Fiksi

Valentine Grey (lolos di Kompasiana) hasil kolaborasi

 Valentine Grey

“Kenapa sih setiap Februari datang dan selalu ada valentine, huh padahal bagiku sekarang sama! Semua hari sama kosong tanpamu, mas Romi!” Citra menulis dihalaman kesekian pada dairy-nya di awal Februari. Sudah bertumpuk diary bertulisankan tangan yang ternyata sudah menjadi berbuku-buku, semua penuh dengan coretan tangannya.

Satu kebiasan Citra yang mungkin dianggap kuno jaman sekarang, Citra tetap suka menuliskan setiap moment pribadinya dengan tulisan tangan. Dengan menghabiskan waktu berjam-jam dengan sebuah kertas, sementara laptopnya bertugas untuk mengerjakan tugas-tugas mata kuliah. Tidak untuk catatan hidupnya. Cukup tersimpan dalam hati dan buku diary.

Dua tahun terakhir Citra benci hari Valentine, baginya hari Valentine adalah bukan hari kasih sayang tapi hari pengkhianatan. Pengkhinatan Romi dan Ficka. Citra jadi membenci tgl 14 Februari yang ditunggu setiap insane yang sedang di mabuk asmara.

Siang tadi, ketika Citra selesai konsultasi skripsi dengan dosen pembimbingnya, tiba-tiba Dimas datang menghampiri. Dimas teman satu kelas Citra yang selalu memperhatikan dan menjaga Citra, mengajak Citra nonton malam ini. Citra belum memberikan jawaban, apakah menerima ataukah menolak. Dia akan menjawab nanti jam lima sore.

&&&

14 Februari 2 tahun silam

Senja temaran, sebuah buket bunga lily yang sangat manis datang, Citra menyambut dengan berseri. Citra sudah faham inilah kebiasaan Romi yang telah 2 tahun menjadi kekasihnya. Romi yang sangat romantis, selalu menyempatkan mengirim bunga sebelum dia datang ke rumah untuk mengajak nonton atau makan malam. Romi memang sudah bekerja sejak lulus kuliah. Citra menyambut suka cita ketika Romi menyatakan rasa suka dan menginginkan Citra menjadi kekasihnya.

Bagi Citra inilah saat yang paling membahagiakan, Romi kakak kelas 2 tingkat di atasnya berjanji akan melamarnya bila dirinya sudah lulus wisuda. Perkenalan yang berawal dai sama-sama suka menghabiskan waktu di perpustakaan mempertemukan mereka. Bagi Citra, Romi adalah pria yang telah didambakan sejak lama, tidak macam-macam dan berorientasi secepatnya menyelesaikan kuliah, kemudian segera memperoleh pekerjaan yang bagus buat masa depannya. Walau terkesan cool, ternyata Romi pintar menyenangkan hatinya. Termasuk merayakan hari Valentine, dia bukan maniak Valentine Day dengan seks bebas akan tetapi sebagai hari kasih sayang dimana para kekasih dan mereka yang sedang jatuh cinta menyatakan cintanya. Romi hanya ingin menghadirkan kebersamaan yang lain dari hari-hari biasa saja. Jadi hari Valentine sempat menggoreskan kenangan manis di hati Citra walau akhirnya juga membuat Citra berurai air mata setiap hari Valentine hadir.

“ Jadi kalau bukan hari Valentine Mas Romi gak sayang dong dengan Aku ?” Tanya Citra manja.

“Ya enggaklah, sayang, bagiku setiap hari merupakan hari Valentine untuk Citra.” Kata Romi tersenyum, Citra semakin terpesona dengan ketampanannya.

Romi yang sudah bekerja, menjadikan Citra sangat bangga. Romi mampu memberikan hadiah berbagai pernak-pernik romantis, menonton film dan makan dari hasil kerja keras Romi sendiri.

Tapi ini hanyalah kenangan manis Citra yang tertoreh dalam diary selama dua tahun kebersamaan bersama Romi. Diary yang menumpuk bersama dengan diary lain yang juga berisi kemarahan Citra karena buket bunga lily yang Romi kirim ternyata berisi permintaan maaf , “Maaf Sayang, Mas Romi tidak bisa menemani Citra nonton dan makan malam, tiba-tiba atasan Mas Romi melakukan meeting penting untuk project bulan Maret, anggaplah bunga ini pengganti kehadiran Mas…I Love You…” – Romi Pratama.

Citra menghirup aroma buket tersebut dengan perasaan bahagia. Citra sangat mempercayai cinta Romi. Baginya, Romi tak mungkin mengkhianati kisah cinta mereka. Namun, kenyataan berkata lain. Ketika Citra dan Jasmin, sahabatnya sejak kecil pergi ke mall untuk mencari perlengkapan pesta ulang tahun Jasmin seminggu lagi, tanpa sengaja Citra melihat Romi sedang makan malam berdua dengan Ficka. Bukan makan malam biasa. Mereka hanya berdua, duduk dengan diterangi lilin yang menyala redup. Lampu kafe di mall memang sengaja dimatikan. Diiringi alunan music yang lembut, Romi dan Ficka hanya saling bertatapan mesra dan menggenggam tangan. Hidangan yang tersedia diatas meja mereka tak tersentuh sama sekali, seakan dunia hanya milik berdua.

Citra yang telah terlanjur memesan makanan, tak kuasa menahan perasaan sakit hati. Dengan berurai air mata, Citra segera berlari menuju tempat parkir. Jasmin bergegas menyusul Citra, dan bingung dengan perubahan sikap Citra. Sejak peristiwa itulah, Citra membenci hari Valentina. Citra merasa bagaikan orang bodoh dan dungu. Citra tidak menyadari perubahan sikap Romi yang mulai jarang datang dengan alasan meeting.

&&&

Setelah putus dari Romi, Citra tak sudi berpacaran lagi. Dia menjadi acuh ketika ada teman lelaki yang berusaha menarik perhatian. Cintra ingin segera menyelesaikan kuliah, kemudian bekerja untuk menghibur hatinya yang telah berkeping-keping, tepat di hari kasih sayang.

Dimas, teman kuliah Citra yang paling gigih berusaha menarik perhatian Citra. Segala cara telah Dimas lakukan, dari rutin berkunjung kerumah Citra, hingga mengisikan absen Citra jika Citra malas kuliah. Bahkan dengan dorongan dari Dimas pula sekarang Citra sudah mulai menyusun skripsi. Tak kenal lelah Dimas membantu Citra melakukan penelitian terhadap anak-anak jalanan, yang menjadi narasumber skripsi.

“Aku kan sudah hampir ujian Citra, jadi membantu kamu menyelesaikan skripsi tidak merepotkan aku.” Kata Dimas sambil tersenyum ketika Citra menolak bantuan Dimas mendatangi rumah singgah anak-anak jalanan. Citra pun tak kuasa menolak uluran tangan Dimas.

Tok…. Tok …. Tok …

“Citra, sudah sore lho, jangan mengurung diri didalam kamar terus, Dimas datang tuh!” kata Mama dari luar

Citra pun tersadar dari lamunannya. Dia ingat akan memberikan jawaban atas ajakan Dimas. Ternyata hampir tiga jam Citra mencoret-coret diarynya. Citra bergegas mandi dan berdandan. Walaupun susah menghilangkan baying-bayang Romi, Citra tak ingin tampil didepan teman dengan wajah kusut. Setelah merasa patut, segera Citra menemui Dimas

“ Sudah lama menunggu, Dim?”

“Lumayan lah, jadi kita nonton?” Tanya Dimas

“Aku lagi malas nonton, bagaimana kalau kita jalan-jalan saja?”

“ Oke, tapi aku yang menentukan tempatnya ya?” sahut Dimas

“Ma… Citra pergi sama Dimas …”

Dengan berboncengan motor, Dimas dan Citra melaju membelah keramaian kota. Hingga akhirnya berhenti di taman hiburan. Nuansa merah jambu dan hati menghiasi setiap sudat taman. Dalam rangka hari Valentine, taman hiburan menggelar konser lagu-lagu romantic. Dimas dan Citra memilih duduk dibangku sambil menikmati alunan musik yang lembut.

“Citra, aku mau mengatakan sesuatu…” kata Dimas dengan gugup.

Citra menoleh menatap mata Dimas.

“Ada apa, Dim? Kenapa wajahmu pucat sekali? Kamu sakit?” Tanya Citra cemas

“Tidak, Citra, aku baik-baik saja. Aku hanya ingin mengungkapkan isi hatiku.” Dimas berkata dengan ragu

“Aku tahu, kamu menganggapku hanya sebagai sahabat. Tak lebih. Dan aku juga tahu, kamu masih menyimpan lara dihari ini. Tapi please Citra, lupakanlah masa lalu, lupakanlah Romi. Biarlah kisah kalian menjadi sejarah. Tataplah masa depanmu. Jangan kau korbankan hidupmu hanya karena sebuah penghianatan cinta.”

“Entahlah Dim, rasanya baru kemarin Romi menghianatiku. Hatiku masih terasa sakit.” Kata Citra sambil menunduk, menyembunyikan air mata yang hampi tumpah lagi. Sesak rasa dalam dada Citra jika mengingat kejadian di mall dua tahun yang lalu.

“Ayolah Citra, bersemangatlah. Kamu masih muda, jalan kamu masih panjang. Masih banyak cinta yang lain yang mau menyapamu. Contohnya, aku ini. Maukah kamu menjadi pacarku?” kata Dimas sambil menggenggam tangan Citra

Citra tak sanggup membalas perkataan Dimas. Hati dan mulut jadi kelu. Tampaknya, inilah akhir dari Valentine Gray Citra.

gambar: google

Kolaborasi nomor 114: Diah Chamidiyah dan Noorhani Laksmi

Untuk membaca karya peserta lain, liat di sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s