Write Without Boundaries

Sebuah Buku Antologi Banyumas

Balada Seorang Lengger

Berbeda seperti sore-sore lalu saat aku mengantar eyang puteri kemari, di sore ini eyang puteri lama sekali bersimpuh di makam tanpa nama. Untunglah semua tugas sudah aku selesaikan jadi aku tidak ada beban untuk menunggu eyang puteri yang aku sayangi.

“Pak Kar selain eyang puteriku yang mengunjungi makam itu, ada siapa lagi?” tanyaku iseng terhadap pak Karjo penjaga makam Arsantaka.

“Mboten woten Den, dalem mboten mangertos sinten ingkang disarehaken wonten mriku(4),” jawab Pak Karjo.

“Oo, ternyata Pak Karjo penjaga makam Arsantakapun tidak tahu siapa sebenarnya yang dimakamkan di situ, wajarlah kalau makam itu memang tanpa nama. Pastilah orang yang tahu adalah orang yang pernah dekat dengan jasad yang sekarang tengah terkubur di dalamnya,” pikirku.

Akhirnya ritual eyang puteri selesai juga, aku tuntun eyang menuju mobil. Perutku terasa lapar karena dari siang aku mengerjakan tugas hingga lupa untuk makan siang.

****

Masyarakat yang maju adalah masyarakat yang beraksara atau masyarakat yang tingkat literasinya tinggi. Dalam masyarakat yang demikian kehidupan kesusastraan berkembang pesat karena kesusastraan telah menjadi kebutuhan mendasar.
Dalam kesadaran ini buku kumpulan cerita pendek BALADA SEORANG LENGGER diterbitkan. Antologi yang berisi 19 cerpen ini semuanya mewakili latar belakang Banyumas Raya, baik dalam arti wilayah maupun budayanya. Dan cukup berhasil. Baik cita rasa, pengaruh tata nilai, maupun nuansa kebanyumasannya sangat terasa.
Ciri khas kelokalan Banyumas sekaligus menjadi salah satu kekuatan antologi ini. Sekarang, ketika globalisasi juga sudah lama merambah dunia sastra, maka unsur lokalitas menjadi hal yang dirindukan.
Cerpen yang baik adalah cerpen yang berhasil menanamkan kesan mendalam bagi pembacanya. Bila demikian, maka ke-19 cerpen dalam antologi ini, yaitu 1. Benteng Pendem (Agus Pribadi); 2. Makam Tanpa Nama (Nenny Makmun); 3. Pongkor-pongkor Tua ( H.A. Wahyudi); 4. Rawuhan (Setijanto Salim); 5. Batu Bisu (Sunarno Sahlan); 6. Jelmaan Dewi Supraba (Meshy Darmayanti); 7. Sepeda untuk Bapak (Unggul Tri Aji); 8. Darah Keadilan (M.N. Kelana); 9. Balada Seorang Lengger (S. Gilangtresna); 10. Kesetiaan Bulan (Bunda Seno alias Prajna Bhadra); 11. Tawur Banyu (Lentera Fajar); 12. Bukan Sketsa Biasa (Sutantinah); 13. Kerling Sang Penari Lengger (Alfarie El Ars); 14. Kerinduanku Terkoyak (Singgih Swasono); 15. Kubunuh Kau dengan Keperawananku (Arsyad Riyadi); 16. Cinta Antara Dua Huruf “O” (Siwi Mars Wijayanti); 17. Ketoprak Tobong (Agustav Triono); 18. Katresnan Sakjeroning Segara (Indah Prihati); dan 19. Banyu(E)Mas (Mastiyok Pamungkas), semuanya, dengan kekuatan dan ciri masing-masing, mengesankan. Tentu kesan yang ada bertingkat-tingkat.
Kepengarangan adalah sebuah proses menuju kematangan, proses yang tidak boleh selesai, laksana jalan tiada ujung. Masyarakat akan setia mengikuti proses kepengarangan ke-19 cerpenis ini menuju puncak. Selamat berkarya, Indonesia menanti karya-karya kalian!
 
Judul Buku : Balada Seorang Lengger
ISBN: 978-602-225-187-3
Terbit: November 2011
Tebal: 198 halaman
Harga: Rp. 42.000,00
 
Atau Contak Nenny Makmun (FB) di Hp 0816641454
 
Reiew : BSL

2 responses

  1. ada namaku disini?

    March 11, 2012 at 5:04 pm

  2. Wah Alhamdulillah senang bisa satu buku, mohon bimbingannya…nulis di antologi sini susah🙂 Terima Kasih sudah berselancar kemari…semangat…

    March 12, 2012 at 7:51 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s