Penerbit

About Indie Publishing

Dear Ibu-Ibu tersayang,
Ini sekedar sharing tentang potensi penerbitan Indie (self-publishing) yang bisa kita lakukan.

Red Carpet Studio
Kemarin waktu saya ikut KMO, iseng-iseng saya tanya tentang penerbitan Indie, berapa modal yang harus dikeluarkan, dlsb dlsb. Teh Indari merekomendasikan untuk menghubungi mas Anang Yb, karena beliau ada paket produk Rp 800.000 utk 40 eksemplar. Dari mas Anang saya diteruskan ke Red Carpet Studio (http://redcarpetstudio.net).

Setelah saya mempelajari websitenya Red Carpet dan banyak bertanya sama bagian marketingnya, di situ ada ketentuan bahwa paket itu terbatas untuk buku maksimum 100 halaman A5, black-&-white, belum termasuk pengurusan ISBN, desain cover dan ongkos kirim. Setelah dihitung-hitung lagi, kalau paket lengkapnya jadinya Rp 1.350.000 (tentu saja kita bisa punya desain cover sendiri untuk lebih hemat, ato mau ngurus ISBN sendiri juga bisa langsung dateng ke Perpustakaan Nasional karena prosesnya tidak sulit…). Paket ini belum termasuk editing dan layout, jadi kita harus mengedit dan melayout sendiri. Mereka juga “mengencourage” bahwa selain hasil cetakan ini bisa dijual secara Indie, buku cetakan ini juga bisa dilampirkan untuk penawaran naskah kita ke penerbit yang sudah mapan, jadi calon penerbit tidak hanya melihat proposal naskah, tapi sudah lihat “dummy”nya. (ada beberapa testimoni pelanggan mereka di website)

Jadi saya putuskan iseng-iseng mencoba mencetak buku, yang kemarin akhirnya saya posting ke group. Dokumen yang siap dicetak dibuat dalam format PDF, kemudian dikirim ke mereka. Lama pengerjaan kira-kira 2 minggu-an. Lumayan juga sih, kalau kita tahu 40 eksemplar buku itu mau diapain (misalnya sudah punya jaringan distribusi, marketing, toko buku, ato mau dibagi-bagi sebagai suvenir). Enaknya pakai jasa mereka, dengan biaya segitu kita dapat barang/bukunya. Kita juga lebih bebas menentukan harga jual buku, dan jaringan distribusinya, apakah mau kita jual lewat jalur distribusi, atau dijual sendiri.

Leutikaprio
Ini ada tempat lain yang menyediakan jasa penerbitan Indie, tepatnya Print-On-Demand. Seperti tertulis di http://www.leutikaprio.com, untuk bisa menerbitkan buku dengan mereka, kita memodali Rp 500.000 untuk edit typo dan EYD (tidak mengedit isi), layout, cover, ISBN, 1 jam konsultasi, 1 kali proofing, serta 1 eksemplar contoh buku terbit. Mereka juga akan bantu promo buku kita di web mereka dan FB. Karena Leutikaprio satu grup dengan penerbit Leutika, saya menduga buku-buku yang diterbitkan Indie ini punya peluang untuk diajukan ke penerbit Leutika (tapi ini belum ditanyain siy).

Kepikir juga untuk mencoba Leutikaprio, untuk buku-buku yang “kurang begitu jelas” pasarnya (kemarin itu aku ketemu Leutikaprio setelah bukunya naik cetak di Red Carpet Studio). Keunggulannya Leutikaprio, resiko buku tidak terjual bisa diperkecil (tidak dicetak banyak, dan ada jaringan promo), tapi kelemahannya adalah kita keluar modal cukup gede di depan. Harga buku ditentukan oleh Leutikaprio, dan penulis akan dapat royalti 15% dari harga buku.

Papataka
Model lain yang mungkin belum populer adalah menerbitkan e-book dalam bentuk ePub. Di Indonesia, sudah ada Papataka.com, yang menjual e-book dari berbagai penerbit. Papataka bersedia juga menerbitkan naskah-naskah Indie. Saya sudah mencoba menerbitkan 10 artikel travelling, dan e-book dari buku Indie yang kemarin saya posting juga dalam proses diterbitkan via Papataka. Ini dimungkinkan karena bukunya bener-bener diterbitkan dan diedarkan sendiri, Red Carpet hanya bantu cetak aja. Kalau buku yang diterbitkan penerbit, kontraknya harus antara penerbit dan Papataka. Untuk Leutikaprio, kemarin iseng-iseng saya tanya, mereka bilang kalau mau ada versi e-book harus lewat Leutikaprio.

Keunggulan menerbitkan e-book di Papataka, resiko biayanya kecil, bisa dibilang minim (karena tidak ada yang dicetak), dan kita bisa menentukan harganya, jadi nothing to loose. Tapi saat ini e-book masih belum terlalu populer di Indonesia, jadi besar kemungkinan buku kita ga ada yang beli. Pengalaman kemarin, dari 10 artikel travelling yang saya terbitkan di Papataka, yang beli baru adik saya, hehehe…  Mungkin kalau bukunya berbentuk novel atau antologi, barangkali bisa lebih laku.

Lain-lain
Ada beberapa macam penerbit Indie lainnya, seperti Indie Book Corner (http://indiebook.wordpress.com) link up date http://bukuindie.com/, atau http://nulisbuku.com

Monggo tinggal dipilih, yang mana yang paling cocok klo mau self publishing…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s