Write Without Boundaries

Mari Bicara Soal Setting

Setting atau latar sebuah novel, adalah salah satu unsur intrinsic novel yang penting, dan memberikan nilai tambah bagi novel tersebut. Saya pribadi masih belajar mengolah setting agar bisa lebih detil dan menarik, sehingga pembaca merasa seakan-akan sedang berada di tempat tokoh-tokoh novel saya berada. Salah satu novel yang mempunyai kekuatan dalam setting adalah novel Ayat-Ayat Cinta, yang bersetting di Mesir.  Sayangnya, saya tidak memegang novel itu, jadi tidak bisa memberikan contoh-contohnya. Berhubung sekarang saya sedang membaca novel Nur Jahan: the Queen of Mughal, yang bercerita tentang sejarah kesultanan Mughal (pendiri Taj Mahal) di India, bolehlah kita mengambil contoh setting dari sana.

Keberhasilan sebuah novel manakala pembaca bisa merasakan emosi tokoh-tokohnya, membayangkan si tokoh, dan berada di tempat yang sama dengan si tokoh. Kekurangan dari penulis pemula, adalah kurang detil dalam membahas setting. Termasuk saya, pada awal menulis novel. Berhubung novel-novel saya dulu adalah teenlit, maka settingnya selalu di sekolah (SMA dan Pesantren). Itupun tidak detil, hanya disebutkan SMA apa, di mana. Mari kita belajar mengulas setting dari novel Nur Jahan yang sedang saya baca ini.

Halaman istana berbentuk segiempat, dibangun dengan garis-garis tajam sempurna yang presisi ala Mughal dan Persia. Sebuah beranda beratap lengkung dan runcing di tengah-tengahnya memenuhi salah satu sisi; di sisi-sisi lainnya terdapat pepohonan dan semak-semak, tampak tak jelas di sana sini dalam kegelapan. Di tengah, ada kolam berbentuk segiempat, airnya diam dan tenang. Undakan batu pasir turun dari beranda ke podium marmer yang menjorok ke dalam kolam bagaikan gigi yang hilang di tengah senyum lebar. (halaman 3)

Contoh di atas adalah penggambaran suatu tempat di istana Mughal, tepatnya di halaman istana. Untuk menggambarkan halaman istana saja bisa lebih dari satu paraghraf, saking detilnya.  Contoh di atas hanya salah satunya. Sehingga kita bisa membayangkan seperti apa halaman istana kesultanan Mughal, kerajaan Islam yang pernah jaya di India itu.

Ratu Jagat Ghosani menggiring Jahangir ke dalam ruangan tamunya, berdiri di belakang untuk membiarkan Jahangir masuk. Ia telah membuat pencapaian besar. Ruangan tersebut diharumkan oleh bau civet dari dupa dan tungku batu bara berasap dengan potongan-potongan kecil cendana. Karpet tebal dihamparkan di seluruh lantai, dari tepi ke tepi, hingga marmer di bawahnya tak terlihat. Dipan-dipan diletakkan membentuk setengah lingkaran di ujung terjauh dan para gadis budak menunggu dengan sopan, mata ditundukkan, cadar tipis dari kain muslin yang mereka kenakan berwarna hijau dan biru, memegang kipas bulu merak yang berpendar warna-warni dengan lembut. (halaman 85)

Penggalan di atas adalah untuk menggambarkan ruang tamu Ratu Jagat Ghossani (siapa dia? Baca novelnya saja, hehe….).  Adakah dari kita yang membuat setting sedetil ini? Halaman istana digambarkan dengan detil, begitu juga ruang tamu Ratu Jagat Ghosani. Setiap tempat di novel ini pun tak kalah digambarkan dengan detil.

Setting yang detil bisa menjadi nilai plus untuk novel kita. Misalnya, novel Laskar Pelangi yang menggambarkan dengan detil suasana di Belitong. Bahkan, ada kecenderungan penerbit meloloskan naskah yang mengupas dengan detil setting local maupun interlokal. Selain penggambaran tiap bangunan, interior-interior di dalamnya, detil setting bisa digambarkan melalui: Makanan khas tempat si tokoh berada; misalnya makanan khas Meksiko, kebiasaan-kebiasan/ adat/ tradisi di tempat itu; misalnya adu banteng di Spanyol, tempat-tempat/ bangunan-bangunan unik yang menjadi ciri khas tempat itu; misalnya Menara Eiffel di Perancis, atau Kincir Angin di Belanda, bahasa si tokoh, dengan mengambil sedikit cuplikan ucapan si tokoh dalam bahasa asli.

Yuk, mari kita perkaya dan pertebal halaman novel kita dengan deskripsi setting yang detil, tidak sekadar menyebutkan nama tempat dan di mana, tetapi digambarkan dengan sedetil-detilnya. Bahkan, meskipun novel itu hanya mengambil tempat di istana. Setiap bagian istana, digambarkan dengan detil.

Saya juga masih belajar kok, jadi jangan berkiblat dari novel-novel saya yah, hehe… ^_^

2 responses

  1. great!
    tiap kali baca cerita, aku selalu men-skip bagian setting. hehehe..aneh memang,, tp aku malah pusing baca deskripsi yg panjang tentang sesuatu, mbak. makanya gaya tulisanku jg ga begitu banyak mendeskripsikan setting.
    hm..harus banyak2 belajar lg nih. makasih share-nya ya, mbak🙂

    November 24, 2011 at 11:50 am

    • Sama2 Dhe…semoga bermanfaat🙂 ini juga copas dari group penulisan Be Writer…semangat

      November 24, 2011 at 12:04 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s