Write Without Boundaries

Chicken Soup Aku, Dia dan Mereka SAMA

Mengalir  Aku, Dia dan Mereka  Pun Sama

 

            Pada awanlnya kami adalah keluarga yang masih dibilang berbahagia, papa, mama, aku dan Rona adikku satu-satunya, walau disela-sela ini terselip juga pertengkaran-pertengkaran antara kedua orang tuaku. Hingga semua harus aku sadari bila pondasi rumah tangga papa dan mama mulai rapuh karena permasalahan yang terakumulasi sedari aku masih dalam kandungan.

            Papa dan mama menikah pada usia yang sangat muda, saat itu papa masih kuliah semester awal dan mama baru saja lulus SMA, bermodal cinta mereka menikah, dan papa tidak meneruskan kuliah, tetapi mulai mencari-cari pekerjaan. Apalagi mama mulai mengandung aku. Untuk sementara segala kehidupan ditopang orang tua mereka atau eyang-eyang aku.

            Kerap pertengkaran mewarnai kehidupan pernikahan usia dini, papa dan mama masih sama-sama egois, bahkan mama kerap kesal karena papa yang dianggap lebih mementingkan berkumpul dengan teman-teman permainannya daripada menemani mama yang sedang hamil besar, jadilah keributan bila papa pulang pagi dan mama tidak terima.

            Itulah sekelumit background masa lalu, tetapi semua masih bisa diatasi dan mereka masih tetap menjaga keharmonisan hingga aku dan adikku saat balita masih merasakan kebahagiaan. Kehangatan masih terasa, kami kerap jalan-jalan untuk piknik, pergi menengok eyang atau saudara. Aku dan Rona sangat bahagia bila papa dan mama mengajak kami berpergian atau sekedar bermain di alun-alun kota untuk jajan es krim. Ini adalah memori indah.

            Tetapi kerap aku beberapa kali ikut menangis meraung-raung bersama adikku ketika melihat papa dan mama bertengkar sangat menakutkan, di suatu malam aku terbangun karena mendengar terikan mama dilanjutkan dengan bantingan berbagai barang yang ada di kamar mereka, aku ketakutan ketika melihat meja lampu pecah berkeping-keping, kaset-kaset yang tersusun rapi berserakan dan terakhir mama membakar walkman papa. Aku dan adikku hanya bisa menangis berpelukan. Semua juga terekam dalam memori kesedihan aku yang tidak bisa aku lupakan hingga saat ini. Semua berjalan apa adanya, aku lewati hari-hari kadang tidak percaya diri karena apa yang telah terjadi. Tapi mama selalu berusaha membimbing kami untuk tumbuh menjadi anak-anak yang tetap percaya diri dalam kondisi apapun.

            Aku kadang merasa tidak mempunyai kemampuan prestasi sekolah seperti anak-anak lain, tapi aku berusaha sekuat tenaga untuk semangat, prestasi di Sekolah Dasar masih terbilang bagus aku juga pernah juara kelas walau hanya juara III dan nilai-nilai rapor masih di atas rata-rata.

            Tetapi berbeda dengan adikku, nilai rapor Rona selalu kebakaran, hampir semua mata pelajaran merah entahlah padahal adikku masih mau belajar, tapi sepertinya dia tidak konsentrasi penuh sehingga pas lulus Sekolah Dasar pun kami kesulitan mencarikan dia Sekolah Menengah Pertama.

            Kadang aku dan Rona merasa saat sedang kumpul keluarga besar kami merasa minder, selain kami kelurga yang paling pas-pasan diantara saudara-saudar papa yang kaya raya. Mereka masih baik terhadap aku dan adikku, kami suka diberi uang dan disaat lebaran mendapat bingkisan baju lebaran, karena mereka merasa kasihan dengan keponakannya. Tapi terkadang aku juga merasa sedih bila mereka memojokan hubungan mama dan papa yang tidak harmonis. Papa dan mama kerap jadi debat keluarga. Dan aku hanya bisa diam karena aku sebagai anak tidak bisa membela satu persatu, mereka adalah sama dua orang tua yang sangat aku cintai.

            Semua mengalir adanya diantara friksi-friksi pertengkaran aku bisa melewati masa-masa remaja dan hingga akhirnya aku harus meninggalkan kota kelahiran dan melanjutkan kuliah di kota pelajar. Masih kerap aku dengar papa dan mama bertengkar, mama kerap mengeluhkan sikap papa. Kondisi keadaan keluarga membentuk aku untuk berusaha menjadi lebih bak, aku tidak ingin keluarga besar semakin meremehkan orang tua yang aku cintai tidak bisa mendidik anak-anaknya.

            Aku berusaha keras dalam menuntut kuliah, konsentrasi aku habis untuk kegitan belajar di kampus, juga beberapa Unit Kegiatan Mahasiswa yakni KOPMA (Koperasi Mahasisawa), Fotografi dan UKMI (Unit Kegiatan Mahasiswa Islam) yang jadi pilihan aku menghabiskan waktu.

            Aku juga tetap menulis sesekali walau hanya sekedar menulis dalam diary, semua mengalir tanpa aku mau merasa rendah diri dengan keterbatasan kondisi keluargaku yang akhirnya memang harus benar-benar kandas. Saat aku Kerja Kuliah Nyata (KKN) sebagai syarat untuk wisuda S1, mama mengabarkan bahwa mereka memutuskan untuk bercerai. Aku benar-benar merasa terpuruk, tapi aku sadar memang peristiwa ini pasti aku alami mengingat berbagai pertengkaran dan permusuhan diantara mereka.

            Kondisi ini membuat aku down di lokasi KKN, teman-teman aku tidak ada yang tahu kenapa aku tiba-tiba jadi pemurung dan gelisah. Program-program kemasyarakatan yang aku handle aku jalani dengan sisa-sias kekuatan hati. Untunglah ini kerja tim jadi kekurangan aku tertutupi oleh kekompakan tim aku. Dan untungnya aku bertemu dengan mahasisaw lain jurusan yang penuh toleransi.

            Babak-babak terakhir untuk memulai skripsi digelayuti dengan keputusan final dan ketok palu, mereka resmi bercerai. Aku tetap berusaha ditengah keterpurukan harus jadi anak yang mandiri. Mengikuti aktivitas Koperasi Mahasiswa, aku jadi banyak kenalan termasuk lowongan-lowongan kerja, beberapa kali aku sempat menjadi Sales Promotion Girl (SPG) untuk sekedar memperoleh uang agar bisa membayar uang kos-kostan, dari satu SPG produk ke produk lain juga sempat magang menjadi teller pada suatu bank pemerintahan saat liburan semester , menjadi petugas money changer semua aku lakoni demi memperoleh rupiah yang aku manfaatkan membayar SPP dan hidup sehari-hari. Inilah perjuangan untuk bisa survive.

            Beruntung semua usaha aku tidak sia-sia, aku bisa berbangga hati ketika Indeks Prestasiku juga melejit diatas 3 koma. Aku sadar harus pintar-pintar membagi waktu, untunglah manajemen tempat aku bekerja sebagai Sales Promotion Girl fleksibel bisa disesuakan jawal aku jaga stand dengan waktu kuliah, dan disela-sela jam istirahat aku manfaatin buat mengerjakan tugas-tugas kuliah atau membaca-baca catatan kuliah. Malam aku belajar untuk menguasai apa yang sudah diberikan dosen.

            Aku bercita-cita ditengah badai yang ada aku harus tetap berdiri kokoh dan akan menjadi pengganti pondasi mereka yang rapuh untuk menyatukan hati kami, walau kondisi sekarang telah berbeda. Setidaknya aku harus ikhlas dengan masing-masing kebahagiaan yang ingin diraih oleh papa dan mama.

            Kini papa menemukan pasangan hidup lain, aku dan Rona berusaha menerima kondisi ini. Dan mama juga sedang menjalin kedekataan dengan seseorang masa lalu yang masih mencintai mama, aku dan Rona hanya bisa mendukung agar mereka bahagia di usia senja walau dengan pasangan kedua masing-masing. Hanya saja aku tetap ingin mengkulturkan bahwa diantara mereka ada tetap ada aliran darah lain dalam keluraga yang sekarang hanya sebagai kenangan. Sesuatu yang pernah ada dan tidak akan hilang dalam jejak perjalanan hidup mereka.

            Menjelang-jelang wisuda aku masih bekerja pada perusahaan kaos ternama di Yogyakarta tetap sebagai Sales Promotion Girl, aku menemukan bos yang sangat baik. Bosku sangat mendukung aku yang kuliah sambil bekerja. Kerap bila aku bisa menjual sesuai target bahkan lebih, aku diberi bonus-bonus yang bisa aku tabung, apalagi kebutuhan wisuda cukup banyak. Skripsi menjadi prioritas agar aku bisa lulus cepat, waktuku habis seputar kampus-tempat kerja-perpustakaan untuk mencari literature – suatu bank yang menjadi topik skripsi dan kostan. Aku tidak punya waktu sedikitpun untuk bermain, aku tidak mau menjadi pecundang yang penuh alsan untuk tidak sukses, walau aku dalam kondisi seperti ini aku juga bisa menyelesaikan kuliah dengan baik dan aku berhak juga merajut masa depan yang baik.

            Akhirnya wisuda yang membanggakan karena aku lulus dengan IPK 3.5 walau bukan cumlaude, tetapi aku sempat was-was karena kedua orang tuaku baru datang jam 03.00 pagi ke Yogyakarta, sementara wisudawa harus berkumpul sedari pukul 06.30. Terbayang aku sempat stress menunggu papa dan mama yang mau menghadiri hari kemenangan aku. Sesampainya di kostan ternyata mereka masih bertengkar juga, ternyata mama kesal karena papa ngaret dengan jam yang sudah disepakati untuk jalan ke Yogyakarta. Dan kulihat papa juga bersikeras untuk tidak mencoba meminta maaf. Jadilah saat wisuda yang ada rasa kekakuan, Rona adikku hanya diam seribu bahsa. Aku tahu perasaan Rona yang sangat tertekan,  apalagi dia yang  menyaksikan pertengkaran demi pertengkaran dan perceraian. Sementara aku lebih banyak hanya mendengarkan dari Yogyakarta karena kesibukan kerja sambilan yang aku ambil dan tidak memungkinka aku untuk pulang ke kampung.

Cita-citaku adalah aku ingin seperti mereka yang berasal dari keluarga harmonis bisa berprestasi dan meraih masa depan dengan baik, aku akan buktikan pada keluarga besar kalau aku mampu mandiri. Setelah lulus wisuda aku diterima bekerja pada perusahaan farmasi.

               Sebuah kenangan yang tidak terlupakan bekerja pada PT Roche Indonesia 1999 – 2002. Dari sekian pengalaman kerja yang paling menarik adalah saat bekerja di sini. PT. Roche Indonesia adalah afiliasi dari Roche Group, perusahaan pelayanan kesehatan dan farmasi terkemuka di dunia yang berkantor pusat di Basel, Swiss.

            Hingga akhirnya satu persatu masalah teratasi, semua dengan perjuangan aku berhasli meraih the Best Salesman sebanyak 2 kali karena mampu meningkatkan penjualan dan otomatis ada growth yang significant atas hasil omset.

Sebuah cincin 10 gram dengan logo Roche masih aku simpan sebagai kenangan sampai sekarang, itu adalah salah satu award meraih prestasi. Tapi panggilan hati aku ingin melanjutkan S2 jadi setelah hampir 3 tahun memegang area Cirebon aku memutuskan untuk resign dan melanjutkan ke jenjang S2 di Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Dan saat ini aku termotivasi sisi dunia lain yang sebenarnya adalah hobby dari kecil yakni menulis, seorang penulis pemula juga tapi membaca tulisannya di blog aku kagum dan dia memotivasi aku dalam dunia tulisan Mbak Irene Puspawardani aku mengenalnya hanya sebatas dunia maya, kita sama-sama kompasioner, salah satu media bloging.  Sebagai kompasioner yang bergabung sedari  31 Agustus 2010, total postingan Mbak Irene bisa dibilang sedikit  hanya 10 postingan, bila dirata-rata sebulan 1 postingan. Tetapi di setiap penulisannya penuh muatan positif terutama kehidupan sehari-hari sebagai seorang ibu. Banyak yang bisa saya serap dengan membaca tulisan Mbak Irene dari  tulisan mbak terakhir di kompasiana  mengenai ikhlas dengan  kegagalan adalah bagian proses dari bersyukur. Kegagalan tulisan yang ditolak media penerbitan harus  disiasati dengan ikhlas kalau kita belum berhasil, jadikan sebagai proses pendewasaan  untuk menulis lebih bernas  (berisi).

Setelah sekian lama saya mencoba untuk melakukan hal yang sama dengan penulis lain yang ingin tulisannya di appreciate dalam sebuah buku cetak dan bisa lebih bertebaran di baca para pencinta tulisan.Mengirim naskah-naskah ke penerbitan dan berkunjung pada sebuah penerbitan secara langsung, saya percaya dengan sebuah “proses” sampai detik inipun saya yakin suatu saat ada kabar baik dari salah satu penerbit untuk menjadikan kumpulan tulisan yang berserakan dalam sebuah buku.

Sekarang  berpikir  realistis adalah hal yang lebih mendorong saya untuk mengikuti jejak Mbak Irene, saat ingin mengikuti jejak nya  setelah membaca lebih serius tulisannya.

Dari.Mbak Irene  saya lebih mantap mengenal self publishing. Dalam tulisannya di kompasiana “ Berani Menghargai Karya Kita Dengan self publishing.”  Dari Mbak Irene Puspawardani, penulis blog, sesama kompasioner semakin memotivasi saya untuk mewujudkan resolusi 2011, saya ingin membuat buku dari tulisan-tulisan saya yang masih bertebaran. Semakin terpacu untuk menulis dan menulis. Bagi saya Write Without Boundaries. Dan self publishing menjadi jalan mewujudkan resolusi 2011 saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s