Write Without Boundaries

Copas Suka Duka PJ Antologi

Antologi-Antologi yang Saya Susun

Alhamdulillah, di bulan Februari 2012 ini, dua buku antologi yang saya susun terbit bersamaan. Tentu bukan karena disengaja, karena meskipun diterbitkan oleh penerbit yang sama: Elex Media, tetapi di bawah lini yang berbeda. Antologi A Sweet Candy for Teens diterbitkan oleh Penerbit Elex Media dengan logo Elex Media, sedangkan antologi Gado-Gado Poligami, diterbitkan oleh Penerbit Quanta, imprint dari Penerbit Elex Media yang khusus menerbitkan buku-buku islami.

Kedua buku antologi ini disusun secara tak sengaja. Lho? Ya, mulanya adalah audisi flash fiction atau fiksi kilat sebanyak empat ratus kata bertema poligami. Audisi ini sebenarnya dimaksudkan untuk mempromosikan novel saya yang diterbitkan secara indie: Hati Bidadari. Novel ini malah sudah tidak dicetak lagi, karena rekan saya yang dulu membantu mencetakkan, sudah tak membuka jasa percetakan buku indie lagi. Audisi yang diikuti oleh lebih dari dua ratus peserta ini, semula kisah yang terpilih akan saya terbitkan secara indie pula. Saya tidak terpikir akan ada penerbit besar yang mau menerima kumpulan kisah ff poligami. Seiring berjalannya waktu, berdasarkan kekecewaan saya terhadap self publishing, utamanya yang menggunakan system POD, atau print on demand, alias buku baru dicetak ketika ada yang memesan, saya terpikir untuk mencoba mengirimkan naskah ff poligami ini kepada penerbit besar.

Tentu banyak kelebihannya bila kumpulan kisah poligami ini dapat diterbitkan oleh penerbit besar. Selain saya tidak perlu mengeluarkan modal untuk mencetak bukunya, buku-buku juga lebih bagus pendistribusiannya dan bisa dibeli di toko buku-toko buku. Tidak demikian bila hanya diterbitkan secara indie, terlebih dengan system POD. Buku hanya dijual melalui media online. Belum lagi waktu cetak POD yang bisa memakan waktu sebulan, karena menunggu banyak pesanan dulu. Dan banyak juga pembaca yang belum terbiasa membeli buku secara online, serta lebih suka membeli buku di toko buku.

Namun, bukan berarti bisa begitu saja dengan mudahnya menerbitkan buku di penerbit besar. Kesulitan menerbitkan buku di penerbit besar adalah buku harus melewati seleksi editor dan marketing penerbit. Bicara soal marketing, saya jadi harus berpikir bagaimana supaya antologi ff poligami ini bisa mempunyai nilai jual di mata marketing penerbit. Sebab, penerbit mengeluarkan modal cukup besar untuk mencetak buku ini. Modal itu paling tidak harus kembali dan setiap usaha pasti menginginkan keuntungan, bukan kerugian. Saya pun memutar otak, bagaimana meyakinkan penerbit bahwa antologi ff poligami ini mempunyai nilai jual.

Sayangnya, saya tak menemukan bahwa fiksi kilat bakal dilirik banyak pembaca. Ceritanya yang singkat, tak banyak mengundang gairah untuk membaca. Jangankan fiksi kilat, cerpen atau cerita pendek saja sudah tidak banyak penerbit yang melirik. Tapi, bagaimana kalau kisah nyata? Ya, antologi kisah nyata saat ini sedang marak. Banyak yang suka membaca tulisan-tulisan semodel Chicken Soup, kisah nyata yang dapat memberikan semangat. Maka, saya pun membuka audisi lagi. Kali ini audisi kisah nyata poligami. Tadinya hanya penulis FF yang diberdayakan, ternyata naskah dari mereka tidak banyak yang masuk dan sedikit yang layak. Saya pun mengundang audisi itu secara terbuka di grup-grup jejaring social fesbuk.

Kisah nyata poligami memang tidak mudah untuk dituliskan, karena rata-rata tidak berjalan dengan indah. Bicara soal poligami juga harus hati-hati karena termasuk isu sensitive. Ada dua kubu yang sama-sama kuat, yang pro dan kontra poligami. Maka, saya tak mau memberikan penilaian sepihak terhadap poligami, khawatir memihak salah satu kubu. Saya serahkan saja kepada penulis untuk menuliskan kisah nyata poligami yang mereka tangkap, bahkan alami, dan penilaiannya diserahkan kepada pembaca.

Beberapa naskah yang masuk, ditulis sendiri oleh penulisnya, berdasarkan kisah nyata yang dialami oleh dirinya atau orang-orang terdekat. Beberapa yang lain hanya berupa curahan hati di inbox saya, yang kemudian saya tuliskan kembali dengan tetap menggunakan nama orang itu sebagai pencerita. Tak disangka, FF dan Kisah Nyata Poligami itu cukup tebal juga setelah terkumpul semua. Kurang lebih ada tujuh puluh orang penulis yang tergabung di dalamnya. Dan ternyata naskah-naskah itu masih harus melalui seleksi editor juga. Beberapa naskah FF tereliminasi karena dianggap ceritanya datar atau memberikan contoh buruk. Agak sulit juga ketika menyampaikan kabar FF yang tereliminasi kepada para penulisnya. Ada penulis yang tak terima. Menurutnya, jika ada FF yang tidak lolos, mestinya semua naskah ditarik saja dan ditawarkan ke penerbit lain.

Bagi saya, itu akan memakan waktu lagi, sementara waktu saya sudah berbulan-bulan dihabiskan untuk mencari naskah dan menyusun antologi ini. Bayangkan jika harus mencari penerbit lain. Saya tidak akan bisa tidur tenang sebelum naskah itu diterbitkan. Mengorbankan delapan naskah FF masih lebih baik daripada mengorbankan semuanya. Saya bekerja sendiri, mengakomodir semua penulis. Untuk itulah saya butuh bantuan Mba Linda Nurhayati yang sudah punya sensitivitas mengedit naskah. Saya bisa mabok total kalau juga harus mengedit semuanya, hehe…. Itupun Mba Linda membantu mengedit naskah FF-nya saja, untuk kisah nyatanya tetap saya yang mengerjakan.

Sedangkan, naskah A Sweet Candy for Teens, adalah kumpulan kisah motivasi untuk para remaja dalam menggapai cita-cita dan cinta. Naskah ini pun mulanya bukan keinginan saya, melainkan keinginan seorang teman penulis yang bermukim di Solo. Dia menawarkan saya untuk bersama dengannya menyusun antologi ini. Naskah-naskahnya sudah ada, karya anak-anak didiknya di grup menulisnya. Kata beliau, naskah ini sudah dipesan oleh sebuah penerbit besar di Solo. Jadi, saya enjoy saja mengerjakannya, toh sudah ada penerbit yang pasti menerbitkannya.

Saya harus memilih ratusan naskah yang masuk, karena satu penulis bisa mengirimkan sepuluh tulisan. Halamannya sedikit-sedikit, hanya antara dua sampai tiga halaman. Katanya, itu memang tulisannya bermodel tulisan singkat seperti percikan. Saya harus berpikir bagaimana menyatukan semua tulisan itu menjadi satu ide. Kalau akan dibukukan, tentu semuanya harus punya benang merah. Akhirnya, tulisan-tulisan itu digabungkan menjadi tiga tema besar, mengenai remaja dalam menggapai cita dan cinta. Yaitu; menghadapi cinta pertama, menggapai cita-cita, dan memutuskan untuk menikah di usia muda.

Ternyata tidak semua naskah yang terkumpul itu memenuhi kelayakan saya. Saya pun membuka audisi tertutup dengan mengirimkan inbox kepada teman-teman penulis yang saya perhatikan sering mengikuti audisi antologi. Beberapa naskah pun terkumpul lagi, lalu saya susun semuanya. Setelah selesai disusun dan dirapikan, saya kirimkan ke teman saya itu. Rencananya beliau yang akan mengedit. Satu bulan berlalu, naskah telah sampai di penerbit. Ternyata jawabannya sungguh mengecewakan. Penerbit berbalik niat, urung menerbitkan naskah itu. Teman saya pun mengembalikan semua naskah ke penulisnya. Justru saya yang tidak terima. Saya sudah menghabiskan waktu seminggu penuh hanya untuk mengurusi naskah itu. Mencari naskah, menyeleksi, menyusun, dan merapikan. Rasanya sia-sia kalau tidak jadi diterbitkan. Tenang. Penerbit masih banyak kok. Hanya, siapa yang mau mengeditnya? Saya sudah mabok membaca naskah tebal itu, hehe…. Untung saja di antara deretan nama penulis, ada nama Mba Sapto Rini, yang waktu itu masih menjadi editor di sebuah penerbit di Solo. Maka, saya minta bantuannya untuk mengedit naskah itu. Dia mengeditnya setengah, saya setengah. Dari hasil editingnya juga diperoleh lagi naskah yang menurutnya belum layak terbit. Jadi, antologi itu pun mengalami penyusutan jumlah naskah.

Saat itu, yang terpikir hanyalah Penerbit Elex Media. Saya kirimkan saja ke sana. Alhamdulillah, seminggu kemudian sudah mendapatkan jawaban bahwa naskah sesuai dengan visi dan misi penerbit. Subhanallah…. Tidak perlu menunggu lama untuk acc naskah ini. Dan kini, kedua antologi itu sudah terbit. Meski tugas saya belum berakhir. Hak penulis masih harus dibayarkan, dan ini yang masih menunggu, alias menunggu honornya turun. Semoga saja para penulis mau bersabar. Sedangkan untuk bukti terbit, berdasarkan pengalaman saya, Elex Media hanya memberikan enam eksemplar buku. Sedangkan penulis antologi berjumlah puluhan. Bayangkan jika semua penulis mendapat bukunya. Jika satu buku saja harganya Rp 40.000, dikalikan dengan jumlah penulis, bisa-bisa malah dana yang dikeluarkan untuk membeli buku itu, lebih besar daripada honornya. Jadi memang tidak mungkin dan tidak ada antologi yang memberikan buku gratis ke semua penulis, kecuali penulisnya hanya sepuluh orang, atau penulis tidak diberikan honor, hanya diberikan buku. Biasanya, kalau penulis disuruh memilih antara honor dan buku, mereka memilih honor.

Menyusun antologi tadinya memang hanya pekerjaan sampingan, hampir tidak diniatkan. Ternyata tanggung jawabnya sangat besar, karena menyangkut hajat hidup banyak penulis. Kadang-kadang ada saja penulis yang berpikir negatif terhadap PJ Antologi. Bagi saya, menulis antologi hanya sebuah batu loncatan untuk menjadi penulis sebenarnya. Tentu saja tulisan kita akan  lebih berbobot jika menjelma utuh menjadi satu buku. Tetapi, jika kita belum dapat menulis buku secara utuh, ada baiknya mengikuti antologi untuk mengasah kemampuan menulis. Lain halnya jika kita sudah mampu menulis buku secara utuh, lebih baik fokus pada penulisan buku solo.

Sumber : http://www.facebook.com/groups/193199450757072/doc/253223371421346/

2 responses

  1. mantap mba

    September 18, 2012 at 4:18 pm

    • Salut buat kisah bunda Layla … she is good mom and writer …Semangat

      September 19, 2012 at 9:09 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s