Write Without Boundaries

#Cerpenmerahputih

Maafkan Muin Mak

 

            Senja oranye kemilau telah bergulung berganti dengan pekatnya tebaran permadani hitam yang menggelap. Suara jangkrik menyanyi riuh rendah bersahutan dan suara bangkong yang tidak kalah keras berteriak lantang.

Di gubuk bambu sederhana di pinggiran perbatasan Metropolitan dan Bogor Muin tengah menyalakan lampu teplok dengan minyak tanah dari jligen yang dihemat-hema, agar gubuk yang hanya berukuran 3m x 4m bisa mendapat penerangan walau hanya samar dan sebentar.

Muin sudah sangat mengerti kapan menghidupkan dan mematikan lampu teplok tua satu-satu penerangan gubuknya. Betapa Muin menyadari emaknya yang sangat kesusahan untuk mendapatkan  minyak tanah tersebut.

Biasanya Muin menyalakan bila senja sudah tidak bisa menerangi gubuknya sama sekali. Dan akan dimatikan bila saatnya menjelang tidur bersama emak.

“In kamu masih ngerjain PR, memang kamu besok mau masuk sekolah?” kata emak Parti. Emak Parti merasa trenyuh dalam hatinya, anak semata wayangnya sangat rajin belajar meskipun setiap malam  hanya ditemani lampu teplok.

“Entahlah Emak, Muin juga nggak tahu besok boleh masuk kelas nggak, uang sekolah Muin sudah 4 bulan nunggak,” Muin tetap tertuju pada buku tulisnya.

“Maafkan Emak ya In, Emak bukan orang tua yang baik. Emak enggak bisa menyekolahkanmu. Biaya sekolah mahal sekali sementara In tahu kerjaan Emak jadi tukang cuci cuma pas-pasan untuk makan kita. “

“Muin ngerti kok Mak, In akan ngamen lebih giat lagi biar bisa bayar sekolah.”

“In memang kamu ingin jadi apa, Emak lihat kamu semangat banget sekolah?”

“In ingin membahagiakan Emak, In tahu setelah Bapak meninggal TBC…Emak banting tulang buat In. In sayang sekali sama Emak…” tiba-tiba Muin sudah memeluk emaknya.

Malam merambat petang Muin mematikan lampu teploknya dan menyusupkan badannya yang kurus kepelukan emaknya.

Muin tertunduk lesu, hari ini dia benar-benar tidak diperbolehkan masuk ke dalam kelas. Terpekur di bawah pohon kersen Muin membuka PR yang telah dibuat semalam, terngiang barusan kata-kata bu Nastiti yang bisanya lembut terdengar agak keras. Entahlah, Muin bisa merasakan bu guru yang lemah lembut itu pasti juga tidak berdaya akan aturan sekolah yang berlabel disiplin masih mengijinkan anak muridnya kelas V masih boleh mengikuti pelajaran, sementara SPP sudah empat bulan nunggak.

“Muin, maafkan Ibu ya…mulai hari ini kamu tidak bisa ikut pelajaran dulu,” bu Nastiti mengatakan dalam ruangan guru yang pagi itu masih sepi. Padahal jam sudah menunjukan pukul 07.00. Nampakanya semangat mengajarpun mulai redup. Muin pernah melihat pak guru Bangun malahan nyari obyekan jadi tukang ojek dahulu sebelum mengajar dan ibu Rianti, ibu guru ketrampilan terlihat tanpa sengaja sedang menitipkan kue-kue butannya terlebih dahulu sebelum absen masuk ke sekolah.

“Ibu tahu kamu anak yang cerdas Muin, tapi maaf Ibu juga punya keterbatasan…”

“Iya Bu Nas, padahal saya ingin jadi orang pintar. Saya ingin memperbaiki nasib Emak. Bu apakah receh-receh ini tidak bisa bantu saya untuk tetap sekolah ?” Muin menaruh recehan hasil mengamen masih di kaleng ke hadapan Bu Nastiti.

“In, itu belum cukup masih kurang banyak. Pak Slamet memerintahkan Ibu harus lunas semua. In maafkan Ibu ya.” Dan Bu Nastiti berlalu karena pukul 07.15 dia harus mulai mengajar Bahasa Indonesia.

“Ah susahnya jadi orang pintar…” Pikiran Muin menerawang, padahal dalam hati terkecil terbesit ingin seperti orang-orang normal yang ia lihat ketika turun ke jalanan ketika menjadi tukang ngamen. Muin memperhatikan orang-orang yang bisa duduk tenang dengan mobil mewahnya, makan di restaurant, belanja di mal-mal. Sementara dia untuk sekolah saja sangat susah.

“In ayo kerja!” teriak Bowo. Tiba-tiba Anto, Bowo dan Rokim sudah berdiri di depannya.

“Ayoo, uangku belum cukup bayar sekolah nih…” Muin curhat terhadap teman-teman senasibnya.

“Sudahlah nggak usah pikirin sekolah lagi, kita sudah bisa baca tulis sudah cukup!” kata Anto.

“Nggak To aku tetap ingin sekolah sampai paling tinggi. Aku akan buat emakku bahagia.” Muin kekeh dengan pendiriannya.

“Terserah kamulah, kalau cuma ngandalin ngamen nggak bakalan cukup. Kecuali…,” omongan Rokim tersendat, karena Bowo menutup mulutnya.

“Kecuali apa ? kalian menyembunyikan sesuatu ya ?” Muin bertanya terhadap teman-temannya.

“Udah In, Rokim lagi ngacau tuh ngomongnya!”Bowo menimpali.

Dan siang yang terik empat sekawan putus sekolah terpecah dua, Muin dan Bowo mengamen di bus Saritem Kuning jurusan Jakarta- Bogor . Sementara Rokim dan Anto naik bus Saritem Hijau dengan jurusan yang sama. Biasanya sore hari mereka bertemu bersama di terminal Bogor tarakhir untuk menghitung hasil mengamen.

“Wo sebenarnya ada apa sih, kok kalian menyembunyikan kegiatan yang mungkin bisa bantu aku atasi kesulitan uang,” tiba-tiba Muin bertanya pada Bowo sehabis turun dari  bus Saritem Kuning.

“Oh itu, tapi aku yakin kamu pasti nggak mau ikutan…” timpal Bowo sambil menghisap rokok. Bowo memang sudah SMP dan sudah mulai merokok selepas lulus SD.

“Tapi demi Emak, aku mau kok!”

“Bener!” Bowo menegaskan.

“Iya, kita bukannya bersahabat Wo? Sudah seharusnya kita saling bantu. Aku benar-benar perlu uang buat bayar SPP ku yang sudah nunggak empat bulan.” Muin mengeluh putus asa.

“Ya sudah kita ketemu Anto dan Rokim dulu.”

Setelah menghitung dan membagi hasil mengamen, Bowo menerangkan apa yang mereka bertiga kerjakan tanpa Muin.

“In kita bertiga biasanya selepas ngamen, malam hari masih jalan lagi. Tapi bukan ngamen kita nyopet orang-orang yang pulang kantor. Itu juga untung-untungan ya, kalau kamu mau bisa gabung.” Kata Bowo.

“Nyopet ? “ Muin  sempat kaget.

“Iya In, kalau hanya mengandalkan dari ngamen mana cukup aku kasih Bapak uang. Sementara kamu tahukan? Bapaku akan mukulin Ibu kalau tidak punya uang buat pasang nomor buntut,” kata Rokim.

“Iya In, kita senasib. Kita melakukan sama-sama dan kita bagi hasilnya bertiga. Kami tidak keberatan kalau kamu mau gabung, karena kita sama-sama orang miskin dan terbuang.” Anto menimpali.

Tidak ada pilihan sore yang biasanya Muin sudah menyalakan lampu teplok, tidak  malam ini. Muin ikut bergerilya bersama tiga temannya naik bus Saritem Kuning menuju Jakarta sembari mencari mangsa.

Muin hanya mendapat tugas sementara hanya mengawasi, sementara tiga temannya sudah terbiasa dengan lincah bergerilya memainkan tangan-tangan mereka. Setelah semuanya selesai Bowo sebagai ketua kelompok memberi kode untuk turun.

Walau Muin hanya mengamati, tiga temannya solider membagi rata hasil copetan mereka. “Nah In, ini bagianmu. Malam ini kita beruntung bisa bawa banyak uang, memang kamu membawa hoki !” kata Bowo sembari memberi lembaran ratusan ribu dan lima puluhan.

Muin tercengang dengan uang yang ada di tangannya, ragu untuk menerima atau tidak, tapi keinginan untuk sekolah memaksa dia menggulung uang kertas merah dan biru ke dalam kalengnya.

“Nah gitu In, rasa bersalah hanya malam ini saja. Besok-besok kamu akan menikmati. Ayooo cabut kita pulang.” Empat sekawan pulang dengan rasa letih.

“Emak…bukain pintu,” Muin mengetuk-ngetuk pintu.

“Masuk In, Emak nggak kunci kok..”

“Kamu dari mana saja In, Emak khawatir kamu kena apa-apa,” Emak mengelus rambut ikal Muin.

“ini Emak…” Muin menyerahkan kaleng ngamennya. Emak sempat terbelalak melihat hasil ngamen Muin yang tidak seperti biasanya.

“In, jujur sama Emak kamu dapat uang dari mana?” Emak bertanya agak nada keras.

“Maafkan Muin ya Mak, Muin ikut teman-teman mencopet. Muin ingin sekali sekolah Mak, uang ini bisa buat melunasi uang SPP Muin.” Kata Muin polos.

Emak tersedu, “Muin jangan kamu lakukan cara-cara seperti ini. Emak tidak ridho, biar kita miskin, kita tidak mencuri hak orang lain. Muin, Emak tahu nasib kita sedang sengsara tapi jangan jadi alasan kita merampas milik orang lain! Itu dosa Nak. Jangan sekali-kali jadi pencuri, tahukah Nak sudah terlalu banyak pencuri kekayaan bangsa yang menjadikan kita dan orang kecil lain sengsara. Kalau kamu masih kecil saja sudah jadi pencuri! bagaimana besar nanti?! Emak tahu mencopet akan menjadi candu. Emak tidak ingin anak Emak sudah sengsara di dunia juga sengsara nantinya di akherat!”

Muin terdiam, ternyata aksi pertama dia mencompet tidak mendapat ridho Emaknya.

“Maafkan Muin Mak…,semoga Muin bisa memenuhi keinginan Emak,” Muin memeluk emaknya.

Setelah memohon ampun selepas shalat Isya, Muin menyusup seperti biasa dalam pelukan emaknya. Menyusup dalam pelukan emaknya selalu membuatnya nyaman. Muin sadar entah bagaimana dia bisa bersekolah ? hanya berharap ada kebijaksanaan yang menuntunnya kembali ke bangku sekolah tanpa harus jadi pencopet.

Sumber ilustrasi : sosbud.kompasiana.com

Bursa Efek Jakarta, 10 Oktober 2011-diantara kesibukan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s