Write Without Boundaries

#15HariNgeblogFF2

Pagi Kuning Keemasan

“Mentari lihat istana pasir kita ternyata bagus ya,” Surya dengan sederet gigi putihnya terlihat bersinar kontras dengan kulitnya yang legam. Bocah SD Laskar Muhammadiyah Gantung  di Belitong.

Mentari hanya tersenyum tipis dengan komentar Surya barusan. “Mentari sinikan jarimu,” Surya menarik perlahan tangan kiri mentari yang belepotan pasir putih pantai
Mentari terdiam pasrah saat tiba2 sebuah cincin kerang melingkar di jari manisnya Tanjung Tinggi.

“Mentari kamu adalah gadisku sampai kapanpun aku akan selalu melindungimu, berjanjilah jangan pernah melepas cincin ini hingga kita nanti menikah.” Surya bicara layaknya anak dewasa padahal dia masih anak kelas 5 Sekolah Dasar. Sementara Mentari hanya terpaut satu minggu lebih muda darinya.

Gadis kecil Mentari nan legam manis tersenyum tipis, hembusan angin laut.Tanjung Tinggi mengurai rambutnya yang coklat kemerahan.

Mentari bahagia, karena memang Surya adalah sahabat sekaligus pelindungnya. Mentari lahir seminggu setelah Surya. Rumah mereka yang bedempetan menjadikan mereka dekat satu sama lain seperti keluarga. Nama merekapun mempunyai arti yang sama Surya dan Mentari adalah sinonim sang matahari.

“Mentari dan Surya adalah satu, kita menyatu menjadi lebih terang, menjadi lebih panas dan akan lebih bersinar. Kita harus selalu bersatu. Aku berjanji akan tua bersamamu.” Kalimat romantis yang meluncur dari lelaki kecil dengan gadis yang dipujanya.

“Iya Surya dan Mentari sama kuat,” Mentari menimpali. Berdua tersenyum berpegangan diantara batu karang. Batu-batu Pantai Tanjung tinggi dan besar-besar nian, airnya jernih, pasir pantainya putih begitu lembut. Eksotis sekali.

“Waaah teman-teman ternyata anak yang kita cari tengah asik berapacaran!” Seru Kucai.

“Woooi masih kecil nggak boleh lho pacaran!” Syahdan meneruskan godaan-godaan.

Mentari kaget langsung melepas genggaman Surya dan tertunduk malu.

“Hai temen-temen Laskar Pelangi ada apa mencari kami ?” tanya Surya.

“Kami akan mengajakmu main bola di pantai!” jawab Samson.

“Oo baik, senja hangat mari kita bertanding!” Surya berlari mendekat kelompok anak-anak Laskar Pelangi.

Anak-anak Laskar Pelangi dan Surya seru bermain bola. Tidak jauh Mentari asik dengan istana pasirnyan sesekali dia rela tangannya terkena bola demi menjaga istana pasirnya agar tidak hancur terkena tendangan bola.

Senja makin tenggelam, diselah-selah batu granit anak-anak mandi menikmati jernihnya pantai tersebut. Saling memrcikan air dan bercanda riang.

Tiba-tiba terdengar teriakan,” Suryaaaa, Suryaaa pulang. Bapakmu….”

Surya memburu pulang tersengal nafasnya,  tatapi sampai rumah bapaknya telah terbujur kaku.

“Bapaaaak…!”

Ternyata pak Dirman terkena demam berdarah yang dianggap entheng hingga trombositnya drop dan kematian menjemputnya.

Mentari membiarkan Surya memeluknya erat karena Mentaripun sama bisa merasakan kehilangan bapak Dirman yang juga sangat menyayanginya.

Sepekan dari kematian bapaknya Surya dijemput salah satu kerabat jauh yang datang dari Jakarta.

“Mentari aku harus ke Jakarta, aku harus menjadi anak pintar walau aku disini pun telah merasa pintar dan bahagia besama teman-teman Laskar Pelangi dan kamu.”

“Suatu masa aku akan kembali, kembali untuk Negeri Laskar Pelangi dan terutama menjemput dirimu. Nantilah aku dalam hadirnya senja.” Itulah kalimat terakhir yang Mentari tanam dalam hatinya terdalam. Sebuah penantian panjang kekasih hatinya.

Tujuh belas tahun berlalu, Mentrai menanti Surya di pinggir pantai menghabiskan senjanya bersama tenggelamnya matahari.

Menanti Surya dengan janjinya. Tanpa Surya, Mentari  bermain istana pasir, mencari kerang, meronce kerang-kerang menjadi kalung atau sekedar berlarian mengejar kepinting-kepinting hingga persinggahan terakhirnya.

Surya dipungut oleh saudara ayahnya yang saudagar kaya, disekolahkan dan kini hadir menawan dengan kulit yang bersih terawat, tidak selegam sewaktu meninggalkan desa pesisir pantai Tanjung Tinggi.

Tidak lagi tercium bau khas anak pantai yang diam-diam Mentari suka semenjak pelukan pertama masa kecil ketika kepergian ayah Surya.

Di depannya pria yang wangi, Dara tidak tahu wangi apakah yang tengah membuat hidungnya gatal. Surya tujuh belas tahun sudah berubah. Dan Mentari tetaplah gadis pantai yang berharap bertemu dengan lelaki masa kecilnya yang akan terus memeluknya di suatu senja seperti janjinya.

Yang akhirnya membuat Mentari tersadar sepenuhnya saat Surya tersendat,“Maaf Mentari keputusan aku sudah bulat, karena kita bersahabat dari kecil maka aku sudah menganggap kamu sebagai adik. Aku tidak bisa mencintaimu lagi seperti dulu. Karena waktu telah berubah banyak, termasuk janjiku padamu…maaf…

 “Tanpa engkau berkata maaf aku sudah tahu Surya-ku tujuh belas tahun lalupun telah hilang…” Mentari menjawab.

Pantai cahaya tetap keemasan tidak berubah sedikitpun, walau Surya telah berubah menjadi sosok yang berbeda. Mentari tetap besikukuh dengan keberadaannya.

Ilustrasi : steadyhutomo.blogspot.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s