Write Without Boundaries

#15HariNgeblogFF2

Memori Tentangmu

            “Kamu yakin mau jadi donor darah ? “ Awan terlihat khawatir saat aku mendaftar untuk pendonor darah di acara kemanusiaan teman-teman Sastra Inggris.

            “Iya dong masa untuk niat baik harus ditunda,” kataku sok berani padahal aku juga takut karena ini pengalaman pertama untuk menjadi donor darah.

            “Ok tapi ini bukan karena….” Awan tidak melanjutkan ucapannya.

            “Karena apa? Kok diam? “ kataku penasaran.

            “Karena kamu merasa bersalah saat Fikri meninggal dan kehabisan banyak darah sementara setelah kamu…”

            “Sudah sudah! Awan ini tidak ada hubungannya dengan kematian Fikri! Tolong jangan ungkit-ungkit lagi tentang Fikri!” aku tiba-tiba merasa marah karena Awan menganggap aku mendonorkan darah karena merasa bersalah dengan Fikri yang juga sahabat kami.

            Memang aku, Fikri dan Awan sudah bersahabat dari semester awal. Aku merasa nyaman diantara dua laki-laki yang aku merasa mereka sangat menyayangi aku.

            Kita bertiga kerap menghabiskan ke Pura Besakih yang menjadi tempat favorit kita bertiga. Setelah masa-masa selesai ujian kita bertiga melepas penat sambil memandang indahnya Pura Besakih di senja hari.

            Aku memang tomboy dan bersahabat dengan mereka sungguh menyenangkan, apa saja yang aku minta dituruti bahkan hal yang sulit Fikri dan Awan berusaha memenuhi.

            Hingga suatu senja kita terlibat suatu pembicaraan yang tidak terduga. Berawal dari celetukan Fikri,”Eh Lan jadi kamu mau memilih siapa diantara aku dan Awan ?”

            “Maksudnya memilih apa ?” tanyaku tiba-tiba bingung.

            Sementara aku sekilas melihat Awan mengedipkan mata beberapa kali terhadap Fikri, yang tersirat untuk tidak meneruskan kalimatnya.

            “Eh ada apa sih kalian? Aku nggak ngerti….”

            “Nggak ada apa-apa kok Lan…biasa Fikri aneh-aneh aja tanyanya,” Awan menetralisir kebingungan aku. Tapi jujur aku sudah meraba ada yang mereka sembunyikan padaku. Sebuah rahasia ?

            Dan suatu senja kepulangan dari Pura Besakih aku dibelakang mobil kodok Fikri terdiam. Ada rasa aneh tiba-tiba merebak dengan dua sahabatku yang mendadak bersikap sembunyi-sembunyi di depanku. Padahal selama ini kita yang saling terbuka bercanda tanpa batas. Bahkan aku dengan santai bisa bersandar diantara mereka tanpa beban.

            Terjawab misteri apa yang mereka sembunyikan dariku dari Sinta teman yang biasa aku pinjam diktat kuliahnya karena gadis ini sangat telaten mencatat setiap ucapan dosen sejarah sastra Indonesia bahkan sampai titik komanya sangat detail.

            “Lan, aku boleh ngomong sesuatu. Ini bukan masalah materi ujian tapi masalah persahabatan kamu, Fikri dan Awan.”

            “Hmmm bolehlah…hmmm…enak banget nih coklat!” Tentu saja Hershey’s dark chocholate with special midly sweet aseli dari Amerika.

            “Akku…aku suka Fikri Lan..”

            “Hukss!” Mendadak coklat dengan rasa manis sedang mau muncrat dari mulutku. Aku agak kaget soalnya Shinta dan Fikri tidak pernah bercereita apapun atau ada tanda-tanda pendekatan atau jangan-jangan….”Yah aku yang terlalu autis! Aku tidak pernah berpikiran tentang rasa suka… hingga detik ini belum ada pria yang bisa menggetarkan hatiku. Tidak juga Fikri dan Awan mereka pure sahabat.”

            “Menurut kamu gimana ? “ Shinta menatapku was-was.

            “Hmmm kamu dan Fikri!” aku pura-pura sadis. Tapi sedetik kemudian aku tidak sanggup untuk memeluk Shinta dan tentu saja aku setuju. Berdua kami tertawa riang. Fikri dan Shinta menurut aku pasangan yang cocok.

*****

            Kami semua sibuk dengan ujian-ujian akhir semester delapan. Ada yang aneh dengan Fikri setelah aku menyetujui apa yang Shinta utarakan dan aku setuju! Fikri lebih jarang bergabung dengan aku dan Awan.

            “Awan kenapa Fikri sperti menjauhi kita ya ? atau perasaan aku saja yang salah ?”  kataku.

            “Hmmm iya kamu juga sih menyetujui jadian dengan Shinta, padahal sebenarnya antara aku dan Fikri menyayangimu lebih…”

            Pura Besakih yang sejuk, tiba-tiba “Deg” ada debar halus dan rasa salah mengalir dalam aliran darah.

            “Jujur aku tidak faham Awan, kalian adalah the best yang aku punya,” kataku jujur.

            “Dan…Wulan kamu adalah wanita terindah yang telah memikat kami…” tiba-tiba wajah Awan sudah begitu dekat beberpa inchi  dan klik! aku begitu terpesona dengan ciuman yang lembut. Keindahan Pura Besakih menjadi saksi tanpa banyak kata kalau hatiku telah tertawan oleh Awan sahabatku.

*****

            Pemakaman Fikri baru saja selesai, aku memeluk Shinta yang baru tersadar dari pingsannya.

            “Wulan, Fikri sepertinya tidak konsentrasi menyetir mobilnya entahlah kita memang sempat ribut kecil dan dia sepertinya akan menemui…tapi…aku tidaak…tahu apa yang terjadi…” aku memeluk erat tubuh Shinta.

            Aku dan Awan yang tahu sepertinya Fikri melihat saat Awan menciumku dan dia langsung meninggalkan kami dengan pandangan amarah. Fikri meninggal dengan banyak kehilangan darah, waktu itu susah sekali mencari darah yang pas dengan golongan darah dan resusnya.

Ilustrasi : beritadaerah.com

Cimanggis, between on my family time

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s