Write Without Boundaries

Ulasan About Me Dari Bunda Anisae

Link :

http://coretankecilanisa.blogspot.com/2014/04/MenulisTiadaHentiNennyMakmun.html

go to Ritz Carlton_4

Berbagi dan menginspirasi

Aku mengenalnya dari facebook. Lebih tepatnya dari sebuah grup menulis Antologi Es Campur yang kubuat (cie …). Yang membuatku tertarik adalah julukannya sebagai ratu antologi. Ya, namanya telah menghiasi ratusan buku antologi yang diikutinya melalui event-event menulis yang sering diadakan di banyak grup. Ternyata dia tak hanya berkiprah pada penulisan di buku antologi saja, tetapi juga pada beberapa novel yang berhasil ditulisnya

Penulis yang sangat produktif ini bernama Nenny Makmun, seorang ibu dari dua anak yang kini berdomisili di Bogor. Berikut ini ada sedikit ulasan tentang jungkir balik beliau dalam menekuni dunia literasi yang dapat menjadi pelajaran bagi kita terutama yang hendak terjun di dunia kepenulisan.

Nenny Makmun merupakan seorang penulis yang cukup produktif mengingat telah hampir 400 buku antologi yang ada karyanya di dalam buku tersebut. Ia mengaku telah tertarik dengan dunia kepenulisan sejak masih duduk di bangku kelas 4 SD dan terus berlanjut hingga duduk di bangku kuliah. Wanita lulusan program pascasarjana jurusan management Universitas Negeri Surakarta ini pernah bekerja di PT. Samsung Elektronik Ind dan mengundurkan diri pada tahun 2013 awalnya ia mulai mengirimkan puisi karyanya di berbagai majalah lokal.

Penulis telah menelurkan lima novel dan delapan buku antologi yang diterbitkan pada penerbit mayor. Sedangkan pada penerbitan indie, penulis berhasil menelurkan hampir 400 buku. Angka yang sangat fantastis, bukan? Untuk judul buku, kita bisa melihatnya di FB My Book atau di blog.

Karya penulis berupa novel yang diterbitkan pada penerbit mayor diantaranya: Ketika Mulai Mencintai, Di sudut Hati, Karena Aku Memilihmu, Cinta Tanpa Batas, dan Forgotten Angel. Sebelumnya, ia juga pernah mengalami “kemacetan” di mana karya-karyanya hanya sebatas menjadi diary.

Sejak kuliah ia tidak pernah mengirim karya ke media dikarenakan kesibukan pada Unit Kegiatan Mahasiswa lainnya. Lalu, ia mulai menulis lagi pada tahun 2011 dan menertbitkan kumpulan Puisi Romans 36 untuk menyeimbangkan kejenuhan kantor dan keterusan sampai sekarang.

Menurutnya, waktu yang tepat digunakan untuk menulis adalah ketika anak-anak sekolah dan pada saat anak-anak tidur. Jika ditanyakan soal dukungan keluarga, tentu saja baik keluarga maupun kerabat dekat sangat mendukung dan menyupportnya dalam berkiprah di dunia kepenulisan.

Bagi Nenny Makmun, menulis adalah suatu panggilan sehingga ia mengaku hampir tidak ada duka, sebab ia melakukannya dengan suka cita meskipun rasanya sedih juga saat karya yang susah payah ia tulis ditolak penerbit atau event. Namun, ia menjalaninya dengan santai. Hal yang menjadikannya suka pada dunia kepenulisan adalah ketika ia tahu bahwa pembaca menyukai tulisan karyanya dan member banyak masukan.
Jadi secara tidak langsung, antara penulis dengan pembaca saling bertukar pikiran.

Berikut ini adalah tips dari Nenny Makmun untuk kita semua terutama yang bercita-cita menjadi seorang penulis.
• Bila ada ide muncul, langsung catat di note biar tidak lupa.
• Disiplin bagi waktu, mengamati dan mendengarkan curhatan juga bisa menambah inspirasi.
• Menulis itu adalah panggilan dan kebahagiaan. Jadi, jalani dengan senang. Jangan terlalu berharap banyak. Yang penting, lakukan terus. Hal yang paling utama adalah semakin banyak yang membaca, maka akan semakin banyak kita mentransfer ilmu. Dan niat kita baik berbagi karya. Jadi tidak terbebani, santai, dan menyenangkan.

Terakhir, ternyata Nenny Makmun sedang menunggu terbitnya dua novel yang telah di acc dan berharap bisa terbit di tahun ini. Ia mengaku tidak memiliki target tertentu, hanya terus melangkah mengikuti setiap event antologi yang kebetulan bisa ia ikuti. Impiannya ke depan adalah bisa terus menulis tanpa harus meninggalkan kewajibannya sebagai seorang ibu rumah tangga. Ia menikmati mengurus dua buah hatinya yang bernama Fay dan Icha.
Nenny Makmun bisa dihubungi lewat twitter @ichandfay. Bisa juga add fb Nenny Makmun.
– See more at: http://coretankecilanisa.blogspot.com/2014/04/MenulisTiadaHentiNennyMakmun.html#sthash.gmG5uMZk.FBpy7e2b.dpuf

Berbagi dan menginspirasi

Aku mengenalnya dari facebook. Lebih tepatnya dari sebuah grup menulis Antologi Es Campur yang kubuat (cie …). Yang membuatku tertarik adalah julukannya sebagai ratu antologi. Ya, namanya telah menghiasi ratusan buku antologi yang diikutinya melalui event-event menulis yang sering diadakan di banyak grup. Ternyata dia tak hanya berkiprah pada penulisan di buku antologi saja, tetapi juga pada beberapa novel yang berhasil ditulisnya

Penulis yang sangat produktif ini bernama Nenny Makmun, seorang ibu dari dua anak yang kini berdomisili di Bogor. Berikut ini ada sedikit ulasan tentang jungkir balik beliau dalam menekuni dunia literasi yang dapat menjadi pelajaran bagi kita terutama yang hendak terjun di dunia kepenulisan.

Nenny Makmun merupakan seorang penulis yang cukup produktif mengingat telah hampir 400 buku antologi yang ada karyanya di dalam buku tersebut. Ia mengaku telah tertarik dengan dunia kepenulisan sejak masih duduk di bangku kelas 4 SD dan terus berlanjut hingga duduk di bangku kuliah. Wanita lulusan program pascasarjana jurusan management Universitas Negeri Surakarta ini pernah bekerja di PT. Samsung Elektronik Ind dan mengundurkan diri pada tahun 2013 awalnya ia mulai mengirimkan puisi karyanya di berbagai majalah lokal.

Penulis telah menelurkan lima novel dan delapan buku antologi yang diterbitkan pada penerbit mayor. Sedangkan pada penerbitan indie, penulis berhasil menelurkan hampir 400 buku. Angka yang sangat fantastis, bukan? Untuk judul buku, kita bisa melihatnya di FB My Book atau di blog.

Karya penulis berupa novel yang diterbitkan pada penerbit mayor diantaranya: Ketika Mulai Mencintai, Di sudut Hati, Karena Aku Memilihmu, Cinta Tanpa Batas, dan Forgotten Angel. Sebelumnya, ia juga pernah mengalami “kemacetan” di mana karya-karyanya hanya sebatas menjadi diary.

Sejak kuliah ia tidak pernah mengirim karya ke media dikarenakan kesibukan pada Unit Kegiatan Mahasiswa lainnya. Lalu, ia mulai menulis lagi pada tahun 2011 dan menertbitkan kumpulan Puisi Romans 36 untuk menyeimbangkan kejenuhan kantor dan keterusan sampai sekarang.

Menurutnya, waktu yang tepat digunakan untuk menulis adalah ketika anak-anak sekolah dan pada saat anak-anak tidur. Jika ditanyakan soal dukungan keluarga, tentu saja baik keluarga maupun kerabat dekat sangat mendukung dan menyupportnya dalam berkiprah di dunia kepenulisan.

Bagi Nenny Makmun, menulis adalah suatu panggilan sehingga ia mengaku hampir tidak ada duka, sebab ia melakukannya dengan suka cita meskipun rasanya sedih juga saat karya yang susah payah ia tulis ditolak penerbit atau event. Namun, ia menjalaninya dengan santai. Hal yang menjadikannya suka pada dunia kepenulisan adalah ketika ia tahu bahwa pembaca menyukai tulisan karyanya dan member banyak masukan.
Jadi secara tidak langsung, antara penulis dengan pembaca saling bertukar pikiran.

Berikut ini adalah tips dari Nenny Makmun untuk kita semua terutama yang bercita-cita menjadi seorang penulis.
• Bila ada ide muncul, langsung catat di note biar tidak lupa.
• Disiplin bagi waktu, mengamati dan mendengarkan curhatan juga bisa menambah inspirasi.
• Menulis itu adalah panggilan dan kebahagiaan. Jadi, jalani dengan senang. Jangan terlalu berharap banyak. Yang penting, lakukan terus. Hal yang paling utama adalah semakin banyak yang membaca, maka akan semakin banyak kita mentransfer ilmu. Dan niat kita baik berbagi karya. Jadi tidak terbebani, santai, dan menyenangkan.

Terakhir, ternyata Nenny Makmun sedang menunggu terbitnya dua novel yang telah di acc dan berharap bisa terbit di tahun ini. Ia mengaku tidak memiliki target tertentu, hanya terus melangkah mengikuti setiap event antologi yang kebetulan bisa ia ikuti. Impiannya ke depan adalah bisa terus menulis tanpa harus meninggalkan kewajibannya sebagai seorang ibu rumah tangga. Ia menikmati mengurus dua buah hatinya yang bernama Fay dan Icha.
Nenny Makmun bisa dihubungi lewat twitter @ichandfay. Bisa juga add fb Nenny Makmun.
– See more at: http://coretankecilanisa.blogspot.com/2014/04/MenulisTiadaHentiNennyMakmun.html#sthash.gmG5uMZk.FBpy7e2b.dpuf

Berbagi dan menginspirasi

Aku mengenalnya dari facebook. Lebih tepatnya dari sebuah grup menulis Antologi Es Campur yang kubuat (cie …). Yang membuatku tertarik adalah julukannya sebagai ratu antologi. Ya, namanya telah menghiasi ratusan buku antologi yang diikutinya melalui event-event menulis yang sering diadakan di banyak grup. Ternyata dia tak hanya berkiprah pada penulisan di buku antologi saja, tetapi juga pada beberapa novel yang berhasil ditulisnya

Penulis yang sangat produktif ini bernama Nenny Makmun, seorang ibu dari dua anak yang kini berdomisili di Bogor. Berikut ini ada sedikit ulasan tentang jungkir balik beliau dalam menekuni dunia literasi yang dapat menjadi pelajaran bagi kita terutama yang hendak terjun di dunia kepenulisan.

Nenny Makmun merupakan seorang penulis yang cukup produktif mengingat telah hampir 400 buku antologi yang ada karyanya di dalam buku tersebut. Ia mengaku telah tertarik dengan dunia kepenulisan sejak masih duduk di bangku kelas 4 SD dan terus berlanjut hingga duduk di bangku kuliah. Wanita lulusan program pascasarjana jurusan management Universitas Negeri Surakarta ini pernah bekerja di PT. Samsung Elektronik Ind dan mengundurkan diri pada tahun 2013 awalnya ia mulai mengirimkan puisi karyanya di berbagai majalah lokal.

Penulis telah menelurkan lima novel dan delapan buku antologi yang diterbitkan pada penerbit mayor. Sedangkan pada penerbitan indie, penulis berhasil menelurkan hampir 400 buku. Angka yang sangat fantastis, bukan? Untuk judul buku, kita bisa melihatnya di FB My Book atau di blog.

Karya penulis berupa novel yang diterbitkan pada penerbit mayor diantaranya: Ketika Mulai Mencintai, Di sudut Hati, Karena Aku Memilihmu, Cinta Tanpa Batas, dan Forgotten Angel. Sebelumnya, ia juga pernah mengalami “kemacetan” di mana karya-karyanya hanya sebatas menjadi diary.

Sejak kuliah ia tidak pernah mengirim karya ke media dikarenakan kesibukan pada Unit Kegiatan Mahasiswa lainnya. Lalu, ia mulai menulis lagi pada tahun 2011 dan menertbitkan kumpulan Puisi Romans 36 untuk menyeimbangkan kejenuhan kantor dan keterusan sampai sekarang.

Menurutnya, waktu yang tepat digunakan untuk menulis adalah ketika anak-anak sekolah dan pada saat anak-anak tidur. Jika ditanyakan soal dukungan keluarga, tentu saja baik keluarga maupun kerabat dekat sangat mendukung dan menyupportnya dalam berkiprah di dunia kepenulisan.

Bagi Nenny Makmun, menulis adalah suatu panggilan sehingga ia mengaku hampir tidak ada duka, sebab ia melakukannya dengan suka cita meskipun rasanya sedih juga saat karya yang susah payah ia tulis ditolak penerbit atau event. Namun, ia menjalaninya dengan santai. Hal yang menjadikannya suka pada dunia kepenulisan adalah ketika ia tahu bahwa pembaca menyukai tulisan karyanya dan member banyak masukan.
Jadi secara tidak langsung, antara penulis dengan pembaca saling bertukar pikiran.

Berikut ini adalah tips dari Nenny Makmun untuk kita semua terutama yang bercita-cita menjadi seorang penulis.
• Bila ada ide muncul, langsung catat di note biar tidak lupa.
• Disiplin bagi waktu, mengamati dan mendengarkan curhatan juga bisa menambah inspirasi.
• Menulis itu adalah panggilan dan kebahagiaan. Jadi, jalani dengan senang. Jangan terlalu berharap banyak. Yang penting, lakukan terus. Hal yang paling utama adalah semakin banyak yang membaca, maka akan semakin banyak kita mentransfer ilmu. Dan niat kita baik berbagi karya. Jadi tidak terbebani, santai, dan menyenangkan.

Terakhir, ternyata Nenny Makmun sedang menunggu terbitnya dua novel yang telah di acc dan berharap bisa terbit di tahun ini. Ia mengaku tidak memiliki target tertentu, hanya terus melangkah mengikuti setiap event antologi yang kebetulan bisa ia ikuti. Impiannya ke depan adalah bisa terus menulis tanpa harus meninggalkan kewajibannya sebagai seorang ibu rumah tangga. Ia menikmati mengurus dua buah hatinya yang bernama Fay dan Icha.
Nenny Makmun bisa dihubungi lewat twitter @ichandfay. Bisa juga add fb Nenny Makmun.
– See more at: http://coretankecilanisa.blogspot.com/2014/04/MenulisTiadaHentiNennyMakmun.html#sthash.gmG5uMZk.FBpy7e2b.dpuf

Berbagi dan menginspirasi

Aku mengenalnya dari facebook. Lebih tepatnya dari sebuah grup menulis Antologi Es Campur yang kubuat (cie …). Yang membuatku tertarik adalah julukannya sebagai ratu antologi. Ya, namanya telah menghiasi ratusan buku antologi yang diikutinya melalui event-event menulis yang sering diadakan di banyak grup. Ternyata dia tak hanya berkiprah pada penulisan di buku antologi saja, tetapi juga pada beberapa novel yang berhasil ditulisnya

Penulis yang sangat produktif ini bernama Nenny Makmun, seorang ibu dari dua anak yang kini berdomisili di Bogor. Berikut ini ada sedikit ulasan tentang jungkir balik beliau dalam menekuni dunia literasi yang dapat menjadi pelajaran bagi kita terutama yang hendak terjun di dunia kepenulisan.

Nenny Makmun merupakan seorang penulis yang cukup produktif mengingat telah hampir 400 buku antologi yang ada karyanya di dalam buku tersebut. Ia mengaku telah tertarik dengan dunia kepenulisan sejak masih duduk di bangku kelas 4 SD dan terus berlanjut hingga duduk di bangku kuliah. Wanita lulusan program pascasarjana jurusan management Universitas Negeri Surakarta ini pernah bekerja di PT. Samsung Elektronik Ind dan mengundurkan diri pada tahun 2013 awalnya ia mulai mengirimkan puisi karyanya di berbagai majalah lokal.

Penulis telah menelurkan lima novel dan delapan buku antologi yang diterbitkan pada penerbit mayor. Sedangkan pada penerbitan indie, penulis berhasil menelurkan hampir 400 buku. Angka yang sangat fantastis, bukan? Untuk judul buku, kita bisa melihatnya di FB My Book atau di blog.

Karya penulis berupa novel yang diterbitkan pada penerbit mayor diantaranya: Ketika Mulai Mencintai, Di sudut Hati, Karena Aku Memilihmu, Cinta Tanpa Batas, dan Forgotten Angel. Sebelumnya, ia juga pernah mengalami “kemacetan” di mana karya-karyanya hanya sebatas menjadi diary.

Sejak kuliah ia tidak pernah mengirim karya ke media dikarenakan kesibukan pada Unit Kegiatan Mahasiswa lainnya. Lalu, ia mulai menulis lagi pada tahun 2011 dan menertbitkan kumpulan Puisi Romans 36 untuk menyeimbangkan kejenuhan kantor dan keterusan sampai sekarang.

Menurutnya, waktu yang tepat digunakan untuk menulis adalah ketika anak-anak sekolah dan pada saat anak-anak tidur. Jika ditanyakan soal dukungan keluarga, tentu saja baik keluarga maupun kerabat dekat sangat mendukung dan menyupportnya dalam berkiprah di dunia kepenulisan.

Bagi Nenny Makmun, menulis adalah suatu panggilan sehingga ia mengaku hampir tidak ada duka, sebab ia melakukannya dengan suka cita meskipun rasanya sedih juga saat karya yang susah payah ia tulis ditolak penerbit atau event. Namun, ia menjalaninya dengan santai. Hal yang menjadikannya suka pada dunia kepenulisan adalah ketika ia tahu bahwa pembaca menyukai tulisan karyanya dan member banyak masukan.
Jadi secara tidak langsung, antara penulis dengan pembaca saling bertukar pikiran.

Berikut ini adalah tips dari Nenny Makmun untuk kita semua terutama yang bercita-cita menjadi seorang penulis.
• Bila ada ide muncul, langsung catat di note biar tidak lupa.
• Disiplin bagi waktu, mengamati dan mendengarkan curhatan juga bisa menambah inspirasi.
• Menulis itu adalah panggilan dan kebahagiaan. Jadi, jalani dengan senang. Jangan terlalu berharap banyak. Yang penting, lakukan terus. Hal yang paling utama adalah semakin banyak yang membaca, maka akan semakin banyak kita mentransfer ilmu. Dan niat kita baik berbagi karya. Jadi tidak terbebani, santai, dan menyenangkan.

Terakhir, ternyata Nenny Makmun sedang menunggu terbitnya dua novel yang telah di acc dan berharap bisa terbit di tahun ini. Ia mengaku tidak memiliki target tertentu, hanya terus melangkah mengikuti setiap event antologi yang kebetulan bisa ia ikuti. Impiannya ke depan adalah bisa terus menulis tanpa harus meninggalkan kewajibannya sebagai seorang ibu rumah tangga. Ia menikmati mengurus dua buah hatinya yang bernama Fay dan Icha.
Nenny Makmun bisa dihubungi lewat twitter @ichandfay. Bisa juga add fb Nenny Makmun.
– See more at: http://coretankecilanisa.blogspot.com/2014/04/MenulisTiadaHentiNennyMakmun.html#sthash.gmG5uMZk.FBpy7e2b.dpuf

Berbagi dan menginspirasi

Aku mengenalnya dari facebook. Lebih tepatnya dari sebuah grup menulis Antologi Es Campur yang kubuat (cie …). Yang membuatku tertarik adalah julukannya sebagai ratu antologi. Ya, namanya telah menghiasi ratusan buku antologi yang diikutinya melalui event-event menulis yang sering diadakan di banyak grup. Ternyata dia tak hanya berkiprah pada penulisan di buku antologi saja, tetapi juga pada beberapa novel yang berhasil ditulisnya

Penulis yang sangat produktif ini bernama Nenny Makmun, seorang ibu dari dua anak yang kini berdomisili di Bogor. Berikut ini ada sedikit ulasan tentang jungkir balik beliau dalam menekuni dunia literasi yang dapat menjadi pelajaran bagi kita terutama yang hendak terjun di dunia kepenulisan.

Nenny Makmun merupakan seorang penulis yang cukup produktif mengingat telah hampir 400 buku antologi yang ada karyanya di dalam buku tersebut. Ia mengaku telah tertarik dengan dunia kepenulisan sejak masih duduk di bangku kelas 4 SD dan terus berlanjut hingga duduk di bangku kuliah. Wanita lulusan program pascasarjana jurusan management Universitas Negeri Surakarta ini pernah bekerja di PT. Samsung Elektronik Ind dan mengundurkan diri pada tahun 2013 awalnya ia mulai mengirimkan puisi karyanya di berbagai majalah lokal.

Penulis telah menelurkan lima novel dan delapan buku antologi yang diterbitkan pada penerbit mayor. Sedangkan pada penerbitan indie, penulis berhasil menelurkan hampir 400 buku. Angka yang sangat fantastis, bukan? Untuk judul buku, kita bisa melihatnya di FB My Book atau di blog.

Karya penulis berupa novel yang diterbitkan pada penerbit mayor diantaranya: Ketika Mulai Mencintai, Di sudut Hati, Karena Aku Memilihmu, Cinta Tanpa Batas, dan Forgotten Angel. Sebelumnya, ia juga pernah mengalami “kemacetan” di mana karya-karyanya hanya sebatas menjadi diary.

Sejak kuliah ia tidak pernah mengirim karya ke media dikarenakan kesibukan pada Unit Kegiatan Mahasiswa lainnya. Lalu, ia mulai menulis lagi pada tahun 2011 dan menertbitkan kumpulan Puisi Romans 36 untuk menyeimbangkan kejenuhan kantor dan keterusan sampai sekarang.

Menurutnya, waktu yang tepat digunakan untuk menulis adalah ketika anak-anak sekolah dan pada saat anak-anak tidur. Jika ditanyakan soal dukungan keluarga, tentu saja baik keluarga maupun kerabat dekat sangat mendukung dan menyupportnya dalam berkiprah di dunia kepenulisan.

Bagi Nenny Makmun, menulis adalah suatu panggilan sehingga ia mengaku hampir tidak ada duka, sebab ia melakukannya dengan suka cita meskipun rasanya sedih juga saat karya yang susah payah ia tulis ditolak penerbit atau event. Namun, ia menjalaninya dengan santai. Hal yang menjadikannya suka pada dunia kepenulisan adalah ketika ia tahu bahwa pembaca menyukai tulisan karyanya dan member banyak masukan.
Jadi secara tidak langsung, antara penulis dengan pembaca saling bertukar pikiran.

Berikut ini adalah tips dari Nenny Makmun untuk kita semua terutama yang bercita-cita menjadi seorang penulis.
• Bila ada ide muncul, langsung catat di note biar tidak lupa.
• Disiplin bagi waktu, mengamati dan mendengarkan curhatan juga bisa menambah inspirasi.
• Menulis itu adalah panggilan dan kebahagiaan. Jadi, jalani dengan senang. Jangan terlalu berharap banyak. Yang penting, lakukan terus. Hal yang paling utama adalah semakin banyak yang membaca, maka akan semakin banyak kita mentransfer ilmu. Dan niat kita baik berbagi karya. Jadi tidak terbebani, santai, dan menyenangkan.

Terakhir, ternyata Nenny Makmun sedang menunggu terbitnya dua novel yang telah di acc dan berharap bisa terbit di tahun ini. Ia mengaku tidak memiliki target tertentu, hanya terus melangkah mengikuti setiap event antologi yang kebetulan bisa ia ikuti. Impiannya ke depan adalah bisa terus menulis tanpa harus meninggalkan kewajibannya sebagai seorang ibu rumah tangga. Ia menikmati mengurus dua buah hatinya yang bernama Fay dan Icha.
Nenny Makmun bisa dihubungi lewat twitter @ichandfay. Bisa juga add fb Nenny Makmun.
– See more at: http://coretankecilanisa.blogspot.com/2014/04/MenulisTiadaHentiNennyMakmun.html#sthash.gmG5uMZk.FBpy7e2b.dpuf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s