Fiksi

Cerpen Peraih WTA Award September 2011

DENTING DAWAI RASA
[ BUKAN CINTA BIASA ]

Cerpen ENDANG SSN

Siluet hati …
Pada sepenggal hari yang terjamah, kucoba menakar rasa. Sebentuk masa pernah membuatku melayang lalu menempatkanku pada catatan hati nan manis. Kehadiran sekeping hati dengan segenap pesona yang melenakan. Tersungkurku dalam buai angan akan indahnya hari depan.
Menyemaikan rasa padanya tatkala cinta menyapa untuk pertama kali. Pandang yang menggetarkan jantung sempat membuatku percaya semua akan senantiasa indah seperti awal semuanya dimulakan. Rasaku terus saja menari dengan damai. Bahkan tatkala sebuah perpisahan dalam jarak menjadi keharusan yang tak terbantahkan.
“Selama kita saling percaya maka hati kita akan saling menjaga,” ucapnya.
“Tapi jarak kita sangat jauh. Aku juga tak mungkin menemuimu setiap saat,” bantahku kala itu.
“Dik, cinta itu bukan hanya tentang pertemuan. Tapi apa yang ada dalam hati kita. Semoga saja semuanya akan bermuara seperti yang kita inginkan. Aku akan menjaga rasa itu dengan sebaik-baiknya. Aku juga berharap kamu nggak akan pernah menghianatiku.”
“Mas Dimas tahu betul siapa aku dan bagaimana hatiku. Aku akan menjaga kesetiaan itu di setiap tarikan nafasku.”
Ah, rasanya aku benar-benar melayang dengan segenap janji cinta. Beginikah asmara mengukir setiap hati dengan tintanya. Cinta pertama untuk seorang gadis yang terlampau polos sepertiku. Selayak pelangi yang indah selepas hujan mengguyur kota, aku juga ingin hatiku senantiasa berpelangi. Rasanya tak rela melepaskan segenap keindahan itu untuk sebentuk perpisahan walaupun hanya sementara saja. ***

Waktu terus bergulir, dengan sekian banyak kisah yang tertulis. Tentang hati, rasa juga cemburu. Tak dapat dipungkiri jika jarak adalah pembatas yang terlampau tipis adanya dengan kecemburuan. Setiap kali tak menjumpai senyumnya dalam malamku, aku selalu saja diserang rasa tak biasa. Ada bermacam gambaran yang terangkai dalam sebuah justifikasi akan dia disana. Adakah Dimas masih mengingatiku ataukah dia telah menempatkanku pada cawan hati yang tak lagi indah.
Entah telah berapa lama kabarnya seakan raib dari biasa. Sebuah pemakluman masih sempat aku hadirkan dalam kepingan hati yang terus saja merindu.
“Mungkin saja kesibukan begitu menjerat raganya sehingga tak ada waktu untuk memberiku kabar.”
Fikiran itu kucoba damaikan saja dengan hati yang mulai tak biasa adanya. Detik yang terbagi tak lagi menjemput mesra sapanya kini. Pagiku juga mulai terserang gundah yang tak menentu. Sayang, waktu tak pernah bisa memberiku kepastian yang kumau. Hingga akhirnya aku menyerah saja pada sang pengatur hati. Mencoba belajar akan keadaan lalu menterjemahkannya sebagai kepositifan yang seharusnya. ***

“Assalamualaikum.”
Sapa itu sangat aku kenal. Suara yang sudah terlalu lama aku rindukan.
“Subhanallah, Mas Dimas,” pekikku tak percaya ketika mendapati dirinya telah berdiri di depan pintu rumah.
“Maaf ya sudah mengejutkanmu, surprise dong.”
Bukan hanya surprise untuk aku, tapi sebuah telaga kerinduan seolah telah menemukan muaranya. Senyata oase di padang yang gersang. Tak kusangka ternyata rindu itu benar-benar indah. Aku dapat mensyukuri perpisahan itu, kini.
Ada banyak kisah yang harus kami bagi. Terlampau kompleks kenyataan yang harus disinergikan. Tapi aku percaya dengan dia dan apa yang tertulis pada garis tanganku hari ini. Aku merasa bahwa rasaku tak pernah salah untuk menempatkan dia dalam tahta calon imam yang akan membimbingku kelak.
“Kok agak kurusan, Dik?”
“Ah, nggak juga. Mungkin saja karena kita nggak pernah ketemu sangat lama. Makanya Mas Dimas melihatnya seperti itu.”
“Kamu bahagia?” tanya yang membuatku heran.
Aku mengangguk dengan tegas. Bagaimana mungkin aku tak bahagia jika orang yang telah menempati ruang hatiku berada di depanku kini. Bagaimana mungkin aku tak bahagia jika kerinduanku akhirnya berlabuh jua di taman hatinya.
Aku terkesiap ketika dia menyodorkan sebuah kartu undangan. Dalam tatap heran, kucoba menerka meski tak jua tahu. Rasa penasaran menghadiahiku sebentuk keberanian untuk membukanya perlahan.
“Menikah : Dimas Anggara & Putri Riyanti.”
Aku tersenyum, namun air mata mendera seketika. Dimas menikah? Dengan Putri Riyanti? Sahabatku sendiri. Sahabat yang dulu begitu tulus mengatakan janjinya padaku.
“Laras, jangan khawatir. Aku bekerja di Bandung juga, jadi aku dapat mengawasi Dimas agar dia nggak macam-macam. Percaya deh.”
Lalu kemana janji mereka itu? Seperti inikah janji yang begitu manis mereka perdengarkan di gendang telinga seorang Larasati. Seperti perempuan bodoh yang harus menggigit jari ketika kekasih dan sahabatnya sendiri menghianatinya dengan sangat indah. Terlampau indah, untuk cinta pertama. ***

Kujemput Cahaya …
Perih? Sudah tentu. Hatiku masih sangat lara oleh nyata yang tak pernah aku harapkan. Entah telah berapa hari aku hanya mengurung diri di kamar. Bahkan ide-ide yang biasanya begitu banyak meloncat-loncat di kepala seakan lenyap begitu saja. Barangkali pula mereka telah menyentilku dengan sigap, namun aku saja yang tak bergeming. Kreatifitasku seolah hilang. Menulis adalah bagian jiwa, namun luka ini membuatku tak sanggup menuliskan semuanya.
Malam menjelang larut dan mataku masih saja terjaga. Hendak kucari bintang namun tak ada. Ingin kupandang pelangi, tetap tak ada. Rasa gundah mengajakku berkelana pada sebuah jejaring pertemanan.
“Hey, apa kabar? Kemana saja lama nggak muncul?” sapanya di seberang
“Ada kok. Hanya sedang tak enak hati saja.”
“Kalau mau share, boleh kok. Aku selalu ada untuk menjadi pendengar yang baik. Siapa tahu aku dapat membantu atau paling nggak dengan bercerita kamu dapat mengurangi beban itu.”
Aku mengenalnya belum lama namun entah mengapa rasanya sudah sangat dekat. Mungkin karena dia dapat menempatkan diri pada porsi yang benar. Nasehat-nasehatnya selama ini sangat membantuku terutama dalam dunia literasi. Sikap serba biasa dan sederhananya membuatku merasa nyaman untuk bercerita tentang segala hal. Terlebih lagi dia sangat amanah. Sehingga aku tak perlu khawatir apapun yang aku ceritakan akan terpublish.
“Cinta itu adalah cahaya. Tempatkan ia sebagaimana mestinya. Bersihkan hati lalu biarkan hanya cintaNya yang akan memenuhi ruang hatimu. Percayalah hanya cintaNya yang tak akan membuatmu lara”
Pesan itu masih lekat dalam ingatanku. Sungguh aku telah salah selama ini. Aku begitu saja membiarkan ruang hati terisi oleh cinta yang tak seharusnya. Dalam malam pekat aku kembali menangis. Air wudhu membasahi wajahku dengan sangat dingin tapi ada sebuah letupan kalbu yang tak bisa kutahan lagi. Aku rindu, sungguh rindu, sangat rindu untuk menjumpaiNya dalam sepertiga malamku.
Rangga, lelaki teduh itu telah mengembalikan kesadaranku akan indahnya pertemuan-pertemuan denganNya. Dalam sujud malam yang panjang, aku menangis. Sebentuk cinta tak hendak kubiarkan pergi lagi dariku. Cinta terindahNya. Aku tak mau kehilangan semua itu.
“Rabb, maafkan hati yang telah salah menempatkan rasa selama ini. Mengesampingkan cinta indah yang telah Kau tawarkan bagi diri. Menutup mata hati untuk janji indah yang akan Kau semaikan di hari kepastian rasa. Dengan cara indah dan terbaik”
Luruh aku dalam sujud panjang. Air mata tak cukup menjadi saksi betapa aku selama ini telah merugi. Sesalku tak berguna namun hati tak ingin melena. Aku akan menjemput cintaNya, menempatkannya di setiap aliran nadi dengan segenap keikhlasan hati.
“Rangga, terima kasih telah menjadi jalan bagiku untuk kembali dalam penyerahan yang seutuhnya. Memberiku pencerahan akan cinta yang semestinya.”
Denting Dawai Rasa …
Dentang jam di dinding kamar membuatku terjaga. Tersentak seketika kala mendapati jam telah menunjukkan angka dua. Bergegas menarik selimut mimpi lalu beranjak menemui sang kekasih di dini yang sepi. Suasana ini sungguh menjadi tak biasa. Ada yang tak sama, namun aku masih tak mampu mengejanya.
Dalam sayup irama malam, kulafazkan cinta untukNya.
“Rabb, aku bukan hamba terbaikMu. Akupun terkadang rapuh dalam meniti cinta padaMu. Tapi ijinkan aku untuk selalu datang di altar kasihMu. Menjemput cintaMu dengan segenap hati yang kupunya”.
Menutup perjumpaan dalam selimut witir. Tak terasa lelah yang menggandeng raga selama seharian telah menempatkanku bersama sejumput kantuk tak kepalang. Tanpa kusadari akupun terhenyak di atas sajadah panjang dalam balutan mukena nan hangat.
Entah pada detik yang mana ketika tiba-tiba aku merasakan ragaku telah berada pada suatu tempat yang tak pernah kujamah. Menjumpai beberapa orang yang tak pernah kutemui sebelumnya. Asing dan bingung, sempat kurasa sesaat. Aku tersentak ketika sebuah sentuhan lembut membelai punggung tanganku dalam aroma kasih yang tak terbahasakan, namun terasakan.
“Sabar saja, sebentar lagi dia pasti datang,” ucap wanita paruh baya itu dengan senyumnya yang menyejukkan.
Aku tak mengerti namun tak mampu juga membantahnya. Aku menunggu, begitu juga mereka. Tapi aku tak mengerti apa yang kami tunggu. Resah juga gelisah. Aku mencoba berdamai dengan hati, semoga saja. Selang beberapa menit kemudian, kulihat seorang lelaki muda masuk lalu senyumnya khas mengembang.
Dalam tengadah yang tak disengaja, aku terkejut. Rangga, lelaki itu adalah Rangga. Belum sempat aku mengajukan tanya, ragaku telah berada dalam alam sadar yang menyentak. Astaghfirullah, isyarat apa yang sedang Dia ajarkan untuk aku. Mencoba berbaik sangka dengan segenap ketetapanNya. ***

“Mbak, apa tamsil dari semua itu ya?” tanyaku pada seorang sahabat yang kuketahui lebih menguasai ilmu agama.
“Adik, tak usah risau memikirkannya. Itu adalah sebuah perjalanan spiritual. Seperti apapun kamu menjelaskannya kepada setiap hati, mereka takkan mampu merasakannya. Hal seperti itu tak bisa dilogikakan, apalagi mencoba menalar. Tak usah menuntut orang lain untuk percaya, sebab kita tak butuh mereka percaya. Setiap orang akan mengalami perjalanan spritualnya sendiri-sendiri. Terlepas apakah dia yang sedang Allah atur untukmu atau bukan.”
Dawai hatiku bernyanyi dalam irama yang tak lagi biasa. Pertemuan dengan orang-orang dalam alam tak sadar itu tanpa kusadari telah menempatkanku pada sebuah titik hidup yang semakin baik. Pertemuan denganNya dalam sujud-sujud malam menjadi hal terindah yang tak ingin kulewati. Aku menjadi ingin dekat, semakin dekat dan terus dekat denganNya.
Sebentuk percaya akan janjiNya membuatku tak lagi meragu. Jika yakin akan kepastian yang Dia berikan, lalu untuk apa mesti resah. Penantian itu hanya menjadi titian hati maha indah yang akan mengantarkanku menuju sebentuk cinta suci dari sekeping hati. Sekeping hati yang menjadikan cintanya pada Allah melebihi apapun juga. Sekeping hati yang memahami shirah nabawiyah, yang membuatnya sedikit banyak mengenal Nabinya. Sekeping hati yang akan menjaga rasanya hingga akad yang suci mengantarkannya kepada sang makmum kehidupan. Sekeping hati yang senantiasa melabuhkan rindunya kepada sang  Maha Cinta.

Rasaku tak sama. Rasaku tak biasa. Bukan sebab paras dan anugerah materi yang melekat tetapi karena Dia semata. Dawai rasa melagu bersama tarian kupu-kupu yang terbang indah di savana hati. Ada rindu, ada asa juga rasa yang terlabuh kepadaNya. Sebab hanya Dialah sebaik-baik pengatur hidup para makhluk.

Duhai Penilai Hati,
Ijinkan rindu melagu di titian hati
Menyemai rasa pada masa yang pasti
Berlabuh mesra bersama denting waktu lagi

Duhai Penakar Rasa,
Tak luar biasa
Sederhana saja
Tapi tetap tak biasa

Bukan cinta biasa …

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s