Write Without Boundaries

Berbagi Dunia Penulisan Dengan Anak Asuh SD Sabilina _Part 2

 Bahagia Sederhana Dengan Menulis

share tulisan 2

Dan seminggu dari belajar menulis bersama, dipertemuan kedua kita memulai membahas puisi karya adik-adik asuh dan sedikit memperdalam dengan teori puisi.

Sekilas Tentang Puisi

  1. Definisi Puisi

Secara Sederhana :

Adalah sebuah karya sastra singkat atau bisa juga disebut sebagai seni tulis untuk menuangkan apa yang ada didalam pikiran, hati dan jiwa kita. Puisi bisa menjadi sebuah media yang dapat mewakili seluruh perasaan kita. Tataran bahasa adalah hubungan tanda dengan makna. Maka dalam tiap kata, baris maupun bait-bait puisi yang tertulispun harus memliki makna. Walau kadang hanya berisi satu kata atau suku kata yang terus diulang-ulang.

Bagi para pembaca hal tersebut mungkin membuat puisi menjadi sulit untuk dimengerti. Tapi penulis selalu memiliki alasan untuk segala ‘keanehan dan keunikan’ yang diciptakannya.

Tak ada yang membatasi keinginan penulis dalam menciptakan sebuah puisi.
Begitu pun sahabat puisi yang selalu ingin berkarya dalam hal menulis puisi. Disini kamu bisa menuangkan kata-kata mu dengan bebas.

Jadi, buat sahabat puisi yang sedang berbahagia, sedih, jatuh cinta, galau, kangen, dan lain sebagainya bisa diungkapkan dalam kata-kata.

Secara Etimologis :

Kata puisi dalam bahasa Yunani berasal dari poesis yang artinya berati penciptaan. Dalam bahasa Inggris, padanan kata puisi ini adalah poetry yang erat dengan poet dan poem. Mengenai kata poet, Coulter (dalam Tarigan, 1986:4) menjelaskan bahwa kata poet berasal dari Yunani yang berarti membuat atau mencipta. Dalam bahasa Yunani sendiri, kata poet berarti orang yang mencipta melalui imajinasinya, orang yang hampir-hampir menyerupai dewa atau yang amat suka kepada dewa-dewa. Dia adalah orang yang berpenglihatan tajam, orang suci, yang sekaligus merupakan filsuf, negarawan, guru, orang yang dapat menebak kebenaran yang tersembunyi.

Menurut Beberapa Teori :

  1. Samuel Taylor Coleridge mengemukakan puisi itu adalah kata-kata yang terindah dalam susunan terindah. Penyair memilih kata-kata yang setepatnya dan disusun secara sebaik-baiknya, misalnya seimbang, simetris, antara satu unsur dengan unsur lain sangat erat berhubungannya, dan sebagainya.
  2. Carlyle mengatakan bahwa puisi merupakan pemikiran yang bersifat musikal. Penyair menciptakan puisi itu memikirkan bunyi-bunyi yang merdu seperti musik dalam puisinya, kata-kata disusun begitu rupa hingga yang menonjol adalah rangkaian bunyinya yang merdu seperti musik, yaitu dengan mempergunakan orkestra bunyi.
  3. Wordsworth mempunyai gagasan bahwa puisi adalah pernyataan perasaan yang imajinatif, yaitu perasaan yang direkakan atau diangankan. Adapun Auden mengemukakan bahwa puisi itu lebih merupakan pernyataan perasaan yang bercampur-baur.
  4. Dunton berpendapat bahwa sebenarnya puisi itu merupakan pemikiran manusia secara konkret dan artistik dalam bahasa emosional serta berirama. Misalnya, dengan kiasan, dengan citra-citra, dan disusun secara artistik (misalnya selaras, simetris, pemilihan kata-katanya tepat, dan sebagainya), dan bahasanya penuh perasaan, serta berirama seperti musik (pergantian bunyi kata-katanya berturu-turut secara teratur).
  5. Shelley mengemukakan bahwa puisi adalah rekaman detik-detik yang paling indah dalam hidup. Misalnya saja peristiwa-peristiwa yang sangat mengesankan dan menimbulkan keharuan yang kuat seperti kebahagiaan, kegembiraan yang memuncak, percintaan, bahkan kesedihan karena kematian orang yang sangat dicintai. Semuanya merupakan detik-detik yang paling indah untuk direkam.
  6. Unsur- Unsur Puisi

Unsur-unsur puisi : tema, nada, rasa, amanat, diksi, imaji, bahasa figuratif, kata konkret, ritme dan rima.

Unsur-unsur puisi ini, menurut pendapat Richards dan Waluyo dapat dipilah menjadi dua struktur, yaitu:

(1) struktur batin puisi (tema, nada, rasa, dan amanat) dan

(2) struktur fisik puisi (diksi, imajeri, bahasa figuratif, kata konkret, perwajahan puisi (tipografi), ritme dan rima)

Struktur Batin Puisi

  • Tema/makna (sense); media puisi adalah bahasa. Tataran bahasa adalah hubungan tanda dengan makna, maka puisi harus bermakna, baik makna tiap kata, baris, bait, maupun makna keseluruhan.
  • Nada (tone), yaitu sikap penyair terhadap pembacanya. Nada juga berhubungan dengan tema dan rasa. Penyair dapat menyampaikan tema dengan nada menggurui, mendikte, bekerja sama dengan pembaca untuk memecahkan masalah, menyerahkan masalah begitu saja kepada pembaca, dengan nada sombong, menganggap bodoh dan rendah pembaca, dll.
  • Rasa (feeling), yaitu sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang terdapat dalam puisinya. Pengungkapan tema dan rasa erat kaitannya dengan latar belakang sosial dan psikologi penyair, misalnya latar belakang pendidikan, agama, jenis kelamin, kelas sosial, kedudukan dalam masyarakat, usia, pengalaman sosiologis dan psikologis, dan pengetahuan. Kedalaman pengungkapan tema dan ketepatan dalam menyikapi suatu masalah tidak bergantung pada kemampuan penyairmemilih kata-kata, rima, gaya bahasa, dan bentuk puisi saja, tetapi lebih banyak bergantung pada wawasan, pengetahuan, pengalaman, dan kepribadian yang terbentuk oleh latar
  • Amanat/tujuan/maksud (itention); sadar maupun tidak, ada tujuan yang mendorong penyair menciptakan puisi. Tujuan tersebut bisa dicari  sebelum penyair menciptakan puisi, maupun dapat ditemui dalam puisinya

Struktur Fisik Puisi

  • Diksi, yaitu pemilihan kata-kata yang dilakukan oleh penyair dalam puisinya. Karena puisi adalah bentuk karya sastra yang sedikit kata-kata dapat mengungkapkan banyak hal, maka kata-katanya harus dipilih secermat mungkin. Pemilihan kata-kata dalam puisi erat kaitannya dengan makna, keselarasan bunyi, dan urutan kata. Geoffrey (dalam Waluyo, 19987:68-69) menjelaskan bahwa bahasa puisi mengalami 9 (sembilan) aspek penyimpangan, yaitu penyimpangan leksikal, penyimpangan semantis, penyimpangan fonologis, penyimpangan sintaksis, penggunaan dialek, penggunaan register (ragam bahasa tertentu oleh kelompok/profesi tertentu), penyimpangan historis (penggunaan kata-kata kuno), dan penyimpangan grafologis (penggunaan kapital hingga titik).
  • Imaji, yaitu kata atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman indrawi, seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Imaji dapat dibagi menjadi tiga, yaitu imaji suara (auditif), imaji penglihatan (visual), dan imaji raba atau sentuh (imaji taktil). Imaji dapat mengakibatkan pembaca seakan-akan melihat, medengar, dan merasakan seperti apa yang dialami penyair
  • Bahasa figuratif, yaitu bahasa berkias yang dapat menghidupkan/meningkatkan efek dan menimbulkan konotasi tertentu (Soedjito, 1986:128). Bahasa figuratif menyebabkan puisi menjadi prismatis, artinya memancarkan banyak makna atau kaya akan makna (Waluyo, 1987:83). Bahasa figuratif disebut juga majas. Adapaun macam-macam majas antara lain metafora, simile, personifikasi, litotes, ironi, sinekdoke, eufemisme, repetisi, anafora, pleonasme, antitesis, alusio, klimaks, antiklimaks, satire, pars pro toto, totem pro parte, hingga paradoks.
  • Kata kongkret, yaitu kata yang dapat ditangkap dengan indera yang memungkinkan munculnya imaji. Kata-kata ini berhubungan dengan kiasan atau lambang. Misal kata kongkret “salju: melambangkan kebekuan cinta, kehampaan hidup, dll., sedangkan kata kongkret “rawa-rawa” dapat melambangkan tempat kotor, tempat hidup, bumi, kehidupan, dll
  • Perwajahan puisi (tipografi), yaitu bentuk puisi seperti halaman yang tidak dipenuhi kata-kata, tepi kanan-kiri, pengaturan barisnya, hingga baris puisi yang tidak selalu dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik. Hal-hal tersebut sangat menentukan pemaknaan terhadap puisi.
  • Versifikasi, yaitu menyangkut rima, ritme, dan metrum. Rima adalah persamaan bunyi pada puisi, baik di awal, tengah, dan akhir baris puisi. Rima mencakup (1) onomatope (tiruan terhadap bunyi, misal /ng/ yang memberikan efek magis pada puisi Sutadji C.B.), (2) bentuk intern pola bunyi (aliterasi, asonansi, persamaan akhir, persamaan awal, sajak berselang, sajak berparuh, sajak penuh, repetisi bunyi [kata], dan sebagainya [Waluyo, 187:92]), dan (3) pengulangan kata/ungkapan. Ritma merupakan tinggi rendah, panjang pendek, keras lemahnya bunyi. Ritma sangat menonjol dalam.

  1. Jenis-jenis Puisi
  2. Puisi Dramatik :
    Puisi yang memiliki persyaratan dramatik yang menekankan tikaian emosional atau situasi yang tegang, umumnya secara objektif menggambarkan perilaku seseorang, baik lewat lakuan, dialog, maupun monolog.
  3. Puisi Lirik :
    Puisi yang memiliki persyaratan melodius dan kadang dibawakan,
    sang penyair sendiri , dan diringi musikc sebagai sebuah karya.
  4. Puisi Balada :
    Puisi yang memiliki persyaratan cerita tentang sebuah perjalan hidup sang penulis.
  5. Puisi Epik :
    Puisi yang biasanya selalu dikaitkan dengan kisah-kisah klasik peperangan dan kepahlawanan yang menakjubkan dan sarat dengan pesan moral.
  6. Puisi Klasik :

Jenis-Jenis puisi klasik adalah:

a.Pantun
Puisi Melayu klasik yang paling tua dan popular ialah pantun. Pantun dikatakan popular kerana mempunyai bentuk struktural yang ringkas dan bersahaja. Jumlah barisnya juga pelbagai: ada pantun dua kerat, pantun empat kerat, enam kerat, lapan kerat, dan ada juga yang sepuluh kerat. Seterusnya, terdapat juga sejenis pantun yang rangkapnya berkait antara satu sama lain, dan dikenali sebagai pantun berkait. Namun pantun yang paling digemari merupakan pantun empat kerat. Dari sudut penggubahan, pantun dapat dicipta dengan mengikuti syarat-syarat di bawah ini:

* setiap baris terdiri daripada 8 hingga 12 suku kata.
* rima akhirnya (untuk pantun empat kerat) ialah a b a b.
* ada pembayang dan juga maksud.

Walaupun mudah membina baris-baris yang terdiri daripada 4 atau 5 perkataan (atau 8 hingga 12 suku kata), tetapi bukan semua yang terbina mempunyai nilai keindahan. Hal ini kerana pantun yang bermutu memiliki ciri-ciri semantik atau permaknaan yang menarik. Kerap kali unsur-unsur alam menjadi penghias pantun-pantun romantik. Manakala pantun-pantun yang bertema keagamaan, nasihat, lelucon dan sebagainya, didapati imej-imejnya disesuaikan dengan tema.

b.Syair
Syair merupakan sejenis puisi klasik yang kelihatan menyerupai bentuk pantun kerana suku kata untuk baris-barisnya menyerupai bentuk pantun. Akan tetapi, syair memiliki syarat-syarat lain yang berbeza daripada pantun.

Syarat-syaratnya ialah :

* setiap baris terdiri daripada 8 hingga 12 suku kata.
* rima akhirnya ialah a a a a.

Syair tidak mempunyai pembayang. Rangkap syair terbina daripada maksud-maksud. Maksud atau isi syair biasanya merupakan cerita, atau berunsurkan nasihat.

c.Gurindam
Gurindam tidak mempunyai definisi dan konsep yang mantap. Gurindam berasal daripada bahasa Tamil yang bermaksud umpama.Terdapat beberapa khilaf atau pandangan yang berbeda antara para pengkaji. Ada pengkaji menyatakan bahawa gurindam tidak terikat dengan peraturan yang khusus. Terdapat pula pengkaji yang menyatakan bahawa rangkap gurindam terdiri daripada dua baris. Tetapi secara keseluruhannya, gurindam banyak mengemukakan nasihat, pandangan, atau gambaran sesuatu keadaan.

d.Seloka
Seloka dipercayai berasal daripada bahasa Sanskrit yang membawa maksud seperti juga gurindam iaitu umpama. Oleh sebab maknanya bersamaan dengan gurindam, maka sifat seloka juga tidak jauh berbeda daripada sifat gurindam dari sudut maksud atau isinya. Seloka memuatkan sindiran atau kiasan yang tajam. Bentuknya tidak terikat apada peraturan tertentu, namun ada juga yang berbentuk seperti syair.

  1. Puisi Terbagi Dalam Puisi Lama dan Puisi Baru

Ciri-ciri Puisi Lama:

  1. Merupakan puisi rakyat yang tak dikenal nama pengarangnya.
  2. Disampaikan lewat mulut ke mulut, jadi merupakan sastra lisan.
  3. Sangat terikat oleh aturan-aturan seperti jumlah baris tiap bait, jumlah suku kata maupun rima.

Jenis-Jenis Puisi Lama

  1. Mantra adalah ucapan-ucapan yang dianggap memiliki kekuatan gaib.
  2. Pantun adalah puisi yang bercirikan bersajak a-b-a-b, tiap bait 4 baris, tiap baris terdiri dari 8-12 suku kata, 2 baris awal sebagai sampiran, 2 baris berikutnya sebagai isi. Pembagian pantun menurut isinya terdiri dari pantun anak, muda-mudi, agama/nasihat, teka-teki, jenaka.
  3. Karmina adalah pantun kilat seperti pantun tetapi pendek.
  4. Seloka adalah pantun berkait.
  5. Gurindam adalah puisi yang berdirikan tiap bait 2 baris, bersajak a-a-a-a, berisi nasihat.
  6. Syair adalah puisi yang bersumber dari Arab dengan ciri tiap bait 4 baris, bersajak a-a-a-a, berisi nasihat atau cerita.
  7. Talibun adalah pantun genap yang tiap bait terdiri dari 6, 8, ataupun 10 baris.

Ciri-ciri Puisi Baru:

Puisi baru bentuknya lebih bebas daripada puisi lama, baik dalam segi jumlah baris, suku kata, maupun rima. Menurut isinya, puisi baru dibedakan atas:

  1. Balada adalah puisi berisi kisah/cerita.
  2. Himne adalah puisi pujaan untuk Tuhan, tanah air, atau pahlawan.
  3. Ode adalah puisi sanjungan untuk orang yang berjasa.
  4. Epigram adalah puisi yang berisi tuntunan/ajaran hidup.
  5. Romance adalah puisi yang berisi luapan perasaan cinta kasih.
  6. Elegi adalah puisi yang berisi ratap tangis/kesedihan.
  7. Satire adalah puisi yang berisi sindiran/kritik

Salah satu contoh puisi bertema Kerinduan :

MATAHARI

Akhirnya kereta itupun pergi
Membawa matahari
Meninggalkan aku sendiri

Peron sepi. Stasiun sepi
Tiba-tiba kota ini menjadi kota mati
Para penghuninya menggali lubang dalam sekali
Menciptakan gap menganga jurang mengubur diri

Dan jalan-jalan lengang kulalui sendiri

Rumah sepi. Tak ada penghuni
Kemana engkau pergi?
Aku mencari-cari
Memecahkan sebuah misteri

Tengah malam kesepian semakin menjadi-jadi
Hujan turun sejak tadi
Kucoba membuat sebuah puisi
Tak jadi-jadi

Ketika pagi-pagi aku pergi
Mencari matahari
Terasa cuma aku sendiri
Tak ada yang lain hadir di sini
Di hati

Begitu berhari-hari

Bila engkau kembali?
Betapa kuncup bunga mekar berseri
Betapa kicau burung riang bernyanyi
Dan betapa seharusnya engkau sadari
Bahwa kuncup bunga yang mekar berseri
Kicau burung yang riang bernyanyi
Adalah bisikan hati:
– Betapa sepi ketika engkau pergi
Aku rindu sekali
Rindu berbincang dari hati ke hati
Dari hari ke hari

Bogor, 12 Juni 2015

Sumber : https://pusatbahasaalazhar.wordpress.com/pesona-puisi/sekilas-tentang-puisi/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s