Write Without Boundaries

Cerita Anak

Tulisanku di Koran Berani dan Majalah Berani Agustus – September 2012

Beberapa tulisan di muat di koran Berani dan majalah Berani Edisi Agustus – September

surat info pemuatan

 

Tim Bersepeda Lingkungan di Berani Magazine

Cerita Anak Bersambung Hitungan Kancil dan Buaya


Cernak Di Muat Di Lampung Post 4 Dec 2011

Ini link nya :

http://www.lampungpost.com/dunia-anak/17555-kisah-sepasang-sepatu-.html

 

Enjoy Reader !


Di Muat Majalah MENTARI – Tahun XXVIII Minggu Ke V Mei 2011

Hitungan Kancil Dan Buaya

“Wah kita  harus cepat mencari tempat baru, semua tanaman sayur dan buah semakin menipis,penghuni di sini terlalu padat. Kita harus mencari lahan baru yang lebih menjajikan.” Pikir keluarga kancil yang mulai dihantui rasa takut akan kelaparan.

Memang Hutan Linggar pada awalnya sangat nyaman bagi kehidupan kancil dan binatang-binatang lain tetapi semakin hari yang menetap di daerah hutan Linggar semakin banyak, sehingga kerap kali terjadi perebutan makanan di antara mereka. Hukum rimba yang berlaku siapa yang kuat dan perkasa dialah yang menang dan menguasai daerah.

cerita selanjutnya bisa dilihat di HKDB


Cernak : Dinda Tidak Bodoh!

Beberapa hari ini nilai-nilai Dinda selalu dibawah angka enam, padahal sebelumnya Dinda selalu memperoleh nilai di atas angka delapan. Bunda Fitri heran dengan merosotnya nilai Dinda.

“Dinda, apakah kamu ada masalah Nak ? ” Bunda Fitri menanyakan apa yang mungkin terjadi dengan putri kesayangannya.

“Tidak Bunda, Dinda tidak kenapa-kenapa hanya saja Dinda memang kurang konsentrasi.”

Beberapa kali Bunda Fitri menanyakan, Dinda selalu menjawab tidak ada masalah dengan dirinya, sehingga Bunda Fitri hanya bisa bersabar dan tetap mencari tahu masalah turunnya nilai putri kesayangannya.

Dinda sebenarnya sudah bisa memahami materi apa yang akan menjadi ulangan di kelasnya, tetapi berkali Dinda mencoba membaca tulisan yang ada menjadi buram, dan Dinda semakin kesulitan bila dia pas kebagian duduk di agak belakang dan samping papan tulis. Dinda hanya bisa meraba soal yang tertulis dan menjawab dengan ragu-ragu setipa pertanyaan yang ada tercatat. Sepertinya ada yang tidak beres dengan matanya.

“Aduh kenapa jadi tulisan buram semua ya? aku tidak bisa melihat dengan jelas, jangan-jangan mataku sakit? Aduh bagaimana ini?” Dinda merasa ketakutan sendiri.

Rasa resah menggelayuti pikiran sepanjang pelajaran sekolah, tiba-tiba “Dinda, coba kamu jawab pertanyaan nomor 11.” Tiba-tiba suara Bu Guru Ani mengejutkan lamunannya.

Dinda terkaget-kaget, dan kembali dia hanya melihat sekumpulan semut putih yang berbaris, tulisa di papan tulis benar-benar menjadi kabur kadang nampak menjadi dua tulisan yang bertumpuk.

Dinda mulai membaca dengan gemetar ” Z aaat h h hijjjau daaaun padaa tangaan…”

“Haaahaaahaaa, haaahaaahaaa…huuu.” Suara murid-murid kelas 3 B menertawakan Dinda yang tergagap-gagap membaca dan salah.

“Ah Dinda malu-maluin kelas kita nih!” Seru Dodo yang memang suka usil di kelas.

“Dinda ternyata nggak bisa baca! Anak bodoh” Seru Dodi yang kembaran Dodo, yang sama usil dengan kembar identiknya.

“Dinda, ayo teruskan no 11.” Bu Ani agak keras, tapi juga agak curiga karena Dinda mengernyitkan matanya dan kebingungan.

Dinda malu dan berlari ke luar kelas, matanya terasa panas dan air mata mengalir perlahan.Kesal dan malu di bilang anak bodoh oleh si kembar Dodo Dodi.

Di taman sekolah Dinda duduk menenangkan hatinya.

“Dinda kamu sakit?” Tiba-tiba bu guru Ani sudah ada di sampingnya.

Dinda menggelengkan kepala, “Pasti bu guru Ani akan menanyakan hal yang sama seperi Bunda.” bisik hati Adinda.

“Ibu tahu, kamu bukan anak bodoh. Nilai kamu merosot hampir 2 minggu ke belakang, dan tadi Ibu memperhatikan setiap gerak-gerik kamu. Saat ulangan dan saat pelajaran Ibu. Sepertinya kamu ada masalah dengan penglihatan ya?” Selidik bu guru Ani.

Adinda tidak bisa membohongi apa yang barusan bu guru Ani katakan, karena memang bu guru Ani tahu persis gerak-geriknya di kelas.

“Sudah hampir 2-3 minggu ini mata saya menjadi sangat buram Bu Guru, tapi saya takut bila harus ke dokter dan memakai kacamata seperti orang tua.”

“Dinda, akan lebih parah bila kamu tidak mau berterus terang ke orang tua kamu akan kondisi kamu yang sebenarnya, kamu bisa tidak naik kelas kalau membiarkan hal ini.” Nasehat bu guru Ani.

“Apa yang kamu takutkan sebenarnya hanya ketakutan sesaat, dengan berkaca mata bukan berarti kamu anak cacat kok! juga bukan berarti kamu seperti orang yang sudah tua sayang, itu hanya proses yang terjadi dari diri kita.”

“Maksud Bu Guru?”

“Dinda harus bilang ke Bunda, dan Bunda akan antar kamu ke optik untuk di periksa, pecayalah itu tidak sakit dan bila memang perlu memakai kaca mata pasti Bunda akan memilihkan yang pas buat kamu, biar tetap cantik.” Panjang lebar bu guru Ani menerangkan.

“Tapi Bu Guru nanti aku di ejek-ejek jadi si ‘Bolooor’, Dinda teringat sepupunya yang pakai kaca mata yang tebal sekali, lalu dipanggil si ‘Bolooor’ duh nama yang nggak keren sama sekali di telinganya, apalagi sampai melekat menjadi ‘Dinda Si Bolor’.

“Dinda, siapa yang berani ngjek-ngejek nanti Ibu Guru nasehati. Ibu rasa kamu tidak akan jadi ‘Si Bolor’ asal kamu dengar saran dokter agar lebih menjaga kesehatan mata.” Kata bu Ani yang ikutan geli dengan sebutan Si Bolor barusan terlontar dari Dinda.

Sesampainya di rumah Dinda menyerahkan surat dari bu guru Ani buat bundanya, dan “Ya ampun Dinda, ternyata selama ini kamu ada masalah dengan penglihatan, kenapa setiap Bunda tanya kamu tidak berterus terang ?”

“Hmmm benar kamu takut dijuliki ‘Si Bolor’, seperti kata bu guru Ani.” tanya Bunda Fitri lanjut.

Dinda mengangguk.

“Dinda, Dinda…sudah ayo tidur siang nanti sore kita ke optik.”

Hari Senin yang cerah, Dinda sudah memakai kaca mata dan sekarang tidak lagi kesulitan membaca tulisan yang ada di papan tulis. Tidak ada lagi sekumpulan semut putih juga tulisan dobel membayang, dan teman-teman kelasnya semua memaklumi. Tidak ada panggilan Si Bolor juga. Ternyata cek kesehatan mata juga tidak sengeri bayangan Dinda sebelumnya.

Ilustrasi : Google.com

link :DUMALANA


Cernak : Perlombaan Menyusun Perangko

PERLOMBAAN MENYUSUN PERANGKO

Fay tidak bisa tidur karena besok adalah waktu untuk mengikuti perlombaan menyusun perangko.

Fay tidak ingin kalah dalam perlombaan besok, apalagi mengumpulkan perangko-perangko bekas adalah hobby Fay.

Fay sudah mengumpulkan perangko bekas sejak kelas 2 Sekolah Dasar dan sudah 1 tahun ini Fay berburu perangko bekas. Berawal dari Mbak Icha,  kakak Fay yang mengikuti Najwa sahabatnya suka membeli perangko bekas di toko buku dan berburu perangko bekas dari bekas-bekas surat Eyang jaman dahulu yang menumpuk di gudang menjadikan kegiatan yang menyenagkan bagi Fay.

Perangko-perangko di mata Fay sangat unik, sebuah kertas kecil dengan sejuta cerita. Perangko yang memuat berbagai foto, Fay mengelompokan perangko dalam negeri menurut jenisnya dan untuk perangko luar negeri dikelompokan per negara.

“Sel tukeran perangko Bung Karno 2 Sen dengan 5 Sen dong, aku belum punya koleksi yang 5 Sen.” Usul Fay.

“Baiklah, kebetulan aku ada 2 dan aku tidak punya Bung Karno yang 2 Sen jadi lengkap koleksi kita.” Gisel sahabat Fay setuju. Jadilah 2 sahabat kecil saling barter perangko bekas.

“Fay minggu depan seri apa yang kamu ikutkan perlombaan menyusun perangko ?” Tanya Gisel mengenai perlombaan filatelis.

“Aku masih bingung juga nih, rahasia dong kamu kan juga ikut lomba kan?” Kata Fay.

Gisel tersenyum, “He he iya ya rahasia juga.”

Dan seminggu tiada terasa, Fay berdebar di arena perlombaan menyusun perangko yang diselenggarakan perkumpulan Filatelis Indonesia.

Perlombaan dimulai, Fay mulai menggunting plastik sampul serapih mungkin, digunting segi empat, dan mulai melipatkan plastik ke perangko-nya sehingga perangko menjadi bersampul plastik dan terlindung. Kemudian bagian belakang direkatkan dengan selotip tapi tidak sampai mengenai kertas perangko. Semua dilakukan hati-hati dan cermat.

Waktu terus berjalan tidak terasa 1 jam yang disediakan panitia akan habis. Fay tergesa merampungkan lipatan terakhir dan menyelesaikan susunan terakhir.

Selesailah seri perangko  bunga-bunga kuno tersusun rapi.

Akhirnya pengumuman pemenang dibacakan Fay berdebar menanti.

” Untuk juara pertama di raih oleh Jasmine dengan perangko serial Bung Karno, juara ke dua di raih oleh Naura perangko serial Hasil Bumi Indonesia, dan terakhir juara ke tiga diraih oleh Fayre dengan serial Bunga Indonesia.” Kata MC Acara Filatelis 2011.

“Bunda aku juara ke tiga.”  Antara kecewa tapi senang Fay maju ke depan menerima piala dan piagam penghargaan.

Bunda bertepuk dan memberi Fay selamat dengan senyum bangga.

“Maaf Bunda Fay belum bisa juara pertama.”

“Fay dalam perlombaan jangan hanya mengutamakan menang, karena menang dan kalah adalah selalu menjadi badian dalam pertandingan, utamakan sportifitas dan membangun kepercayaan diri.”

Fay mangangguk-angguk, tetap bertekad untuk terus menekuni hobby nya, karena dengan filatelis Fay banyak memperoleh pengetahuan.

Selamat Pagi Adik-adik : Tekuni yang menjadi hobby karena dengan tekun dan serius akan menghasilkan suatu prestasi.

ilustrasi : koleksi pribadi dan google.com

Menyimak dan comment cerita lain yuk :

http://dumalana.com/2011/04/14/cernak-hitungan-kancil-dan-buaya/#more-4367

Write without boundaries – http://noorhanilaksmi.wordpress.com/
Noorhani Laksmi

Noorhani Laksmi
View all posts by Noorhani Laksmi

Cernak : Di Muat Koran Kompas Minggu 05 Juni 2011

KOMPAS ANAK

HATI YANG TULUS           

Di pinggir kerajaan Tujuh Pelangi hiduplah seorang kakek tua bersama cucu perempuannya yang bernama Mercy. Setiap hari mereka berdua bersama-sama berkebun, menanami halaman rumah dengan berbagai macam bunga yang kemudian diolah menjadi minyak wangi yang sangat harum, kemudian mereka jual di pasar yang terletak ditengah kerajaan.

Kakek Robin namanya, amat menyayangi Mercy…baginya Mercy adalah segala-galanya, apapun yang diinginkan oleh cucunya pasti akan dipenuhi, demikian pula sebaliknya Mercy pun amat menyayangi satu-satunya orang yang amat dekat dan merawatnya sejak kecil.

 Matahari bersinar cerah, terasa hangat, Mercy dan kakek Robin asyik menyiangi tanaman bunganya, tiupan angin yang berhembus terasa segar dan wangi karena banyak sekali bunga-bunga bermekaran dan siap untuk diolah menjadi pewangi tubuh.

“Kakek, Mercy mau memetik bunga mawar yang disebelahsanaya…biar besok kita bisa buat minyak wangi dan lusa kita jual ke pasar…Mercy ingin membeli pakain hangat buat kita…sebentar lagi musim dingin akan tiba…”kata Mercy.

“Iya Mercy, kakek setuju …sekalian kita beli persediaan makan buat musim dingin, Mercy biar kakek saja yang memetik bunga mawar karena duri-durinya kadang sangat kejam, bisa melukaimu…kamu terusin pekerjaan ini saja…” kata kakek Robin.

Mercy pun melanjutkan untuk menyiangi dan kakek Robin mulai memetik bunga mawar yang siap untuk dijadikan minyak wangi.

Berdua mereka asyik bekerja hingga sore hari menjelang, tiba-tiba…

“Aduh..,aduh…Mercy tolong kakek…”

Kakek Robin ternyata tertusuk duri mawar dan langsung pingsan.

“Kakek, Kakek …kenapa…Tolooong..toloong…tolooong…!” teriak Mercy ketakutan.

 Terbayang jika kakeknya meninggal dan harus dengan siapa lagi ia akan hidup…akankah menjadi gadis sebatang kara?

Sudah beberapa hari Kakek Robin tertidur, beberapa tabib sudah dipanggil untuk membangunkan dari tidurnya tapi tak seorangpun yang mampu.

“Kakek bangunlah..Mercy takut, Kakek harus dengan siapa lagi Mercy hidup…Kakek jangan tinggalkan Mercy…” tangis Mercy, sekeras apapun Mercy menangis kakek tercintanya tidak beranjak untuk bangun juga.

Untuk melanjutkan hidupnya Mercy tetap bekerja mengurus tanaman-tanamannya dan mencoba untuk membuat minyak wangi sendiri, walaupun hasilnya tidak sebanyak jika kakek bersamanya, dan dengan sabar merawat kakeknya walaupun dia sendiri tidak tahu harus menunggu berapa dari  mati suri, tak kunjung bangun dari tidurnya.

Setiap malam Mercy selalu berdoa memohon agar diberi kesempatan untuk kesembuhan kakeknya dan membahagiakan sisa hidup kakeknya.

“Kakek apa yang harus Mercy lakukan biar Kakek bis sehat kembali…?” ratap Mercy sambil membelai dahi kakeknya, air matanya terus menetes hingga akhirnya rasa lelah,capai membuat dia tertidur di sebelah kakek Robin.

“Mercy…jangan takut, aku adalah peri Mawar yang tinggal di kebun kamu…jangan bersedih kakekmu tertusuk oleh duri jahat yang dimiliki peri Duri Racun yang memang jahat sekali, Peri Duri adalah saudaraku…sebenarnya sudah lama ia ingin mencelakai kamu atau kakek Robin, dia tidak suka jika mawar-mawar kalian olah menjadi minyak wangi…di negeri kami sebenarnya kami sangat bahagia dan menghargai jika kalian menjadikan kami sesuatu yang bermanfaat. Karena Tuhan memang menciptakan kami untuk memenuhi kebutuhan manusia, tetapi Peri Duri Racun selalu berselisih paham dengan kami, menurut dia lebih baik mawar mati membusuk saja dari pada diolah menjadi minyak wangi, dia tidak suka  jika kalian olah menjadi minyak wangi.

Tetapi percayalah kakek mu akan sembuh dengan cara meneteskan  sari tetes bunga mawar kehidupan. yang harus kamu temukan, saranku pergilah kamu ke arah matahari terbit anakku yang cantik…tidak usah khawatir meninggalkan kakek mu, percayalah aku akan menjaganya…

Mercy terbangun dari mimpinya, rasanya apa barusan diucapkan oleh peri Mawar hanya satu-satunya jalan untuk menyembuhkan kakeknya.

Mercy sudah bertekad untuk menemukan sari tetes bunga mawar kehidupan demi kesembuhan kakek tercinta.

Pagi sekali matahari terbit, Mercy mulai melakukan perjalanan ke arah matahari terbit, panas, dingin yang silih berganti menerpa tubuhnya tak dihiraukan hingga pada suatu hari ia berpapasan dengan seorang anak muda yang kelaparan dan compang-camping pakainnya.

“Bagi sedikit makananmu …aku sangat lapar…, sudah  tiga hari ini cuaca yang dingin dan hujan membuat aku sakit dan tidak menemukan apapun yang bisa aku makan…hampir semua pintu rumah aku ketuk…,tak seorangpun mau menolongku…” iba pemuda compang-camping tersebut.

Sekilas Mercy menatap pemuda yang ada di depannya, sepertinya masih muda tetapi wajah dan pakainnya sangat kotor, bau lagi! Tapi Mercy mersa kasihan dengan wajahnya yang sangat memelas dan kelaparan.

“Jangan khawatir aku masih ada bekal…makanlah…” kata Mercy.

Pemuda compang-camping, langsung melahap habis bekal Mercy tanpa si

“Teriam kasih gadis yang pemurah hati, kalau boleh tahu mau kemanakah kau pergi?” tanya pemuda tersebut.

Mercy pun menceritakan apa yang menimpa kakeknya dan harus menemukan sari tetes bunga mawar kehidupan yang dia sendiri masih bingung dimana akan menemukannya.

“Yah aku pernah mendengar sari tetes bunga mawar kehidupan yang kau maksud sepertinya tumbuh di lembah  Alpenia terletak dimana matahari terbit, berjalanlah terus menuju matahari terbit…aku hanya bias mendoakan kamu akan menemukanny

Mercy terasa mempunyai kekuatan dan semangat baru karena pemuda itu meyakinkan jalan yang ditempuhnya sudah benar, walau bekalnya habis.

 Menopang hidupnya adalah air minum yang tersisa ….

Ditengah perjalan …tiba-tiba …”Nak tolong Nenek…haus sekali rasanya…dari kemarin nenek tidak menemukan setetes airpun…” rintih seorang.

“Oh kasihan sekali…minumlah Nek…” tawar Mercy.

Tiba-tiba Mercy bertemu dengan seorang nenek yang akan mati kehausan, dan Mercy juga menceritakan masalah yang sedang dihadapinya.

“Alangkah bahagianya kakekmu mempunyai cucu yang cantik dan berhati tulus, lanjutkan perjalananmu Nak, Nenek percaya kamu akan menemukan sari tetes bunga mawar kehidupan”

Angin bertiup semakin kencang rasa lapar, haus ditahannya, hanya kain hangat yang melindungi Mercy dari terpaan alam…

Kembali Mercy bertemu dengan kakek renta …”Nak tolong Kakek sangat kedinginan…” ratap seorang kakek tua yang menggigil kedinginan.

Tanpa ragu-ragu Mercy langsung memakaikan kain hangatnya kepada kakek tua tersebut, dan melanjutkan perjalanan tanpa bekal apapun…semuanya sudah habis…”Terima kasih ya Nak, kakek merasa lebih hangat…lanjutkan perjalananmu…doa kakek menyertaimu…”

Lapar, haus dan dingin menyerang Mercy hingga rasanya sudah tidak sanggup lagi untuk berjalan…akhirnya di tepi sungai dan diseberangnya ada sekuntum mawar biru yang memancarkan keemasan…”Oh itukah mawar kehidupan yang aku cari…, indah sekali sinar yang dipancarkan…”

Mercy menyeberangi sungai tapi badannya sangat lemah, ia pun tak dapat menahan arus sungai yang deras, dan Mercy hanyut tak sadarkan diri…namun dia sekilas teringat ada  tangan yang sangat kuat menariknya dari air.

Mercy tersadar dan tidak tahu dimana dia berada, tempat tidurnya sangat indah dan baju yang dia pakai juga sangat indah bak puteri raja.

“Dimana aku…aku harus menemukan sari tetes bunga mawar kehidupan.

“Tenanglah Mercy kamu ada di istana aku, jangan khawatir kakekmu akan sembuh karena kamu telah berhasil menemukan sari tetes bunga mawar kehidupan dengan berbagai ujian…” kata pemuda tampan.

“Siapakah kamu sebenarnya, dan kenapa aku jadi di sini…”

“Ingatlah aku pemuda kelaparan yang kamu tolong dalam perjalananmu, aku sebenarnya seorang pangeran yang sedang mencari permaisuri yang berhati tulus…seorang nenek dan kakek yang kamu tolong mereka adalah raja dan ratu orang tuaku…., aku ikuti perjalananmu sampai akhirnya kamu menemukan yang kamu cari dan aku menolongmu ketika kamu hanyut…terimalah sari tetes bunga mawar kehidupan ini untuk kesembuhan kakekmu.”

“Oh terima kasih…” mata Mercy berbinar karena kakeknya akan sembuh dan akan bersama lagi.

Setelah ditetesin dengan sari tetes bunga mawar kehidupan, kakek Robin bangun dari tidur panjangnya. Mercy sangat berbahagia karena dapat hidup kembali bersama kakek yang sangat dicintai, kini dia juga mempunyai banyak saudara setelah dipersunting Pangeran Alfon sang pemuda compang-camping yang sudah ditolongnya.

 Karena berbudi tulus dalam menolong orang Mercy menjadi permaisuri yang dicintai oleh rakyatnya (Bunda Nenny-Cimanggis-Bogor-rewrite 30072010)


Cernak : JUZZ JERAPAH BERKULIT JERUK

Juzz Jerapah Berkulit Jeruk

|  6 June 2011- 15:19.WIB | Cerpen | Views: 1,341 | 6 comments | Edit Post

Jerapah Berkulit Oranye

Juzz adalah anak jerapah laki-laki yang imut dan baik hati, hanya saja kulit Juzz memang unik. Juzz tidak seperti anak jerapah yang lain yang berkulit coklat muda dan bertotol-totol coklat tua.

Ketidaksempurnaan kulit Juzz ini, menjadikan Juzz sangat minder dan penakut untuk berteman dengan siapapun, apalagi kerap Juzz dijadikan bahan tertawaan oleh teman-teman binatang lainnya.

“Ha ha ha liat si Juzz anak baru, kulitnya oranye…seperti buah jeruk, pantesan Juzz nama mu…kamu cocok jadi bahan Juice seperti si Jeruk.” Ledek Flo anak jerapah di satu sekolah barunya.

Ini adalah hari pertama Juzz masuk sekolah Gardenia, sekolah barunya.

“Benar-benar Flo, Juzz kamu seharusnya jadi buah-buahan saja…bukan golongan jerapah seperti kami,” lanjut Fla jerapah cantik dan bermata lentik.

Juzz semakin malu, apalagi Juzz sebenarnya suka sekali bila bisa berdekatan dengan Fla yang cantik dan lucu. Juzz sangat ingin dekat Fla yang sepertinya selalu dikagumi teman-temannya.

Juzz berlari dan sampai di rumah.

“Ibuuu ayo kita pindah dari sini, Juzz malu…Juzz dibilang bukan golongan binatang, tapi buah-buahan! hanya karena kulit Juzz seperti buah jeruk.” Juzz mulai merengek minta pindah sekolah lagi.

Bunda Juzz bukannya tidak mau memenuhi keinginan anaknya, tetapi ini sudah untuk ke empat kalinya Juzz pindah sekolah dari satu sekolah ke sekolah lain, dan hasilnya selalu sama.

Semua binatang menggoda dan menggejek kelainan kulit Juzz yang berwarna orange. Bunda Juzz terkadang terbesit rasa bersalah, apakah karena selama hamil dia memang hobby sekali mengkonsumsi buah jeruk hingga membawa kelainan pada anaknya, sehingga membuat bunda selalu ingin memenuhi permintaan Juzz.

Tetapi semakin dipenuhi, hal yang sama juga terjadi dari satu sekolah ke sekolah lain.

“Juzz ini sudah sekolah yang ke empat engkau masuki, baru hari pertama kamu sudah ingin pindah lagi?” kata Bunda Zazi, bunda-nya Juzz.

“Iya Juzz, kamu tidak capai berkenalan teman-teman baru terus.” Kata Joe ayah Juzz.

Nama Juzz sendiri perbaduan antara Joe dan Zaza, JUZZ nama yang unik dan mudah diingat. Seperti juga tubuh Juzz yang berbeda  melekat kekhasan yang tidak dimiliki golongan binatang Jerapah lainnya.

“Ayah, Bunda Juzz malu, Fla yang ingin Juzz jadikan sahabat juga ikutan meledek! Kenapa sih Bun, Juzz harus lahir cacat kulit. Juzz malu Bun, Juzz ingin punya kulit normal seperti teman-teman Juzz.” Isak Juzz.

“Lebih baik Juzz tidak dilahirkan ke dunia, kalau hanya akan dicela!” Teriak Juzz histeris.

“Juzz! Kamu tidak boleh menyalahkan Bunda mu, Bunda sudah hamil dan melahirkan kamu dengan susah payah, tidak seharusnya kamu menyesali kelahiran kamu!” Joe ayah Juzz marah atas sikap putranya.

“Sudah Ayah, Juzz maafkan Bunda ya.” Bunda Juzz mengelus putranya, rasa sayang seorang Bunda terhadap putranya bisa Juzz rasakan, Bunda selalu melindungi setiap binatang bahkan ayahnya memarahi, padahal Juzz selalu menyalahkan Bundanya. Juzz jadi menyesal.

“Juzz, Juzz ayo kita main!” Terdengar suara memanggil.

Tiba-tiba wajah Juzz berubah sumringah setelah mengintip dari balik jendela dia melihat siapa yang memanggil.

“Bunda, Fla dan Flo main ke sini aih ada apa ya,”  tiba-tiba Juzz bahagia dengan kunjungan teman-temannya.

“Hai Juzz kami mau mengajak kamu untuk mengikuti perlombaan.” Kata Flo.

“Perlombaan? perlombaan apa?” Tanya Juzz terbingung-bingung, selama ini belum sekalipun Juzz mengikuti suatu perlombaan.

“Jadi Juzz, tadi saat pelajaran Bahasa Indoneia, bu guru Mervia membagi kita menjadi beberapa kelompok. Ternyata kamu jadi satu kelompok dengan kami. Nah tugas kita adalah bermain drama,  teman yang lain tidak bisa ikut kemari karena ada tugas lain.” Terang Fla.

“Wah bermain drama?” Juzz  menjadi sangat tertarik,  selama ini Juzz memang menyukai drama yang kerap Juzz tonton di televise saat kesepian tiada teman.

“Kamu sih tadi kabur dari sekolahan jadi tidak tahu apa yang diperlombakan buat acara mingguan sekolah kita.” Cerocos Fla.

Wajah Juzz bersemu merah menahan malu, “Iya aku tidak tahan diejek dan menjadi bahan ketawaan kalian.” Ucap Juzz jujur.

“Oh jadi gara-gara bercandaan kami tadi ya kamu kabur, Juzz maaf kalau tadi kami berlebihan mengejek kamu. Sebenarnya itu namanya ‘perploncoan’ suatu kebisaan kami bila ada anak baru kami kerjain dahulu,  jadi kamu jangan marah.” Kata Flo lebih lanjut.

“Oh ya! Begitu ya? Kalian tidak bermaksud menghina kulit aku” Juzz jadi semakin malu, ternyata selama ini dia tidak tahan dengan segala ejekan dan barusan salah sangka.

“Iya Juzz, dengan kulit kamu yang berbeda dengan kami bukan berarti kamu itu mahluk jelek. Malah kamu harus bersyukur dan berterima kasih dengan Bunda yang telah melahirkan kamu…, karena apa? Kamu jadi anak Jerapah yang unik dan antik. Kalau kamu tidak percaya, pasti nanti di acara perlombaan drama, kamu akan jadi banyak perhatian. Percaya deh!”  Terang Fla dengan senyum manis.

Juzz jadi semakin yakin dan percaya dengan ucapan Fla dan Flo, yang ternyata hanya menggoda di hari pertama dia sekolah.

Juzz dan kelompoknya berlatih keras untuk pementasan drama yang akan berlangsung pekan depan.

Saat yang ditunggu-tunggu.

Semua penonton para orang tua binatang-binatang, sekolah Gardenia tempat Juzz belajar tegang saat kelompok Fla yang terdiri dari Flo, Juzz, Miko sang rusa, Bigy sang kelinci, Koko dan Kiki tupai bermain drama.

Tepuk tangan berderai-derai ketika drama ditutup dengan happy ending saat Juzz berperan sebagai Pangeran Unik berhasil menolong Sang Putri Fla yang cantik dari cengkraman penyihir jahat yang di perankan oleh Flo.

“Hebattt, hebatttttttt Juzz pemain drama berbakat….!” Tiba-tiba Bu Guru Marvia berteriak memberi selamat terhadap Juzz murid barunya.

Kini Juzz mempunyai kepercayaan diri bahwa perbedaan yang dia miliki bukan suatu penghalang untuk maju, Juzz bahagai menemukan sahabat-sahabat yang baik walau di awal Juzz semapt ingin meninggalkan mereka.

Terlebih Juzz sangat berterima kasih kepada Bundanya, “Maafkan Juzz Bunda, telah membuat Bunda sakit hati karena Juzz suka berteriak-teriak dan menyesal terlahir dari rahim Bunda.” Juzz menyesali.

Bunda Zaza bahagia memeluk putra kesayangannya.

Dan Juzz semakin semangat untuk meraih impiannya menjadi pemain drama yang professional. Tidak lagi rasa malu dan minder dengan kulit jeruknya yang berwarna orange menyala.

link : http://dumalana.com/2011/06/06/juzz-jerapah-berkulit-jeruk/#more-8680