Write Without Boundaries

Fiksi Surat Cinta – Acara Kompasiana Agustus 2011

Buku Sarat Dengan Ungkapan Cinta Buat Orang Tersayang Yang Masih Atau Pernah Hadir Dalam Kehidupan Kita…

Ku Ingin Bercerita Ku Ingin Kau Tahu

Buat sang mantan.

Baru beberapa tahun lalu aku masih bersikeras menolak saat kau bilang, “Apalagi sih yang kamu cari ? sekolah dan pekerjaan sudah Allah berikan, karir? itu yang kamu kejar?”

Aku terdiam, aku memang tidak siap dengan lamaran kamu yang mendadak. Belum nafasku yang tersengal mengejar mimpi menaklukan keegoan persaingan kerja yang semakin sulit, aku takut melepaskan apa yang barusan aku raih.

“Ah ngapain sih ngomong-ngomong menikah lagi!” Aku mendadak kesal. Aku wanita independent, aku masih mengejar mimpi, ingin aku taklukan sombongnya hidup, baru beberapa kuraih dirimu sudah ingin mengikatku.

“Terserah kamulah, kalau kamu memang menginginkan hubungan kita begini-begini tanpa tujuan, aku akan menunggu sampai batas kekuatanku, tapi bila saatnya aku tidak sanggup aku akan katakan padamu, sudahilah hubungan tanpa status.”

Aku tercenung, “Hubungan Tanpa Status” ah bayangan gelap itu, ragu tiba-tiba menyelimuti aku. Aku yang selalu terperinci, aku yang selalu penuh perhitungan, dibilang  HTS! tanpa komitmen? Aku melirik wajahnya, kulihat dirimu agak kesal dengan sikapku yang cuek bebek. Dan kubiarkan dirimu berpamitan, sementara aku masih tercekat dengan hubungan kita yang hampir 4 tahun kita jalani. Haruskah hanya menjadi sepenggal kisah kenangan dalam lembaran hidupku?

“Tunggu, maafkan aku…aku tidak bermaksud mempermainkan semua ini.”

Dan kau tersenyum, “Aku mengenalmu bukan 1-2 hari berpikirlah dengan hati…”

Dan kubiarkan kau berlalu hilang di kegelapan malam kota yang penuh pertaruhan.

Kuterpekur, kutatap indahnya gemerlap metropolitan dari lantai 3 kamar kostan, ah indahnya kota ini di malam hari. Dari balik jendela kamar, indahnya hamparan bangunan nan menjulang tinggi dan lampu yang kerlap-kerlip menyaingi indahnya hamparan langit yang bertabur bintang. Kota yang siang  berubah menjadi garang, akhirnya tertidur juga.

Dan tiba-tiba terbesit, sepinya malam-malam terlewati setelah siang aku mengejar mimpi-mimpi. Terlintas ucapanmu, “Berpikirlah dengan hati…

” Ah apalagi yang aku cari ? ternyata aku merindukan dirinya, merindukan ada yang mendengarkan saat aku bercerita, mengeluh, berdebat bahkan menangis. Seakan memutar tak tik tak tik detik waktu yang terlewati, ternyata hanya dirimu yang bisa mengerti aku, hanya dirimu yang selalu sabar dengan perilaku aku yang semau-maunya, hanya dirimu yang selalu menyabarkan aku.

Maaf ada salah telah aku toreh, bodohnya aku menolak niat baik yang engkau utarakan. Sementara aku sendiri tidak yakin akan menemukan pria yang sebaik dirimu.

Surat ini buat mu, mantan pacarku.

Tetaplah menemani aku hingga raga semakin senja, ingatan aku semakin pikun, dan rambut aku semakin memutih. Cintalah terus dengan api yang kau jaga dalam hati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s