Write Without Boundaries

Tulisan Perindu Asmara

Karena Kau Pertama dan Selamanya

Aku mengenal gadis ini saat sama-sama menempuh kuliah Pasca Sarjana, Violet gadis yang matang dan mandiri. Entahlah dari awal berkenalan gadis cepak ala Demi More ini membuat aku semakin ingin lebih jauh mengenalnya.

“Vioelet asal kota Udang, tahu gak kota Udang?” awal perkenalan denganmu.

“O, anak Cirebon tokh kamu.” Kataku.

“Iya je, nama kamu?”

“Sindu.” Jawab aku singkat dan sok cuek menutupi hati aku yang berdebar-debar tidak seperti biasanya bila dekat dengan teman-teman perempuanku.

“Sindu siapa, Sindu Ramona atau Sindu Respati.” Lanjutmu dengan setengah meledek.

“Sindu saja!”

“Ah, masak sih cuma satu kata.”

“Nih kalau nggak percaya!” Aku tunjukin saja KTP, biar si Demi Vioelet nggak ngotot lagi, “Hmm tapi manis sih liat bila dia melotot, matanya yang belok berbinar indah.”

Itulah awal aku mengenalnya, lucu juga saat dia berkomentar “Wah kamu masih muda juga ya, gila udah ngambil S2, aku umur segini sih lulus S1 langsung nguli, wah kamu panggil aku Mbak Violet lho secara umur kita beda 3 tahun.”

“He he he enak aja, umur boleh beda 3 tahun Non, tapi kita sama-sama satu angkatan sekarang!” Kataku menolak memanggil dia dengan sebutan Mbak, “ Apalagi wajahnya masih imut gitu, waduh jangan-jangan wajahku nih yang boros, aih aku jadi minder.”

Malam hari dari perkenalan dengan Violet aku terbayang terus wajahnya, rasanya untuk pertama kali aku menyukai seorang wanita dari pandangan pertama. Banyak teman perempuan yang menjadi sahabat aku, tapi kali ini aku tidak ingin selalu hanya menjadi sahabat dengannya. Wajah Violet yang imut mulai menari-nari di pikiranku di hari pertama aku memasuki Kuliah Pasca Sarjanaku.

“Non, kok jalan kaki.” Kulihat Violet jalan kaki sendiri, secara jalan kedepan antara Gedung Ekonomi Magister Manajemen ke pintu gerbang masuk Kampus Universitas Sebelas Maret cukup jauh hampir 1 km, jelas aku hapal banget karena alumni kampus ini.

“Iya nih, kiriman motorku belum datang jadi ya sudahlah aku naik bus saja.” Jawabmu agak terengah-engah mengingat jalan kampus ini yang naik turun.

“Mau aku anterin, hayooo.” Tawarku.

“Nggak usah deh, aku juga mau ngurus motor dulu nih, tadi aku di telephone pihak pengiriman motorku sudah sampai di gudang mereka, aku mau ambil dulu.”

“Ya udah aku temanin, kamu kan belum tahu kota Solo.”

“Yes!” Ternyata Violet menerima tawaran aku.

Wah senangnya aku bisa menolong dia, apalagi saat dia kebingungan ternyata motor yang dipakekan itu kosong tanpa bensin, berdua kita mencari bensin untuk menghidupkan si Pi-wi nama motormu iti (ada-ada aja, motor kok dikasih nama segala).

Ternyata Violet mengambil S2 sekaligus bekerja, hebat aku semakin mengagumi dia. Tapi Violet terlalu kaku menurut aku, hanya karena aku lebih muda 3 tahun dari dirinya seolah-olah dia menganggap aku ini anak kecil dan jaga jarak, bah aku benci banget kalau dia mulai bilang, “Ah kamu memang masih kecil, wkwkwkwwk.” Seperti saat aku mengungkapkan tema berpacaran dengan wanita lebih tua, atau itulah cara kamu ngabur dari pembicaraan ini. Ah Violet! Aku sayang kamu! Sedari awal pertemuan ini, bahkan aku tidak peduli mungkin umur kamu 10 tahun lebih tua dari aku.

“Aduuh, aku belum mengerjakan tugas Organizational Change And Development semalam banyak banget kerjaan di kantor aku nggak sempet ngerjain tugas ini, mana Pak Basyir gak ada toleransi.” Violet panik, itulah ciri dia, “Huh umur memang lebih tua tapi jangan salah dia tuh panikan dan kadang tidak dewasa-dewasa amat.”

“Nih, pakai tugas aku aja,” tawarku seperti hero.

“Serius, terus Sin kamu nggak ngumpulin?”

“Sindu gitu lho, aku punya 1 lagi yang aku kumpulin.”

Violet menerima suka cita tugas alternative kedua yang sengaja aku siapin semalam, entahlah perasaan aku mengatakan pasti dia kecapaian dan lupa tugas Pak Basyir yang tidak mau kasih toleransi keterlambatan pengumpulan tugas dia, feeling aku ok juga, apa karena aku cinta dia ya.

Ternyata entah kenapa bila Violet ada masalah aku merasa ada sesuatu yang terjadi dengannya, ada kejadian lucu hingga aku di juluki si Kantong Dora Emon, karena juga setiap dia kesulitan aku selalu di sisinya dan menolongnya.

Tanpa sengaja sore setelah aku pulang dari Yogyakarta sambil membawa kaca spion yang sengaja aku belikan buat di pasang di Pi-wi yang kaca spionnya sudah pecah, aku tahu itu penting dan Violet sepertinya terlalu cuek dengan kondisi kaca spion motornya, makanya aku bela-belain membelinya. Aku takut dia juga celaka gara-gara tanpa kaca spion motornya.

Biasanya aku selalu muter melewati jalan samping kota, tapi sore ini aku ingin melewati jalan besar. Perasaan aku mengatakan aku ingin lewat jalan gedhe, dan ternyata aku melihat Violet sedang di Pos Polisi sepulang dari kantornya, aku sudah bisa tebak pasti dia ditilang karena kaca spion yang pecah.

Kembali aku seperti pahlawan, “Sore Pak, maaf Pak Polisi, teman saya tidak bersalah sebenarnya dia sudah minta tolong saya untuk membelikan kaca spion kemarin tapi semalam tertunda, saya tidak bisa ke rumahnya, soalnya Bapak saya pagi tadi masuk Rumah Sakit, jadi kaca spion ini baru saya bawa.” Kataku sambil siap-siap memasang kaca spion di Pi-wi.

Pak Polisi tercengang, tapi syukurlah dia masih berbaik hati apalagi melihat Kartu Mahasiswa Kami, tanpa banyak acara nyogok uang kami di lepas.

“Wah, wah Mas ini pasti pacarnya ya? Kok pas ya Mbaknya mo saya tilang, Masnya datang di saat yang tepat! kaya Doraemon aja punya kantong ajaib…” Ledek Pak Polisi sembari memberikan Kartu Mahasiswa kami.

Bukannya Violet berterima kasih malah ngakak, “Ha ha ha Sindu, Sindu …apa Kantong Doraemon , Kantong Ajaib…wkwkwkwkw Pak Polisi bisa aja.”

“Anjrit, dasar Violet!” bathin aku.

Aku tidak tahan terombang-ambing dengan perasaanku, apalagi 1 semester terlewati bersama. Aku tidak bisa membohongi perasaan yang ada dalam hatiku. Berkali aku coba menyentuh pembicaraan yang serius, tapi tetap berakhir dengan bahan ketawaan Violet yang mempermasalahkan perbedaan umur, aishhh aku selalu di anggap masih kecil.

“Vi, aku serius ingin jalan dengan kamu, aku tidak peduli dengan perbedaan umur kita, aku juga tidak peduli walau kamu dari keluarga broken home.” Jerit bathinku.

Aku benar-benar mencintai dan sangat menyayanginya, aku tidak perduli perbedaan umur dan aku tidak perduli dia sudah beberapa kali dekat dan putus dengan beberapa pria dan terutama aku tidak perduli dengan kondis keluarga dia yang berantakan. Di mataku Violet wanita yang harus aku bahagiakan karena dia adalah cinta pertama dan terakhir.

Hingga akhirnya karena menyerah dengan kegigihan aku atau dia sudah tidak ada harapan kembali dengan lelaki yang masih di tunggu cintanya, lelaki yang sempat membuat hatiku meradang bila terucap dari bibirnya, “Iya Sindu, aku masih menunggu Rico, karena aku mencintai dia walau entahlah semua menjadi tidak ada kepastian.”

Aku geram setiap nama Rico disebut, lelaki macam apa dia yang mengumbar janji tanpa jelas, dan Violet masih saja menunggunya, bahkan sempat menangis buat dia.

“Vi, ini yang terakhir kau terima cintaku atau sudahlah kita lupakan saja semua kedekatan kita selama ini, karena aku tidak sanggup untuk melupakan dan bila harus terombang-ambing, no time Vi! Aku serius ingin mengakhiri kesendirian aku setelah aku di terima di kantor baru.” Kali ini aku berani melamarnya, karena aku yakin dengan status aku yang telah bisa lulus dengan nilai memuaskan dan telah menandatangai kontrak kerja yang bagus.

Kulihat Violet masih sedikit bimbang, “Kamu yakin cinta dengan wanita lebih tua? Dari keluarga broken home? Juga keras kepala ?” Sederet pertanyaan kamu lontarkan.

“Aku cinta, cinta dan cinta kamu tanpa syarat…umur bukanlah halangan juga kondisi keluarga mu.”

Violet tersenyum, “Baiklah kita coba.”

Aku tidak bisa menahan kebahagiaan ini dan hingga akhirnya kami bisa bersanding dalam sebuah mahligai Rumah Tangga dan aku tetap menjadi Doraemonnya, setiap Violet perlukan aku akan selalu bersama dan menjaganya. Selamanya …

Jakarta, 20 Juni 2011 pukul 10.36 disela-sela kesibukan kantor

Mengenang, Surakarta 2005

link to : FB

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s