Write Without Boundaries

#15HariNgeblogFF2

Sehangat Serabi Solo

Kados biasa , nyuwun campuran.” Kataku kepada mas penjual serabi Solo di daerah Notokusuman.

Kebetulan bos kantor aku menyuruh mengambil cek deket serabi Solo langgananku.

Jujur sebagai orang aseli kota udang aku tidak terlalu suka dengan serabi Solo, yang dirasa-rasa ternyata nikmat dengan kadar manis bercampur santan yang sedang dan dinikmati saat hangat-hangatnya.

Tapi demi tugas-tugas strata dua yang aku tepuh di perguruan negeri di Surakarta, bukan bermaksud menyogok Sindu teman pasca sarjana aku yang kerap menolong mengerjakan tugas-tugas kampus.

Tapi setiap aku membawakan serabi Solo wajah Sindu selalu ceria. Kata dia memang serabi Solo salah satu cemilan favoritnya. Setidaknya aku balas budi dengan kebaikannya hehehe.

Aku membeli serabi Solo yang biasa aku lewati sepulang kerja.
Bekerja sambil mengambil strata dua membuat aku kerepotan, untunglah Sindu yang nota bene tiga muda lebih dari aku banyak menolongku.

Pokoknya dia bagai doraemon deh. Apapun aku dibantunya walau kadang aku seenaknya tanpa perasaan! Aku nggak peduli dengan gosip yang Vina katakan kalau Sindu itu sebenarnya sudah kelihatan suka dengan aku.

Aku hanya tertawa ringan karena Sindu sudah aku anggap seperti adikku sendiri. Ya karena Sindu memang semuran dengan atria adikku.

Pernah sekali saking kerjaan kantor menumpuk pada akhir pekan aku kelupaan untuk mengumpulkan tugas Management Change Development, aseli aku panik bukan main mana ini dosen gak mau ada perpanjangan waktu buat mahasiswa yang tidak ngumpulin tugas.

Thanks God, sindu dengan tenang sudah memberikan print-print-an yang sudah dijilid tercantum lengkap nama dan nomor mahasiswaku.

“Aduh makasih banget ya! Aku lupa ada tugas prof Dahlan! Wah bisa ngulang aku!” Sambil tepuk jidat.

“Hmm kamu pasti deh! Udh aku ingetin tetep aja lupa .” Katamu dengan tetap tenang.

“Hmm iya ya maaf duh udah ke berapa kali ya…”

“Jangan kamu aku sogok dengan serabi Solo hangat lagi ya,” katamu dengan senyum manis.

Tiba-tiba deg! Aku merasa tertohok dan malu,”Gila mahasiswa macam apa aku nih, tugas-tugas kalau bukan karena bantuan Sindu pasti aku bakalan banyak ngulang mata kuliah yang kebanyakn tugas-tugas makalah.

Rasanya kerap aku kehabisan tenaga ketika kerjaan di kantor sedang menumpuk sementara tugas-tugas kuliah juga menumpuk. Beberapa kali suka miss.

Perkuliah akhir pekan akhirnya kelar pas pukul 20.30 badan saking capainya aku tanpa sadar tertidur dipunggung Sindu saat perjalanan kampus ke kostan. Semilir angin dan suasana malam minggu yang nyaman di kota kecil membawa kehangatan sendiri. Sindu mengendarai motornya dengan lambat.

Dan,”Nin, Nin sudah sampai…”

“Hmmm oiyan duh gila ak capai banget maaf ya barusan pinjam punggung kamu untuk bersandar.” Kataku cuek saja.

Eh ini serabi Solonya yah maaf gak hangat habis dari siang, kataku menyerahkan serabi Solo yang aku simpan di lemari es.

“Hmmm andai saja…hatikamu…yo wis, aku balik dulu ya ! besok pagi mau aku jemput sarapan soto deket kampus.” Katamu manis.

“Hmmm iya…asal kamu sabar aja nungguin aku bangun siang,” Aku tahu ini bukan masalah juga buat Sindu yang terbiasa nungguin aku yang tukang tidur di hari minggu.

Setelah mandi dan dari kamarku yang di tingkat dua rembulan bersinar malu, tiba-tiba …”Srret” sebuah kartu pos berlatar belakang persawahan dan tulisan yang pasti ini tulisan tangan Sindu jatuh dari buku novel Colorful Of Love yang aku pinjam tanpa ngomong-ngomong saat tergeletak di meja belajarnya.

Suatu saat…

Akan aku ungkapkan semua rasa dalam hati terdalam.

Belum pernah ada kaum hawa yang begitu mempesona seperti dirimu N.

Sulit rasanya menjangkau dirimu karena kamu sepertinya telah membatasi perbedaan yang tidak mungkin bisa dibenahi.

Andai saja aku boleh meminta sehari saja aku lahir diawal dari mu agar kamu tidak punya adalasan menolak aku karena perbedaan umur kita yang terpaut tiga tahun.

Salahkah aku mencintai kamu N jika memang aku pantas hanya jadi adikmu?

Andai aku juga bisa menikmati cintamu sehangat serabi Solo yang selalu kau bawakan. Sadarkah N ada cinta hangat yang menanti dalam serabi Solo buah tanganmu.

Sungguh tidak adil… (ruang inspirasi-koe Surakarta Augustus 2011)

            Tiba-tiba kumerasa ada debar yang salah…aku telah memberi Sindu harapan dan sementara hatiku masih tercuri oleh sosok yang sekarang aku sendiri tidak tahu apakah Adam yang tengah bekerja di Metropolitan mengingat diriku yang merindukannya.

Ilustrasi : indahnesia.info.com

Sent from my BlackBerry®powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s