Write Without Boundaries

Hari ke 7 #13HariNgeblogFF : Cintaku Mentok Di Kamu

            “Ardiiii nanti anterin aku ya ke salon Melin, malam aku mau datang ke acara ulang tahun Nila.” Dari seberang handphone suara manja Dila membuat Ardi tidak bisa menolak.

            Dan selalu tidak bisa menolak semua permintaan Dila. Apalagi kalau mengingat untuk bisa jadi orang special Dila bukan hal yang mudah.coffe love

            Sejak melihat Dila yang menjadi cover lukisan sebuah majalah remaja dan Ardi yang menjadi pelukisnya, Ardi benar-benar tidak bisa melupakan wajah modelnya. Lekukan wajah Dila detailnya membuat Ardi tidak bisa tidur.

            “Dila sangat cantik, tapi kira-kira dia mau nggak ya kalau aku menjadi pacarnya ? ah nggak!nggak! pasti Dila sudah punya cowok. Masak gadis secantik dia nggak punya pacar, tapi daripada aku mati penasaran aku mau tembak saja!”

            Berbagai salam manis mulai Ardi lancarkan buat gadis model semester satu Universitas Kusuma Bangsa.

            “Dil dapat salam manis dan nih coklat dari  mas Ardi.” Dena melempar sekotak coklat di pangkuan Dila yang sedang asik ngerumpi dengan teman-temannya.

            “ Kak Ardi ? kak Ardi illustrator majalah Dara ?” kata Dila menautkan kedua alisnya yang tebal.

            “Oh, ya salam balik gak ya Den ? gantengggg sihh tapi tajir gak ?” Dena sudah duga pasti Kak Ardi akan ditanyakan status hara bendanya.

            “ Dil, aku sudah kenal Kak Ardi lama. Dia memang bukan anak orang tajir, kalau dia orang tajir pasti nggak akan kerja sambilan jadi illustrator, selain memang melukis hobbynya. Ayahnya hanya pensiunan guru Sekolah Dasar dan ibunya punya usaha buka warung di rumahnya. Tapi Dil dia sangat baik, penolong dan di kampus juga dapat beasiswa.” Dena membela Ardi, yang diam-diam sebenarnya Dena-pun menyukai, sayang Ardi  selalu menganggapnya sebagai adik.

            “Hmm boleh juga sih walau gak tajir tapi baik ya, hmmm salam balik ya Den tapi mau dong majalah-majalah Dara-nya serial yang lalu-lalu. Aku mau baca cerpen-cerpennya. Dena sampain ya ke Kak Ardi.”

            Dena haya bisa menuruti permintaan Dena kepada Ardi dan sebaliknya bila Ardi menyuruh menyampaikan pesanan Dila dari majalah Dara, coklat (lagi), roti tart, pernak-pernik kalung, gelang, kaos, baju pesta, buah dan lain-lain.

            “Ah Ardi buat Dila aja loyal, tapi buat aku hmmm…siapa gue? Pacar bukan! gue cuma pembantu mereka!” Dena menggerutu dalam hatinya.

            “Nasib nasib … Ardi padahal hanya buat main-main oleh Dila tapi masih saja dia peduli bahkan semakin saying. Aku yang bodoh cinta padanya atau Ardi yang bodoh dipermainkan cintanya dengan Dila, padahal sudah aku beritahu kalau Dila hanya pura-pura mencintainya. Cinta memang gila!”

***

            “Ardiiii, bisakan kamu nganterin aku ke salon ? Cuma nge-drop aja abis itu aku bisa kok naik taksi. Ok Ardi Sayang jemput ya.”

 Clik!

Tidak ada pilihan berarti memang harus mengantar, terpaksa Ardi batalin untuk lembur kantor.

“Kasihan ah Dila mendingan aku jemput saja dari salon mana hujan gedhe,” Ardi menstater motornya.

Niat baik menjadi kenyataan pahit, gara-gara cinta mati.

Dila melambaikan tangan kearah Ardi tetapi bersamaan itu juga seorang cowok ganteng keluar dari mobil mewah dan memeluk Dila dengan sangat mesra.

“Hai Darling kamu kelihatan sangat mempesona, I love you Baby…” Kata cowok ganteng perlente membuat Ardi tersadar! Tidak enaknya meneguk kopi pahit panas!

Ilustrasi fanpop.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s