Edukasi

Sebuah Antologi Bahagia

Terima Kasih Mama 

          “Ra pokoknya Mama tidak setuju kamu berhubungan lagi dengan Antoni, Ra kamu itu sadar atau diguna-guna sih!” Mama Ajeng marah besar terhadap Rara puteri semata wayangnya yang sebentar lagi akan memasuki usia 30 tahun. Suatu usia yang sangat rawan bagi seorang perempuan yang belum menikah.

            “Kenapa Mama baru melarang Rara sekarang dengan Antonie? Kenapa tidak dari awal Ma,  Rara sudah terlanjur sayang!” Rara protes atas ketidaksetujuan Mamanya.

            “Mama tidak menyangka kalau persahabatan kalian menjadi cinta yang serius, Ra kamu sadar tidak, kamu beda keyakinan. Dan itu dosa Ra, kamu mau memilih Antonie atau Mamamu sendiri!”

            Rara diam membisu, Antonie lelaki yang hampir setengah tahun dekat dengannya memang berbeda keyakinan, tetapi Antonie sangat menghargai dan menghormatinya. Dari sahabat dan sekarang Rara tidak bisa membohongi perasaannya yang benar-benar mencintainya.

Antonie lelaki yang sangat sempurna di matanya, Antonie juga pria matang yang sudah mempunyai pekerjaan tetap, bahkan Antonie sudah ingin melamarnya. Tetapi semua sirna dengan aksi pelarangan yang Mama lakukan, Mama tidak hanya mengawasi gerak-gerik Rara ketika akan berangkat kantor, tetapi terang-terangan mama memaki Antonie, “Toni Mama melarang hubungan kalian karena kalian memang berbeda, tolong jauhi Rara. Lupakan harapan kamu melamarnya, jangan mengganggu putriku lagi.”

            Samar Rara masih mendengar, “Antonie memang kamu sempurna di mata Rara, tapi Mama tahu kamu itu laki-laki yang tidak bertanggungjawab apa perlu Mama kasih tahu ke Rara rahasia kamu.”

            Itulah sepenggal cerita 6 tahun lalu, setelah perang bathin habis-habisan Rara alami. Rara menyetujui usul Antonie untuk kawin lari, setelah sempat beberapa hari Rara memutuskan tidak pulang ke rumah karena Rara benar-benar dibutakan cinta pada Antonie.

 Rara menurut saja menginap di rumah Silia sahabat Antonie yang menampungnya beberapa hari.

            Saat pelarian itulah, Silia yang menjadi tempat Rara menginap malahan Silia sempat bertanya, “Ra, aku sudah lebih lama mengenal Antonie daripada dirimu. Apalagi kamu dan Antonie sebenarnya bisa dibilang jarang bertemu karena terpisah kota, tapi Ra aku tidak menyalahkan dirimu, wanita mana yang tidak terpesona dengan ketampanannya juga dia sudah memegang pekerjaan yang bagus prospeknya ke depan.”

            Tiba-tiba Rara bisa menangkap adanya rahasia dari mata Silia yang tiba-tiba basah, “Kenapa Sil, kok kamu sedih…ada yang salah ya dari ceritaku?”

            “Oh, eenggak…enggak Ra…he he he tiba-tiba aku teringat mantanku, bersyukurlah Antonie benar-benar mencintaimu,” Silia menyeka matanya.

            Tapi semua kebohongan Silia terungkap ketika malam tanpa sengaja Rara terbangun tengah malam karena ingin ke toilet, sandal jepitnya masuk ke kolong. Saat menarik sendalnya terseret juga sebuah buku diary, begitu banyak catatan tapi Rara terarah pada lembaran tulisan yang buram, tampaknya penulisnya berurai air mata.

Malam-malam yang kini sunyi….

Malam-malam lalu yang aku rindu, ketika pelukan hangat selalu menemani tidur malamku.

Begitu aku rasakan setiap desah nafasmu yang begitu dekat dengan nafasku, ketika aku dengar setiap detak jantungmu yang begitu jelas berdetak di telingaku. Dan ketika begitu puas aku mengelus wajah tampanmu yang tidak lebih dari 1 inchi dari wajahku.

Malam-malam yang indah, hingga akhirnya aku terlempar pada suatu kenyataan. Pada suatu kebodohan kalau aku wanita yang begitu murah, tidak berharga. Karena kutahu, hatimu hanya untuk seorang wanita yang akan kau jaga hingga saatnya dirimu berhak memilikinya sepenuhnya. Aku sangat iri dengannya, aku sangat marah ketika kau mencumbuku tapi kau memanggilnya…Ra…Ra…Ra….

Aku benci kamu Antonie!

            Rara tercekat, tangannya menutup mulutnya. Teringat tatapan nyalang sesaat dari wajah Silia dan terungkap sudah telaga bening yang Silia tumpahkan tadi sore. Antonie, ternyata tidak lebih dari seorang pecundang.

            Rara sudah tahu semuanya, apakah rahasia ini juga yang mama bisa rasakan kalau Antonie itu bukan pria yang baik buatnya, ah feeling seorang mama ternyata sangat tajam. Dan kini baru Rara sadari.

            Rara memutuskan kabur malam itu juga dan setelah menyetop taxi terasa lega Rara rasakan, “Rara pulang Mah…” Rara memeluk mamanya.

            Mama bisa merasakan kesedihan hatinya, mama membiarkan Rara menumpahkan semua kesedihannya, “Terima kasih Mama, Rara sudah tahu siapa Antonie?”

            Rara bisa tersenyum, walau harus menikah telat tapi Allah telah mempertemukannya seorang pria yang penyabar dan sayang terhadap keluarganya. Mama tidak melarang saat Irfan melamarnya, bahkan Mama sangat bahagia. Semua berjalan dengan indah walau di usia yang tidak muda Allah langsung memberinya buah cinta yang sangat lucu.

Ah Rara tidak berani memutar waktu seandainya dia tidak menuruti nasehat Mama, setidaknya berkat doa Mama maka Rara bisa mengungkap segala pelarangan yang Mama lakukan. Seorang Mama yang menginginkan puterinya selalu bahagia. Ternyata Mama sudah mempunyai alasan kuat benar-benar membenci Antonie, karena Ibunda Silia ternyata sahabat Mama waktu SMA.

Ilustrasi diunduh dari : google.com

BEJ, 09 Agustus 2011 ‘sela-sela kerja’

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s