Write Without Boundaries

Kaidah Penulisan Kata Sapaan

Kaidah Penulisan Kata Sapaan

Oleh Joni Lis Efendi
www.menulisdahsyat.blogspot.com

Kata sapaan adalah kata yang digunakan untuk menegur sapa orang yang diajak berbicara (orang kedua) atau menggantikan nama orang ketiga. Kata sapaan ini harus ditulis dengan huruf kapital, baik dalam kalimat dialog maupun di narasi atau deskripsi.
Berikut adalah beberapa contoh kata yang dapat digunakan sebagai kata sapaan.

Pertama

Nama diri, seperti Anto, Karni, Nurmala. Nama diri ini biasanya untuk menyebut diri sendiri atau memanggil tokoh cerita yang lain.
Contoh:
Yully duduk gelisah, “Apakah Ibu harus diberi tahu? Tapi aku takut masalah ini akan membuat Ibu murka.” Gamang hati Yully terus menghantuinya. “Edel, apakah kau tidak mendengar pesan Ibu? Dasar anak bandel!” gerutu Okti, kakaknya Edel. Siang itu Rik sedang berbelanja di sebuah toko makanan. Namun niatnya urung setelah sepintas melihat Kun ada di toko itu, pasti anak itu akan menodongnya untuk membayar makanannya, mana ini akhir bulan lagi.

Kedua

Kata sapaan yang berhubungan dengan hubungan darah/kekeluargaan: Bapak, Ibu, Mama, Emak, Umi, Paman, Bibi, Pakde, Bude, Adik, Anak, Kakak, Abang, Kangmas, Mas, Uda, Umak, Abah, Abak, Om, Kakek, Eyang, dll.
Contoh:
Sedari tadi Emak menatap gelisah ke halaman rumah. Berharap gadis kecilnya segera pulang. “Sudah magrib, kenapa Tina belum pulang?” gumam Mak Edel dalam hati. “Maaf Mak, aku tak sengaja menjatuhkan vas bunga itu,” suara Tally gemetar. “Sudah Bapak bilang, kamu jangan bermain lagi sama Sandza!” suara Bapak terdengar bergemuruh di dada Andri. “Kamu ikut Om saja. Hidupmu akan jauh lebih bahagia,” bujuk Ali kepada Nonna. “Seingat Tante gak ada temen cowok kamu yang ganteng, apalagi tajir,” mata Tante Phoe mendelik sinis kepada Yazmin. Untuk beberapa hari Mas Hadi menginap di rumah kami. Kesempatan ini disambut baik oleh Mbak Repita dengan senyuman manisnya, ini kesempatan emas untuk mengenal lebih lekat lelaki berjenggot sejengkal itu. Bukan kata sapaan jika tidak tokoh cerita dan hanya bersifat umum: ditulis huruf kecil.
Contoh:
Dalam acara itu, setiap ibu harus membawa bekal sendiri dari rumah. Sedangkan bapak-bapak tidak dibolehkan merokok selama acara. Dan, anak-anak diminta untuk tidak bergelut atau bermain-main selama acara berlangsung. Sebagai seorang ayah, seharusnya Haris berani mengakui kalau Tri itu adalah anaknya. Hati emak mana yang tega melihat anaknya belum menikah yang usianya sudah mendekati kepala tiga.

Ketiga

Profesi atau jabatan atau gelar kepangkatan, seperti Jenderal, Kapten, Profesor, Dokter, Lurah, Camat, Pak RT/RW, Menteri, Presiden. Tapi harus diingat kata sapaan profesi ini hanya digunakan dalam kalimat percakapan langsung atau kalimat narasi/deskripsi yaitu menjelaskan posisi tokoh cerita. Jika tidak tokoh cerita maka cukup ditulis huruf kecil (nanti bagian bawah akan dijelaskan lebih lanjut).
Contoh:
Pagi ini, Jenderal Ali Musafa akan datang berkunjung ke Kampung Writing Revolution. Kepala Kampung datang tergesa-gesa, “Mana kepala suku yang lain? Aku akan menagih utang kepada mereka.” “Selamat pagi Suster Ayu,” sapa Teguh dengan senyum termanisnya. “Sudah aku bilang, lapor dulu sebelum meninggalkan kampung!” kesal Kepala Suku Kampung Writing Revolution 01 kepada Makedel yang sering lupa membagikan jatah kuaci warga. Kali ini Bu Guru Wahyu menampakkan ketegangan tingkat tinggi. Wajahnya yang ayu seketika jadi setengah matang waktu berpapasan dengan Kopral Inggar. Bukan kata sapaan jika bukan tokoh cerita dan tidak diiringi dengan penyebutan nama: ditulis huruf kecil.
Contoh:
Rombongan itu terdiri dari seorang jenderal bintang empat dan beberapa ajudannya, juga diikuti oleh bupati, camat, lurah dan ketua RW sekeluruhan itu. Kali ini kepala kampung itu tidak bisa berkata-kata lagi. Setiap desa seharusnya memiliki seorang dokter yang bisa setiap saat melayani masyarakatnya.

Keempat

Nama panggilan yang menentukan kedudukan pelakunya dalam masyarakat, seperti Tuan, Juragan, Pak Haji, Nyonya, Nona, Datuk, Batin, Tabib, Dukun Ketua Adat.
Semua tidak menyangka jika Juragan Deka bisa pulang kampung begitu cepat. Padahal katanya tidak akan pulang kampung sebelum bisa memboyong istrinya pulang. “Si Ivy nanti kasih obat ramuan bunga 7 bau ini ya,” pesan Mak Dukun Ghara kepada Anung, ayahnya Ivy. Terlihat Tabib Agus melafaz mantra dengan mulut monyong ke kiri, kanan, atas, bawah, lalu meludah ke delapan mata angin tanpa peduli cipratannya hinggap di dahi siapa saja yang  ada di ruangan kecil itu. Pak Haji Yogi tersenyum senang bakal dapat mantu kaya. Bukan kata sapaan jika bukan tokoh cerita dan tidak diiringi dengan penyebutan nama: ditulis huruf kecil.
Sebagai seorang tabib yang disegani di kampung ini, seharusnya Malym tidak melalukan tindakan tidak terpuji itu. Semua orang di kampung ini kenal dengan juragan pemilik penggilingan padi itu.

Kelima

Nama pelaku, seperti: Penonton, Peserta, Pendengar, atau Hadirin. Ini hanya diucapkan pada kalimat dialog saja yang tujuanya untuk memuliakan jika dalam kalimat narasi/deskripsi cukup ditulis huruf kecil.
Contoh:
“Diberitahukan, semua Peserta Kelas Gokil Online harap memperagakan gerakan ngakak tanpa suara.” “Semua Hadirin dipersilakan tidur kembali.” “Baiklah, Pendengar sekalian harap mencatat dengan baik resep antimati muda seperti yang Suster Ayu sampaikan tadi. Semoga berguna bagi keawetan kamu di kemudian hari,” kata Penyiar radio yang diselingi lagu “Bujangan” Om Haji Rhoma. Bukan kata sapaan jika tidak orang yang disapa dan tidak diiringi dengan penyebutan nama: ditulis kecil.
Contoh:
Setelah diberi aba-aba, semua peserta guling-guling memegang kepalanya. Sebagai pendengar yang baik, aku tidak akan memotong pembicaraannya asalkan dia nanti harus mentraktirku dengan bakso kambing. Para penonton dibuat terpukau oleh kebolehan Repita mengangkat gentong cuma dengan jari kelingkingnya.

Catatan:
Jika masih bingung, silakan bertanya.

12 responses

  1. thanks, materinya sangat bermanfaat🙂

    September 29, 2013 at 5:25 am

    • Sama-sama dhe🙂

      October 6, 2013 at 7:02 am

    • dinda prameswari

      saya copast tulisan Anda di atas : Kata sapaan adalah kata yang digunakan untuk menegur sapa orang yang diajak berbicara (orang kedua) atau menggantikan nama orang ketiga. Kata sapaan ini harus ditulis dengan huruf kapital, baik dalam kalimat dialog maupun di narasi atau deskripsi. ====== harus kapital?

      dan juga contoh pada poin kedua :

      “Sudah Bapak bilang, kamu jangan bermain lagi sama Sandza!” suara Bapak terdengar bergemuruh di dada Andri.

      padahal saya baca di Pedoman Umum Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, tidak seperti itu.

      pada point ke 14 ditulis seperti ini :

      14. b. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan yang tidak digunakan dalam pengacuan atau penyapaan.
      Misalnya:

      Kita harus menghormati bapak dan ibu kita.
      Semua kakak dan adik saya sudah berkeluarga.
      Dia tidak mempunyai saudara yang tinggal di Jakarta.

      lalu ini saya copast juga dari Pedoman Umum Bahasa Indonesia yang disempurnakan. :

      Kata sapaan adalah kata yang dipergunakan untuk menyapa seseorang. kata yang digunakan untuk menyapa seseorang, seperti ketiga buah kata yang terdapat pada contoh di atas.
      Kata sapaan terdiri beberapa jenis, seperti berikut ini.
      1. Kata sapaan yang menunjukkan hubungan kerabat seperti kakek, nenek, bapak (ayah), ibu, paman, bibi, abang, kakak, adik, ananda, mas, mbak.
      2. Kata sapaan yang berbentuk kata ganti seperti kamu, engkau, saudara, anda, tuan, nyonya, nona, dan sebagainya.
      3. Kata sapaan yang menunjukkan rasa hormat seperti paduka yang mulia, yang terhormat, dan lain-lain.
      4. Kata sapaan yang diikuti nama seperti Bapak Susanto, Ibu Amir, dan sebagainya.
      Dalam buku Pedoman Umum Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dijelaskan, kata sapaan yang digunakan sebagai penyapaan atau pengacuan ditulis dengan huruf kapital pada awal katanya. Yang dimaksud dengan penyapaan adalah menyapa langsung baik ketika berhadapan (tatap muka) maupun melalui media seperti telepon atau media lainnya. Kegiatan menyapa langsung ini baru terjadi jika orang yang kita sapa adalah orang kedua (lawan bicara, orang yang diajak berbicara), bukan orang pertama (pembicara) atau orang ketiga (yang dibicarakan). Perhatikan contoh berikut!
      (1) Ibu bertanya, “Pukul berapa Ayah akan berangkat ke Jakarta?”
      Kata ayah pada kalimat di atas adalah kata sapaan yang digunakan sebagai penyapaan karena digunakan untuk menyapa orang kedua (orang yang diajak berbicara). Kata sapaan ini harus ditulis dengan huruf kapital.
      Perhatikan pula penggunaan kata ayah pada kalimat berikut:
      (2) Ayah berkata, “Sampaikan kepada ibu, hari ini, ayah akan terlambat pulang dari kantor.”
      Kata ayah pada kalimat (2) di atas digunakan untuk menyapa orang pertama (diri pembicara sendiri) sehingga tidak termasuk sebagai penyapaan. Demikian pula dengan kata ibu pada kalimat tersebut bukan sebagai penyapaan karena mengacu pada orang ketiga (yang dibicarakan). Menurut EyD, penulisan kata seperti ini tidak boleh diawali dengan huruf kapital.
      Perhatikan lagi penggunaan kata ayah pada kalimat (3) berikut ini!
      (3) Kita harus menghormati ayah yang telah memperjuangkan hidup kita.
      Kata ayah pada kalimat (3) di atas mengacu pada orang ketiga (yang dibicarakan) sehingga tidak digunakan sebagai penyapaan. Kata seperti ini penulisannya juga tidak perlu diawali dengan huruf kapital.
      Selain sebagai penyapaan, kata sapaan yang digunakan sebagai pengacuan awal katanya juga harus ditulis dengan huruf besar, seperti pada contoh berikut ini.
      (4) Mereka pergi ke rumah Pak Camat.
      (5) Esok kami akan mengunjungi Ibu Saniah yang sakit.

      Dikutip dari Buku Pedoman Umum Bahasa Indonesia yang Disempurnakan

      February 15, 2015 at 1:12 am

      • Jvn

        Saya setuju dengan yang ini, sesuai dengan yanh aku pelajari.

        Tapi ada beberapa hal yang aku kurang ngerti dan ingin bertanya, kalau bisa tolong dijawab ya. Terima kasih.

        “…” kata Mama.
        “…” kata mama.
        Mana yang betul ya?

        November 19, 2016 at 5:05 pm

  2. Ren

    Bagaimana dengan penulisan kata ‘tuan muda’ disertai dan tidak disertai nama dalam narasi serta dialog?

    May 31, 2014 at 8:25 pm

  3. terima kasih masukannya XYZ nanti akan saya cek kembali ini juga proses pembelajaran jadi sekali lagi terima kasih buat infonya…keep write

    October 4, 2014 at 3:34 pm

  4. mella

    Nah bedanya sama kalimat bukan sapaan apa? Padahal subyeknya sama. Misal ‘tuan’

    January 7, 2015 at 9:30 pm

  5. dinda prameswari

    saya copast tulisan Anda di atas : Kata sapaan adalah kata yang digunakan untuk menegur sapa orang yang diajak berbicara (orang kedua) atau menggantikan nama orang ketiga. Kata sapaan ini harus ditulis dengan huruf kapital, baik dalam kalimat dialog maupun di narasi atau deskripsi. ====== harus kapital?

    dan juga contoh pada poin kedua :

    “Sudah Bapak bilang, kamu jangan bermain lagi sama Sandza!” suara Bapak terdengar bergemuruh di dada Andri.

    padahal saya baca di Pedoman Umum Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, tidak seperti itu.

    pada point ke 14 ditulis seperti ini :

    14. b. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan yang tidak digunakan dalam pengacuan atau penyapaan.
    Misalnya:

    Kita harus menghormati bapak dan ibu kita.
    Semua kakak dan adik saya sudah berkeluarga.
    Dia tidak mempunyai saudara yang tinggal di Jakarta.

    lalu ini saya copast juga dari Pedoman Umum Bahasa Indonesia yang disempurnakan. :

    Kata sapaan adalah kata yang dipergunakan untuk menyapa seseorang. kata yang digunakan untuk menyapa seseorang, seperti ketiga buah kata yang terdapat pada contoh di atas.
    Kata sapaan terdiri beberapa jenis, seperti berikut ini.
    1. Kata sapaan yang menunjukkan hubungan kerabat seperti kakek, nenek, bapak (ayah), ibu, paman, bibi, abang, kakak, adik, ananda, mas, mbak.
    2. Kata sapaan yang berbentuk kata ganti seperti kamu, engkau, saudara, anda, tuan, nyonya, nona, dan sebagainya.
    3. Kata sapaan yang menunjukkan rasa hormat seperti paduka yang mulia, yang terhormat, dan lain-lain.
    4. Kata sapaan yang diikuti nama seperti Bapak Susanto, Ibu Amir, dan sebagainya.
    Dalam buku Pedoman Umum Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dijelaskan, kata sapaan yang digunakan sebagai penyapaan atau pengacuan ditulis dengan huruf kapital pada awal katanya. Yang dimaksud dengan penyapaan adalah menyapa langsung baik ketika berhadapan (tatap muka) maupun melalui media seperti telepon atau media lainnya. Kegiatan menyapa langsung ini baru terjadi jika orang yang kita sapa adalah orang kedua (lawan bicara, orang yang diajak berbicara), bukan orang pertama (pembicara) atau orang ketiga (yang dibicarakan). Perhatikan contoh berikut!
    (1) Ibu bertanya, “Pukul berapa Ayah akan berangkat ke Jakarta?”
    Kata ayah pada kalimat di atas adalah kata sapaan yang digunakan sebagai penyapaan karena digunakan untuk menyapa orang kedua (orang yang diajak berbicara). Kata sapaan ini harus ditulis dengan huruf kapital.
    Perhatikan pula penggunaan kata ayah pada kalimat berikut:
    (2) Ayah berkata, “Sampaikan kepada ibu, hari ini, ayah akan terlambat pulang dari kantor.”
    Kata ayah pada kalimat (2) di atas digunakan untuk menyapa orang pertama (diri pembicara sendiri) sehingga tidak termasuk sebagai penyapaan. Demikian pula dengan kata ibu pada kalimat tersebut bukan sebagai penyapaan karena mengacu pada orang ketiga (yang dibicarakan). Menurut EyD, penulisan kata seperti ini tidak boleh diawali dengan huruf kapital.
    Perhatikan lagi penggunaan kata ayah pada kalimat (3) berikut ini!
    (3) Kita harus menghormati ayah yang telah memperjuangkan hidup kita.
    Kata ayah pada kalimat (3) di atas mengacu pada orang ketiga (yang dibicarakan) sehingga tidak digunakan sebagai penyapaan. Kata seperti ini penulisannya juga tidak perlu diawali dengan huruf kapital.
    Selain sebagai penyapaan, kata sapaan yang digunakan sebagai pengacuan awal katanya juga harus ditulis dengan huruf besar, seperti pada contoh berikut ini.
    (4) Mereka pergi ke rumah Pak Camat.
    (5) Esok kami akan mengunjungi Ibu Saniah yang sakit.

    Dikutip dari Buku Pedoman Umum Bahasa Indonesia yang Disempurnakan

    February 15, 2015 at 1:13 am

  6. Lilik

    Kalau “nak” jadi kapital apa enggak ?

    April 3, 2016 at 5:49 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s