melanjutkan hidupnya Mercy tetap bekerja mengurus tanaman-tanamannya dan mencoba untuk membuat minyak wangi sendiri, walaupun hasilnya tidak sebanyak jika kakek bersamanya, dan dengan sabar merawat kakeknya walaupun dia sendiri tidak tahu harus menunggu berapa dari  mati suri, tak kunjung bangun dari tidurnya.

Setiap malam Mercy selalu berdoa memohon agar diberi kesempatan untuk kesembuhan kakeknya dan membahagiakan sisa hidup kakeknya.

“Kakek apa yang harus Mercy lakukan biar Kakek bis sehat kembali…?” ratap Mercy sambil membelai dahi kakeknya, air matanya terus menetes hingga akhirnya rasa lelah,capai membuat dia tertidur di sebelah kakek Robin.

“Mercy…jangan takut, aku adalah peri Mawar yang tinggal di kebun kamu…jangan bersedih kakekmu tertusuk oleh duri jahat yang dimiliki peri Duri Racun yang memang jahat sekali, Peri Duri adalah saudaraku…sebenarnya sudah lama ia ingin mencelakai kamu atau kakek Robin, dia tidak suka jika mawar-mawar kalian olah menjadi minyak wangi…di negeri kami sebenarnya kami sangat bahagia dan menghargai jika kalian menjadikan kami sesuatu yang bermanfaat. Karena Tuhan memang menciptakan kami untuk memenuhi kebutuhan manusia, tetapi Peri Duri Racun selalu berselisih paham dengan kami, menurut dia lebih baik mawar mati membusuk saja dari pada diolah menjadi minyak wangi, dia tidak suka  jika kalian olah menjadi minyak wangi.

Tetapi percayalah kakek mu akan sembuh dengan cara meneteskan  sari tetes bunga mawar kehidupan. yang harus kamu temukan, saranku pergilah kamu ke arah matahari terbit anakku yang cantik…tidak usah khawatir meninggalkan kakek mu, percayalah aku akan menjaganya…

Mercy terbangun dari mimpinya, rasanya apa barusan diucapkan oleh peri Mawar hanya satu-satunya jalan untuk menyembuhkan kakeknya.

Mercy sudah bertekad untuk menemukan sari tetes bunga mawar kehidupan demi kesembuhan kakek tercinta.

Pagi sekali matahari terbit, Mercy mulai melakukan perjalanan ke arah matahari terbit, panas, dingin yang silih berganti menerpa tubuhnya tak dihiraukan hingga pada suatu hari ia berpapasan dengan seorang anak muda yang kelaparan dan compang-camping pakainnya.

“Bagi sedikit makananmu …aku sangat lapar…, sudah  tiga hari ini cuaca yang dingin dan hujan membuat aku sakit dan tidak menemukan apapun yang bisa aku makan…hampir semua pintu rumah aku ketuk…,tak seorangpun mau menolongku…” iba pemuda compang-camping tersebut.

Sekilas Mercy menatap pemuda yang ada di depannya, sepertinya masih muda tetapi wajah dan pakainnya sangat kotor, bau lagi! Tapi Mercy mersa kasihan dengan wajahnya yang sangat memelas dan kelaparan.

“Jangan khawatir aku masih ada bekal…makanlah…” kata Mercy.

Pemuda compang-camping, langsung melahap habis bekal Mercy tanpa si

“Teriam kasih gadis yang pemurah hati, kalau boleh tahu mau kemanakah kau pergi?” tanya pemuda tersebut.

Mercy pun menceritakan apa yang menimpa kakeknya dan harus menemukan sari tetes bunga mawar kehidupan yang dia sendiri masih bingung dimana akan menemukannya.

“Yah aku pernah mendengar sari tetes bunga mawar kehidupan yang kau maksud sepertinya tumbuh di lembah  Alpenia terletak dimana matahari terbit, berjalanlah terus menuju matahari terbit…aku hanya bias mendoakan kamu akan menemukanny

Mercy terasa mempunyai kekuatan dan semangat baru karena pemuda itu meyakinkan jalan yang ditempuhnya sudah benar, walau bekalnya habis.

 Menopang hidupnya adalah air minum yang tersisa ….

Ditengah perjalan …tiba-tiba …”Nak tolong Nenek…haus sekali rasanya…dari kemarin nenek tidak menemukan setetes airpun…” rintih seorang.

“Oh kasihan sekali…minumlah Nek…” tawar Mercy.

Tiba-tiba Mercy bertemu dengan seorang nenek yang akan mati kehausan, dan Mercy juga menceritakan masalah yang sedang dihadapinya.

“Alangkah bahagianya kakekmu mempunyai cucu yang cantik dan berhati tulus, lanjutkan perjalananmu Nak, Nenek percaya kamu akan menemukan sari tetes bunga mawar kehidupan”

Angin bertiup semakin kencang rasa lapar, haus ditahannya, hanya kain hangat yang melindungi Mercy dari terpaan alam…

Kembali Mercy bertemu dengan kakek renta …”Nak tolong Kakek sangat kedinginan…” ratap seorang kakek tua yang menggigil kedinginan.

Tanpa ragu-ragu Mercy langsung memakaikan kain hangatnya kepada kakek tua tersebut, dan melanjutkan perjalanan tanpa bekal apapun…semuanya sudah habis…”Terima kasih ya Nak, kakek merasa lebih hangat…lanjutkan perjalananmu…doa kakek menyertaimu…”

Lapar, haus dan dingin menyerang Mercy hingga rasanya sudah tidak sanggup lagi untuk berjalan…akhirnya di tepi sungai dan diseberangnya ada sekuntum mawar biru yang memancarkan keemasan…”Oh itukah mawar kehidupan yang aku cari…, indah sekali sinar yang dipancarkan…”

Mercy menyeberangi sungai tapi badannya sangat lemah, ia pun tak dapat menahan arus sungai yang deras, dan Mercy hanyut tak sadarkan diri…namun dia sekilas teringat ada  tangan yang sangat kuat menariknya dari air.

Mercy tersadar dan tidak tahu dimana dia berada, tempat tidurnya sangat indah dan baju yang dia pakai juga sangat indah bak puteri raja.

“Dimana aku…aku harus menemukan sari tetes bunga mawar kehidupan.

“Tenanglah Mercy kamu ada di istana aku, jangan khawatir kakekmu akan sembuh karena kamu telah berhasil menemukan sari tetes bunga mawar kehidupan dengan berbagai ujian…” kata pemuda tampan.

“Siapakah kamu sebenarnya, dan kenapa aku jadi di sini…”

“Ingatlah aku pemuda kelaparan yang kamu tolong dalam perjalananmu, aku sebenarnya seorang pangeran yang sedang mencari permaisuri yang berhati tulus…seorang nenek dan kakek yang kamu tolong mereka adalah raja dan ratu orang tuaku…., aku ikuti perjalananmu sampai akhirnya kamu menemukan yang kamu cari dan aku menolongmu ketika kamu hanyut…terimalah sari tetes bunga mawar kehidupan ini untuk kesembuhan kakekmu.”

“Oh terima kasih…” mata Mercy berbinar karena kakeknya akan sembuh dan akan bersama lagi.

Setelah ditetesin dengan sari tetes bunga mawar kehidupan, kakek Robin bangun dari tidur panjangnya. Mercy sangat berbahagia karena dapat hidup kembali bersama kakek yang sangat dicintai, kini dia juga mempunyai banyak saudara setelah dipersunting Pangeran Alfon sang pemuda compang-camping yang sudah ditolongnya.

 Karena berbudi tulus dalam menolong orang Mercy menjadi permaisuri yang dicintai oleh rakyatnya (Bunda Nenny-Cimanggis-Bogor-rewrite 30072010)


Cernak : JUZZ JERAPAH BERKULIT JERUK

Juzz Jerapah Berkulit Jeruk

|  6 June 2011- 15:19.WIB | Cerpen | Views: 1,341 | 6 comments | Edit Post

Jerapah Berkulit Oranye

Juzz adalah anak jerapah laki-laki yang imut dan baik hati, hanya saja kulit Juzz memang unik. Juzz tidak seperti anak jerapah yang lain yang berkulit coklat muda dan bertotol-totol coklat tua.

Ketidaksempurnaan kulit Juzz ini, menjadikan Juzz sangat minder dan penakut untuk berteman dengan siapapun, apalagi kerap Juzz dijadikan bahan tertawaan oleh teman-teman binatang lainnya.

“Ha ha ha liat si Juzz anak baru, kulitnya oranye…seperti buah jeruk, pantesan Juzz nama mu…kamu cocok jadi bahan Juice seperti si Jeruk.” Ledek Flo anak jerapah di satu sekolah barunya.

Ini adalah hari pertama Juzz masuk sekolah Gardenia, sekolah barunya.

“Benar-benar Flo, Juzz kamu seharusnya jadi buah-buahan saja…bukan golongan jerapah seperti kami,” lanjut Fla jerapah cantik dan bermata lentik.

Juzz semakin malu, apalagi Juzz sebenarnya suka sekali bila bisa berdekatan dengan Fla yang cantik dan lucu. Juzz sangat ingin dekat Fla yang sepertinya selalu dikagumi teman-temannya.

Juzz berlari dan sampai di rumah.

“Ibuuu ayo kita pindah dari sini, Juzz malu…Juzz dibilang bukan golongan binatang, tapi buah-buahan! hanya karena kulit Juzz seperti buah jeruk.” Juzz mulai merengek minta pindah sekolah lagi.

Bunda Juzz bukannya tidak mau memenuhi keinginan anaknya, tetapi ini sudah untuk ke empat kalinya Juzz pindah sekolah dari satu sekolah ke sekolah lain, dan hasilnya selalu sama.

Semua binatang menggoda dan menggejek kelainan kulit Juzz yang berwarna orange. Bunda Juzz terkadang terbesit rasa bersalah, apakah karena selama hamil dia memang hobby sekali mengkonsumsi buah jeruk hingga membawa kelainan pada anaknya, sehingga membuat bunda selalu ingin memenuhi permintaan Juzz.

Tetapi semakin dipenuhi, hal yang sama juga terjadi dari satu sekolah ke sekolah lain.

“Juzz ini sudah sekolah yang ke empat engkau masuki, baru hari pertama kamu sudah ingin pindah lagi?” kata Bunda Zazi, bunda-nya Juzz.

“Iya Juzz, kamu tidak capai berkenalan teman-teman baru terus.” Kata Joe ayah Juzz.

Nama Juzz sendiri perbaduan antara Joe dan Zaza, JUZZ nama yang unik dan mudah diingat. Seperti juga tubuh Juzz yang berbeda  melekat kekhasan yang tidak dimiliki golongan binatang Jerapah lainnya.

“Ayah, Bunda Juzz malu, Fla yang ingin Juzz jadikan sahabat juga ikutan meledek! Kenapa sih Bun, Juzz harus lahir cacat kulit. Juzz malu Bun, Juzz ingin punya kulit normal seperti teman-teman Juzz.” Isak Juzz.

“Lebih baik Juzz tidak dilahirkan ke dunia, kalau hanya akan dicela!” Teriak Juzz histeris.

“Juzz! Kamu tidak boleh menyalahkan Bunda mu, Bunda sudah hamil dan melahirkan kamu dengan susah payah, tidak seharusnya kamu menyesali kelahiran kamu!” Joe ayah Juzz marah atas sikap putranya.

“Sudah Ayah, Juzz maafkan Bunda ya.” Bunda Juzz mengelus putranya, rasa sayang seorang Bunda terhadap putranya bisa Juzz rasakan, Bunda selalu melindungi setiap binatang bahkan ayahnya memarahi, padahal Juzz selalu menyalahkan Bundanya. Juzz jadi menyesal.

“Juzz, Juzz ayo kita main!” Terdengar suara memanggil.

Tiba-tiba wajah Juzz berubah sumringah setelah mengintip dari balik jendela dia melihat siapa yang memanggil.

“Bunda, Fla dan Flo main ke sini aih ada apa ya,”  tiba-tiba Juzz bahagia dengan kunjungan teman-temannya.

“Hai Juzz kami mau mengajak kamu untuk mengikuti perlombaan.” Kata Flo.

“Perlombaan? perlombaan apa?” Tanya Juzz terbingung-bingung, selama ini belum sekalipun Juzz mengikuti suatu perlombaan.

“Jadi Juzz, tadi saat pelajaran Bahasa Indoneia, bu guru Mervia membagi kita menjadi beberapa kelompok. Ternyata kamu jadi satu kelompok dengan kami. Nah tugas kita adalah bermain drama,  teman yang lain tidak bisa ikut kemari karena ada tugas lain.” Terang Fla.

“Wah bermain drama?” Juzz  menjadi sangat tertarik,  selama ini Juzz memang menyukai drama yang kerap Juzz tonton di televise saat kesepian tiada teman.

“Kamu sih tadi kabur dari sekolahan jadi tidak tahu apa yang diperlombakan buat acara mingguan sekolah kita.” Cerocos Fla.

Wajah Juzz bersemu merah menahan malu, “Iya aku tidak tahan diejek dan menjadi bahan ketawaan kalian.” Ucap Juzz jujur.

“Oh jadi gara-gara bercandaan kami tadi ya kamu kabur, Juzz maaf kalau tadi kami berlebihan mengejek kamu. Sebenarnya itu namanya ‘perploncoan’ suatu kebisaan kami bila ada anak baru kami kerjain dahulu,  jadi kamu jangan marah.” Kata Flo lebih lanjut.

“Oh ya! Begitu ya? Kalian tidak bermaksud menghina kulit aku” Juzz jadi semakin malu, ternyata selama ini dia tidak tahan dengan segala ejekan dan barusan salah sangka.

“Iya Juzz, dengan kulit kamu yang berbeda dengan kami bukan berarti kamu itu mahluk jelek. Malah kamu harus bersyukur dan berterima kasih dengan Bunda yang telah melahirkan kamu…, karena apa? Kamu jadi anak Jerapah yang unik dan antik. Kalau kamu tidak percaya, pasti nanti di acara perlombaan drama, kamu akan jadi banyak perhatian. Percaya deh!”  Terang Fla dengan senyum manis.

Juzz jadi semakin yakin dan percaya dengan ucapan Fla dan Flo, yang ternyata hanya menggoda di hari pertama dia sekolah.

Juzz dan kelompoknya berlatih keras untuk pementasan drama yang akan berlangsung pekan depan.

Saat yang ditunggu-tunggu.

Semua penonton para orang tua binatang-binatang, sekolah Gardenia tempat Juzz belajar tegang saat kelompok Fla yang terdiri dari Flo, Juzz, Miko sang rusa, Bigy sang kelinci, Koko dan Kiki tupai bermain drama.

Tepuk tangan berderai-derai ketika drama ditutup dengan happy ending saat Juzz berperan sebagai Pangeran Unik berhasil menolong Sang Putri Fla yang cantik dari cengkraman penyihir jahat yang di perankan oleh Flo.

“Hebattt, hebatttttttt Juzz pemain drama berbakat….!” Tiba-tiba Bu Guru Marvia berteriak memberi selamat terhadap Juzz murid barunya.

Kini Juzz mempunyai kepercayaan diri bahwa perbedaan yang dia miliki bukan suatu penghalang untuk maju, Juzz bahagai menemukan sahabat-sahabat yang baik walau di awal Juzz semapt ingin meninggalkan mereka.

Terlebih Juzz sangat berterima kasih kepada Bundanya, “Maafkan Juzz Bunda, telah membuat Bunda sakit hati karena Juzz suka berteriak-teriak dan menyesal terlahir dari rahim Bunda.” Juzz menyesali.

Bunda Zaza bahagia memeluk putra kesayangannya.

Dan Juzz semakin semangat untuk meraih impiannya menjadi pemain drama yang professional. Tidak lagi rasa malu dan minder dengan kulit jeruknya yang berwarna orange menyala.

link : http://dumalana.com/2011/06/06/juzz-jerapah-berkulit-jeruk/#more-8680


Cernak :Ketika Ketty Menjadi Nomor 2

 Ketty kucing anggora yang sangat manis, Ketty sangat disayangi pasangan suami istri Niken dan Agung.

Ketty tinggal di kandang yang hangat, selalu tersedia makanan lezat dan susu buat nya pagi, siang dan sore.

“ Ah enaknya kamu Ket, tuan mu sangat menyayangi kamu.” Kata Pia kucing perumahan di mana Ketty tinggal.

“Tentu saja mereka sangat menyayangi aku, karena aku kucing berkelas coba kalau kalian seperti aku, kalian akan merasakan tidur di kasur empuk, makanan lezat dan susu hangat gurih setiap saat.” Ketty menyombongkan dirinya.

Sore hari kucing-kucing perumahan sedang bercengkrama di depan pintu gerbang rumah Niken yang besar, Ketty hanya diijinkan keluar rumah sebatas gerbang depan. Sebenarnya kucing-kucing perumahan agak malas bergaul dengan Ketty karena selalu menyombongkan kondisinya yang membuat kucing-kucing perumahan iri.

Lido kucing perumahan sahabat Pia membandingkan kehidupannya yang sangat berbeda dengan Ketty, untuk makanLidoharus mengais atau berburu tikus dari satu atap ke  atap lain yang penuh resiko. Tentu saja badanLido, Pia dan lainnya tidak bisa segemuk Ketty, bulunya juga tidak sebersih apalagi seharum Ketty yang rajin dimandiin dengan sabun dan shampoo khusus.

Kucing perumahan di sore hari suka berkumpul di depan gerbang rumah Ketty karena Niken sangat suka dengan kucing, walau mereka hanyalah kucing perumahan biasa. Mereka suka dengan Niken yang kerap membagikan makanan dan susu atau ikan sisa  Ketty atau kebanyakan stok buat mereka, jadi kucing perumahan berkumpul bukan karena suka dengan Ketty yang sombong.

“Lido, biarkan saja Ketty sombong yang penting Bunda Niken sayang kepada kita-kita.” Kata Pia.

Hingga pada suatu sore yang mulai mendung, Niken dan Agung pasangan yang menikah cukup lama tapi belum dianugerahi momongan memindahkan rumah Ketty ke halaman taman.

“Eh Ket, kok rumah kamu dipindain tuh,” kata Pia.

“Iya tuh Ket, berarti kamu tinggal di luar dong seperti kita,” lanjutLido.

Ketty juga terbengong-bengong, memang sedari tadi antara Bunda Niken dan Pak Agung sepertinya terlibat pembicaraan serius, tapi Ketty tidak bisa menangkap terlalu jelas, hanya sekilas dia dengar “Saran dokter, harus di coba.”

“Apa yah maksudnya?” Ketty mulai khawatir, jangan-jangan mereka sudah tidak menyayangi dirinya lagi. Selama ini Ketty selalu menjadi curahan kasih sayang Bunda Niken, apalagi Bunda Niken sangat kesepian karena belum ada buah hati yang hadir dari perkawinan mereka yang terbilang cukup lama.

“Wah Ket, kamu sudah tidak beda sama kita…hehehe, kamu akan merasakan angina malam dan tidak nyamannya tidur di luar.” Ledek Lido.

Ketty benar-benar ketakutan, selama ini dia selalu menjadi kesayangan nomor satu. Ketika menjelang tidur selalu dibelai hingga terlelap. Semua makanan kesukaannya selalu ada.

“Ketty, Ketty…kemari.” Tiba-tiba Bunda Niken memanggilnya.

Dengan langkah gontai Niken mendekatinya, dan mendengus-dengus kakinya tapi nampaknya Bunda Niken menjaga jarak. Biasanya dia langsung dibopong dan dicium  bahkan diajak bercengkrama di tempat tidur empuk Bunda Niken kemudian mendengar Bunda Niken bercerita.

“Ketty sekarang kamu tinngal di taman ya, maaf Ketty kemarin Bunda ke dokter, saran dokter kandungan untuk punya momongan Bunda jauhi sementara kamu. Bunda juga tidak bisa menggendong-gendong kamu dulu, maaf ya Ketty ini sudah keputusan Bunda dan Ayah.”

Ketty sadar, ternyata dia bisa jadi salah satu penyebab Bunda Niken tidak hamil itu yang bisa Ketty terima dari pemberitahuan Bunda Niken sore ini.

Di dalam kandang yang sekarang bersentuhan dengan alam, Ketty mulai merasakan angin yang menusuk tulangnya. Juga hembusan angin meniupkan bulu-bulu halusnya. “Hmmm, dinginnya sekarang aku mengerti kenapa Lido dan Pia berwajah kecut dan kesal saat aku menceritakan betapa hangatnya tempat tinggalku.”

Sedang merasakan dinginnya angin malam, tiba-tiba terdengar geraman “Grrrrrrrr, gok, gik, klontang….klontang…”

Suara nyaring dan mengejutkan di depan gerbang rumah membuat Ketty merinding, “Ah sangat menakutkan tinggal di luar rumah, aku sekarang sama dengan kucing perumahan, jangan-jangan besok aku juga harus berburu tikus….hiiiks aku tidak mau makan daging tikus liar.” Ketty ketakutan membayangkan apa yang terjadi akan hari selanjutnya.

Seperti biasa, sore yang cerah kucing-kucing perumahan berseliweran di depan rumah Ketty menanti makanan dari Bunda Niken.

“Ketty, kok kamu jadi pemurung.” Goda Lido yang tahu kesedihan Ketty.

“Ya aku sekaang bukan kesayangan keluarga ini lagi, aku sudah disingkirkan karena aku penyebab Bunda Niken tidak punya baby.” Ketty bertutur sedih.

“Sudahlah Ketty, kamu harus bersyukur karena Bunda Niken masih tetap merawat dan ingin memelihara kamu, memang hanya saja tidak bisa sedekat waktu dulu.” Kata Pia menghibur.

“Iya jangan sedih, kamu tetap kita sayangi…sekarang kamu bisa merasakan apa yang kami rasakan bukan ?” Kata Lido sambil merangkul Ketty.

“Ah benar teman-teman, aku bahagia kalian masih bersedia jadi teman baik ku.” Ketty bahagia, ternyata teman-temannya tidak dendam.

Sore yang cerah kucing-kucing perumahan dan Ketty menikmati sisa ikan asin siang hari dari Bunda Niken. Dan berpesta bersama serta tertawa riang.

BEJ, 27 Mei 2011 – menjelang pulang.

Pesan Moral  : Jangan suka menyombongkan diri , adik-adik…

Pic : koleksi pribadi dan google

 

 


Cerita Anak: Pangeran Bertopeng (2)

Di Kerajaan Jingga Langit hidup  tiga pangeran bersaudara. Mereka adalah Rommy, Edward dan Albert. E dward dan Albert berwajah  tampan, sedangkan Rommy tak memiliki wajah setampan kedua saudaranya.

Edward dan Albert kerap kali mengejeknya. Meskipun begitu  Rommy tak pernah membalasnya.

 “Bunda apakah aku bukan anakmu?” Mengapa wajahku tak setampan saudaraku? bahkan orang-orang menjuluki aku “si buruk rupa”.Aku tak mau dihina terus  dan aku tak mau orang takut  berdekatan denganku.” Ujar Rommy suatu ketika.

“Kamu anak Ayah dan Bunda. Tak usah kau hiraukan ucapan orang. Oya, Bunda jadi ingat ada peninggalan topeng dari kakekmu.Topeng ini bukan sembarang topeng. Dengan memakainya, orang tak akan lagi mengekekmu. Tapi pesan bunda, kamu tetap harus menjadi pangeran yang baik hati, penolong dan tidak sombong.

“Ya, Bunda. Aku akan berubah meski tak ada lagi yang menghinaku,”janji Rommy.

Sejak itu, Rommy selalu memakai topeng peninggalan kakeknya dan tak ada lagi yang menghinanya. Hal ini membuat Edward dan Albert makin membencinya.Apalagi Rommy selalu menjadi kesayangan orangtua dan masyarakat. Sebab Rommy selalu mau menolong setiap orang tanpa membeda-bedakan.

Sementara itu, di Istana Biru Langit, Putri Rachel sedang gelisah.Raja menghendaki ia cepat menikahi seorang pangeran utuk menggantikan Raja yang sudah tua. Duna melancarkan rencana, Raja dan Permaisuri mengundang pangeran istana lain ke pesta pemilihan calon suami Putri Rachel. Berita itu didengar dan disambut dengan sukacita oleh Edward dan Albert. Tidak demikian dengan Rommy yang merasa rendah diri. Ia memilih untuk menyaksikan saja pesta itu bersama rakyat kebanyakan. Pesta yang dinantikanpun tiba. Pangeran dari berbagai negeri telah berkumpul dan ungin menyunting puteri Rachel yang cantik jelita. Acara dimulai dengan ramah tamah, lalu uji pengetahuan dan keahlian berperang. Persaingan sangat ketat dan beberapa peserta telah dinyatakan gagal. Tinggal beberapa orang yang bertahan, termasuk Edward dan Albert.

Sebagai ujian penentu, mereka harus mengalahkan seekor singa yang sedang kelaparan di arena pertandingan. Singa ganas itu menyerang tiap peserta tanpa ampun, tapi ia tidak memangsanya. Ia tinggalkan begitu saja para peserta yang telah kalah.  Hal ini juga terjadi pada Albert, hingga kesempatan tinggal dimiliki oleh Edward. Namun singa itu rupanya sudah kelelahan dan geraknya tak lagi lincah. Edward memang beruntung jadi peserta terakhir. Ia bertarung sengit hingga singa terpojok. Dengan berang, ia lalu hendak menusukan pedangnya ke tubuh singa. Tapi upaya itu tiba-tiba dicegah oleh Rommy yang muncul dari kerumunan penonton.

“Edward, jangan kamu sakiti singa ini!  Toh meski lapar,  ia tidak memangsa para peserta yang kalah. Ia hanya menjalankan tugas untuk bertanding dan melawan kalian,” teriak Rommy.

Mendengar hal itu, penonton bertepuk tangan dan memuji Rommy. Ia lalu bergegas menolong singa yang sudah tak berdaya. Tak lama kemudian, Raja mengumumkan bahwa Rommylah yang berhak mendampingi Puteri Rachel. Namun hal itu ditolak halus oleh Rommy karena ia tidak berani membuka topengnya.

“Pangeran bertopeng, bagaimanapun rupamu,aku percaya engkau akan menjadi pemimpin yang baik dan disegani,” ujar Puteri Rachel. Ia lalu menghampiri Rommy dan membuka topengmya. Betapa terpesonanya ia ketika melihat wajah di balik topeng itu.

“Pangeran wajahmu sungguh tampan. Mengapa kamu menutupnya dengan topeng?”

Tanya sang Puteri.

“Saya tampan?” Rpmmy tak percaya hingga akhirnya Pureri Rachel memberinya kaca.

Begitulah kenyataan yang terjadi pada Rommy. Topeng peninggalan kakeknya mengubah pemakainya menjadi rupawan seiring kebaikan perilakunya. Akhirnya Puteri Rachel menikah dengan Pangeran Rommy. Mereka memimpin negeri dengan arif dan bijaksana. Sementara itu, Pangeran Edward dan Albert merasa malu dan meminta maaf atas kesalahan mereka selama ini.


Cerita Anak: Baju Lebaran Icha

BAJU LEBARAN ICHA


Malam semakin larut tetapi Icha belum juga tidur, hatinya sedang kesal dan marah.

“Icha ayo tidur…katanya besok mau ada ulangan …” kata ibu.

“Bu Icha beliin baju baru untuk lebaran ya…?” pinta Icha merajuk.

“Bulan ini kita harus menghemat, masih banyak yang lebih penting dari baju baru. Lagipula, bukankah bulan lalu kamu baru beli baju baru?” jawab ibu.

“Tetapi teman-teman Icha semua punya baju baru. Icha saja yang belum di beliin khusus untuk lebaran kali ini ibu….”

“Duh, duh anak ibu jangan suka iri hati begitu. Allah tidak suka pada anak yang punya sifat begitu, apalagi ini bulan suci. Kita harus bisa menahan segala hawa nafsu. Nah sekarang sudah malam tidurlah,” bujuk ibu dengan lembut.

Tetapi rupanya, keinginan untuk memiliki baju baru, belum sirna dari benak Icha. Dan siang itu seusai pelajaran sekolah, Icha tida langsung pulang ke rumah. Ia ingin jalan-jalan untuk mengobati kejengkelan hatinya. Ketika itulah ia melihat seorang anak perempuan sebayanya tengah asik mengaduk-aduk sampah.

“Idiih tempat itu kan kotor” kata Icha dalam hati.

“Eh ada anak sekolahan. Kenapa bengong saja?” sapa anak perempuan kumuh dengan ramah. ”Boleh aku kenalan denganmu?”.Namaku Fay… rumahku di…ah, sebaiknya tidak aku katakan.”Siapa nama kamu?”

Icha terkejut. Tetapi, melihat wajah anak dekil kumuh yang ramah itu ia mau menjawab juga.

“Namaku Icha, rumahku disana” jawab Icha sambil menunjuk ujung jalan.

“Wah tentu hidupmu senang, ya!” kata Fay melanjutkan pembicaraan.

“Ah tidak juga, lebaran kali ini saja aku tidak punya baju baru dan ibuku menolak untuk membelikan,” jawab Icha.

“Kalau kamu sendiri bagaimana… Orang tuamu di mana ?” Tanya balik Icha.

“Aku tidak punya ayah lagi, ibuku masih ada tapi lagi sakit dan tidak bisa bekerja…” jawab Fay dengan suara lirih dan wajah sedih.

“Oh maaf, aku membuatmu sedih…aku aku …” Icha merasa menyesal, mengajukan pertanyaan yang membuat teman barunya jadi sedih.

“Tidak apa-apa. Eh jadi anak sekolahan seperti kamu enak ya?” tanya Fay dengan rasa ingin tahu.

“Emang kamu tidak sekolah?” tanya Icha

Fay ketawa lebar…”Ha, ha, ha aku sekolah? “ Fay balik bertanya. “ Jangankan untuk bayar uang sekolah, untuk makan saja aku harus mengais sampah sepanjang hari dulu baru aku tukarin dengan recehan untuk aku belikan makan dengan emak.

“Oh!” hati Icha benar-benar tersentak, tak pernah terbayangkan di dalam benaknya selama ini ada anak yang mengalami kesulitan hidup seperti itu.

Terdorong oleh rasa iba icha pun berkata

“Kalau kau mau ke rumahku, maukah kamu menerima baju-baju yang sudah tidak aku pakai lagi meski bukan baju baru…?” Tanya Icha.

Fay membelalakan mata dan tersenyum sumringah merasa tidak percaya dengan tawaran Icha.

“Sungguh ?” tanya Fay .

“Ayolah!” ajak Icha semangat.

Lalu kedua gadis kecil itu berlari-lari samapi ke ujung jalan. Keduanya ingin sampai tiba di rumah Icha.

Icha ingin segera memberikan beberapa potong pakain yang masih bagus-bagus tapi tersimpan diam di almarinya untuk Fay, agar Fay gembira di waktu lebaran yang sebentar lagi tiba. Sementara Fay gembira membayangkan akan punya baju bagus!

“ Bu, Ibuuu…” Icha berteriak memanggil ibunya.

“Ada apa, Cha? Kenapa pulang sekolah teriak-teriak begitu? Tanya ibu penasaran.

“Oh, eh maaf, Bu!” jawab Icha sambil terengah-engah.

“Ini Icha mau memperkenalkan teman baru Icha. Namanya Fay bu. Dan Icha ingin memberikan beberapa potong baju Icha yang tidak terpakai lagi, biar Fay di hari lebaran punya baju bagus, bolehkan ibu…?”

Ibu menatap Icha sesaat, seakan tidak percaya dengan permintaan gadis kecilnya yang sangat bertentangan dengan keinginannya semalam.

Fay menundukan kepala dalam-dalam, ia takut ibu Icha tidak mengijikan bahkan akan mengusir karena kedekilannya.

“Fay sudah tidak punya ayah, kini emaknya malahan sedang sakit. Untuk membeli makan dan obat Fay harus mengais samapah dulu …apalagi untuk membeli baju lebaran yang pantas! Sangat tidak mungkin!” kata Icha nanar.

Ibu tersenyum senang dan terharu dengan kesadaran dan kebaikan Icha. Ibu mengingatkan kembali permintaan dia sendiri semalam…”Kamu sendiri belum punya baju baru…, kok sekarang mau ngasih orang lain…” Tanya ibu lembut.

“Ah lupakan saja Bu!” Icha memotong perkataan Ibunya. “ Icha merasa bersalah, seharusnya Icha tidak egois dan serakah…mementingkan diri sendiri, seharusnya lebaran tidak selalu dengan baju baru…tetapi akan lebih baik jika kita berbagi dengan orang lain, bukan begitu Ibu sayang.., maafkan Icha ya ibu…”

Ibu menganggukan kepala tanda setuju sambil tersenyum. Ibu gembira putrinya sudah bisa mengerti keadaan tanpa ada rasa marah.

“Terima kasih Fay, beruntung Icha bertemu denganmu hari ini. Semoga Allah membalas budimu! Kata Ibu Icha yang merasa bahagia atas kesadaran putrinya.

“Ah saya yang harus berterima kasih banyak dengan ibu dan Icha yang mau menerima bahkan memberikan rezeki pada saya dan emak, Icha mau berkenalan dengan saya saja …sudah membuat saya bahagia” kata Fay berkaca-kaca.

“Oh ya hamper lupa, Icha keluarkan baju yang akan kamu berikan. Ibu juga mau menitipkan sedikit uang dan baju yang sudah ibu tidak pakai lagi buat emak Fay semoga lebih bermanfaat.” Kata ibu Icha.

“Oh cantik sekali bajunya! Terima kasih ya Icha dan ibu. Terima Kasih, terima kasih! kata Icha berkali-kali. ”Semoga Allah membalas kebaikan hati ibu dan kamu Icha.”

Sesudah mengobrol beberapa lama Fay pun mohon diri. Ia ingin segera memperlihatkan baju dan bingkisan juga obat yang akan dibelinya buat emak tercintanya. Baru kali ini Icha merasa tersentuh dengan tingkah laku Fay yang sangat bahagia.

“Bu maafkan Icha, yang terlalu banyak menuntut pada Ibu. Padahal orang lain ada yang masih lebih susah hidupnya dari kita, Icha janji akan lebih hemat, Bu…”

Ibu memeluk Icha erat-erat. Cuma itu jawaban ibu buat Icha yang menyadari kekeliruannya.

Seiring bunyi adzan dan waktu berbuka puasa terbesit kegembira tiba saatnya menunggu hari Raya Idul Fitri yang banyak dinanti sebagai hari kemenangan….

Ya Allah Ya Ghaffar Ampunilah khilafku terhadap saudaraku ini. Ya Rahman Yaa Rahiim Limpahkanlah kasih sayang Mu agar kami tetap terikat sayang Mu agar kami tetap terikat dalam jalinan silahtuhrahmi untuk mendapat ridho Mu … Mohon Maaf Lahir dan Bathin  (Hiday & kel)


Cernak : Ketika Adhe Fay Hadir

Ketika Adhe Fay Hadir Cernak : Ketika Adhe Fay Hadir

|  5 May 2011- 09:17.WIB | Cerpen | Views: 5 | no comments | Edit Post

Icha kesal sejak ada Adhe Fay, bunda lebih sayang ke adhe bayi baru yang sebulan ini membuat rumah menjadi berisik dengan tangisanya.

“Bunda kenapa sih Adhe nangis terus ? Mbak Icha jadi tidak bisa tidur siang nih.” Gerutu Icha yang hampir 30 menit hanya bolak-balik badannya.

“Bundaaa suruh Adhe Fay diam dong, Mbak Icha ngantuk! kalau gak nangis! ngerengek! sebel deh ada Adhe baru!” Teraik-teriak Icha.

“Iya sabar, Adhe Fay kan masih bayi jadi kalau kepingin apa-apa ya dengan tangisan Sayang.” Terang bunda sambil mengelus Icha.

Pada awal kedatangan Adhe Fay dari Rumah Sakit, Icha bahagia karena Adhe Fay akan seperti Aisah boneka kesayangan-nya yang bisa diajak ngobrol dan bermain.

Tetapi ternyata Adhe Fay hanya bisa menangis dan menangis, mengganggu tidur dan merebut Bunda dari sisinya.

Icha jadi be te karena hadirnya  Adhe Fay, bunda jadi jarang menemani Icha tidur sambil bercerita karena Adhe Fay selalu minum ASI, sehingga Icha harus tidur tanpa dongeng bunda yang menarik.

Icha merasa semua orang sudah tidak menyayanginya lagi, semua orang disekeliling selalu lebih memperhatikan Adhe Fay, Icha merasa tidak berguna.

Sore hari setelah Bunda memandikan Adhe Fay,”Mbak Icha tolong ambilin bedak dan minyak telon ya…”.

Dengan bersungut Icha berjalan dan mengambilkan bedak dan minyak  telon di kamar tengah.

Masih cemberut dan  bersungut Icha terus duduk di samping Bunda dan Adhe Fay.

“Wah makasih Mbak Icha, tuh Adhe… Mbak Icha yang ambilin bedak dan minyak telon lho, ternyata mbak sayang ama Adhe…” Kata Bunda lanjut.

Icha memperhatikan bundanya membaluri minyak telon,tiba-tiba dia tertarik untuk melakukan.

“Mbak Icha aja Bunda yang kasih bedak,” pintanya.

“Boleh, boleh.” Bunda memberikan bedak yang mau diberikan.

Pelan-pelan Mbak Icha membedaki Adhe Fay,”Wah asyik juga ya Bun, Aisah habis ini juga mau Mbak bedakin kaya Adhe.” Kata Mbak Icha sambil tersenyum dan asik.

“Emang Aisah sudah dimandiin Mbak.”Kata Bunda .

“Udah sih Bunda, tapi kayanya asyik mendingan mandiin Adhe Fay ya Bun.”Celoteh Mbak Icha.

“Iya makanya, Mbak Icha harus sayang sama Adhe ya, nanti Adhe akan jadi teman bermain yang baik.” Nasehat Bunda.

Icha mengangguk-angguk, Bunda berharap gadis kecilnya akan bisa menerima kehadiran adiknya dengan proses yang terlewati.

Cerita lain :

2.http://dumalana.com/2011/04/07/cernak-sepatu-sepatu-fay/#more-3920

3.http://dumalana.com/2011/04/06/cernak-shine-yang-durhaka/#more-3904

Write without boundaries
Noorhani Laksmi

Noorhani Laksmi

Cernak : Payung Raksasa Fay

Cernak http://dumalana.com/2011/05/04/cernak-payung-raksasa-fay/#more-5733 : Payung Raksasa Fay

PAYUNG RAKSASA FAY
Sekilas dari dalam kelas Fay melihat hujan di luar masih turun deras, sementara ibu guru Sicilia masih menerangkan tentang deskriptif dan narasi dalam pelajaran mengarang. Fay paling suka pelajaran Bahasa Indonesia dengan ibu guru Sicilia.

Pukul 15.00 pelajaran selesai, Fay segera merapikan buku-buku dan ingin segera ikut berhamburan dengan murid-murid lain ke luar kelas.

Tetapi, sesaat Fay melihat ibu Sicilia sedang memasukan buku-bukunya ke dalam tas plastik.

“Ibu pulang sendiri atau dijemput, di luar hujan deras?” Sapa Fay, sambil membantu menutup beberapa buku yang masih terbuka dan menyatukan dalam kantong plastik.

“Ibu di jemput Ito, anak ibu. Tuh ada di ruang depan.”Jawab ibu Sicilia.

“Fay rumah kamu di mana?” Ibu Sicilia balik bertanya.

“Deket di belakang sekolah, ya sudah Bu saya keluar dulu ya.” Fay pamit.

“Hati-hati Fay.”

“Ibu juga hati-hati, selamat sore.”

Fay kagum dengan ibu guru Sicilia bukan hanya karena Fay suka pelajaran Bahasa Indonesia, tapi ibu Sicilia dengan kondisi fisiknya yang tidak sempurna karena polio yang menyerang salah satu kakinya selalu disiplin ke sekolah dengan sepeda jengkinya.

Sempat terbayang bagaiamana susahnya ibu Sicilia harus belajar naik sepeda dengan kondisinya, diam-diam Fay mengidolakan ibu guru yang ramah dan penuh semangat walau cacat disandangnya.

Hujan turun masih deras, Fay membawa payung besar.
Payung yang sebenarnya Fay tidak terlalu suka, karena buatnya payung itu adalah sebuah payung raksasa yang merepotkan.

Payung raksasa terlalu besar buat badan kecil Fay. Fay beberapa kali minta dibelikan payung kecil yang lucu-lucu, tapi ayahnya selalu bilang “Lebih baik pakai yang ada, selama masih bisa dipakai dan bermanfaat tidak usah membeli yang lain,” selalu begitu jawaban ayah bila Fay merajuk untuk dibelikan payung berenda bunga yang lucu seperti milik Kania. Rasanya asyik ketika hujan berpayung cantik dan jalan ramai-ramai bersama teman-temannya.

“Ah Ayah memang tidak pengertian, tidak tau model.” Gerutu Fay.

Walau Fay benci payung raksasa nya, tetapi Fay tetap membawa ke sekolah, dipikir daripada sakit kehujanan.Apalagi cuaca sungguh ekstrim akhir-akhir ini, walaupun rumah Fay tidak terlalu jauh dari sekolah tanpa payung raksasa yang selalu menemaninya mungkin Fay sudah jatuh sakit.

Ternyata ibu Sicilia masih menunggu hujan reda, di samping ibu Sicilia, berdiri seorang lelaki berseragama SMP, garis wajahnya mirip ibu Sicilia.

“Pasti ini Ito,” pikir Fay.

“Ibu kok belum pulang?”

“Belum Fay, Ito jemput Ibu tapi lupa nggak bawa payung. Jadi kami tunggu hujan reda dulu.”

“Oh,ibu pakai payung saya saja. Rumah Ibu masih jauh kalau saya dekat saya bisa berlari cepat dan sampai rumah.” Tawar Fay.

“Tidak usah Fay, Ibu tunggu saja sebentar lagi hujan juga reda. Kamu pulanglah sebentar lagi sore, Ibu juga ditemani Ito.”

“Tapi Bu, Ayah sendirian masih sakit,dan kita sudah janji mau mengantar ayah ke dokter “tiba-tiba Ito berucap.

Fay menatap Ito.

“Ibu sudah pakai payung saya saja, payung raksasa ini bisa untuk berdua. Saya bisa bareng Alil tuh anaknya.” Fay menunjuk Alil teman sekelas yang bertetangga sebelah dengannya.

“Bawa saja Ibu, kasihan suami ibu menunggu untuk ditemani ke dokter.” Tanpa menunggu lebih lanjut Fay menyerahkan payung raksasa ke ibu Sicilia dan berlari mengejar Alil.

“Alil tunggu aku nebeng!” teriak Fay.

“Ah ternyata payung raksasa Ayah ada manfaat buat ibu guru Sicilia juga!” Fay tersenyum senang.

Ilustrasi : dok.pribadi dan google.pic

Tulisan Cernak lainnya :

1.http://dumalana.com/2011/04/08/cernak-pakain-baru-sang-raja/

2.http://dumalana.com/2011/04/07/cernak-sepatu-sepatu-fay/#more-3920


Cernak : Pertandingan Lari Kimci dan Liliput

Kimci Yang Sombong

Kimci adalah seekor kelinci yang cantik, langsing dan tinggi. Kakinya yang lincah dan ringan membawa dirinya berjalan dengan cepat.

Sayang sekali karena kecantikan dan kelincahaannya Kimci menjadi seekor kelinci yang sombong, dalam bergaul kerap kali dia menyombongkan kondisi fisiknya.

Beberapa teman menjadi tidak suka dan menjauhinya.

Siang yang cerah di pinggir sungai Kemilau, anak-anak binatang sedang mengumpul bermain.Taman hijau penuh bunga dan udara yang semilir, disinilah anak-anak bermain sepulang dari sekolah.

Kimci, Grifti si anak jerapah, Rizi si anak rusa, Cori si anak kera, Pigzi si anak babi juga ada liliput si anak siput yang terkecil diantara mereka. Kupu-kupu, kumbang, angsa,berang-berang dan ikan-ikan semua bermain dalam taman hutan yang sejuk dan rindang berbagai pepohonan dan bunga.

Kimci,Grifti,Rizi dan Cori sedang bermain lompat tali, tentu saja sekelompok binatang ini suka bermain loncat tali karena fisik mereka mendukung. Apalagi Rizi anak rusa sangat lincah melompat, walau demikian Kimci juga selalu bisa menandingi setiap tali naik semakin tinggi.

Kimci semakin semangat apalagi disekitarnya binatang-binatang kecil, air dan melata hanya bisa menyaksikan terbengong-bengong dan sesekali bertepuk tangan setiap mereka bisa melompati tali yang dipegang berdua bergantian.

“Hai Liliput, ayo ikutan lompat tali!” Ejek Kimci sambil tersenyum pongah, sebenarnya Kimci tau pasti Liliput tidak akan menerima ajakannya, tapi entahlah Kimci suka menggodanya juga.

“Yah Kimci, mana bisa aku  main lompat tali…untuk jalan saja aku harus berhati-hati,” jawab Liliput tenang tanpa menghiraukan kesombongan Kimci.

“Kasihan ya jadi siput, gak seperti kita bisa bergerak cepat dan melompat sesuka kita benar gak teman-teman.” Kata Kimci lanjut.

“Sudahlah Kimci, setiap ciptaan Tuhan mempunyai kelebihan yang berbeda-beda,” kata Grifti bijak.

“Benaaar, aku setuju pendapat Grifti!” Cori menimpali.

“Ya, tidak perlu sombong dengan kondisi kita karena apa yang kita miliki juga ciptaan Tuhan sama yang dimiliki Liliput, Kimci jadi kita semua sama.” Rizi mendukung kedua temannya.

Kimci menjadi kesal karena Liliput dibela oleh teman-teman sepermainannya.

“Ah tentu saja kita beda! Kita lebih bagus, lebih pintar dibandingkan siput! Aku tidak mau disamain siput!” Kimci berteriak.

“Hmmm bagaimana kalo diadakan perlombaan aja antara Kimci dan Liliput, biar membuktikan siapa yang terhebat dari kalian.” Usul Pigzi si anak babi yang sedari tadi juga hanya melihat lpermainan lompat tali mereka, badan Pigzi yang gendut kesulitan juga jika harus ikutan lompat tali.

“Ok, aku setuju…bagaimana kallau balap lari ?” usul Kimci sepihak, karena yakin pasti Liliput akan kalah.

“Hmm gimana Liput? Kamu mau bertanding lari dengan Kimci? Tanya Grifti.

“Baiklah sebenarnya tanpa bertanding pun aku sudah mengakui kamu lebih hebat Kimci.”Kata Liliput merendah.

“Hah ini penting untu membuktikan kalau kita tidak sama!” Kata Kimci keras kepala.

Setelah dirundingkan rute yang harus dilewati, Kimci dan Liliput mulai bertanding.

Kimci melesat dengan cepat, sementara Liliput perlahan tapi pasti terus merayap, hingga akhirnya sampai pada terusan Sungai Kemilau yang beraliran deras. Kimci terhenti dia bingnung untuk menyeberangi karena tidak ada jembatan penghubung. Kimci menyesal menyetujui rute yang diajukan teman-temannya, tanpa dia sadari kalau jalan ke garis start harus dilewati dengan menyeberangi sungai tanpa jembatan.

Untuk kembali memutar, tidak mungkin dilakukan karena akan menjadikan rute dia berlipat-lipat panjangnya, juga bukan rute yang sudah disepakati.Kimci bingung berjam-jam bengong tidak bisa berbuat apa-apa.

Tiba-tiba Liliput muncul, “Lho Kimci kok kamu masih disini, kamu takut air?” Tanya Liliput.

“Aku tidak bisa berenang, dan aku juga tidak bisa melompat selebar sungai.” Gerutu Kimci.

“O, gitu…ya sudah aku mo coba menyeberang dulu, aku juga tidak bisa berenang tapi aku akan berusaha kesanamenyelesaikan pertandingan ini.”Kata Liliput dan mencebur ke sungai.

Kimci melihat tubuh Liliput bergerak-gerak terdorong arus, bergerak menjauh dan akhirnya menepi. Liliput melanjutkan perjalanan tetap dengan tenang hingga garis finish.

Diseberang teman-teman Kimci berteriak…”Yah Kimci kamu kalah, coba kamu berani berenang seperti Liliput, pasti kamulah pemenangnya.” Teriak Cori kera.

Kimci semakin panas, mereka berteriak-teriak “Hidup Liliput, Liliput pemberani.Huh Kimci Cuma mulut besar!

Kimci malu atas kejadian ini, sejak itu Kimci tidak suka menyombongkan kondisi fisiknya lagi.

Ilustrasi : doc.pribadi & google

Pesan Moral :

-Jangan sombong karena kesombongan akn jadi boomerang bagi diri sendiri.

 Cernak Lain : .http://dumalana.com/2011/04/07/cernak-sepatu-sepatu-fay/#more-3920

Tulisan Teman Menarik :

 Kingandira : http://dumalana.com/2011/04/23/kertas-lucu/#more-4792


Legenda : Candi Prambanan

Link :http://dumalana.com/2011/04/27/cernak-legenda-puteri-loro-jonggrang/

Oleh-oleh cerita Bunda,Icha dan Fay ketika liburan diYogyakarta:

Legenda Puteri Loro Jonggrang dan Raden Bandung Bondowoso

Pada jaman dahulu di Pulau Jawa terutama di daerah Prambanan berdiri dua buah kerajaan Hindu, yaitu Kerajaan Pengging dan Keraton Boko. Kerajaan Pengging adalah kerajaan subur dan makmur yang dipimpin oeleh seorang raja yang arif dan bijaksana bernama Prabu Damar Moyo dan mempunyai seorang putera laki-laki yang bernama Bandung Bondowoso.

Sedangkan kerajaan Keraton Boko berada pada wilayah kekuasaan Kerajaan Pengging yang diperintah oleh seorang raja yang kejam dan angkara murka yang tidak berwujud manusia tetapi berwujud seorang raksasa besar suka makan daging manusia, yang bernama Prabu Boko mempunyai puteri yang cantik jelita bak bidadari dari khayangan yang bernama Puteri Loro Jonggrang.

Prabu Boko mempunyai patih yang berwujud raksasa bernama Patih Gupolo.Prabu  Boko ingin memberontak dan menguasai Kerajaan Pengging,maka ia dan Patih Gupolo mengumpulkan kekuatan dan mengumpulkan bekal dengan cara melatih para pemuda menjadi prajurit dan meminta harta benda rakyat untuk bekal.

Setelah persiapan sudah dirasa cukup, maka berangkatlah Prabu Boko dan prajurit menuju ke Kerajaan Pengging untuk memberontak. Maka terjadilah perang di Kerajaan Pengging antara prajurit Pengging dan Prajurit Keraton Boko.

Banyak berjatuhan korban di kedua belah pihak dan rakyat Pengging menjadi menderita karena perang, banyak rakyat kelaparan dan kemiskinan.

Mengetahui rakyatnya menderita dan sudah banyak korban prajurit meninggal,maka Prabu damar Moyo mengutus anaknya Raden Bandung Bondowoso melawan Prabu Boko, karena kesaktian Raden Bandung Bondowoso maka Prabu Boko dapat dibinasakan.

Melihat rajanya tewas maka Patih Gupolo melarikan diri dan dikejar oleh Raden Bandung Bondowoso ke Keraton Boko.

Setelah sampai di Keraton Boko, Maha Patih Gupolo melaporkan pada Puteri Loro Jonggrang bahwa ayahandanya telah tewas dimedanperang, dibunuh ksatria Pengging yang bernama Raden Bandung Bondowoso. Maka menangislah Puteri Loro Jonggrang.

Sampailah Raden Bandung Bondowowso di Keraton Boko dan terkejutlah melihat Puteri Loro Jonggrang yang cantik jelita. Maka ia ingin mempersunting Puteri Loro Jonggrang sebagai istrinya.

Akan tetapi Puteri Loro Jonggrang tidak mau dipersunting Raden Bandung Bondowoso disebabkan ia telah membunuh ayahnya. Maka untuk menolak pinangan  Raden Bandung Bandowoso maka Puteri Loro Jonggrang mau dipersunting Raden Bandung Bondowoso asalkan RadenBandungmau mengabulkan dua permintaan Puteri Loro Jonggrang. Dan Raden Bandung Bondowoso menyanggupi dua permintaan Puteri Loro Jonggrang dan segeralah Raden Bandung Bondowoso membuat sumur Jala Tunda dan setelah jadi ia memanggil Puteri Loro Jonggrang untuk melihat sumur.

Kemudian Puteri Loro Jonggrang menyuruh Raden Bandung Bondowoso masuk ke dalam sumur. Dan setelah sampai di bawah, Puteri memerintah Patih Gupolo menimbun sumur dengan batu. Raden Bandung Bondowosopun tertimbun batu di dalam sumur, dan Puteri Loro Jonggrang dan Patih Gupolo menganggap bahwa Raden Bandung Bondowoso telah mati di dalam sumur, akan tetapi di dalam sumur ternyata Raden Bandung Bondowoso belum mati maka ia bersemedi untuk keluar dari sumur, ternyata bisa keluar dengan selamat.

Raden Bandung Bondowoso menemui Puteri Loro Jonggrang dengan marah sekali yang telah menimbunnya di dalam sumur, tetapi karena kecantikan Puteri Loro Jonggrang kemarahan Raden Bandung Bondowoso bisa mereda.

Kemudian Puteri Loro Jonggrang menagih janji permintaan yang kedua kepada Bandung Bondowoso untuk membuatkan seribu candi dalam satu malam. Maka segeralah Raden Bandung Bondowoso memerintahkan para jin untuk membuat candi, tetapi dilain pihak Puteri Loro Jonggrang ingin menggagalkan usahanya. Ia memerintahkan para gadis di sekitar Prambanan untuk menumbuk padi dan membakar jerami supaya kelihatan terang untuk menumbuk padi dan membakar jerami supaya kelihatan terang pertanda pagi tiba dan ayam berkokok bergantian.

Mendengar ayam berkoko para jin yang membantu Raden Bandung Bondowoso lari dan meninggalkan pekerjaan mereka, sementara masih ada kekurangan  satu candi. Firasat Raden Bandung Bondowoso seharusnya pagi belum tiba, maka dipanggilah Puteri Loro Jonggrang disuruh menghitung candi dan ternyata jumlahnya sembilan ratus sembilan puluh sembilan, benar yang kurang satu candi untuk mencapai seribu sesuai permintaan Puteri Loro Jonggrang.

Maka Puteri Loro Jonggrang tidak mau dipersunting Raden Bandung Bondowoso. Raden Bandung Bondowoso merasa ditipu dan dipermainkan maka dia murka dan mengutuk Puteri Loro Jonggrang, “Hai Loro Jonggrang candi kurang satu dan genap seribu maka engkaulah pelengkapnya.” Aneh bin ajaib Puteri Loro Jonggrang berubah ujud menjadi arca patung batu.

Sampai sekarang arca patung Loro Jonggrang masih ada di candi Prambanan dan Raden Bandung Bondowoso mengutuk para gadis di sekitar Prambanan menjadi perawan kasep (tua) karena telah membantu rencana Puteri Loro Jonggrang.

Sumber cerita : buku panduan wisata Candi Prambanan asal-usul candi sewu (1000 candi)

Ilustrasi : Dok.pribadi dan femmy.web.id

Pesan Moral :

Jangan melakukan tindakan curang untuk mencapai suatu keinginan dan jangan menyakiti perasaan orang lain dengan cara-cara yang salah.

Note : Dan menurut kepercayaan orang dahulu, berkasihan di Candi Prambanan akan putus cintanya.

Tulisan Cernak lainnya :

1.http://dumalana.com/2011/04/08/cernak-pakain-baru-sang-raja/

2.http://dumalana.com/2011/04/07/cernak-sepatu-sepatu-fay/#more-3920

3.http://dumalana.com/2011/04/06/cernak-shine-yang-durhaka/#more-3904


Cernak : Kisah Pangeran Diamond Dan Puteri Lily

Kisah Pangeran Diamond dan Puteri Lily

 

Pada suatu malam di Negeri Bunga yang sangat subur. Rakyat hidup makmur dan bahagia karena sang raja dan ratu adalah pemimpin yang bijaksana. Raja Santana dan Ratu Bonie selalu mengutamakan kepentingan rakyat mereka. Hingga pada suatu masa kebahagiaan mereka terusik adanya dendam seorang nenek sihir yang menjadi musuh raja dan ratu atas kejadian masa lalu mereka.

Puteri Lily adalah anak tunggal dan kesayangan raja dan ratu. Satu-satunya pewaris tahta kerajaan. Puteri Lily juga seorang puteri yang baik hati dan penolong.

Pada suatu malam, saat bulan purnama mulai meredup, tampak bayangan mengendap-ngendap memasuki kamar puteri Lily.

“Hai siapa kamu dan  kenapa kamu datang mengendap-endap?” Tanya Puteri Lily ketakutan.

Ternyata sosok yang mengendap-endap itu adalah seorang nenek yang sangat tua dan keriput, wajahnya sangat menyeramkan.

“Hai Puteri cantik! Sebentar lagi kita akan bertukar posisi kamu akan menjadi seorang nenek yang sekarang kamu saksikan dan aku ha ha ha akan menjadi dirimu, seorang puteri jelita yang baik hati dan dipuja-puja.” Kata si nenek sihir menyeramkan.

“Tahukah kamu aku sangat membenci ke dua orang tuamu yang telah memperlakukan aku dengan jahat di waktu lalu, sekarang saatnya aku untuk membalas dendam!” hi…hi…hi…” Tawa nenek sihir menyeramkan.

Puteri Lily berteriak,”Tolong, tolong! Pengawal!” Tetapi suasana hening, nampaknya si nenek sihir telah melelapkan penghuni istana dengan mantranya. Tiba-tiba nenek sihir menghembuskan asap dari kedua belah tangannya kearah puteri Lilly, seketika putri Lily berubah menyerupai nenek tua yang kotor. Sebaliknya si nenek sihir berubah menjadi puteri Lily yang cantik jelita. Tidak ada satu orangpun yang melihat kejadian ini.

Dipinggir sungai Mas, seorang nenek tua buruk muka terisak-isak. Bukan lain dialah Puteri Lily yang sekarang hidupnya menderita. Ternyata rakyat negeri Bunga yang sudah hidup berkecukupan, sangat pelit untuk sekedar berbagi makan,minum bagi orang-orang yang kelaparan dalam perjalanan.

Sehari ini puteri Lily minta belas kasih untuk sedikit makan dan minum dari pintu ke pintu tidak ada yang terbuka baginya, sangat berbeda saat dia menjadi seorang puteri dengan sangat gampang mereka memberikan apa yang diminta. Puteri Lilly jadi mendapat pelajaran berharga dari penjelmaan dirinya yang baru.

 “Ah rakyatku ternyata mereka masih pelit dan hanya mementingkan dirinya.”Pikir Puteri Lily sedih akan kenyataan yang ada. ‘Selama ini raja dan ratu tidak tahu sikap rakyat mereka yang sebenarnya.”

Sementara di istana, Puteri Lily palsu mulai menunjukan sifat jahatnya. Penghuni istana heran atas perubahan Puteri Lilly yang biasanya berhati halus dan lemah lembut menjadi kasar dan kejam.

Malam ini adalah acara kunjungan Pangeran Diamond, yang merupakan sahabat Puteri Lily dari kecil dan akan melaksanakan pertemuan untuk pernikahan mereka.

“Dasar pelayan bodoh, kamu aku pecat! Karena mengotori gaun termahal ini!” teriak puteri Lily palsu, yang kesal saat acara jamuan dengan pangeran Diamond menjadi tertunda karena seorang pelayan menumpahkan minuman anggurnya.

Kemarahan Puteri Lilly yang meledak-ledak, tidak luput dari pandangan Pangeran Diamond yang terkaget-kaget.

“Sudah, sudah Puteri Lily pelayan tidak sengaja menumpahkan minuman kenapa kamu marah sekali. Kamu tidak seperti yang aku kenal!” Kata Pangeran Diamond yang membantu sang pelayan berdiri.

Karena peristiwa yang menggangu pikirannya, Pangeran Diamond urung untuk menyampaikan tujuan yang terpenting, meminang Puteri Lily.  Pesta masih terus berlangsung, Pangeran Diamond entah kenapa merasa jenuh. Untuk menghilangkan kejenuhan Pangeran Diamond  menyepi ke tepi kolam yang ada di taman istana.

Tiba-tiba pangeran dikagetkan dengan seraut wajah nenek-nenek tua di air kolam,..”Eh Nenek, kenapa malam-malam di sini ?”

“Saya..saya….” Belum sempat nenek tua jelmaan Puteri Lily menjawab, tiba-tiba beberapa pengawal istana menagkap dan menyeretnya.

“Tunggu, tunggu!” Pangeran Diamond merebut nenek renta dari tangkapan para pengawal.

“Siapa yang menyuruh menangkap Nenek tua ini, dia tidak bersalah!” Bela pangeran Diamond.

“Saya Pangeran! Nenek tua itu adalah musuh saya saat muda!” Teriak sang raja.

“Dia yang telah menyebabkan Pangeran Devo anak lelaki saya meninggal! Dia pembunuhnya! Seret dia ke penjara. Masukan ke puri atas!” Peritah raja Santana.

“Tunggu! Tunggu! Ayahnda Raja, perasaan saya mengatakan Nenek ini tidak bersalah.” Pangean Diamond tiba-tiba menemukan seikat bunga lily yang tergeletak ketika nenek tua itu diseret tangannya.

Seikat bunga Lily itu adalah bunga yang kerap Puteri Lily petik untuk di taruh vas kamarnya, dan ini sudah menjadi kebiasaannya. 

Malam semakin larut, Pangeran Diamond yang menginap di istana negeri Bunga tidak bisa memejamkan mata, seikat bunga lily di tangannya tiba-tiba meneteskan  air mata.

“O tidak, pasti ada yang tidak beres! Aku merasa Puteri Lily dalam bahaya, aku harus selidiki.” Tekad Pangeran Diamond.

Mengendap-endap Pangeran Diamond menuju kamar Puteri Lily. Betapa herannya pangeran Diamond ketika melihat Puteri Lily sedang menyantap daging mentah, karena pangeran Diamond tahu persis kebisaan Puteri Lily yang baik hati. Puteri Lily tidak pernah tega memakan daging binatang, apalagi yang disaksikan di depan mata sangat jauh berbeda dengan kebisaan Puteri Lily, ditambah hardikan kasar tadi sore pada pelayan, semakin menimbulkan kecurigaan Pangeran Diamond.

Pangeran Diamond naik ke atas puri, nenek tua jelmaan puteri Lily sedang termenung.

Dengan bantuan pengawal kepercayannya Pangeran Diamond bisa mengeluarkan nenek yang menjelaskan siapa diri dia sebenarnya. Pangeran membopong putri Lily yang sangat renta.

Sampai di halaman Pangeran Diamond dihadang oleh pasukan Raja Santana. “Pengkhianat mau kamu apakan Nenek jahat itu!” Hardik Raja Sentana, yang tenyata terbangun karena Puteri Lily palsu ternyata mengetahui tindakan Pangeran Diamond.

“Tunggu,tunggu ini Putri Lily sebenarnya!” Kata Pangeran Diamond keras-keras.

“Tangkap dialah   Putri Lily palsu!” tunjuk Pangeran Diamond pada Puteri Lily palsu yang berdiri di samping Raja Sentana.

Tiba-tiba Puteri Lily palsu berubah menjadi seekor naga besar,”Ha ha ha, Raja Santana sebentar lagi habis riwayat keluargamu, seperti engkau menghabisi keluarga aku…”

“Mirvia ? penyihir jahat!” Raja Sentana teringat masa  mudanya  saat perebutan tahta, dia berhadapan dengan Mirvia yang akhirnya dapat dikalahkan dalam perkelahian mereka. Tetapi sebelum kabur Mirvia yang terluka, sudah membunuh Pangeran Devo dan tidak ditemukan beritanya.

Pangeran Diamond adalah ahli pedang, dilemparkannya pedangnya dan  pas menancap di mata naga jelmaan Mirvia sang nenek sihir, tiba-tiba “Buuuum” naga jatuh berdentum, berubah menjadi nenek renta yang terkapar.

Puteri Lily yang terlempar karena dentuman tubuh naga yang jatuh,  tiba-tiba muncul dari dalam kolam dan telah berubah menjadi puteri yang cantik jelita kembali.

Ternyata dendam lama musuh raja hampir menghancurkan kerajaan, terselamatkan oleh Pangeran Diamond.

Alkisah Pangeran Diamond dan Puteri Lily menikah dan hidup bahagia. Puteri Lily menjadi pendamping yang bijaksana, pengalaman selama menjelma menjadi nenek buruk rupa menyadarkan bahwa rakyatnya masih bayak yang berkelakuan tidak baik. Puteri Lily bertekad untuk mengubahnya agar mereka menjadi rakyat yang berbudi luhur dengan semua orang.

Pesan Moral :

Jadilah orang yang berbudi luhur, baik hati dan bersahaja.

Ilustrasi : doc.pribadi & google.com

Tulisan Teman Menarik :

  1. Agus Haris P : http://dumalana.com/2011/04/10/kapal-mv-sinar-kudus-dibajak-perompak-somalia/#more-5780
  2. Erwin Z : http://dumalana.com/2011/04/14/jalan-jalan-sore/comment-page-1/#comment-8823

Cernak : Pangeran Bertopeng

PANGERAN BERTOPENG

Disebuah desa Kerajaan Jingga Langit hidup  tiga pangeran  kakak beradik, dari yang paling besar bernama Rommy, Edward dan Albert.

Edward dan Albert mempunyai wajah yang sangat tampan dan badan yang bagus, sedangkan Rommy walaupun dilahirkan oleh Ayah dan bunda yang sama tetapi tidak mewarisi wajah yang tampan seperti dimiliki oleh kedua saudaranya.

Walaupun sering mendapat penghinaan Rommy tidak pernah membalas dengan kemarahan, Edward dan Albert kerap kali mengejek Rommy dan meremehkannya, padahal Rommy adalah kakak tertua yang sepantasnya dihormati dan dicintai.

Kerap kali ayah dan bunda mereka menasehati Edward dan Albert agar tidak menyinggung perasaan kakaknya tetapi tak pernah dihiraukan oleh mereka.

“Bunda apakah aku bukan anakmu?” Tanya Rommy suati hari karena tidak tahan selalu di hina oleh saudaranya.

“Rommy tentu saja kamu anak bunda yang amat kami sayangi, tak usah kau hiraukan ucapan mereka.” Jawab Bunda.

“Tapi kenapa wajahku tidak setampan mereka, bahkan orang-orang menjuluki aku si buruk rupa, apa yang harus lakukan bunda? Aku tak mau dihina terus menerus dan aku tidak mau orang merasa ketakutan berdekatan denganku.”

“Anaku Bunda juga memikirkan keadaan kamu nak, Bunda jadi ingat ada peninggalan dari nenek moyang kita…benda itu berupa topeng dari kakekmu, mungkin dengan memakai topeng ini orang-orang tidak lagi mengejekmu juga saudara-saudaramu karena topeng peninggalan kakekmu ini bukan sembarang topeng, dengan memakai topeng tersebut keburukan wajahmu akan tertutup dan pesan bunda jangan sekali-kali kamu menjadi berubah dalam sikap sehari-hari, kamu harus tetap menjadi pangeran bunda yang baik hati, penolong dan tidak sombong.

“Bunda jangan khawatir Rommy tidak akan berubah walaupun nanti tidak ada lagi yang menghina diriku.” Janji Rommy.

Maka sejak itu Rommy selalu mengenakan topeng peninggalan kakeknya dan tak ada lagi yang menghinanya, karena memang wajah si buruk rupa sudah tertutup dengan sebentuk topeng. Hal ini membuat Edward dan Albert tambah membencinya apalagi Rommy selalu menjadi kesayangan orang tua dan lingkungan sekitarnya karena dia selalu mau menolong setiap orang yang memerlukan pertolongan tanpa pernah membedakan kasta.

Alkisah  dilain tempat di diistana Biru Langit, puteri Rachel sedang gelisah karena sang raja menghendaki dia cepat memilih pangeran yang siap dijadikan suami untuk menggantikan kedudukan sang raja yang sudah tua, demikian premaisuri juga mendesak agar puterinya cepat menggantikan segala urusan kerajaan yang menjadi beban  bagiannya.

Untuk melancarkan rencana sang raja dan premaisuri mengundang semua pangeran diluar istana Biru Langit untuk dating ke pesta pemilihan calon suami untuk puteri Rachel, demikian juga para pemuda-pemuda yang merasa memiliki kemampuan berperang yang bagus dan kepandaian dalam ilmu pengetahuan.

Berita pesta pemilihan itu tentu saja terdengar seantero pelosok negeri, tak ketinggalan oleh Pangeran Edward  dan Albert.

Kedua kakak beradik itu tentu saja menyambut berita ini dengan suka cita, tidak demikian dengan Rommy yang merasa tidak memiliki kriteria yang diajukan oleh sang raja dan permaisuri  istana Biru Langit, ditambah wajah buruk di balik topengnya menambah rasa rendah dirinya.

“Ayah , Bunda… Edward dan Albert akan mengikuti pesta pemilihan yang diselenggarakan istana Biru Langit, ayah dan bunda tidak perlu khawatir kita tidak  akan kalah dalam acara ini. Ilmu berperang dan pengetahuan kami pasti tidak tertandingi, kami pasti memenangankan seleksi ini, “ ucap Edward dengan sombong.

“Benar kata kak Edward, kami akan membuat ayah dan bunda bangga karena kita akan memenangkan acara ini dan menambah luasnya kekuasaan istana kita.” Tambah Albert.

“Bagaimana  kamu Rommy apakah kamu tidak tertarik untuk mengikuti pesta Raja? Tanya Bunda.

“Bunda rasanya Rommy tidak mungkin mengikuti pesta tersebut biarlah Rommy menyaksikan pertandingan saja bersama rakyat kebanyakan, semoga Edward dan Albert dapat memenagkan pertandingan ini,” jawab Rommy merendah.

“Sudahlah ayah, bunda tidak perlu memaksa Rommy untuk ikut, kasihan Puteri Rachel kalau melihat wajah Rommy yang sebenenya…pasti dia akan lari ketakutan,” celetuk Albert.

“Iya betul sekali saudaraku.” Edward menimpali.

Pesta pertandingan yang mendebarkan kunjung tiba, banyak sekali pangeran dari berbagai negeri mengikuti acara tersebut, tidak ketinggalan para pemuda tampan dan ahli berperang mengikuti nya, mereka benar-benar ingin menyunting puteri Rachel yang cantik jelita.

Acara dimulai dengan ramah tamah kemudian uji ilmu pengetahuan dilanjutkan keahlian berperang, persaingan sangat ketat.

Beberapa dari peserta akhirnya gugur karena ada yang gal dalam uji ilmu pengetahuan dan ada pula yang gagal dalam berperang. Tinggal beberapa orang yang dianggap memenuhi kreteria termasuk Edward dan Albert, sebagai ujian penentu adalah siapa yang dapat mengalahkan seekor singa yang sedang kelapaarn di arena pertandingan dengan dipertontonkan rakyat bayak.

 Singa yang kelaparn itu amat ganas, menyerang satu persatu peserta tanpa ampun, namun demikian singa itu tidak memangsanya, ia tinggalkan begitu saja para pemuda dan pangeran yang pingsan kalah menghadapinya. Hal ini juga terjadi pada Albert yang tidak bisa mengalahkan serangan singa lapar tersebut.

Hingga akhirnya kesempatan tinggal dimiliki oleh Edward, semua peserta sudah menyerah kalah. Edward bertarung dengan sengit, demikian juga singa tersebut tapi, singa sudah sangat kelelahan dan Edward adalah peserta terakhir yang  dilawan, gerakannya tidak bisa selincah dan segarang diawal-awal melawan para kontestan. Edward memang beruntung dia peserta terakhir dimana singa sudah kelelahan, dan tanpa ampun singa lapar itu akhirnya terpojok.

“Matilah kau singa keparat…!” teriak Edward dengan berang, lalu menusukan pedangnya ke tubuh singa.

Singa meraung kesakitan dan terkulai tak berdaya, Edward semakin pongah ia tusukan untuk kedua kali pedangnya namun tiba-tiba, “Edward cukup! Jangan kau sakiti singa ini lagi,” teriak Rommy yang tiba-tiba loncat dari kerumunan penonton yang begitu banyak.

“Heh apa-apaan kamu Rommy, kamu mau menghalangi kemenanganku!! Minggir atau kutusuk kau sebagai pengganti singa keparat itu !”

“Edward aku mohon kasihinilah singa ini, dia tokh tidak berlaku jahat dengan kita,walaupun dia lapar, dia tidak memangsa para peserta tapi hanya menjalankan tugas saja untuk bertanding dan melawan kalian semua, dan dia tidak membunuh !” Teriak Rommy.

“Ah dasar sok pahlawan kau Rommy, terimalah serangan ku,” histeris Edward teriak dan  bertubi-tubi menyerang Rommy yang pontang-panting menagkis serangan mendadak.       

Menyadari saudaranya tidak terkendalikan Rommy berusaha menagkis serangan-serangan tersebut, terjadilah pertandingan ditengah arena antara kakak beradik. Tak ada seorangpun yang berani mencegah seolah-olah mereka seperti tersihir dengan adegan yang tidak terencana. Demikian sang raja, permaisuri dan puteri Rachel tidak mampu untuk mencegah, rasa penasaran akan keberanian kedua pangeran yang sedang bertanding mendorong rasa keingintahuan siapa yang akan jadi pemenag.

“Prang !” Pedang di tangan Edward jatuh dan Rommy dengan sigap menawan Edward yang pucat dan tidak percaya dengan kekalahannya.

Rakyat yang memang mencintai Rommy langsung bertepuk tangan bahagia atas kemenangannya, sedangkan Rommy cepat-cepat menolong singa yang terluka  membalut luka dengan pakainnya.

“Oh siapakah pemuda di balik topeng itu…” gumam puteri Rachel penasaran.

“Rommy! Rommy! Hidup Rommy! “Yel yel rakyat.

“Rakyatku akhirnya pertandingan ini selesai dengan disaksikan kalian kita tahu siapa yang berhak mendampingi puteriku!” Seru sang raja.

“Ha… ha…ha…siapa yang mau bersuamikan orang yang buruk rupa.”Teriak Edward.

“Ha…ha..ha..iya bener sekali saudaraku, Raja belum tahu wajah di balik topeng Rommy yang sesungguhnya, dia bermuka seperti setan, sangat buruk dan puteri Rachel yang ada hanyalah ketakutan!!” teriak Albert tidak kalah nyaring.

“Baginda Raja, benar apa yang barusan saudara-saudaraku sampaikan, wajahku sangatlah menakutkan karena itu saya tidak berani membuka topeng ini, biarlah Edward yang memenagkan pertandingan ini, karena memang dari awal saya tidak berminat untuk mengikuti pertandingan ini. Saya hanya mersa kasihan dan tidak tega dengan singa ini, jadi ijinkanlah singa ini saya rawat dan menjadi teman saya.”Ucap Rommy.

“Tidak!” hai pemuda bertopeng apapun rupa kamu, kamu adalah satu-satunya yang memenangkan pertandingan ini, aku percaya dengan kebaikanmu kamu akan menjadi pemimpin yang disegani!” Teriak puteri Rachel tiba-tiba.

“Maafkan saya , tapi Puteri akan takut sekali melihat wajah buruk rupa saya.”

Puteri Rachel turun dari temapt duduknya lalu dengan perlahan menghampiri Rommy dan membuka topeng penutup wajahnya, dan betapa terpesonanya dia ketika membuka wajah di balik topeng tersebut.

“Pangeran kamu sungguh tampan, kenapa kau menutupnya dengan topeng? kau tidak buruk rupa sama sekali…lihatlah…!”

“Saya tampan?” Rommy tidak percaya dengan perkataan putri sampai akhirnya  Puteri Rachel memberinya kaca.

Begitulah kenyataan yang terjadi dengan pangeran Rommy, topeng yang menutupi wajahnya bukanlah sembarang topeng, topeng sakti peninggalan leluhur istana akan mengubah seseorang yang memakainya akan semakin rupawan seiring dengan kebaikan perilakunya.

Akhirnya puteri Rachel menikah dengan pangeran Rommy, kedua saudaranya sangat malu dan meminta maaf atas kesalahan mereka berdua selama ini.

Pangeran Rommy dan Puteri Rachel memimpin negeri dengan arif bijaksana. Hingga tekenalah pangeran Rommy sebagai  Pangeran bertopeng yang bijaksana.

Ilustrasi : dok.pribadi & Google.com

Pesan Moral : Jangan Jadi orang sombong, selalu rendah hati

Tulisan Cernak lainnya :

1.http://dumalana.com/2011/04/08/cernak-pakain-baru-sang-raja/

2.http://dumalana.com/2011/04/07/cernak-sepatu-sepatu-fay/#more-3920

3.http://dumalana.com/2011/04/06/cernak-shine-yang-durhaka/#more-3904


Cernak : Pakaian Baru Sang Raja (2)

Pakaian Baru Sang Raja


Alkisah pada jaman dahulu hiduplah seorang baginda raja yang sangat menyukai pakaian. Koleksi pakaiannya sangat banyak karena hampir setiap hari yang ia urusin hanyalah model-model pakaian yang terus berkembang, tiada satu haripun ketinggalan untuk mengikuti perkembangan mode baik dalam maupun luar negeri.

Almari khusus untuk pakaian sang raja sangat banyak dan terus bertambah karena mode tak pernah berhenti dan selama itu raja akan selalu membuat pakain dengan model terbaru.

Hingga pada suatu saat tiba hari untuk memperingati ulang tahun kemerdekaan kerajaan, hari ini adalah hari yang sangat membahagiakan rakyat karena akan banyak pertunjukan yang ramai dan banyak tamu dari manca negara yang tentu saja akan menambah penghasilan tambahan bagi rakyat, karena kebanyakan tamu-tamu akan membeli berbagai macam souvenir yang khas sebagai oleh-oleh.

Raja sangat bingung dengan pakaian yang akan dikenakan pada acara puncak perayaan, semua pakaian yang dia koleksi rasanya sudah dipakai semua dan tidak baru lagi. Karena itu ia memutuskan untuk membuat sayembara dicari penjahit yang ahli dan dapat menciptakan pakaian yang tidak mungkin modelnya sama dengan orang lain.

Benar juga selang sehari sayembara itu disiarkan datanglah dua orang yang menyatakan sanggup untuk memenuhi permintaan baginda raja.

“Kami ingin mengikuti sayembara yang baginda raja adakan, tapi untuk menghasilkan pakaian yang diinginkan kami memerlukan benang yang kami buat dari emas,”kata penjahit yang bertubuh tinggi.

Raja langsung terbayang pakaian yang sangat mewah, yang tidak mungkin dimiliki oleh orang lain apalagi bahan yang untuk membuatnya dari emas, sudah pasti pakain itu sangatlah indah.

“Baiklah berapa banyak emas yang kalian butuhkan akan aku penuhi asalkan pakaian itu jadi pada saat yang tepat di acara perayaan.Bekerjalah sekarang di belakang istana, sudah aku siapkan semua peralatan dan emas yang kalian perlukan,” perintah raja dengan riang.

Kedua penjahit itupun mulai bekerja dari pagi hingga petang, bunyi alat tenun mesin jahit ramai terdengar.

“Patih tolong lihat sudah seberapa jauh mereka bekerja, apakah pakaian yang akan aku kenakan akan jadi dua hari lagi.” Perintah baginda raja kepada patihnya.

“Baiklah Baginda.”

Patih pun menuju ke ruangan belakang untuk melihat kerja mereka.

Betapa kagetnya patih karena pakaian yang sedang dibuat oleh kedua penjahit itu tidak ada, tetapi kedua penjahit itu seolah-olah asyik menenun dan menjahit seperti mengerjakan sesuatu yang nyata.

“Oh Tuan Patih yang datang. Tuan Patih bagaimana menurut anda pakaian yang sedang saya jahit, indahkan? Saya yakin Tuan Patih akan sependapat dengan saya karena hanya orang-orang yang bijaksana dan pintar saja yang dapat melihat pakaian ini.” Kata penjahit yang bertumbuh pendek sambil tangannya memperagakan seperti memegang pakaian nyata.

“Iya, ya, pakaian ini sangat indah pasti baginda raja akan sangat menyukai. Perayaan dua hari lagi baginda minta pakaian ini harus sudah jadi.” Jawab patih yang sebenernya dia tidak yakin dengan apa yang dia katakana, tapi daripada malu dianggap orang yang tidak bijaksana dan bodoh, patih mengiyakan saja.

“Bagaimana Patih, bagus tidak pakaian yang mereka kerjakan? Tanya Raja antusias.

“E, indah Baginda, kalau Baginda mau melihat pasti akan terkagum-kagum apalagi pakain tersebut hanya bias dilihat oleh orang-orang yang bijaksana dan pintar.”Jawab patih.

“Ah yang benar saja, hanya bisa dilihat oleh orang yang bijaksana dan pintar? ah aku jadi ingin melihat sendiri.”

Seperti patih, baginda juga mengangguk-angguk kepala sambil berkata ”Yah indah, indah sekali pakaian ini dan tentu saja aku orang yang bijaksana dan pintar, betulkan!?! Aku akan mengenakan pada saat perayaan nanti. Sekarang lanjutkan pekerjaan kalian!” kata baginda raja yang sebenernya dalam hati merasa bingung juga karena tidak melihat sehelai benangpun, tapi sangatlah malu jika dianggap orang yang tidak bijaksana dan bodoh.

Hari perayaan yang ditunggu-tunggu tiba juga, rakyat berkumpul juga tamu-tamu. Hal yang paling ingin disaksikan rakyat adalah pakaian yang akan dikenakan baginda raja karena berita mengenai hanya orang yang bijaksana dan pintar saja yang bisa melihat pakain tersebut, sudah tersebar seantero kerajaan.

Kedua penjahit datang seperti membawa pakain nyata yang kemudian dipersembahkan kepada baginda raja. Kemudian dengan hati-hati mereka mengenakan pada tubuh baginda raja.

“Bagaiamana pakaian ini ,indah sekali bukan?” Seru baginda raja yang sebenernya risih karena merasa tidak memakai apa-apa.

“Ya, ya indah! Baginda kelihatan sangat bijaksana, pintar sekaligus gagah perkasa!” Kata pengawal istana.

“Ya,benar!” Pengawal istana lainnya mengiyakan.

Dan acara berjalan dengan meriah sekali, rakyat seolah-olah tidak memperdulikan pakain yang dikenakan baginda raja, walaupun dalam hati masing-masing orang bertanda tanya besar, tetapi daripada dianggap tidak bijaksana dan bodoh lebih baik mereka diam.

Baginda rajapun sangat menikmati pesta kemerdekaan dan tampak tertawa-tawa karena bahagia dengan pakainnya, hingga pada akhirnya terdengar teriakan anak kecil yang sangat polos ”Ibu, Ibu…kasihan sekali Raja kita telanjang! Apakah beliau tidak punya pakaian?”

Seketika oran-orang terdiam dan memandang baginda raja yang memang telanjang tanpa sehelai benangpun, seketika wajah baginda raja berubah menjadi merah padam karena semua orang tak sanggup untuk tidak tertawa terbahak-bahak.

Baginda raja sangat malu dengan peristiwa ini, beliau akhirnya menyadari telah ditipu oleh dua penjahat yang mengaku sebagai penjahit, emas yang ia berikan sebagai bahan membuat pakaian telah di bawa lari

Sejak peristiwa itu membuat raja berubah dan menjadi bijaksana, ia tidak lagi memikirkan pakain saja, tetapi mementingkan urusan kerajaan, bagaimana membuat rakyatnya hidup makmur, tentram dan aman (dari judul asli : The Emperor’s New Clothes)

link to : http://dumalana.com/2011/04/08/cernak-pakain-baru-sang-raja/

Ilustrasi : doc.pribadi & istockphoto.com

Pesan Moral :

Adik-Adik : Menjadi pemimpin adalah amanat, pikirkan rakyat! bukan kepentingan pribadi.


Cernak : Si Bunny Gemar Makan Coklat

Si Bunny Yang Gemar makan Coklat
Bunny adalah seekor anak kelinci yang sangat lucu, bulunya putih bersih, telinganya panjang dan ekornya bulat pendek. Bunny anak kelinci yang baik, tapi sayang, Bunny tidak suka menggosok gigi. Apalagi Bunny suka sekali menikmati makanan yang manis-manis seperti permen dan berbagai macam coklat.

Bunny kelihatan sangat menggemaskan dengan gigi kelincinya yang putih, akan tetapi bunda Bunny khawatir dengan kesehatan giginya, karena hobby Bunny makan manisan sementara Bunny malas menggosok gigi, terutama menjelang tidur.

Semua coklat dan manisan sangat disukai Bunny. Akibat lainnya adalah badan Bunny semakin gemuk. Setiap berangkat sekolah, Bunny membawa bekal susu coklat dan permen coklat. Padahal bunda Bunny sudah menyiapkan bekal air putih dan salad, akan tetapi selalu ditukar kembali oleh Bunny.

Hari ini ayah Bunny datang dari kota. Ayah membawa oleh-oleh coklat lima kotak. Coklatnya mungil dan berbentuk lucu-lucu, ada yang seperti beruang, kapal, mawar, strowbery dan lain-lain. Warnanya juga sangat menarik. Bunny senang sekali dengan oleh-oleh yang dibawa ayahnya.

“Wah, Ayah lucu sekali coklatnya, asyik … hari ini aku bisa makan coklat sekenyang-kenyangnya nih. Terimakasih Ayah.” Kata Bunny.Bunny sudah tidak sabar segera melepas seragam sekolah. Sambil menikmati coklat kesukaannya Bunny pun duduk bersantai-santai di depan tv.

“Bunny, coklatnya jangan dihabiskan sendiri, bagi juga dengan temanmu Mili, Flo dan Chiko ya!” Kata bunda. Bunny hanya bergumam tak jelas.

“O, iya nanti sore nenek dan kakek datang, ingat, coklatnya jangan kamu habisin sendiri ya Nak.” Lanjut Bunda.

“Ah Bunda, coklat-coklat ini ini enak sekali, Bunny mau menghabiskan sendiri saja.” Kata Bunny sambil memasukan coklat-coklat ke toples hello kitty kesayangannya.
“Itu kan banyak Nak, bagilah teman-temanmu. Jadilah anak yang pemurah.” Nasehat Bunda.Bunny diam saja dan tetap memeluk toples hello kitty-nya

“Apalagi jika terlalu banyak makan coklat dapat membuat sakit gigi, apalagi kamu kadang malas gosok gigi.” Kata Bunda lagi.

“Ah Bunda liat, walaupun aku malas gosok gigi, tapi gigiku tetap bagus kok!” sahut Bunny sedikit sombong.

Bunda hanya bisa geleng-geleng kepala dengan kelakuan Bunny.
Dari pulang sekolah hingga menjelang sore Bunny asyik menikmati coklat-coklat dengan aneka rasa dan bentuk tersebut, tanpa memperdulikan nasehat bundanya.

Tiba-tiba …

Tok…tok… tok . Pintu depan diketuk dari luar.
“Pasti nenek dan kakek.” Pikir Bunny, sambil segera melesat ke luar untuk membukakan pintu.

Sudah setahun lebih Bunny tidak bertemu kakek dan nenek. Mereka tinggal di luar kota dan sibuk mengurus kebun buahnya.
Bunny membuka pintu dan berteriak “Nenek…Kakek…” Sambil merentangkan tangannya. Tampak kakek dan nenek Bunny berdiri di depan pintu sambil tersenyum.
Tapi tiba-tiba Bunny terkejut dan berlari menjauh sambil menutup muka dengan ketakutan, “Haah Kakek dan Nenek kok jadi ompong, kemana gigi–gigi mereka?” kata Bunny dalam hati dan tidak jadi memeluk mereka.

“Kenapa Bunny, kamu takut ya sama Nenek dan Kakek?” Tanya nenek Bunny sambil berjalan masuk rumah. Di keranjang jinjing nenek tampak buah pisang dan mangga yang telah masak.

“He….he….he…. itu dia salah satu penyebab gigi Nenek dan Kakek habis!” kata Kakek terkekeh geli, sambil menunjuk coklat-coklat yang masih tergeletak di sofa tempat Bunny tiduran.
Malam hari Bunny tidur dengan gelisah.

Tiba-tiba Bunny sudah berada di sekolahan. Dia malu sekali ketika semua teman dan ibu gurunya menertawai dia.
”Ha… ha… ha… liat, Bunny ompong, tidak punya gigi. Giginya habis karena makan coklat, makanya, jadi anak jangan serakah, semua colat dihabiskan sendiri!” Kata Flo salah satu sahabatnya.

“Tidaak… tidak… tidak…. aku tidak mau ompong!” Teriak Bunny ketakutan, teringat sore tadi melihat senyum kakek dan neneknya yang aneh karena gigi-giginya habis.

“Bunny… Bunny… bangun Nak, kamu bermimpi ya….” Kata bunda membangunkan Bunny yang masih tertidur.
Bunny bangun dan langsung berlari ke depan kaca. Bunny pun tersenyum. Olala gigi kelincinya masih ada.

“Ah aku bermimpi Bunda.” Kata Bunny masih pucat.
“Pasti kamu bermimpi seram ya? Sampai teriak segala..” kata Bunda.
“Iya Bunda, Bunny bermimpi gigi Bunny habis dan jadi ompong seperti Kakek dan Nenek. Teman-teman semua mentertawakan Bunny.” Kata Bunny
“Bunny tadi ketika mau tidur belum gosok gigi ya! Seharian ini kan Bunny banyak makan coklat Nak, bisa-bisa Bunny benar-benar menyusul Nenek dan Kakek jadi ompong lho.” Lanjut Bunda sambil membelai Bunny.
“Tidak Bunda, aku tidak mau ompong. Aku malu ditertawain teman-teman dan bu guru, apalagi semua orang mengagumi gigi kelinciku ini.” Kata Bunny ketakutan.
“Kalau kamu tidak ingin gigimu ompong jangan banyak makan cokat, atau permen. Bunny juga harus rajin menggosok gigi, minimal 2 kali sehari, setelah sarapan dan sebelum tidur.” Kata Bunda.
“Baiklah Bunda, Bunny akan menuruti nasehat Bunda.” Kata Bunny memeluk Bundanya.
“Sekarang, Bunny gosok gigi dulu, kemudian membaca doa dan tidur lagi ya.” Kata Bunda lembut.

Bunny pun ke kamar mandi untuk menggosok gigi, kemudian berdoa dan kembali tidur.
Bunny bermimpi sangat indah, dia pun tersenyum manis.

Ilustrasi : dok.pribadi & dwarfbunnyzone.com

Tulisan dipublish di kompasiana.com acara paradoks (kolab Noorhani Laksmi dan Diah Chamidiyah)


Tikus Kota Dan Tikus Desa

Tiko adalah tikus pendatang baru dari kota. Sebenaranya Tiko malas sekali pindah ke desa Hijau yang semuanya masih sederhana.

“Bunda, kita tinggal di rumah Icha saja! Di sini kita sudah enak Bunda,” bujuk Tiko yang tidak ingin meninggalkan rumah tingkat Icha yang baginya sangat nyaman.

“Tiko kita tidak bisa berlama-lama juga di sini, kita harus ikut kemana Icha dan orang tuanya pindah.” Kata Bunda Tiko.

“Tapi Bunda, Tiko sudah mempunyai banyak teman ada Miciko, VanVan, Teflin. Semua sahabat-sahabat Tiko yang baik, Tiko tidak mau kehilangan mereka. Di sekolah Tiko juga sudah kenal dengan ibu bapak guru yang baik, pokoknya Tiko tidak mau pindah dari rumah ini!” Tiko berteriak marah.

“Tiko dengar penjelasan Bunda, kita harus pindah mengikuti keluarga Icha karena Papa Icha harus pindah ke desa Hijau, papa Icha ditugaskan untuk mengurus penghijauan hutan di pedalaman, kalau kita bertahan di sini kita akan mati kelaparan. Siapa yang akan menyediakan makanan kita? Karena rumah ini akan dijadikan perkantoran.” Jelas Bunda Tiko sabar menghadapi anak semata wayangnya.

“Pedalaman Bunda? Tinggal di desa? Yang tidak ada tv, time zone dan kolam renang? Trus teman-teman yang asyiiik tidak aku jumpai di sana!Pasti anaknya dekil-dekil!” Protes Tiko keras.

“Sudahlah Nak, Bunda yakin di desa kita juga akan bertemu dengan orang-orang yang baik. Memang kamu kira Bunda tidak kehilangan teman-teman Bunda di sini?” Terang Bunda bijak.

Tiko tertunduk diam, yang dikatakan Bunda benar, “Bunda dan Ayah juga kehilangan teman, seperti aku.”

Sepanjang perjalanan, Tiko diam saja, wajahnya memberengut. Terbayang kehidupan desa yang sepi dan serba kotor.

Setelah menempuh hampir sehari semalam dengan truck pengakut barang-barang Tiko terbangun, ketika Bundanya menepuk-nepuk bahunya. “Bangun Nak, kita sudah sampai, lihatlah pemandangannya indah sekali dan hiruplah udaranya hmmm segaaarrr sekali,” Tiko memperhatikan Bundanya yang merentangkan tangan menghirup udara segar sepuasnya, Tiko akui walau tanpa AC tapi udara dingin dan segar menerpa tubuhnya. Bulu-bulu lembut Tiko halus melambai. Otak yang panas menjadi adem.

Dari atap rumah Icha yang baru, Tiko melihat hamparan hutan yang hijau segar, saat di kota ketika Tiko duduk di beranda atap, yang nampak adalah perumahan yang rapat dan saling berdempetan, asap pabrik yang mengepul dari kejauhan dan panas yang menyengat.  Bila malam tidur tanpa AC terasa panas, berkeringat dan gerah. Untunglah Icha setiap malam selalu ber AC dan Tiko-pun jadi bisa tidur nyenyak.

Sore yang cerah dan angin semilir, Tiko dikejutkan dengan sebuah sapaan.

“Hai Tikus Kota, kamu baru sampai ya.” Ternyata ada tikus yang sebaya dengan Tiko.

“Namaku Tide, aku baru sebulan tinggal disini, asalku dari kota sebanarnya.” Kata Tide dengan riang.

“O, ya! Aku Tiko. Sebenarnya malas sekali pindah ke padalaman. Tapi Ayah Bundaku ingin selalu mengikuti keluarga Icha kemanapun, aku sedih kehilangan banyak teman dan suasana kota yang ramai.”  Tiko bercuhat kepada teman barunya.

“Yah aku bisa merasakan seperti mu sebulan lalu, tapi lihatlah sekarang aku bahagia tinggal disini!” Seru Tide.

Tiba-tiba suara riang anak-anak tikus terdengar bersahutan…”Tide, Tide ayo kita mandi di kali, kita mau mencoba sampan Paman Moko! Kata paman sampannya sudah jadi.Ayo kita bisa berlayar samapi ke hilir, di sana banyak buah delima!”  teriak seekor Tikus bertubuh tinggi.

“Hai teman-teman, kita kedatangan teman baru!” teriak Tide sambil menjulurkan kepalanya.

“Ayo Tiko asyiik mandi di Sungai Perak! Tidak kalah menyenangkan dengan kolam renang di kota.” Tide menarik tangan Tiko turun menemui tikus-tikus desa.

“Bunda!” Tiko sempat berteriak, tetapi Bundanya hanya melambaikan tangan bertanda mengijinkan Tiko mandi bersama teman-teman barunya.

“Teman-teman, ini Tiko dia baru sampai dan belum mandi. Mari kita tunjukan indahnya alam Desa Hijau.” Usul Tide.

Ternyata teman-teman baru Tiko tidak lah dekil-dekil seperti bayangan Tiko, mereka sangat ramah dan langsung akrab.

Tiko terkesima melihat air Sungai Perak, sesuai dengan namanya jernih keperak-perakan, hal yang belum pernah Tiko jumpai saat tinggal di kota.

Byuuurrrr, anak-anak tikus melompat beramai-ramai setelah menanggalkan pakaian. Tiko ragu-ragu, tapi Tide sudah menariknya. Berlima ramai saling menciprat-cipratkan air. Tide, Milo, Flo, Vanda dan Tiko tertawa riang.

Tiba-tiba Tiko merasa menemukan dunia baru yang tidak kalah dengan kehidupan di kota. “Ternyata hal yang baru tidak selalu menyebalkan, bahkan ada kebahagiaan dan harapan baru untuk memulai hal yang belum pernah dialami.” Pikir Tiko yang mulai senang dengan teman-teman baru dan lingkungan desa yang alami.

Ilustrasi : animals-zone.com

Pesan Moral :

Jangan takut untuk menghadapi hal baru adik-adik, karena dengan hal baru maka akan menambah pengetahuan . Salam Indonesia!


Kado Istimewa

Sebentar lagi Icha ulang tahun yang ke 7, Gisele ingin memberikan sesuatu yang istimewa. Gisele dan Icha 2 gadis kecil yang bersahabat dari mereka masih balita, mereka bertetangga.

Hampir setiap hari mereka bersama, dari Play Group dan masuk Sekolah Dasar. Yang membedakan adalah disaat Icha menjalankan ibadah puasa, Gisele walau tidak berpuasa, tetapi dia ikutan tidak makan di depan Icha, karena mama Katrin, ibundanya Gisele sudah menasehati untuk menghormati teman-teman muslim yang berpuasa.

Saat istirahat Gisele memutuskan makan di ruangan makan tertutup dekat dapur sekolah, agar Icha tidak tergoda membatalkan puasa.

Sebaliknya saat Gisele merayakan Natal, Icha bersama umi dan abinya berkunjung mengucapkan selamat Natal, bahkan Gisele selalu membagikan coklat Natal padanya.

Malam ini Gisele belum bisa memejamkan mata.

“Seli,” panggilan kesayangan Gisele dari mamanya. “Kenapa tidak bisa tidur, kamu sedang mikirin apa Nak?” Tanya mama Katrin.

“Ma 2 hari lagi Icha ulang tahun, aku sedang memikirkan kado yang tepat buatnya, selama ini Icha banyak membantu aku pelajaran yang aku kurang mengerti.”

“Nak kamu punya uang?”

“Punya Mama, aku sudah menyisakan uang jajanku, aku ingin memberi Icha kado istimewa, yang akan selalu mengingatkan persahabatan kita.”

Diam-diam mama Katrin bangga akan pemikiran putrinya.

“Baiklah mama bantu ya, coba ingat-ingat kejadian apa yang pernah kamu lihat atau sesuatu barang apa yang Icha perlu tapi dia tidak punya.”

Gisele diam sesaat mengingat waktu lalu bersama Icha.

“Iya aku  ingat, mukena Mah. Waktu pelajaran agama, pas praktek sholat mukena Icha sudah kependekan, jadi kakinya keliatan juga kerudungnya sudah sempit, Icha sempat di ketawain, kasihan. Besok temani Gisele membeli mukena buat kado Icha ya Mah.” Kata Gisele riang.

“Baiklah Tuan Putri,sekarang waktunya tidur besok mama temani ke toko Muslimah,” kata mama Katrin sambil mengecup pipi Gisele.

“Wah cantik sekali mukena pink-nya,  terima kasih Gisele, aku suka sekali. Besok langsung aku pakai buat sholat.” Icha memeluk sahabatnya.

“Sama-sama Icha, semoga kamu tambah rajin ke mushola.” Jawab Gisele puas.

Pesan moral :

Persahabatan tidak pandang bulu walau beda agama, suku, kelamin, negara sekalipun miskin dan kaya. Jadilah perbedaan untuk saling menghormati dan menanamkan rasa persatuan.  Jangan jadikan perbedaan  untuk tidak saling berseteru antar sesama.

Semoga kedamaian bersama bangsa kita tercinta selalu.


Hitungan Kancil dan Buaya

Alkisah keluarga kancil yang sedang resah, karena hutan tempat mereka tinggal mulai menipis dengan buah-buahan dan sayuran yang menjadi makanan pokok sehari-hari.

“Wah kita  harus cepat mencari tempat baru, semua tanaman sayur dan buah semakin menipis,penghuni di sini terlalu padat. Kita harus mencari lahan baru yang lebih menjajikan.” Pikir keluarga kancil yang mulai dihantui rasa takut akan kelaparan.

Memang Hutan Linggar pada awalnya sangat nyaman bagi kehidupan kancil dan binatang-binatang lain tetapi semakin hari yang menetap di daerah hutan Linggar semakin banyak, sehingga kerap kali terjadi perebutan makanan di antara mereka. Hukum rimba yang berlaku siapa yang kuat dan perkasa dialah yang menang dan menguasai daerah.

Keluarga kancil mulai banyak yang resah karena selain kesusahan memperoleh sayur dan buah, mereka juga kerap diintai oleh harimau yang berkuasa sebagai raja hutan untuk dijadikan santapan.

Berhembus berita bahwa di hutan seberang masih jarang penghuninya, makanan dan sayuran masih melimpah.

“Bagaimana kalau kita ber-transmigrasi saja ke hutan seberang, aku dengar kabar dari keluarga burung yang sudah survey mengabarkan hutan seberang masih jarang sekali penghuninya, keluarga burung-burung sebagian sudah berpindah.” Kata Ketu, seekor kancil yang menjadi pimpinan dalam komunitas keluarga Kancil.

“Benar, saya juga diberitahui Wiki si kutilang. Hari ini keluarga Wiki memutuskan pindah ke negeri seberang.” Kata  Kinkin si Kancil yang tekenal cerdik. “Kalau kita berlama-lama di sini, kita yang hanya tinggal bersepuluh bisa mati kelaparan dan disantap Si Maung yang setiap saat mengincar daging kita.” Kembali Ketu menginformasikan.

“Iya tapi untuk pindah ke hutan seberang kita harus melewati sungai Pening yang luas dan deras arusnya, bagaimana kita bisa melewati?” Tanya Utik, ibunya Kikkin.

“Satu-satunya yang bisa menolong kita keluarga buaya, tapi mereka pasti tidak mau menolong dengan cuma-cuma.” Kata Ketu.

”Tapi kita harus mencoba, karena ini menyangkut hajat hidup kita semua, kita tidak bisa tinggal di sini lama-lama, bisa-bisa satu persatu dari kita akan mati kalau tidak cepat-cepat pindah!” Papar Roko ayah Kinkin.

“Baiklah kalau begitu mari kita ke rumah buaya, kita coba dahulu apa yang mereka minta dari kita bila menolong menyeberangi sungai Pening.” Kata Ketu.

Sesampainya di sungai Pening.

“Kami akan menolong kalian dengan syarat, satu dari anggota kalian menjadi tumbal santap makan siang setelah kami menyeberangkan kalian semua, bagaimana?” Kata Bingo si kepala keluarga buaya yang berkuasa di sungai Pening.

Keluarga kancil terdiam semua dengan pikiran masing-masing. Ketu juga berkerut dengan syarat yang diminta buaya yang dianggap tidak berprikebinataangan! “Dasar buaya kejam, sungguh keterlaluan mereka. Aku tidak mungkin mengorbakan keluarga aku, lebih baik kita susah bersama di sini daripada harus mati di tangan mereka.” Gumam Ketu.

“Aku punya cara,” kata Kinkin berbinar.

Tampak sepuluh kancil yang tersisa mendengarkan cara yang Kinkin ajukan dan tampaknya semua manggut-manggut setuju.”

Akhirnya Ketu mendatangi Bingo dan menyetujui syarat yang diajuin sang ketua buaya. Ketu juga mengajukan syarat cara penyeberangan dan mekanisme penyerahan salah satu kancil yang menjadi  tumbal.

“Bingo, kami ada bersepuluh kancil. Jadi pada hitungan ke-10 itulah kancil terakhir yang akan jadi korban. Kami akan menyeberang satu persatu kemudian berurutan dimulai dengan kancil pertama menyeberang, maka dimulai juga engkau menghitung yang dimulai dari angka 0 (nol). Aku jamin kancil terakhir adalah kancil yang paling gemuk dan besar! bagaimana ?” Terang Kinkin yang menjadi wakil juru bicara didampingi Ketu.

“Hmmm, baiklah-baiklah atur saja. Aku setuju sekali yang terakhir adalah kancil tergemuk sebagai santapan siang kami,” kata Bingo yang sudah membayangkan daging kancil yang lembut, empuk dan lezat.

Keluarga kancil mengatur penyeberangan dimulai dari anak-anak, ibu dan baru para ayah.

Beberapa buaya berderet sampai ke ujung sungai seberang, dan mulai hitungan 0 (Nol) satu kancil pertama menyeberang, terus disambung tanpa putus hitungan ke- 1 kancil ke dua menyeberang, hitungan ke-2 kancil ketiga menyeberang, hingga hitungan ke-9 adalah kancil kesepuluh yaitu sang Ketu yang bertugas mengakhiri penyeberangan.

Bingo menunggu-nunggu kancil hitungan ke-10, tapi sunyi senyap?”Kok tidak ada yang loncat di punggungku untuk kancil ke-10 ?” Bingo mulai bingung. Karena dia yakin keluarga kancil ada sepuluh harusnya yang kesepuluh ini akan di terkam bersama buaya yang lain setelah meloncat ke punggungnya.

“Hai Ketu mana kancil yang kamu janjikan, bukannya hitungan ke-10 harusnya itu menjadi santapan kami!” teriak Bingo gerang.

“Hai Bingo sampai ompong gigi kamu, tidak akan ada kancil dalam hitungan ke-10, kami bersepuluh sudah menyeberang! Belajarlah berhitung bodoh…!” teriak Kinkin.

Bingo terpaku, masih juga tidak sadar.

Bagaimana adik-adik? Tahukah kalian kebodohan Bingo ….?

Ilustrasi : doc.pribadi & saromama.net

Pesan Moral :

Pagi Anak Indonesia.

Dalam melakukan pekerjaan pikirkan dengan baik dan matang.


Cemplon dan Cipluk

Cemplon dan Cipluk adalah kura-kura peliharaan bunda Icha sedari kecil hingga sudah lima tahun tanpa terasa mereka tinggal di rumah Icha.

Dari tinggal di aquarium yang kecil sekarang mereka sudah tinggal di kolam kemricik yang sejuk dan lebih luas.

Cemplon lebih tua dari Cipluk meski mereka sama-sama dipelihara di waktu yang sama, tetapi tubuh Cemplon memang sudah lebih besar.

Suatu ketika Cemplon mengeluh pada Cipluk…” Pluk aku bosan niy tinggal di sini, rasanya aku ingin melihat dunia luar.”

“ Wah gimana ya Plon, kalau aku sih sudah senang tinggal bersama keluarga Icha, coba saja setiap 2 hari sekali tempat kita dikuras ama si Teteh, makan 2 kali pagi dan sore selalu tepat waktu, belum lagi kalo ada makanan yang tidak dimakan orang rumah, kita lahap juga. Badanku sampe gembrot begini.”

“ Iya sih Pluk, memang terasa nyaman tapi kamu apa nggak bosan, kamu nggak mau melihat dunia luar yang hampir 5 tahun ini kita tidak pernah tahu. Kamu tidak ingin ketemu dengan teman-teman kita yang lain.” Kata Cemplon ngedumel.

“ Ya ya,  aku juga penasaran sih Plon , terus gimana ya enaknya,”kata Cipluk sambil mengkerutkan kening.

“ Hmmm gimana kalau pas kolam kita dikuras Teteh, kita ngabur saja. Tetehkan asyik ngegosok-gosok kolam, Icha sekolah dan Fay si bayi itu pasti tidur sama si Bibi, kelengahan mereka kita manfaatkan untuk kabur dari ember. Kita jalan keluar lewat  pintu depan, gimana menurut kamu?” kata Cemplon bersemangat mengatur siasat pelarian.

“ Aduhhh aku takut Plon, aku sih nggak kepingin terlalu tahu dunia luar. Aku sudah merasa nyaman sama keluarga yang menyayangi kita.”Kata Cipluk pelan.

“ Ah payah deh kamu, nggak punya sikap untuk lebih berani.” Kata Cemplon kesal.

 Ya maaf deh Plon, aku nggak seberani kamu, aku masih suka bermain dengan Icha dan bercanda sama si Pipih dan Mimih (2 ikan peliharaan Icha).

“Ya sudah kalau kamu lebih senang di sini, nggak apa-apa! aku mau pergi sendiri saja, kamu bantu aku biar bisa kabur.”Kata Cemplon masih dengan nada kesal.

“Kamu sudah yakin?” Kata Cipluk.

“Iyalah aku ingin sekali tahu dunia luar yang belum pernah aku sentuh.” Kata Cemplon yakin.

Ringkas cerita Cemplon berhasil kabur dengan pertolongan Cipluk, pelan-pelan Cemplon berjalan apalagi tempurungnya semakin mengeras dan berat. Badannya yang gemuk, memperlambat jalannya.

Hingga akhirnya “Yess!! lolos aku dari pintu gerbang. Hmmm, horai aku bebas dari rumah Icha, saatnya aku nikmati kebebasan dunia luar.” Cemplon tersenyum girang.

“Wah ternyata di luar sangat luas, wow ini lah dunia luar yang selama ini tidak aku saksikan, kasiahan Cipluk dia terpuruk di kolam Icha,”  pelan-pelan Cemplon berjalan menyisir sepanjang jalan.

Belum beberapa lama tiba-tiba ”Guk..guk..guk…”

“Waduh suara apa tuh…?” Rasa takut Cemplon mulai timbul.

”Auw…auw…auw….” Cemplon terus masuk kedalam tempurungnya, badannya terbolak-balik ditendang si Meksi anjing milik keluarga Anes yang besar dan berbulu tebal.

“ Waduh, wadouwww badanku linu-linu semua.” Cemplon memijat kepalanya.

“Anjing sialan masak aku mau dimakan juga.” Gerutu Cemplon.

“Hmmm tapi awal yang menantang.” Gumam Cemplon.

Belum lama Cemplon berjalan lagi, tiba-tiba …. ”Ciiit!!!!” Suara mobil  direm dengan tajam dan mendadak.

”Mati aku…!!”  Jerit Cempoln pucat pasi.

“ Uhhh dasar kura-kura jelek, bikin kaget saja! Untung tidak aku telindas,” gerutu seorang bapak berkepala botak dengan kesal.

Dengan kasar  Cemplon ditendang sampai menggelinding terguling-guling.

“Byuuur,”antara sadar dan tidak ternyata Cemplon tecebur ke sungai yang memang tidak jauh dari rumah Icha.

“Aduhh badanku sakit sekali, rasanya tempurungku retak semu,  hiks..hiks…jahat sekali si botak tadi mengatakan aku jelek, padahal selama ini bunda Icha selalu memujiku lucu dan gendut.”

Cemplon mulai tidak tahan untuk menangis, baru beberapa menit meninggalkan kolam yang nyaman, tapi sekarang sudah merasa menderita sekali.

Cemplon baru menyadari, ternyata dunia luar sangat kejam terhadap dirinya!

Baru termenung sejenak menyesali pelariannya tiba-tiba Cemplon tersadar sudah di dalam kegelapan. Seekor biawak bermulut besar tengah terbuka lebar dan tubuh Cemplon sudah di dalamnya.

Akhirnya  “Aaahhhhhhh, t o l o n g…!”

Kasihan Si Cemplon, “Come to The Real World Plon samar terdengar malaikat pencabut nyawa terdengar.

Dedicated : Buat Cemplon & Cipluk ours beloved  pet
Pesan Moral :

Kadang kita tidak mensyukuri apa yang sudah kita miliki. Masih saja merasa kurang dengan nikmat Allah yang dianugerahkan,  kita masih ingin seperti orang lain, yang kita anggap lebih kaya, bahagia dan sukses.

Sejujurnya belum tentu pandangan kita  tentang orang lain itu benar! Jadi syukuri apa yang ada dan nikmati hidup dengan bersahaja! Akan lebih nyaman.


Anya dan Peri Biru

Anya masih belum bisa terima kepergian mamanya. Sudah seminggu ini mamanya tiada.Masih teringat bagaimana mamanya menahan sakit yang di deritanya.

Mama Anya menderita kanker, hanya itu yang Anya tahu.

“Papa, Mama kanker itu apa ?” Tanya Anya suatu hari pada papanya.

“Apakah Mama akan sembuh, Anya kangen sekali ingin bermain dan pergi ke taman bersama Mama.” Harap Anya dengan wajah muram.

“Mama akan sembuh Sayang,  Anya harus berdoa dan memohon kesembuhan kepada Tuhan.” Kata Papa Anya sambil mengelus gadis kecilnya yang masih duduk di TK B.

Setiap malam menjelang tidur malam Anya berdoa “Tuhan beri kesembuhan Mama, Anya ingin sekali bermain dan jalan-jalan dengan Mama, Anya ingin Mama bercerita buku-buku lagi, kabulkan doa Anya Tuhan. Papa bilang bila Anya rajin menyapa Tuhan maka Mama akan sehat kembali…Terima Kasih.”

Harapan Anya pudar, pas di hari Minggu yang cerah, dimana biasanya Anya, papa dan mama liburan menikmati kebersamaan. Tetapi mama pergi untuk selama-lamanya.

Mama senang sekali bila papa mengajak wisata ke pantai, Anya juga sangat menyukai pantai karena bisa bermain pasir sepuasnya. Semua sudah berakhir.

Anya juga sudah tidak bisa lagi mencicipi cup cake buatan mama yang rasanya selangit, mama adalah special pembuat cup cake mini dengan berbagai varisai rasa. Anya senang memamerkan pada teman-teman di sekolah. Tidak terasa Anya meneteskan air mata, “Tuhan jahat, Tuhan tidak menepati janji ke Anya. Papa juga pembohong. Anya tidak pernah berhenti berdoa untuk kesembuhan Mama! Tetapi kenapa Mama dibawa terbang dan Anya tidak bisa ketemu lagi”. Hati Anya bergemuruh, dendam kepada papa dan Tuhan.

“Anya, masih marah Sayang.” Tiba-tiba papa sudah duduk dibelakang Anya.

Anya masih mentap rintik hujan di balik jendela kaca kamarnya, hari minggu ini Anya tidak mau pergi kemanapun. Setelah pagi mengunjungi makam mama bersama papa, Anya memutuskan untuk menghabiskan di kamar.

“Anya maafkan Papa, kalau kamu bersedih dan marah terus, Mama jadi ikutan sedih.”

“Papa dan Tuhan jahat, Anya sudah berdoa  setiap malam, Anya sudah tidak nakal lagi, Anya sudah menurut apa yang Papa bilang. Anya juga sudah mau mandi, gosok gigi sejak Mama sakit! Tapi tetap Tuhan mengambil Mama dari Anya.” Anya menangis tersedu-sedu, air matanya mengalir deras sederas hujan sore di luar.

“Sudah sayang, percayalah ini yang terbaik. Tuhan selalu menyayangi kita.” Papa memeluk Anya.

Hingga tak terasa setelah lelah menangis Anya tertidur.

Tiba-tiba…

“Anya….Anya….” Terdengar suara lembut menggaung memanggil.

“Hai siapakah kau, cantik sekali…kamu seperti seorang peri.” Sapa Anya.

“Aku adalah Peri Biru, aku akan memenuhi segala permintaan yang kau inginkan.” Kata Peri Biru dengan terus mengepakan sayap lembutnya.

“Benarkah..?” Mata Anya berbinar. “Aku ingin Tuhan mengembalikan Mamaku, aku sudah berdoa setiap hari dan sampai sekarangpun aku tetap berdoa walau aku sangat marah kepada Tuhan!”

“Hmm, baiklah tapi sebelum keinginan kamu aku kabulkan. Anya lihatlah Mamamu dalam bola bersinar ini.” Kata Peri Biru lembut.

Tiba-tiba, di depan Anya terdapat bola putih bersinar, Anya melihat mamanya “Oh itu Mama, wah Mama sedang apa Peri? Mama cantik sekali dan sehat, berbeda sekali saat Mama sakit. Mama  tertawa riang bersama peri-peri seperti mu. Mama bahagia sekali ya Peri, lihatlah pakaian Mama seperti puteri, bunga-bunganya juga sangat indah. Mama sangat suka duduk di taman bunga yang segar itu, oh syukurlah Mama bahagia di sana.”

Tapi Peri, “Anya rindu, Mama…”

Suara kerinduan Anya, nampaknya membuat mama mencari sumber suara lirih.

“Anya, Mama mendengar kerinduan mu, dia juga mendengar panggilan hati mu. Lihatlah bola putih itu lagi Sayang.” Kata Peri Biru lagi.

Anya kembali melihat mamanya, tetapi gambar yang ada,  adalah saat-saat terakhir mama sedang sakit. Terngiang kembali suara mama yang menahan sakit dan rambut mama yang indah telah rontok karena kemoterapi yang dijalani. Air mata Anya menetes. Berbeda sekali dengan tampilan bola putih pertama.

“Peri Biru biarkan Mamaku bahagia seperti yang aku liat pertama tadi. Aku ingin Mama cantik seperti putri.”

“Nah Anya, Tuhan sayang dengan Mama. Ikhlaskan Mamamu menikmati kebahagiaan. Percayalah Mama akan selalu menyayangi dan mengawasi Anya walau jauh.”

Tiba-tiba Peri Biru menghilang ”Peri Biru…Peri Biru..” Anya memanggil di tengah keheningan, sunyi senyap.

Anya terbangun, dari mimpi tidurnya. Anya tertegun telah bertemu Peri Biru yang menunjukan betapa mamanya telah bahagia.

“Terima Kasih Tuhan, telah kau berikan kebahagiaan Mama. Jagalah Mama karena aku tahu Kau sangat menyayanginya. Seperti kami mencintainya.” Anya berdoa khusu dan ikhlas.


Mercy Berhati Tulus (2)

Di pinggir kerajaan Tujuh Pelangi hiduplah seorang kakek tua bersama cucu perempuannya yang bernama Mercy. Setiap hari mereka berdua bersama-sama berkebun, menanami halaman rumah dengan berbagai macam bunga yang kemudian diolah menjadi minyak wangi yang sangat harum, kemudian mereka jual di pasar yang terletak ditengah kerajaan.

Kakek Robin namanya, amat menyayangi Mercy, baginya Mercy adalah segala-galanya, apapun yang diinginkan oleh cucunya pasti akan dipenuhi, demikian pula sebaliknya Mercy pun amat menyayangi satu-satunya orang yang amat dekat dan merawatnya sejak kecil.

Matahari bersinar cerah, terasa hangat, Mercy dan kakek Robin asyik menyiangi tanaman bunganya, tiupan angin yang berhembus terasa segar dan wangi karena banyak sekali bunga-bunga bermekaran dan siap untuk diolah menjadi pewangi tubuh.

“Kakek, Mercy mau memetik bunga mawar yang disebelah sana ya, biar besok kita bisa buat minyak wangi dan lusa kita jual ke pasar. Mercy ingin membeli pakaian hangat buat kita, sebentar lagi musim dingin akan tiba.” Kata Mercy.

“Iya Mercy, Kakek setuju sekalian kita beli persediaan makan buat musim dingin, Mercy biar kakek saja yang memetik bunga mawar karena duri-durinya kadang sangat kejam bisa melukaimu, kamu terusin pekerjaan ini saja.” Kata kakek Robin.

Mercy pun melanjutkan untuk menyiangi dan kakek Robin mulai memetik bunga mawar yang siap untuk dijadikan minyak wangi. Berdua mereka asyik bekerja hingga menjelang sore.

Tiba-tiba “Aduh, aduh Mercy tolong Kakek.”

Kakek Robin ternyata tertusuk duri mawar dan langsung tertidur.

“Kakek, Kakek kenapa? Tolooong..toloong…tolooong…!” Teriak Mercy ketakutan. Terbayang jika kakeknya meninggal,  dengan siapa lagi ia akan hidup. Akankah menjadi gadis sebatang kara?

Sudah beberapa hari Kakek Robin tertidur, beberapa tabib sudah dipanggil untuk membangunkan dari tidurnya tapi tak seorangpun yang mampu.

“Kakek bangunlah Mercy takut, kalau Kakek pergi harus dengan siapa lagi Mercy hidup. Kakek jangan tinggalkan Mercy.” Sekeras apapun Mercy menangis kakek tercintanya tidak beranjak untuk bangun juga.

Untuk melanjutkan hidupnya Mercy tetap bekerja mengurus tanaman-tanamannya dan mencoba untuk membuat minyak wangi sendiri, walaupun hasilnya tidak sebanyak jika bersama kakek Robin. Dengan sabar Mercy merawat kakeknya walaupun dia sendiri tidak tahu harus menunggu berapa lama kakek bangun dari  mati suri,

Setiap malam Mercy selalu berdoa memohon agar diberi kesempatan untuk kesembuhan kakeknya dan membahagiakan sisa hidup kakeknya.

“Kakek apa yang harus Mercy lakukan biar Kakek bis sehat kembali?” Ratap Mercy sambil membelai dahi kakeknya, air matanya terus menetes hingga akhirnya rasa lelah,capai membuat dia tertidur di sebelah kakek Robin.

“Mercy jangan takut, aku adalah peri Mawar yang tinggal di kebun kamu, jangan bersedih kakekmu tertusuk oleh duri jahat yang dimiliki peri Duri Racun yang memang jahat sekali.  Peri Duri adalah saudaraku, sebenarnya sudah lama ia ingin mencelakai kamu atau kakek Robin, dia tidak suka jika mawar-mawar kalian olah menjadi minyak wangi. Di negeri kami sebenarnya kami sangat bahagia dan menghargai jika kalian menjadikan kami sesuatu yang bermanfaat. Karena Tuhan memang menciptakan kami untuk memenuhi kebutuhan manusia, tetapi Peri Duri Racun selalu berselisih paham dengan kami, menurut dia lebih baik mawar mati membusuk saja dari pada diolah menjadi minyak wangi, dia benar-benar kesal jika kalian memanfaatkan.” Jelas Peri Mawar.

“Tetapi percayalah kakekmu akan sembuh dengan cara meneteskan  sari tetes bunga mawar kehidupan, yang harus kamu temukan. Saranku pergilah kamu ke arah matahari terbit, tidak usah khawatir meninggalkan kakekmu, percayalah aku akan menjaganya.” Janji Peri Mawar.

Mercy terbangun dari mimpinya, rasanya apa barusan diucapkan oleh peri Mawar hanya satu-satunya jalan untuk menyembuhkan kakeknya. Mercy sudah bertekad untuk menemukan sari tetes bunga mawar kehidupan demi kesembuhan kakek tercintanya.

Pagi sekali matahari terbit, Mercy mulai melakukan perjalanan ke arah matahari terbit, panas, dingin yang silih berganti menerpa tubuhnya tidak dihiraukan hingga pada suatu hari ia berpapasan dengan seorang anak muda yang kelaparan dan compang-camping pakainnya.

“Bagi sedikit makananmu , aku sangat lapar  sudah  tiga hari ini cuaca yang dingin dan hujan membuat aku sakit dan tidak menemukan apapun yang bisa aku makan. Semua pintu rumah aku ketuk,tak seorangpun mau menolongku” Iba pemuda compang-camping tersebut.

Sekilas Mercy menatap pemuda yang ada di depannya, sepertinya masih muda tetapi wajah dan pakainnya sangat kotor, bau lagi! Tapi Mercy merasa kasihan dengan wajahnya yang sangat memelas dan kelaparan.

“Jangan khawatir aku masih ada bekal, makanlah.” Kata Mercy.

Pemuda compang-camping, langsung melahap habis bekal Mercy tanpa sisa.

“Terima kasih gadis yang pemurah hati, kalau boleh tahu mau kemanakah kau pergi?” Tanya pemuda tersebut.

Mercy pun menceritakan apa yang menimpa kakeknya dan harus menemukan sari tetes bunga mawar kehidupan yang dia sendiri masih bingung dimana akan menemukannya.

“Yah aku pernah mendengar sari tetes bunga mawar kehidupan yang kau maksud, sepertinya tumbuh di lembah  Alpenia terletak dimana matahari terbit, berjalanlah terus menuju matahari terbit. Aku hanya bias mendoakan kamu akan menemukannya.” Terang pemuda yang lebih segar karena sudah menghabiskan bekal Mercy.

Mercy terasa mempunyai kekuatan dan semangat baru karena pemuda itu meyakinkan jalan yang ditempuhnya sudah benar, walau bekalnya sudah habis.  Untuk menopang hidupnya adalah air minum yang tersisa .

Ditengah perjalan tiba-tiba  ”Nak tolong, Nenek haus sekali rasanya dari kemarin Nenek tidak menemukan setetes airpun.” Rintih seorang nenek.

“Oh kasihan sekali, minumlah Nek” Tawar Mercy.

Mercy juga menceritakan masalah yang sedang dihadapinya.

“Alangkah bahagianya kakekmu mempunyai cucu yang cantik dan berhati tulus, lanjutkan perjalananmu Nak, Nenek percaya kamu akan menemukan sari tetes bunga mawar kehidupan tersebut.”

Angin bertiup semakin kencang rasa lapar, haus ditahannya, hanya kain hangat yang melindungi Mercy dari terpaan alam.

Kembali Mercy bertemu dengan kakek renta, ”Nak tolong Kakek sangat kedinginan.” Ratap seorang kakek tua yang menggigil kedinginan.

Tanpa ragu-ragu Mercy langsung memakaikan kain hangatnya kepada kakek tua tersebut. ”Terima kasih ya Nak, Kakek merasa lebih hangat, lanjutkan perjalananmu. Doa Kakek menyertaimu.”

Mercy melanjutkan perjalanan tanpa bekal apapun. Semuanya sudah habis.

Lapar, haus dan dingin menyerang Mercy hingga rasanya sudah tidak sanggup lagi untuk berjalan, akhirnya di tepi sungai dan di seberangnya ada sekuntum mawar biru yang memancarkan keemasan.

”Oh itukah mawar kehidupan yang aku cari, indah sekali sinar yang dipancarkan.” Mercy menyeberangi sungai tapi badannya sangat lemah, ia pun tidak kuat menahan arus sungai yang deras, dan Mercy hanyut tidak sadarkan diri. Namun sekilas Mercy teringat ada  tangan yang sangat kuat menariknya dari air sungai yang deras.

Mercy tersadar dan tidak tahu dimana dia berada, tempat tidurnya sangat indah dan baju yang dia pakai juga sangat indah bak puteri raja.

“Dimana sari tetes bunga mawar kehidupan buat kakek.”

“Tenanglah Mercy kamu ada di istana aku, jangan khawatir kakekmu akan sembuh karena kamu telah berhasil menemukan sari tetes bunga mawar kehidupan dengan berbagai ujian. “ Kata seorang  pemuda tampan.

“Siapakah kamu dan kenapa aku jadi di sini?”

“Ingatlah! aku adalah pemuda kelaparan yang kamu tolong dalam perjalananmu, aku sebenarnya seorang pangeran yang sedang mencari permaisuri yang berhati tulus, nenek dan kakek yang kamu tolong mereka adalah raja dan ratu orang tuaku.” Terang pemuda compang-camping yang telah berubah menjadi pangeran tampan.

“Aku ikuti perjalananmu sampai akhirnya kamu menemukan yang kamu cari. Dan aku menolongmu ketika kamu hanyut, terimalah sari tetes bunga mawar kehidupan ini untuk kesembuhan kakekmu.”

“Oh terima kasih.”Mata Mercy berbinar bahagia karena kakeknya akan sembuh dan akan bersama lagi.

Setelah dipercikan dengan sari tetes bunga mawar kehidupan, kakek Robin bangun dari tidur panjangnya. Mercy sangat berbahagia karena dapat hidup kembali bersama kakek yang sangat dicintai.

Kini dia juga mempunyai banyak saudara setelah dipersunting Pangeran Alfon sang pemuda compang-camping yang sudah ditolongnya.

Karena berbudi tulus dalam menolong orang Mercy menjadi permaisuri yang dicintai oleh rakyatnya

 

Pesan Moral :

  • Menolong orang lain yang sedang kesulitanadalah hal terpuji yang di sukai oleh Allah