Write Without Boundaries

#15HariNgeblogFF2

Menunggu Lampu Hijau

            “Pokoknya aku sangat sakit hati! Aku tidak bisa menerima perselingkuhan kamu!” Reneta terlihat emosi.

            Andito diam seribu bahasa kali ini dia tidak bisa berkutik apa-apa lagi karena Reneta telah memergoki dirinya yang tengah menghabiskan malam minggunya bersama Silvia. Walau sebenarnya yang dilihat Reneta bukanlah sesuatu yang telah menyalahi komitmen kedekatan mereka.

            “Neta, dengarkan dulu apa yang kamu lihat seperti tidak yang engkau sangka. Neta…aku dan Silvia tidak ada apa-apa!” Andito berusaha membela diri.

            “Tidak ada apa-apa bagaimana! Aku jelas-jelas melihat kalian dengan mesra. Mana ada pasangan malam minggu bukan pacar di café Rainbow kalau bukan karena BERPACARAN!” mata indah Reneta melotot tajam menghujam ulu hati Andito.

            Bagaimanapun memang Andito berhak dipersalahkan, tetapi memutuskan dirinya oleh Reneta tanpa ada pembelaan diri tidak ada di dalam kamus perjuangan cinta Andito. Berbagai upaya Andito lakukan untuk sekali saja diberi kesempatan menjelaskan apa yang tengah terjadi antara dia dan Silvia.

            “Kiriman lagu untuk Reneta yang baik sebuah lagu dari Dido White Flag! Special buat yang tersayang Raneta Anggi Putri dari Andito. “ Penyiar radio dengan riang bercuap-cuap di udara saat mentari sangat panas, sepulang Reneta dari kampus.

             Sebuah lagu yang Reneta tahu persis lagu favorit mereka berdua saat waktu luang ber-karaoke bersama, “ I will go down with ship and I won’t put my hands up and surrender … there will be no white flag above my door … I’m in love and always will be…”

             Sebenarnya Reneta masih sangat mencintai Andito andai malam minggu kemarin dia tidak harus melihat kemesraan mereka dalam remang-remang.

            “Kamu yakin Net, tidak mau mendengar penjelasan Andit sebelum mengeksekusi dia dengan kata putus akhirnya!” suara bathin Reneta tiba-tiba berteriak.

              Sementara dari dalam mobil freed yang dia kendarai Jam Gadang yang menjadi kebanggaan masyarakat Minangkabau yang dia lewati setiap hari sepulang kuliah seolah menjadi inspirasi tersendiri.

            Deeerrtttt….sms yang ternyata dari Reneta,”Kalau kamu memang setia buktikan kmu mau menunggu aku di depan Jam Gadang dari pukul 12 siang sampai aku datang!” Andito mendadak sumringah, dari tadi bawaannya suntuk sekali karena sudah  berbagai cara tidak bisa membuat Reneta memaafkan apa yang sebenarnya terjadi. Andito tidak diberi kesempatan untuk menjelaskan!

            “Eggh tapi badanku sakit semua…tapi ah sudahlah demi Reneta.” Andito mengernyit sejenak. Sudah dua hari ini badannya panas turun naik.

            “Jam 12 siang, anjrit! Neta gak salah nih…lagi panas banget! Aist! Tapi sudahlah aku turuti saja…” Andito ngomong sendirian.

            Sabtu jam 12 siang pas Andito sudah berdiri di depan Jam Gadang.  Jam Gadang yang fenomenal yang dibangun tahun 1926 dengan empat muka jam yang menghadap ke empat arah penjuru mata angin dengan setiap muka jam berdiameter 80 cm. Andito secara tidak langsung menjadi lebih dekat dengan jam yang selama ini hanya asik dipandang dirinya dari jauh.

            Sementara Reneta asik-asik saja berdiam diri di kamarnya yang sejuk dengan air conditioner. Tiba-tiba pikiran Reneta untuk memaafkan Andito berubah lagi. Reneta memutuskan tidak akan pernah menjemput Andito yang  suadah berjam-jam terpanggang di depan Jam Gadang. Ditambah musik-musik yang mengalun di kamar membuat Reneta tertidur.

            “ I have died everyday waiting for you  darling don’t be afraid I have loved for a thousand years ..i’ll love for a thousand more,” ponsel Reneta berbunyi dan sebuah nomor tidak dikenal masuk.

            “Ya…benar siapa ni ?” Reneta masih dengan ngantuk menerima suara seorang perempuan di seberang.

            “Maaf kalau aku mengganggu, aku Silvia…Ren! Kamu tega banget sih menghukum Andito berdiri di depan Jam Gadang dari siang! Gila kamu ya! Andito sedang sakit ! dia thypus kamu tega sekali menghukum seperti itu. Kamu salah sangka kalau menyangka Andito berselingkuh! Yang kamu lihat tidak seperti yang kamu pikirkan! Andito sedang menghibur aku karena Andika sepupu Andito yang memutuskan aku tanpa sebab. Aku hanya ingin mencari tahu apa penyebabnya. Dan satu-satunya adalah Andito. Kita tidak sengaja bertemu di café Rainbow…awalnya aku pergi dengan Andika dan ternyata Andika mengajak Andito. Pertengkaran aku dan Andika tidak dapat dicegah, saat kamu melihat aku itu Andito sedang berusaha menenangkan aku. Andito pria yang baik! Dia beda dengan Andika!” Silvia bicara tanpa titik koma, membuat Reneta tersekat.

            Delapan jam dan Andito sudah tidak kuat lagi menunggu eksekusi Reneta. Badannya limbung …semua terasa gelap! Andito hanya sempat terucap,”Jam Gadang kamu saksi bahwa cintaku begitu dalam buat seorang gadis yang mengeksekusi aku tanpa memberi kesempatan berbicara…”

            Bruuuk! Dan Andito jatuh pingsan bersamaan Reneta mengejar mendekat. “Andiiiiiiit….Andit maafkan aku…” Reneta menangis memeluk Andito yang tengah lemah dalam pelukannya.

 Pic ilustrasi : http://bloggersetu.blogspot.kr/2011/01/sejarah-berdirinya-jam-gadang-padang.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s