Edukasi

Antologi Kisah Ramadhan

Romansa LDR

 

Hal yang paling membahagiakan disaat kita menjalankan ibadah puasa adalah berkumpul dengan orang-orang yang kita cintai. Tetapi ramadhanku kali ini,aku harus lebih ikhlas dan sabar karena ini pengalaman ramadhan yang harus kami jalani sendiri-sendiri.

Suamiku hampir setengah tahun ini ditugaskan di luar Jawa dan pulang satu bulan atau dua bulan sekali, karena aku sendiri bekerja dan puteriku Icha yang mulai masuk Play Group memutuskan kami untuk Long Distance Relationship.

Keputusan menjalankan LDR sudah kami pikirkan matang-matang, dalam hal ini tidak ada rasa egois dari aku dan suami. Kita merasa mempunyai tanggung jawab yang sama terhadap pekerjaan dan bukan aku tidak mau mengikuti kemana suami ditugaskan semata semua ada alasannya.

Kesepakatan ini sudah menjadi kesapakatan terbaik aku dan suami, pastilah banyak konsekuensi yang kami terima dalam hubungan LDR, termasuk rasa kehilangan saat-saat indah dan kebersamaan tertentu.

Ramadhan kali ini tidak bisa diingkari kadang rasa sepi menyelimuti, biasanya kami berdua sama-sama sibuk di dapur saat sahur, suamiku tipe suami yang suka membantu urusan dapur dan ini sesuatu kegiatan yang mengasyikan kami berdua.

Demikian saat menunggu buka puasa, pasti kita sempatkan menyiapkan menu ala ibu dan ayah. Kehadiran 2 puteri kami Icha dan Fay juga meramaikan suasana rumah kecil kita. Aku sangat kehilangan kebersamaan ini setelah hampir 5 tahun usia perkawinan kami.

Sholat tarawaih yang biasa kami lakukan bersama-sama juga tidak ada lagi, tapi ini terganti dengan keceriaan Icha puteriku 3.6 tahun yang mulai suka denga tas kecil berisi mukenanya.

Setiap mendengar adzan sholat isya dia udah langsung terbirit-birit ke mushola rumah dan mengambil perkakas sholatnya.

Tanpa wudhu dia udah ribut mencari sendal dan berteriak, “Ibu ayoo kita tarawih, jalan kaki saja.” Aku jadi terharu lihat wajahnya yang polos, ternyata Icha tidak kapok tarawih, karena hari pertama dia aku ajak terawih belum mulai sholat isya sudah berkeringat dan melepas mukenanya, kemudian ikutan berlarian di masjid bersama anak-anak kompleks yang tidak dikenalnya. Pas kita melakukan sholat tarawih dia asyik tidur-tiduran sesekali gangguin dengan memanggil ,”Ibuu, Ibuu lho kok sholat lagi…., banyak amat sih Ibu sholatnya.” Lalu duduk dan tiduran lagi.

Pulang dari tarawih aku Tanya, “Icha besok ikut tarawih lagi sayang?”

“Enggak ah, enggak mau! abis lamaaa…ngantuk,” kata Icha sambil memonyongkan bibirnya lalu minta susu dot dan terlelap bobo kecapaian.

Alhamdulillah, ternyata Icha tidak kapok, bahkan mulai betah di masjid walau hanya bermain dengan teman-teman barunya. Sehingga keceriaan dengan ayah tergantikan dengan keceriaan Icha, dan aku membayangkan tahun depan Insya Allah Fay juga ikutan heboh seperti mbaknya.

Ternyata 2 puteriku pas aku, bibi dan mbak Iffa sahur, mereka beberapa kali terbangun jadi suasana tetap ramai. Bangun walau terus asyik dengan kaset DVD Spong Bob, Shaun The Sheep jadi merilah sahur pagi. Tidak berapa lama mereka berdua tidur lagi di depan TV dan aku bersiap-siap dengan rutinitas berangkat kantor pukul 05.30. Inilah kehidupan Metropolitan, kalau aku tidak berangkat pagi bakalan kena macet di Jagorawi dan terlambat masuk kantor.

Hubungan dengan suami walaupun jauh, tetap kita berusaha menganggap jarak yang terbentang tidak menjauhkan kita, tetapi sebaliknya selalu ada kerinduan-kerinduan yang tertunda.

Ayah panggilan buatnya selalu membangunkan saat waktu sahur dan sebaliknya, juga saat berbuka puasa dan waktu-waktu untuk bermunajat kepada Nya. Aku mencoba untuk lebih ikhlas dan sabar melewati Ramdhan tanpa belahan jiwa, semua tetap harus indah karena aku semakin sadar hidup harus mengalir dan kita tetap mencoba aliran itu tetap jernih, mengalir lancar dan menyejukan dahaga.

Kemajuan teknologi akan selalu mendekatkan kita, tidak perlu ada yang dirisaukan. Bayangan kesepian, kesedihan Ramadhan tanpa suami sirna. Bahkan aku bisa lebih produktif dalam bekerja juga menekuni hobby menulis dan lebih mandiri untuk menjaga 2 buah hati kami.

Ramadhan tanpa ayah anak-anak tetap khidmat, bahkan menumbuhkan rasa cinta dan kepercayaan antara kami. Semua kami lakukan semata karena Allah dan tanggung jawab kita untuk membesarkan 2 puteri kami. Ramadhan yang tetap indah dan kami nanti saatnya waktu kemenangan untuk berkumpul bersama memperingati indahnya Hari Raya Besar Idul Fitri.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 H

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s