Write Without Boundaries

#15HariNgeblogFF2

Genggaman Tangan

Nampak wajah Radita menikmati sejuknya udara pagi di air terjun Tawangmangu.

Setelah semalam kita sampai ke Karanganyar dan menginap pada sebuah penginapan yang cukup nyaman untuk beristirahat setelah kurang lebih 13 jam ditempuh.

Tawamangu menjadi salah satu tempat yang Radita anggap berkesan, memang disini lah aku merasa tersanjung dengan cinta yang diutarakan empat tahun lalu.

Sebagai tunangannya aku ingin memenuhi semua yang menjadi kenangan yang dianggapnya berkesan dalam perjalanan hidupnya.

Enam bulan lalu Radita divonis mengalami kanker otak dan sudah merambat stadium empat. Dan yang lebih membuat aku terpukul usia prediksi Radita bertahan hidup 1 – 2 tahun lagi.

Pupus sudah harapanku untuk bisa menikah di pelaminan bersamanya. Sejak vonis kangker otak yang mematikan Radita tidak boleh memforsir dirinya yang berprofesi sebagai designer grafis, bersyukur perusahaan yang didirikan bersama membuat teman-teman memberi kelonggaranm.

Semua sahabat sekaligus rekan kerja men-support apa yang tengah Radita alami, semua diluar kuasa kita.

Aku biarkan genggaman tangan Radita erat merengkuh punggung tanganku, gemercik air, desiran angin Tawamangu pagi hari diantara kehangatan sinar matahari kita berpikir dalam alur pikiran masing-masing.

 Aku sendiri rasnya detik-detik setelah vonis sakit Radita bagai detik-detik yang menegangkan. Sanggupkah aku menerima kenyataan yang begitu berat, setelah semua kita rencanakan.

Dua tahun kita berencana menikah tapi dua tahun kedepan juga kamu di vonis sisa hidup.

Kesejukan, keindahan Tawamangu sebagai salah satu saksi bisu perjalanan cinta kitapun tak bisa menenangkan bathin yang semakin tipis berharap.

Berusaha meyakinkan hati itu hanyalah vonis dokter, tapi umur tetap rahasia Tuhan.

Kenyataan dirimu bisa saja dalam sekejap drop tapi tiba-tiba membaik seakan memberi seberkas harap.

Aku tahu dan aku sadar ketika kau berkata, “Lily maafkan aku, semua di luar kuasa kita. Aku pun tidak mengerti ujian dibalik ini semua. Dua tahun kedepan kita berencana menikah tapi dua tahun juga vonis dokter sisa umurku. Maafkan aku Lily, aku memberi kebebasan terhadapmu dan termasuk pria lain masuk untuk menggantikanku.”

Radita betapa aku perih mendengar ultimatum-mu, aku memang masih hanya tunanganmu. Tapi Radit aku pun tidak kalah pedih dan sakit dengan apa yang terjadi.

Bagaimanapun aku tidak akan pernah melepas dirimu sendiri, aku akan selalu genggam tanganmu kemanapun engkau ingin berada.

Dan inilah aku akan tetap setia hingga genggaman tangan kita harus terlepas karena-Nya dan entah itu masih berapa lama. Kutak peduli akan vonis dokter!

sumber ilustrasi : dutaanekainformasi.blogspot.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s