Write Without Boundaries

Hari ke12 #13HariNgeblogFF : Tunggu Disitu Aku Sedang Menujumu

Wait!

Aliya gelisah, sebentar-sebentar jam tangan casionya menjadi sasaran tatapan matanya yang indah.

Mana sih Bram kok nggak datang-datang,” Aliyah mulai gelisah.

Aliya teringat semalam Bram sudah berjanji akan menjemputnya sepulang dari pelatihan menulis. Agak surprised juga karena selama ini Bram tidak terlalu perduli dengan segala aktivitasnya. Sebagai cowok terdekat hampir setahun ini Aliya tidak mau terlalu menuntut banyak terhadapnya, Bram masih lebih suka bergaul dengan sahabat-sahabat band-nya. Tidak ada waktu sejenak buat Aliya, apalgi sampai menjemputnya untuk urusan kuliah dan hobby menulis Aliya.

Aliya tidak mau terlalu menuntut banyak terhadap Bram. Menerima Bram sebagai pacarnya sudah menjadi konsekuensi menerima segala kekurangan Bram yang tidak terlalu perhatian padanya.

Lebih baik Aliya mengalah asalkan Bram tetap setia dan Aliya tidak perlu lagi berendah diri pada teman dan keluarganya yang selama ini menggapnya cewek tidak laku. Setidaknya Bram telah memberikan status kalau Aliya punya pacar! Aliya bukan jomblo! Aliya tidak laku. Hmmm walau berat harus dijalani, demi status Aliya memperthankan hubungannya dengan Bram yang cuek.

*****

“Braam kamu kenapa sih resah gelisah gitu!” Tinka merasa kesal karena dari tadi Bram bolak-balik melihat jamnya.

“Nggak apa-apa tapi kamu masih berapa lam sih dandannya…aku mau nge-band nih ama anak-anak!” Bram mengingatkan Tinka yang masih asik nyalon.

“Ah cape deh jadi pacar kamu! Nggak ada waktu buat aku! Menemani sesekali ke salon sebentar saja sudah resah gelisah gitu!” Tinka menjawab jutek dan memberengut.

“Bukan begitu, aku udah janji soalnya!” entah kenapa Bram merasa ada salah merebak dalam hatinya. Terlintas wajah Aliya yang tiba-tiba membuat dirinya mersa tidak nyaman.

Semalam percakapan panjang telah mereka lakukan, walau hanya dalam telephone antar rumah. Bram merasa selama ini dia terlalu jahat pada Aliya, bukan hanya baru saja menamatkan buku tentang ‘krama’ tapi menduakan Aliya dengan Tinka, menghadirkan secara tidak langsung sebuah perbandingan dalam hubungan kasihnya.

Tinka terlalu banyak menuntut padanya, menyita perhatiannya bahkan tidak mau terbagi dengan dunia band-nya. Aliya terlalu menerima dirinya apa adanya. Ada rasa ketidaknyamanan hadir saat bersama Tinka dan ada rasa nyaman saat bersama Aliya.

Mengalir kalimat-kalimat semalam yang meluncur dari hati Aliya, asalkan Bram serius, asalkan Bram tidak selingkuh, asalkan Bram mencintai apa adanya. Aliya tidak menuntut banyak akan perhatian dan perlindungan. Semua akan berjalan baik-baik.

Ternyata Bram tersadar tiba-tiba ketakutan menyelinap dalam hatinya, telah terlalu banyak kebohongan dia lakukan untuk Aliya, betapa tidak adilnya untuk Aliya. Dan karma bagaimana tiba-tiba semua terbalik, ternyata dirinya mulai sepenuhnya mencintai Aliya dan tidak bisa lepas darinya.

*****

“Tinka maaf aku harus jemput…jemput Aliya…maaf!” Tiba-tiba Bram merasa harus mengakhiri semua kebohongannya. Membuat Tinka terbengong.

SMS Bram,”Tunggu Disitu Aku Sedang Menujumu…”

Hujan begitu lebat dan guruh berderai-derai, Hp Aliya berderet, senyum tersungging dari bibirnya yang merekah dan merah.

Merah bibir Aliya juga semerah darah yang mengalir dari sekujur tubuh Bram yang tidak lagi berkutik.

Sore itu kecelakaan tunggal terjadi, sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menabrak palang pembatas jalan saat menuju pusat pelatihan penulisan dimana Aliya belajar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s