Write Without Boundaries

Event MGF : Keluarga Maya VS Keluarga Nyata

Mbak Irene Memotivasi Mewujudkan My Resolution 2011

Mbak Irene Puspawardani aku mengenalnya hanya sebatas dunia maya, kita sama-sama kompasioner, salah satu media bloging.  Sebagai kompasioner yang bergabung sedari  31 Agustus 2010, total postingan Mbak Irene bisa dibilang sedikit  hanya 10 postingan, bila dirata-rata sebulan 1 postingan. Tetapi di setiap penulisannya penuh muatan positif terutama kehidupan sehari-hari sebagai seorang ibu. Banyak yang bisa saya serap dengan membaca tulisan Mbak Irene dari  tulisan mbak terakhir di kompasiana  mengenai ikhlas dengan  kegagalan adalah bagian proses dari bersyukur. Kegagalan tulisan yang ditolak media penerbitan harus  disiasati dengan ikhlas kalau kita belum berhasil, jadikan sebagai proses pendewasaan  untuk menulis lebih bernas  (berisi).

Saya kerap memberi comment dalam  setiap postingannya, karena  ini menjadikan media efektif untuk saling memberi motivasi, masukan dan share yang sangat bermanfaat.

Berkunjung ke blog pribadinya  Mbak Irene dari profilnya ternyata Mbak Irene  seorang Sarjana jurusan Biologi di Unpad dan memutuskan untuk menjadi ibu Rumah Tangga Di  sela waktunya Mbak Irene menekuni dunia tulis menulis hingga bisa menerbitkan novelnya lewat leutikaprio. Novel Pertamanya adalah  Ketik Cinta Bertransformasi

Dari.Mbak Irene  saya lebih mantap mengenal self publishing. Dalam tulisannya di kompasiana “ Berani Menghargai Karya Kita Dengan self publishing.”  Yang masuk dalam HL (Highlight) semakin memotivasi saya untuk mencoba langkah ini.

Setelah sekian lama saya mencoba untuk melakukan hal yang sama dengan penulis lain yang ingin tulisannya di appreciate dalam sebuah buku cetak dan bisa lebih bertebaran di baca para pencinta tulisan..Mengirim naskah-naskah ke penerbitan dan berkunjung pada sebuah penerbitan secara langsung, saya percaya dengan sebuah “proses” sampai detik inipun saya yakin suatu saat ada kabar baik dari salah satu penerbit untuk menjadikan kumpulan tulisan yang berserakan dalam sebuah buku.

Sekarang  berpikir  realistis adalah hal yang lebih mendorong saya untuk mengikuti jejak Mbak Irene, saat ingin mengikuti jejak nya  setelah membaca lebih serius tulisannya.

Self publishing mengajarkan kita untuk menghargai hasil karya sendiri. Mendorong kita untuk semangat berkarya dan terus berkarya. Mencoba 2 jalur yakni konvensional dan jalur perjuangan sendiri .

Rasanya tidak berlebihan bila mengatakan bila ada sisi lain yang sebenarnya memberi kebahagiaan tersendiri bagi penulis dalam menjalani proses self publishing, yaitu “kemerdekaan“, karena saya benar-benar bebas “merdeka” membuat karya saya, tanpa ketakutan akan “digunting” kontennya jika tidak sesuai dengan idealisme penerbit, seperti kalau penulis menerbitkan buku lewat jalur biasa. Disamping itu proses penjualan buku yang sudah berhasil terbit melalui self publishing juga mengajarkan untuk menjadi seorang wirausaha yang baik, karena sukses tidaknya jumlah buku yang akan dijual benar-benar bergantung pada keinginan penulis untuk mempromosikannya.

Dari Mbak Irene Puspawardani, penulis blog, sesama kompasioner semakin memotivasi saya untuk mewujudkan resolusi 2011, saya ingin membuat buku dari tulisan-tulisan saya yang masih bertebaran. Semakin terpacu untuk menulis dan menulis. Bagi saya Write Without Boundaries. Dan self publishing menjadi jalan mewujudkan resolusi 2011 saya.

Mbak Irene dengan nama pena Rena Puspa, walau kita hanya kenal dalam dunia maya dengannya saya merasa nyaman untuk berkata jujur berbagai kesusahan dalam menulis, mbak Rena dengan tenang bisa memberikan masukan dan support untuk tetap semangat karena menulis adalah proses pembelajaran, saya percaya dan yakin pada saatnya saya bisa juga menulis lebih baik dan bisa memuaskan pembacanya.

Mbak Irene seorang sahabat dalam dunia maya yang aku anggap seperti Mbak yang tidak lelah untuk terus berbagi dan mensupport dalam menulis, maaf kadang terlupakan untuk menyapa tetapi persahabatan dan persaudaran yang terjalin adalah anugerah yang harus disyukuri, dunia maya walau tidak sekalipun aku belum sempat berjumpa tetapi aku yakin Mbak Irene saudara yang baik dan berhati lembut.

BEJ, 15 Juli 2011, masih di sela-sela kerja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s