blog

#15HariNgeblogFF2

Ramai

 “Aku mencintaimu dan setelah selesai wiuda nanti aku akan melamarmu,” Lutfi tersenyum manis menggenggam tanganku.

Sementara aku tengah merasakan nikmatnya wangi tubuh dan rambutnya yang masih setengah basah sepanjang Maloboro senja menjelang malam minggu.

Kurengkuh pinggang dan merasakan hangatnya punggung bidang yang setahun belakang ini menjadi sandaranku. Terasa beban akan urusan rumah di kampung sekejap hilang.

“Mama akan bercerai dengan papamu! Semua sudah kami pikirkan matang-matang…dan kamu sudah kami rasa cukup dewasa jadi jangan kamu sesali apa yang terjadi dalam keluarga kita…” ucapan mama kemarin saat menephone kostan aku membuat aku terdiam seribu bahasa.

Pupus sudah aku mewujudkan keluarga yang sempurna. Anak yang terlahir dari keluarga bahagia hanya cerita lalu.

“Ris, mau bermain ke Beringin Kembar ?” Lutfi suka sekali mencoba menerobos beringin kembar yang ada di alun-alun Selatan setelah panjang jalan Malioboro.

“Hmmm boleh tapi aku ingin duduk-duduk di warung cendol dulu depan Mirota…aku haus Lut…”

“Siap ndoro puteri…” katamu meedek. Itulah sebutan kamu kalau menyetujui mauku.

Menikmati es dawet menjelang sore Malioboro yang tidak pernah sepi, semilir angin sore menjadi bagian yang pasti akan aku rindukan berapa puluh ke depan bila aku tinggalkan kota tempat aku tempuh kuliah.

Aku merasa kalau Yogyakarta sebagai salah satu kota singgahan dalam perjalnan hidupku. Dan Lutfi apakah juga harus hanya menjadi salah satu singgahan setelah aku sebelumnya berpindah-pindah singgah dari hati ke hati  seorang pria?

Sungguh akupun ingin mengiyakan dan memastikan pertanyaan Lutfi dan menjawab kalau aku serius menyayanginya dan berharap dia dalah persinggahan hati terakhir.

Tapi ini pastilah sangat sulit mengingat percakapan kamu yang tanpa sengaja aku dengar….

“Lut, kamu itu anak siji-siji-ne…kamu itu penerus usaha kami dan kamu itu sarjana teknik yang menjadi kebanggaan ibu. Ibu berharap kamu memikirkan Kartika yang calon dokter. Wis jelas bobot, bibit da bebetnya…” Aku dengar jelas saat tanpa sengaja menguping dari balik sekat pembatas rak makanan kaleng di supermarket.

Lutfi memang mencoba mengenalkan aku dengan ibunya yang dokter juga pengusaha sukses.

Selama ini aku merasa sudah menjadi pacar terbaik buat Lutfie. Menguatkan saat dia terpuruk karena putus dengan Frizka dan aku hadir baginya tidak lagi sekedar sahabat.

Dan aku membiarkan bibit cinta ini semakin tumbuh subur. Apa yang baru aku dengar merasa menohok hingga ulu hati. Aku tidak tahu persisi bobot, bibit dan bebet yang bunda Lutfi harapkan.

Malioboro begitu ramai. Tapi aku merasa  begitu sepi di tengah ramainya kota yang selalu penuh kesan. Aku belum bisa bercerita keputusan final akan kedua orang tuaku yang bercerai. Karena aku tahu ini akan menambah beban pikiran Lutfi yang sebentar lagi akan sidang skripsinya.

Biarlah keramain Malioboro menutupi perasaanku yang gundah dan resah. Ramai Malioboro ekuivalen dengan rasa sepi hati yang tiba-tiba mendera. Lara sekali…..

Ilustrasi : yogyes.com

Mengenang sesorang yang pernah singgah….miss u Yogyakarta….1999…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s