Write Without Boundaries

Bukik Bertanya : My Complicated Life

Bukik Bertanya : My Complicated Life

Semua anak berharap akan menpunyai keluarga yang utuh. Tidak ada satupun anak yang ingin kedua orang tuanya berpisah. Tapi sebuah hidup tidaklah semulus jalan tol. Seperti yang terjadi dengan diriku melewati sebuah masa saat mereka harus berpisah.

Apalagi perpisahan terjadi setelah aku dewasa, aku telah melewati sebagian waktu yang banyak dengan mereka. Memahami masing-masing karakter yang ada, papa yang sederhana dan mama yang selalu berusaha keras untuk bekerja meringankan beban kebutuhan hidup kami sehari-hari.

Bernama Noorhani Dyani Laksmi, nama pemberian dari eyang puteri Nur dan Dian adalah cahaya, dimanapun diharapkan akan menjadi penerang. Laksmi adalah salah satu tokoh pahlawan India, sepertinya eyang puteriku tertarik dengan tokoh ini sehingga cucunya diberi nama Laksmi. Tetapi semua akrab memanggil namaku Nenny.

Sosok papa adalah pribadi sederhana, papa hanya pegawai negeri biasa. Papa jarang sekali membeli barang-barang, apa yang ada jadi awet. Papa lebih utamakan kebutuhan mama, aku dan adik. Tapi papa tidak pernah mengeluh. Jaket untuk bekerja, sarung, baju koko juga itu-itu saja. Dari papa belajar untuk sederhana.

Mama adalah sosok yang bekerja keras, mama menerima pesanan makanan dari berbagai orang yang sedang melakukan hajat. Mama bisa bangun pukul 03.00 dan baru istirahat tengah malam. Selain catering mama juga menjadi tukang risa pengantin. Dulu saat SMP hingga mahasiswa aku kerap ikut membantu merias saat mama ada order. Bekerja menjadi tukang rias dibutuhkan kesabaran luar biasa menghadapi client dengan berbagai permintaan. Dari mama aku belajar untuk bekerja keras dan juga banyak bersabar.

Sangat disayangkan papa dan mama adalah dua oang yang hebat tapi bila rasa cinta itu tiba-tiba hilang, siapapun tidak bisa menghalangi sebuah perpisahan. Inilah yang tidak ingin menimpa aku. Kuhanya ingin kesederhanaan, pekerja keras dan kesabaran mengalir dalam darahku dan menjadi pegangan hidup.
Kesederhanaan papa mengajarkan untuk memprioritaskan apa yang diperoleh demi kepentingan keluarga. Mencari rezeki dengan bekerja keras walau kondisi  kerja yang ada, apapun tetap semangat semua demi anak-anak lebih luasnya demi keluarga.

Bersabar, semoga bisa banyak belajar dari sebuah kesabaran. Lebih legawa dalam segala hal. Dan tetap bersyukur.

Bertanya pada diri sendiri, aku hanyalah ingin seperti air. Air adalah sumber kehidupan. Hidup tidak untuk diri sendiri bisa menjadi pegangan bagi orang-orang yang dicintai, mau berbagi, menyegarkan ketika orang membasuh dan melepaskan dahaga.

Kuhanya bagai air yang terus mengalir menembus dinding, batu, tanah merembas bagai hukum kapilaritas. Demikian aku ingin bisa menghadapi semua permasalahan hidup tanpa putus asa, Allah selalu menjadi kekuatan. Percaya selalu ada jalan untuk setiap masalah.

Selalu ada harapan bila kita niat untuk merealisasikan dalam lingkungan diri pribadi yang berkembang ke arah peradaban bangsa. Kutertidur panjang dan kuterbangun di tahun 2030 banyak harapan akan bangsa yang tengah sakit dengan berbagai penyakit yang timbul akibat Kolusi, Korupsi dan Nepotisme yang mengakar. Penyakit ini sudah sembuh total yang ada pemerintahan yang bersih, rakyat menjadi prioritas tidak ada lagi kesenjangan si miskin dan si kaya.

Anak-anak bisa menikmati pendidikan yang layak tidak hanya kaum ber-uang yang bisa menjadi pintar karena bangsa ini bukan milik kaum tertentu. Tapi bangsa yang berdiri atas keaneka ragaman suku, bangsa dan sosial.

Tidak ada lagi orang sakit tidak dilayani karena semua sudah gratis, pelayanan kesehatan untuk semua golongan. Tidak ada lagi kisah sedih seorang ayah yang mengangkat mayat anaknya sendiri dari rumah sakit hingga rumahnya karena sang anak meninggal dengan pelayanan seadanya apalagi untuk menikamti fasilitas ambulance. Sungguh miris akan peristiwa ini.

Indonesia di tahun 2030 menjadi bangsa yang paling damai, tidak ada lagi pelaku pemboman yang tidak memiliki hati nurani.

Jalanan tidak lagi ada kemacetan karena orang tidak lagi egois untuk menaiki kendaraan pribadi karena pelayanan kendaraan umun sudah bagus. Orang merasa nyaman tanpa ada ketakutan dicopet, dijahatin seperti yang marak sekarang terutama keselamatan kaum  hawa yang menggunakan fasilitas angkutan umum.

Tidak adalagi pemerintahan yang mementingkan golongannya sendiri semua bekerja demi kesejahteraan rakyat. Keadialan sosial dan kesejahteraan merata. Rakyat Indonesia hidup dengan tenang, damai dan bahagia. Imagine! Bila ini bisa tercapai alangkah nikmatnya dan indahnya.

Anda saja tulisan bisa menggugah para pemimpin bangsa untuk mencapai apa yang diharapkan, aku akan terus menulis dan menulis menyerukan apa yang semestinya. Apa yang menjadi hak rakyat dan apa yang semestinya para pemimpin yang telah kita pilih menjadi wakil rakyat sepenuhnya berjuang demi kemakmuran dan kesejahteraan rakyat.

Lewat tulisan mengukir pena, menebus ruang batas hati nurani para pemimpin bangsa. Tiada lelah dan capai berjuang dengan pikiran dan nurani.

Masih berimajinasi seperti tentang harapan akan suatu bangsa di tahun 2030, demikian juga apabila tiba-tiba ada seseorang yang ingin menulis autobiografi tentang saya. Aku ingin sebuah judul ‘ Perjuangan Tiada Henti’ dengan sinopsis yang berawal dari kisah seorang anak yang berasal dari keluarga broken home sukses melawan segala kesulitan. Tidak ada rasa putus asa untuk menjalani alur kehidupan yang penuh berbagai cobaan.

Tulisan berkisah bagaimana dia sanggup menjalani pasca perpisahan orang tuanya hingga saatnya pencarian belahan jiwa yang mengalami kesulitan karena dianggap dari keluarga yang berantakan.

Bagaimana rasa putus asa yang sempat dirasakan karena keluarga yang bahagia ditengah jalan harus terpisah, kebingungan untuk memilih antara ayah atau ibu. Karena bagi seorang anak tidak ada bekas ayah dan bekas ibu. Keduanya orang yang dicintai.

Biografi saya adalah sebuah transfer semangat, menjadi orang yang sederhana, sabar dan menjadi pekerja keras. Hadapi dunia dengan tidak cengeng bahkan mengutip Steve Jobs Perjalanan itulah hadiahnya dalam persepsi saya apapun yang terjadi selalu ada hikmah sebagai hadiah untuk tidak pernah kita menyesali apa yang terlewatkan.

Tidak menangisi atas ketidasempurnaan yang kita alami. Atas semua duka dan atas semua kebahagiaan yang hadir, semua sudah sepantasnya selalu kita syukuri. Apapun adanya!

Saatnya untuk mencoba back to the time, dalam hidup pasti pernah kita melakukan kesalahan atau kekonyolan. Satu hal kesalahan terbesar pernah aku lakukan ketika suatu kesalahpahaman antara diriku dan mama. Aku bersikeras dengan pendapatku, yang melukai hatinya.

Pertengkaran yang seharusnya tidak terjadi. Semua semakin kufahami ketika akupun menjadi seorang ibu! Betapa konyolnya aku melawan beliau. Mau diapain tetap beliau adalah orang tua yang tetap tanpa kesempurnaan harus kita fahami.

Belajar dari sebuah kesalahfahaman dan betapa tidak enaknya bermusuhan dengan mama sendiri, kekonyolan ini tidak akan pernah terjadi lagi! Aku akan menyangi kedua orang tua dengan segala kelebihan dan kekurangan masing-masing dan juga diriku.

It’s my a complicated life, but i just to make it all simple…I am as a daughter, as a wife, as a mom, as employee and as a writter.

Cimanggis, 05/02/2012

ilustrasi : crackingsoul.blogspot.com

Link  “Rubrik Kolaborasi Bukik Bertanya” –> http://bukik.com/2011/12/28/bukik-bertanya-undangan-untuk-berkolaborasi/comment-page-1/#comment-10186

2 responses

  1. suka dengan gambaran biografinya, semoga segera terbit ya mb..
    kesulitan dalam hidup membuat kita lebih kuat dan tegar dalam menjalani hidup..
    salam kenal mb.. 😉

    March 30, 2012 at 3:29 pm

  2. Amiin semoga ada share semangat, terima kasih🙂 Salam

    March 30, 2012 at 4:45 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s