Fiksi

Ruang Hati

“ Maaf Dara keputusan aku sudah bulat, karena kita bersahabat dari kecil maka aku sudah menganggap kamu sebagai adik..,” Jaka berkata lembut pada Dara gadis yang sekarang sudah berusia dewasa. Gadis kecil teman bermain di sepanjang pesisir pantai pasir putih dari siang hingga senja menjemput. Bahagia dan kesedihan telah tereguk bersama. Tapi waktu memang tidak bisa dilogika.
Saat sang ayah mereka pergi berhari-hari berlayar mencari ikan-ikan guna menopang hidup yang semakin berat. Selalu Dara dan Jaka menanti dengan berharap sang ayah akan membawa ikan-ikan yang banyak dan mereka bisa tetap sekolah. Sepanjang hari membuat istana pasir dan kadang terbesit cemas tersirat dari sorot Dara kecil karena tiba-tiba tanpa aba-aba rumah istananya harus lenyap terhempas gelombang yang mendadak pasang.
Jaka tahu Dara menangis bukan karena istana Ratu Pelita dia kerap sebut yang sudah di bangun sedari siang hingga sore begitu mewah hancur tanpa bekas. Larut melebur bersama pecahan butiran pasir yang melumer kembali menjadi daratan.
“Tenanglah Dara, ayah kita akan pulang dengan selamat. Aku akan selalu menjagamu.” Jaka lebih tua 3 tahun mendekap Dara dengan sayang.
Kenyataan malam itu dan selanjutnya sang Ayah memang tidak pernah kembali, hancurnya istana Ratu Pelita di suatu senja mermuncak bagai isyarat sang penopang hidup harus kembali pada Dzat Penciptanya.
Jaka memeluk Dara erat, “Kita sama-sama kehilangan Ayah…,apapun yang terjadi kita harus berjuang untuk memenangkan pertaruhan hidup adikku…” .
Dara tahu Jakapun ternyata tidak sanggup membendung air matanya yang mengalir deras. Dara tahu betapa Jaka sangat mencintai ayahnya yang selalu berusaha membuatnya dia bahagia dengan berbagai mainan yang dia beli walau sederhana apabila hasil tangkapan ikannya melebihi harapan. Sedikit uang sisa untuk menyenagkan puteranya.
Tujuh belas tahun berlalu, Dara masih menanti Jaka dengan janjinya. Jaka tidak lagi bisa menemaninya bermain istana pasir, mencari kerang, meronce kerang-kerang menjadi kalung atau sekedar berlarian mengejar kepinting-kepinting hingga persinggahan terakhirnya.
Jaka dipungut oleh saudagar kaya, disekolahkan dan kini hadir menawan dengan kulit yang bersih terawat, tidak selegam sewaktu meninggalkan desa pesisir pantai. Tidak lagi tercium bau khas anak pantai yang diam-diam Dara suka semenjak pelukan pertama masa kecil ketika kepergian ayah mereka.
Di depannya pria yang wangi, Dara tidak tahu wangi apakah yang tengah membuat hidungnya gatal. Jaka tujuh belas tahun sudah berubah. Dan Dara tetaplah gadis pantai yang berharap bertemu dengan lelaki masa kecilnya yang akan terus memeluknya.
Dan Darapun sadar ketika Jaka kembali mengulang perkataannya “ Maaf Dara keputusan aku sudah bulat, karena kita bersahabat dari kecil maka aku sudah menganggap kamu sebagai adik…”
“Tanpa engkau berkata maaf aku sudah tahu, Jaka-ku tujuh belas tahun lalupun telah hilang…” Dara menjawab. (Nenny Makmun – Bursa Efek Jakarta 02/02/2012)

ilustrasi : ria.choosen.net

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s