Write Without Boundaries

Cerita Horor (Base on True Story)

Pergi Tanpa Pesan

 

Sebuah kisah yang terjadi di daerah Keramat Jati Jakarta sekitar 10 tahun lalu…

“Nyonya dan Tuan boleh saya tetap bekerja di sini dan menghabiskan usia saya yang tua?” pinta seorang nenek yang telah berusia lanjut.

Nyonya Lim dan Tuan Pho saling memandang, dalam hati mereka berkata sebenarnya wanita tua yang sedang berhadapan mereka sudah terlalu tua dan pasti bekerja sudah tidak segesit 15 tahun lalu saat Mak Icih mulai ikut mereka, antara tega dan tidak tega sebenarnya untuk terus mempekerjakan Mak Icih yang sudah sangat setia mengikuti mereka sebagai pembantu Rumah Tangga. Mak Icih nenek tua yang sudah berusia kurang lebih 60 tahun, dan sudah bekerja dengan setia di keluarga Cina dengan jujur.

“Mak Icih, kami sebenarnya sudah mencari pembantu baru untuk menggantikan Mak Icih, karena Mak sudah saatnya beristirahat dan tidak bekerja berat lagi, apalagi membantu kami di toko.” Kata Nyonya Lim.

“Iya Mak, nanti Mak kita antar pulang ke kampung ya.” Kata Tuan Pho menyambung.

Mak Icih tidak menjawab, hanya raut wajahnya menyiratkan kesedihan. Teringat saat setahun lalu pulang ke kampung tanggapan istri Wardi anak semata wayangnya yang jelas-jelas tidak mau direpotkan akan kehadirannya di tengah keluarga mereka. Saat tengah malam tanpa sengaja Mak Icih mendengar pertengkaran anak dan mertuanya,

“Pak pokoknya aku nggak mau direpotin ama Emak, ngurus Siti dan Titis aja aku sudah kewalahan, ditambah Emak pulang ke kampung.”Murijah istri Wardi menolak kehadiran ibu mertuanya.

“Ya udah nanti aku coba ngomong sama Emak, kalau aku akan mencarikan tempat tinggal lain. Tapi kalau sampai aku nggak bisa biarin Emakku tinggal di sini, kan ini juga rumah Emak!”

“Terserah kamu mau mencarikan Emak dimana? Yang jelas aku nggak mau direpotin lagi dengan orang tua!”

“Hmm…” Wardi hanya bisa menghela nafas panjang tanpa meneruskan pertengkaran tengah malam dengan Murijah.

Esoknya Mak Icih memutuskan untuk segera pulang ke Kramat Jati tanpa pamit dengan Wardi dan Murijah. Hatinya benar-benar terluka, kesedihan orang tua yang kini hidup sebatang kara, Wardi satu-satunya anak yang telah dilahirkan dan dirawat sendiri hingga menikah, karena ditinggal mati oleh bapaknya sedari kecil ternyata lebih memilih untuk mengikuti kemauan istrinya. Sungguh hatinya sangat terluka.

“Nyonya dan Tuan, ijinkan saya tetap tinggal di sini walau Tuan dan Nyonya tidak menggaji saya lagi, saya akan tetap bekerja dengan tenaga saya.”Pinta Emak Icih.

Akhirnya Tuan dan Nyonya Cina tersebut mengijinkan Emak Icih untuk menempati sebuah kamar yang ada di lantai 2, karena kamar di lantai 1 yang biasa Emak Icih pakai akan ditempati pembantu baru.

Setiap hari Emak Icih bekerja membatu Tinah pembantu baru yang masih muda, kadang Tinah suka menyepelekan Emak Icih yang dianggapnya sok mengatur dan main suruh. Sebenarnya maksud Mak Icih adalah mengajari Tinah yang dianggapnya anak baru di rumah yang sudah bertahun-tahun mak Icih mengabdi. Tapi Tinah tidak suka.

Hingga pada suatu hari suhu badan Mak Icih panas, bersamaan dengan itu Tuan Pho dan Nyonya Lim harus terbang ke Medan karena ada acara keluarga, Linda anak semata wayang mereka yang duduk di SMP diajak, ternyata Tinah juga diajak karena bisa bantu-bantu di acara itu.

Semua seperti melupakan Mak Icih, pergi hanya berpesan agar Mak Icih selalu mengunci rumah, menyalakan listrik di malam hari dan mematikan listrik di pagi hari. Mak Icih hanya menurut saja, sementara kondisi badan yang tidak enak dirasakan tidak berani Mak Icih bilang ke tuannya, Mak Icih takut malahan nanti merepotkan dan di usir.

Seminggu keluarga Tuan Pho pergi ke Medan, hingga pada saat kepulangan mereka merasa curiga karena ketok-ketkk pintu tidak ada jawaban, lampu di luar juga menyala pertanda mak Icih tidak mematikan di pagi hari. Karena sudah mengetuk beberapa kali dan menggedor-gedor pintu tidak ada jawaban juga akhirnya Tuan Pho mendobrak paksa.

Terjawab semua kesunyian dengan jeritan Tinah di lantai dua…”Mak Iciiiihhhh….Tuan, Nyonya….Mak Icih meninggal….” Tergopoh-gopoh Tinah turun dari lantai dua, mukanya pucat pasi.

Hari itu juga jenasah mak Icih di visum, menurut dokter ada kemungkinan Mak Icih memang meninggal karena sakit dan demam yang tidak bisa tertolong lagi karena memang tidak ada satupun orang ada di dekatnya. Jenasah Mak Icih diantar ke kampungnya, dan di kubur oleh Wardi dengan di hadiri beberapa orang kampung yang mengenalnya.

***

Setelah peristiwa meninggalnya Emak Icih yang tanpa diketahui orang, ada peristiwa yang menimpa Ramini sebagai pembantu baru di Tuan Pho. Ramini pembantu baru datang menggantikan Tinah yang keluar kerja dari Tuan Pho, Tinah merasa ketakutan tinggal di rumah Tuan Pho apalagi Tinah suka jengkel dan kesal dengan Mak Icih, terakhir keberangkatan ke Medan pun Tinah sengaja diam saja saat stok beras di rumah habis, karena kesal dengan Mak Icih. Beberapa malam setelah penguburan Mak Icih, Tinah suka nerinding sendiri seperti Mak Icih selalu di dekatnya. Maka Tinah memutuskan pulang ke kampungnya.

Malam sunyi senyap, Keramat Jati habis diguyur air hujan dan halilintar masih sesekali menampakan kilatannya. Ramini gelisah di kamarnya lantai 2, hingga akhirnya karena capai bekerja seharian di toko Tuan Pho, Ramini bisa tertidur. Selembar kain sarung menghangatkan badannya, Ramini menemukan selembar sarung yang tertinggal di almari, tanpa tidak Ramini sadari ditengah malam, saking nyenyaknya tidur sarung yang Ramini kenakan ditarik halus… pelan…bruukk dan teronggok di samping tempat tidurnya. Ramini terbangun karena merasa dingin menggigil, diantara setengah ngantuk, dimana kesadaran tidak seratus persen tersadar! Ramini mendengar rintihan pilu wanita, …”Toloooong, hausss…hausss sekali….panassss…”Ramini tersentak dan kaget ketika badannya sudah tanpa sarung yang menyelimuti.

Terucap “Astagfirullahaladzim…” Dan sisa malam Ramini sudah tidak bisa memejamkan mata lagi, sarung yang teronggok Ramini lipat dan kembalikan ke dalam almari, hingga esoknya Ramini baru mendapat penjelasana kisah tentang Mak Icih yang menghuni kamar yang sekarang Ramini tempati. Tersadar bahwa Mak Icih meninggal dalam kondisi haus dan mungkin kelaparan dan suhu badan yang tinggi, menggigil dalam sepi…sendiri…hanya selembar kain sarung menemani menjadi saksi bisu ketika ajal menjemputnya, semua pergi tanpa pesan.

Sumber ilustrasi : Google.com

Noorhani Dyani Laksmi

Di sela-sela kerja – Bursa Effek Jakarta, 18 Juli 2011

3 responses

  1. Terima Kasih likenya mbak Evi🙂

    November 16, 2011 at 12:28 pm

  2. aq bingung mau nulis apa buat event mirror, mba. -.-” hehe, belum ada ide, padahal no urut 22.😀

    December 12, 2011 at 9:41 am

  3. Hiyaa sama mbak🙂 lagi mikir2 ni….semangat ya…

    December 13, 2011 at 7:05 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s