Write Without Boundaries

#Cerpenmerahputih

Sepucuk Surat Kepada Presiden

 

“Budi kamu sedang apa Nak?” Bu Aisah mendekati tempat duduk Budi.

“Ini Bu, Budi baru mengerjakan PR matematika pak Aryo semalam Budi kecapaian pulang mengamen. Jalanan Blok M ke arah Bogor macet sekali. Eh sampai rumah sudah mau Isya, emak minta tolong ambil air di sungai buat ngisi tong minum di rumah. Dan malam emak ngelarang menyalakan teplok* karena minyak tanah sangat mahal. Jadi terpaksa Budi baru bisa mengerjakan sekarang.”

“Oh gitu,…” ada kalimat penerus tersekat di kerongkongan. Bu Aisah rasanya tidak tega untuk mengatakan agar besok Budi jangan masuk sekolah sampai uang SPP yang nunggak 6 bulan dilunasi terlebih dahulu.

Terbesit kemarin sore pak Sungkar kepala sekolah menegurnya karena masih mengijinkan anak murid kesayangannya masuk sekolah.

“Kalau Ibu Aisah masih saja mengijinkan Budi sekolah, maka saya yang akan mengambil tindakan tegas buat Budi juga Ibu selaku pendidik.”

Bu Aisah tertunduk, sungguh dalam hatinya dia bisa merasakan kegundahan Budi yang selalu ranking 1 dengan hatinya yang tetap ingin bersekolah. Anak itu sangat polos dan rajin mungkin sekolahlah yang membuat dia bahagia dan semangat menjalani kehidupannya yang sangat miskin. Emak Karti, ibunya Budi hanya tukang cuci.. Penghasilan yang diterima mingguan hanya cukup untuk makan berdua. Ayahnya sudah meninggal saat Budi berumur 4 tahun karena kangker paru-paru yang menggrogoti. Almarhum buruh penggarap sawah Haji Baroto yang menyumbang lumayan banyak waktu meninggalnya. Tapi lama-lama juga habis apalagi kebutuhan lauk pauk mahal.

Budi tumbuh jadi anak cerdas dan mau prihatin. Sepulang sekolah Budi menjadi pengamen dengan beberapa teman diperkampungan kumuh pinggiran Jakarta. Penghasilan tidak seberapa untuk menambah pemasukan mereka. Mau bekerja sekeras apapun yang namanya buruh cuci ya pas-pasan penghasilannya sampai SPP 6 bulan tidak terbayar.

“Bu Aisah kok melamun sedih? Kenapa Bu ada masalah ya?” tanya Budi yang memperhatikan bu guru yang paling baik sedang melamun.

“Hmmm, iya Bud, Ibu di tegur keras bapak kepala sekolah, kerena …” Bu Aisah tidak tega meneruskan kalimat terakhir, nuraninya sedih dan menangis. Andai saja dia yang punya sekolah rasanya ingin membebaskan anak-anak didiknya yang pintar tetapi papa tetap bisa bersekolah. Tapi apalah artinya dia, bu Aisahpun hanya guru honorer. Apa yang ditakutkan kepala sekolah bila membiarkan Budi tetap masuk sekolah, akan mempengaruhi orang tua didiknya bersikap cuek terhadap SPP. Ini akan membahayakan gaji guru-guru lain yang pasti juga membutuhkan.

“Maafkan saya Bu, membuat Ibu dimarahi bapak kepala sekolah. Saya lebih baik pulang dan menulis surat saja, siapa tahu saja pak presiden mau memberi beasiswa.”

Bu Aisah sungguh tidak tega menyaksikan anak didiknya berseragam merah putih pudar dan sepatu yang sangat butut berlalu dari hadapannya. Rasanya hati nuraninya tercabik-cabik tapi apa daya dia sendiri terlalu lemah.

***

Semburat senja menyisakan tangis pilu Emak Karti, setelah pemakaman Budi rasa kehilangan anak semata wayang yang telah menemani 9 tahun pergi menyusul ayahnya.

Bu Aisah bersimpuh di dekat nisan kayu ada sepucuk surat terlipat kusam tulisan pensil. Bu Aisah membuka kertas bergaris kusam, yang berisi tulisan anak didiknya.

 

Semilir angin bertiup sejuk…

Masih aku belajar di tengah padang ilalang…

Tapi aku bahagia karena Puteri mau meminjamkan catatan sekolahnya. Aku tidak takut ketinggalan pelajaran.

Oh ilalang cantik tertiup angin.

Meski ragaku tidak bersekolah.

Tapi jiwaku terus mengikuti setiap ajarannya. Aku kangen sekali dengan susana sekolah.

Aku kangen dengan bu guru Aisah yang lemah lembut dalam mengajar. Tidak sekalipun ada amarah tersirat ketika ada yang bandel. Aku tidak akan putus asa, aku akan berusaha dengan caraku. Karena alasan-alasan di atas aku coba membuat surat kepada Pak Presiden yang aku yakin beliau akan membantu anak-anak seperti kami yang ingin menjadi anak pintar dan berguna bagi bangsa dan negara.

Pak Presiden kiranya bapak berkenan mengijinkan kami untuk tetap belajar walau kami tidak bisa membayar SPP setiap bulannya, anggaplah ini hutang kami.

 Saya faham hutang harus dibayar maka sayapun harus semakin belajar dan bekerja lebih keras karena dengan menjadi orang pandai saya berharap nantinya bisa bekerja layak dan mulai melunasi hutang kami (jangan pakai bunga ya Pak Pres).

Baiklah semoga Pak Pres mau mempertimbangkan permintaan saya.

Tertanda,
Budiman di padang ilalang

            Dan ketika Budi akan mengeposkan surat itu ternyata sebuah truk kayu sedang meluncur dengan kencang, Budi tengah berjalan tertabrak dan ajal menjemputnya sebelum Pak Presiden membaca dan menjawabnya.

Keterangan :

angon* : menggembala

ilustrasi : solopos.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s