Write Without Boundaries

Tiga Bidadariku

Tiga Bidadariku

Lengkap sudah kekayaan yang ku miliki, suami yang baik, anak-anak yang pintar dan cerdas serta cantik-cantik. Rumah ini terasa rame dengan ulah mereka. Sejak kecil aku merawat ke tiga putriku dengan sebaiknya. Masih kuingat ketika mengantar mereka ke sekolah banyak ibu-ibu yang memuji. Mereka bilang,“duuh mba Mira beruntung sekali dapat tiga putri-puti cantik jelita” Aku selalu tersenyum setiap kali ada orang yang kagum kecantikan putri-putriku. Bersyukur pada Tuhan, Dia menitipkan kepadaku 3 malaikat kecil yang begitu sempurna. Aku dan suamiku merawat mereka dengan sungguh-sungguh.
Hingga kini mereka telah beranjak dewasa, semuanya telah lulus kuliah. Aku dan suamiku menyekolahkan mereka setinggi-tingginya yang mereka sanggup. Hingga ketiga putriku sukses, dan bekerja di bidang yang masing-masing mereka tekuni.
Lenggo putri pertamaku sekarang bekerja di sebuah perusahaan asing, kini usianya sudah kepala tiga. Dia wanita yang sangat dewasa dan keibuan. Ayu dan lemah lembut. Meskipun begitu dia sangat tegas dan disiplin.
Putri keduaku Laksmi, dia gadis yang sangat manis, lebih suka mengalah, mungkin karena dia anak tengah bersama kakak dan adiknya dia selalu memilih jalan tengah bila ada cekcok dan tidak mau membuat masalah.
Sementara si bungsu Nuri, Yang ini cengeng dan manja. Mungkin karena dia tahu paling bontot, kedua kakaknya sangat menyayanginya hingga wajar jika dia selalu berusaha mencuri perhatian mereka.
Rasanya telah sempurna hidupku, aku telah mendapatkan banyak kebahagiaan bersama anak-anak yang berbakti kepadaku dan ayahnya. Namun di tengah itu semua, tetap terasa ada yang tak lengkap. Sampai saat ini tak satupun diantara mereka yang sudah menikah. Setiap kali diajak bicara soal calon suami mereka bertiga akan berkata serentak
“aihh mama, nikah lagi, nikah lagi” “bahas yang lain aja yach ma..” ucap si sulung Lenggo dengan santai.
“Jika saatnya tiba kami pasti menikah mama” balas Laksmi menambahkan

“iya nih.. mama tuh sudah gak sabaran kakak..atau aku nih yang nikah duluan?” celetuk si bungsu Nuri dengan centilnya.. lalu semuanya akan tertawa, maka pembahasan masalah pernikahan gagal lagi dibicarakan. Begitulah yang terjadi setiap saat.

**********************
Sebenarnya 9 tahun yang lalu Lenggo pernah mencintai seorang laki-laki secara diam-diam. Lenggo sama sekali tidak berani menunjukkan rasa cintanya kepada pria pujaannya. Bahkan hanya untuk berbicara untuk menyapa saja dia tak berani. Si lelaki itu adalah Ardiansyah, teman kampusnya. Sosok yang sangat terkenal karena kegeniusannya, selalu serius dalam menggapai cita-citanya. Lenggo merasa tidak mampu bersaing dengan teman-temannya yang lebih segala-galanya dari dia. Jadilah semua rasa cinta itu di pendamnya sendiri!!
Aku mengetahuinya ketika dengan tidak sengaja aku membaca buku hariannya yang tergeletak di atas ranjangnya, saat pagi hari aku akan membangunkannya. Rupanya malam itu setelah selesai mencurahkan isi hati pada buku hariannya dia tertidur. Ku benahi buku itu, rasa ingin tahu menggelitikku untuk membaca isi buku harian anakku. Timbul ibaku , ternyata anakku mengalami cinta bertepuk sebelah tangan.
Apakah sampai sekarang Lenggo masih memendam rasa cintanya terhadap Ardiansyah? Entahlah….. akupun tak tahu! Untuk bertanya langsung aku tidak sampai hati. Hanya saja sebagai Ibu, aku ingin melihat anak-anakku hidup normal, ku ingin melihat mereka menikah dan mempunyai anak seperti layaknya keluarga pada umumnya.
Lain si sulung, lain lagi dengan putri keduaku Laksmi. Dia sepertinya masih ingin menikmati kesendiriannya. Padahal sebenarnya tidak sedikit teman prianya yang ingin mendekatinya. Sosoknya yang manis dan tenang, laki-laki mana yang tidak ingin mempersuntingnya? Tapi aku tidak megerti, apa lagi yang ingin di kejar oleh anak itu, sedang kalau dilihat dari umurnya rasanya Laksmi sudah pantas menjadi seorang ibu. Setiap kali aku menyinggung tentang calonnya, selalu saja dengan pintarnya dia mengelak dan mengarahkanku ke kakaknya, Lenggo!
“Ahhhhh anak-anakku, apakah kalian tidak ingin membahagiakan ibumu ini?”
Putri bungsuku Nuri, kami juluki Murai dalam keluarga. Karena celotehnya selalu memberikan kehangatan di dalam rumah. Tiada hari tanpa senandung dan ocehannya, ada saja hal-hal yang menjadi bahan celotehnya. Si bungsu yang manja, rasanya aku tidak berhak berharap dia akan melangkahi kedua kakaknya. Muraiku pandai bergaul dan cerdas, dia pernah mengatakan kepadaku tidak akan pacaran dulu sebelum menamatkan kuliahnya.  dan saat ini kuliahnya sudah selesai dia masih belum mempunyai kekasih. Jadi…….. entah kapan aku di beri kesempatan untuk menimang cucu.
****************

Suatu malam di kamar si sulung ….Lenggo, terjadi percakapan :

“ Dik Laksmi, kakak sudah menemukan seseorang yang membuat kakak jatuh hati padanya. Dia Pria mapan, gagah dan baik. Dia menyatakan cintanya ke kakak tadi siang setelah kakak menunggunya selama  9 tahun” ucap Lenggo dengan mata berbinar dan di sambut senyum manis oleh Laksmi.

“ Aku juga, kak. Aku merasa telah jatuh cinta dengan laki-laki teman sekantorku. Dia lain dari laki-laki yang selama ini mengejarku,kak. Dia sabar, baik, bertanggung jawab dan cukup mapan. Rasanya tidak ada alasan bagiku untuk menolaknya” kata Laksmi tidak mau kalah dengan kakaknya.

“Mari kita berikan kejutan untuk untuk mama di hari Valentine nanti, kita bawa calon kita untuk bertemu mama dan papa. Sudah saatnya kita menghapus kekhawatiran mama terhadap kita” usul Lenggo dan di aminkan oleh Laksmi.

“ Woooww…… aku belum punya calon, kak!! Apakah aku harus pinjam seseorang untuk menjadi kekasihku sementara, dan kutunjukkan kepada mama?” seru Nuri dengan kocaknya dan di sambut tawa kedua kakaknya. Kesepakatan telah terjadi malam itu.

Di ruang tamu keluargaku pada malam Valentine :

Kulihat ketiga putriku malam ini tampil beda dari biasanya. Padahal seingatku mereka tidak minta izin untuk keluar rumah malam ini. Ataukah aku yang lupa? Lenggo dengan gaun indah warna tosca kesayangannya serasa serasi dengan warna kulitnya yang putih bersih. Sedang Laksmi membiarkan rambutnya yang indah tergerai di punggungnya, dipadu dengan gaun warna biru muda semkin menonjolkan kelembutannya. Sedang si bungsu Nuri, cukup rapi walau sikapnya agak kekanak-kanakan. Sempat kulihat suamiku-pun menunjukkan wajah keheranan sama sepertiku.

Ketiga putriku memang cantik, kukagumi kecantikan mereka bukan karena mereka anakku, tapi memang sesungguhnya mereka memang cantik. Ku tunggu mereka minta izin, dan biasanya jika sudah rapi begitu pasti mereka akan pergi. Kali ini aku tidak keberatan jika mereka keluar rumah, aku dapat memaklumi anak-anak muda ini tentu ingin merayakan hari Valentine bersama teman-temannya.

Sedang aku sibuk mengagumi ketiga anak-anakku, bel rumahku berbunyi. Herannya ketiga putriku serentak berdiri untuk membukakan pintu. Hal yang tak pernah terjadi, karena biasanya mereka akan saling menunjuk jika bel pintu berbunyi. Ada apa dengan anak-anakku? Aku dan suamiku terheran dan saling pandang.

“ Ma, kenalkan ini mas Ardi” ujar Lenggo

“ Ma,….. kenalin, ini Makmun” kata laksmi

Kusambut uluran tangan dari kedua anak muda itu, rupanya anak-anakku ingin memberikan kejutan kepadaku dan suamiku di hari Valentine ini. Syukur tak terhingga kuucapkan atas anugerah ini.makin sempurnalah hidupku.

Kubayangkan, tidak lama lagi rumahku akan ramai di hiasi tangisan dan tawa ceria cucu-cucuku nanti.Sungguh indah jika saat itu tiba,………

********* TAMAT*************

Untuk membaca karya peserta lainnya, silahkan menuju akun Cinta Fiksi. Dan harap sertakan link berikut ini : Cinta Fiksi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s