Write Without Boundaries

#15HariNgeblogFF2

Jingga Di Ujung Senja

            Aku masih saja terpesona dengan gadis berwajah ayu tirus, yang semakin tampak pucat karena beban yang pasti dipikulnya sangat berat. Tiara gadis yang telah membuat aku tergila-gila sedari aku duduk di bangku 3 SMU. Hingga aku mau selesai diwisudapun aku masih saja mengharapkan dia mau menerima cintaku.

****

            Tiara saat aku mulai menykainya, dia sudah terlihat menonjol karena kecantikan alaminya. Gadis kelas 1 di SMU yang sama, yang selalu menjadi bahan pembicaraan kalangan teman-temanku. Kadang aku merasa panas dan tidak terima bila teman-temanku mulai mengagumi kecantikannya dan berandai-andai menjadikan Tiara pacarnya.

            “Ti aku sayang kamu…,” aku beranikan mensisipkan sebuah kertas mungil dalam tangkai kuncup bunga mawar yang aku letakan di bawah meja. Tapi sungguh menyakitkan Tiara buang dengan sadisnya ke tong sampah.

            Hatiku terluka bagai teriris-iris dan teman-teman taruhan menertawakan aku yang gagal. Iya kita bertiga, aku, Dika dan Sastra sama-sama menyukainya. Dan kita bertaruh.

            Semua terjawab sang pemenang adalah Sastra, yang tanpa kita sadari sebenarnya Sastra hanya akan mempermainkan Tiara. Sastra sang perayu picisan, laki-laki romantis didukung wajah rupawan berhasil menaklukan Tiara. Gadis yang aku umpamakan gadis sungai Musi. Keindahan sungai Musi yang mempesona di sore hari dengan siluet jingganya di ujung senja.

            Kecantikan yang dia miliki sungguh sebanding dengan keindahan dan nuansa sungai Musi menjelang senja. Keangkuhan akan kecantikan yang tidak dimiliki oleh sungai lain. Menghadirkan kesombongan yang dituangkan dalam sunset nan mempesona. Memang pantas bila dia sombong dan menolak berbagai cinta yang datang penuh tawaran.

            “Putera, aku tahu Sastra hanya ingin mempermainkan Tiara. Jujur aku kasihan apalagi…”

Ada suatu kalimat seperti tersekat dari perkataan Dika.

            “Kenapa. Tiara dan Sastra kenapa? “ Aku curiga. Kecurigaan yang terjawab setelah sekian tahun aku meninggalkan kota-ku yang indah.

            Sejak Tiara lengket dengan Sastra aku tidak sanggup terima, kebetulan aku diterima di salah satu Universitas Negeri di Jawa. Menyeberanglah aku berberapa tahun, hingga kini senja nan indah gadis cinta pertamaku tampak layu. Tapi aneh desiran hatiku tidak pernah berubah! Masih sama saat dia masih remaja.

            “Kamu yakin tetap memilih aku menjadi pasangan hidupmu?”  akhirnya bibir tipismu berkata lirih.

            “Iya …sampai detik inipun hatiku telah engkau rebut. Masih sama enam tahun lalu.” Kataku pasti.

            Kamu tersenyum tipis. Iya aku sadar kamu memang tidak sesegar dan sesuci pertama aku kenal karena Sastra telah merenggut semuanya, tanpa tersisa. Tapi Tiara tetap secantik jingga di ujung senja.

Ilustrasi : widhi-bek.blogspot.com

Bursa Efek Jakarta, 14 Juni 2012 on my birth day

2 responses

  1. Prienz

    Hepi Besdei mbak…keep posting info2 lomba yg bermanfaat yaa..
    Your blog is very helpful…Thankies :*

    Salam,
    Prienz

    June 14, 2012 at 8:01 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s