Write Without Boundaries

Kajian Sabilina : J i w a

Tema : Jiwa

kajian

Ustadzah : Nurhamidah

Waktu : Jumat. 15 Januari 2016

Pengertian Jiwa Menurut Al Quran

  1. Hakikat Jiwa

Jiwa menurut bahasa arab berasal dari kata nafs. Kadang kita sering mendengar kata anfus dalam bacaan Quran. Itu juga berarti jiwa. Hakikat jiwa dengan ruh sebenarnya berbeda.
Ruh adalah sesuatu yang tidak terlihat, namun membuat seorang manusia itu hidup. Tanpa ruh, manusia hanyalah benda mati (hanya raga).

Sedangkan jiwa (nafs) adalah gabungan dari ruh manusia dan raganya. Jadi menyangkut pribadi (diri) seseorang. Maka di dalam Quran biasanya Allah menyebut “membeli harta dan jiwa mereka”, atau ” berperang dengan jiwa dan harta mereka”. Tidak pernah dengan “harta dan ruh mereka”. Jadi artinya jiwa itu adalah satu kesatuan antara ruh dan raga kita.

Ustadzah Nurhamidah sedang menyampaikan materi

Berkaitan dengan hal itu, beberapa ayat yang utama menyangkut masalah jiwa adalah sebagai berikut :

  1. Qs. Al-A’raf (7) : 172
    وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا ۛ أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَافِلِينَ

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).”

Dari ayat ini kita dapat mengetahui bahwa pertemuan pertama kali ruh manusia dengan raganya yang disebut jiwa (nafs/anfus) yaitu saat manusia masih tersimpan dalam tulang sulbi (tulang ekor) anak cucu adam/ masih jadi bibit (dzurriyyat), yang tertanam dalam rahim, tepat berusia 120 hari.

Jadi adanya jiwa manusia pertama kali adalah di dalam alam rahim. Rahim adalah ladang manusia untuk berkembang biak. Ibarat petani kalau mau bercocok tanam kan harus pada ladang yang tepat. Begitu juga manusia, bagaimanapun cara untuk berkembangbiak, pada akhirnya janin bisa berkembang hanya di dalam rahim. Misalnya saja program bayi tabung, walaupun dibantu dengan alat saat proses perkawinannya (bertemunya ovum dan spermanya), namun tetap untuk tumbuh dan berkembangnya jiwa manusia hanya bisa di dalam rahim.

Seperti sesuai pada firman Allah pada surat Al Baqarah (2) ayat 223 :
نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّىٰ شِئْتُمْ ۖ وَقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ مُلَاقُوهُ ۗ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ

Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman.

Kenapa tulang ekor atau tulang sulbi?

Karena tulang ekor adalah sumber atau master dari bentuk tubuh seorang manusia. Makanya saat di alam barzah atau alam kubur, semua tubuh hancur, kecuali tulang ekor atau tulang sulbi. Dan dari tulang ekor inilah manusia dibangkitkan kembali saat hari kiamat tiba. Seperti yang disampaikan dalam hadist Rasulullah sebagai berikut :

“Tiada bagian dari tubuh manusia kecuali akan hancur (dimakan tanah) kecuali satu tulang, yaitu tulang ekor, darinya manusia dirakit kembali pada hari kiamat.” (HR. al Bukhari, nomor 4935).

“Setiap (bagian tubuh) anak Adam pasti akan dimakan tanah, kecuali tulang ekor. Darinya ia telah diciptakan dan darinya ia akan disusun kembali” (HR. Muslim)

Jadi tulang sulbi itu ibarat file yang menyimpan semua memori tubuh/raga manusia. Maka, saat Allah mau membangkitkan manusia, Allah tinggal mengambil tulang-tulang ekor manusia, maka manusia saat di akhirat akan kembali jiwanya (ruh dan raganya) seperti saat di dunia.

Apa yang terjadi saat usia 120 hari dalam rahim?

Sebelum usia 120 hari, ruh manusia belum ada. Dan saat usia 120 hari itu, antara ruh dan raga kita bertemu, itulah yang disebut jiwa. Dan saat itulah kita sudah melakukan perjanjian kepada Allah.

Perjanjiannya berupa pertanyaan (sesuai dengan surat Al A’raf :172) :
alastu birobbikum?

Yang artinya : bukankah aku Rabbmu?

Arti Rabb = pencipta, pemberi rezeki, pengatur/raja kita.

Rabb kita adalah Allah. Artinya Allah berhak mengatur kita karena Ia yg pencipta kita dan pemberi rezeki kita.

Jika kita sebagai ibu saja biasanya banyak mengatur anak-anak kita, seperti “Ayo, kamu nanti makan ini ya”, atau ” kamu jangan ke sana, bahaya!” dan lain-lainnya.

Dan kalau anak kita marah diatur-atur, biasanya seorang ibu bisa gantian marah, “Aku kan ibumu! Yang sudah mengandung dan melahirkanmu! Kalau kamu tidak patuh, hati-hati kamu jadi durhaka!” Dan masih dengan omelan-omelan lainnya.

Artinya, kalau ibu kita atau kita sebagai ibu saja berhak mengatur anaknya, masa’ Allah sang pencipta kita dan pemilik alam semesta ini gak berhak?

Maka, memang sudah tugas kita sebagai manusia mau diatur dan menaati perintah Allah dan menjauhi semua laranganNya.

Oleh sebab itu, dalam ayat 172 tersebut jawaban jiwa kita saat itu : “balaa”  artinya iya, benar, langsung dilakukan, langsung dipenuhi panggilan Allah. Jawaban kita bukan naam atau thayyib. Karena kalau naam atau thayyib itu lebih bermaksud pada iya, tapi tidak langsung dijalani saat itu juga.

Apalagi ditambah jawaban oleh kita : “syahidnaa” –> saya bersaksi. Artinya ini merupakan perjanjian yang akan Allah tagih hingga akhirat nanti. Allah akan menagih setiap hambaNya, sebagai manusia, apakah masih terus beriman kepada Allah, seperti janjinya saat masih usia 120 hari di dalam rahim.

Inilah bentuk tauhid setiap manusia, tauhid rubbubiyah. Yaitu bahwa semua manusia mempunyai Rabb yang sama, yaitu Allah. Darimanapun mereka berasal, suku atau agama apapun mereka, hanya Allah Rabb manusia. Tidak ada Rabb/Tuhan selain Allah (tauhid uluhiyyah).

Namun saat di hari akhir nanti kebanyakan manusia lupa. Mereka lupa dengan janji yang sudah diucapkan saat di dalam rahim. Maka, akhirnya banyak yang merugi, karena mereka ingkar, tidak menyembah Allah yang Esa.

Dengan adanya pertemuan antara ruh dan raga di dalam rahim ini, pada berikutnya  berarti jiwa kita pasti dipisahkan kembali dengan raga. Karena setiap ada pertemuan, pasti ada perpisahan. Dan setelah berpisah, akan dipertemukan, dibangkitkan kembali saat hari akhir nanti.

  1. Pelajaran kedua tentang jiwa adalah di surat Al Hujurat (49) ayat 15. Pada ayat ini bagaimana jiwa (diri manusia) berada di alam dunia.

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.

Dalam ayat ini menjelaskan bahwa orang-orang beriman akan berjuang dalam kehidupan dunia dengan harta dan jiwa mereka. Dan Allah akan membeli jiwa dan harta mereka dengan pahala yang berlipat.
Seperti firmanAllah dalam Al Qura’an :

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta
mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari
Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya

(selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji, yang melawat, yang ruku’, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu.” [QS.At-Taubah:111-112]

Di dunia ini penuh ujian.  Selama kita hidup di dunia, kita pasti tidak akan terlepas dari yang namanya ujian. Kalau sudah tidak ada ujian, berarti kita masuk ke dalam alam barzah atah alam kubur. Disinilah pertanggungjawaban manusia diminta. Manusia yang sudah melewati satu alam tidak bisa kembali lagi ke alam sebelumnya.

Kotor atau tidaknya jiwa kita di dunia semua tergantung semua pilihan kita. Bagaimana lingkungan kita, teman kita, suami kita dan lain-lain. Walaupun tiap manusia dilahirkan dalam keadaan fItrah (Islam), tapi yang akan membedakan agamanya nanti adalah lingkungannya (orang tuanya).

Seperti hadist Rasulullah berikut ini :

كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، حَتَّى يُعْرِبَ عَنْهُ لِسَانُهُ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
“Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah hingga ia fasih (berbicara), maka kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”

Hadits ini diriwayatkan oleh al-Baihaqi dan ath-Thabarani dalam al-Mu’jamul Kabir.

  1. Yang ketiga tentang jiwa di dalam Al Quran adalah pada surat Al Fajr (89) ayat 27-30. Yang berbunyi sebagai berikut :

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ﴿٢٧﴾ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً ﴿٢٨﴾ فَادْخُلِي فِي عِبَادِي ﴿٢٩﴾ وَادْخُلِي جَنَّتِي ﴿٣٠﴾

Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai; lalu masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku

Maksudnya Allah hanya memanggil jiwa-jiwa yang muthmainnah (Yaa ayyuhalnafsul muthmainnah).

Muthmainnah adalah jiwa yang istiqomah, yg tetap terus berjalan sesuai perjanjian kita saat di rahim tadi.

Kalau kita mau dipanggil Allah dengan jiwa-jiwa yang tenang, itu tergantung akhir hidup kita.

Untuk menjadikan akhir hidup kita selamat, kita perlu mendesain jalan hidup kita, mendesain kematian kita. Jangan cukup hanya meminta mati husnul khotimah. Kita perlu punya niat sebagai syuhada (mati syahid). Karena menurut Rasul jika kita sudah meminta atau meniatkan untuk mati syahid, maka akan dicatat kematiannya sebagai syuhada. Seperti hadist nabi berikut :

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

مَنْ طَلَبَ الشَّهَادَةَ صَادِقًا أُعْطِيَهَا وَلَوْ لَمْ تُصِبْهُ

(MUSLIM – 3531) : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa memohon syahadah (mati dalam keadaan syahid) dengan sungguh-sungguh, maka sungguh ia akan diberi pahala seperti pahala mati syahid meskipun ia tidak mati syahid.”

Untuk mati syahid kita perlu punya :

  1. Niat. Kalau kita tidak niat, walaupun kematian kita terhitung syahid (misal wafat saat melahirkan, tapi tidak pernah meniatkan untuk mati syahid, maka tidak dihitung sebagai syuhada).
  2. Kematian yang baik (husnul khatimah). Jadi kalau saat waktu kita dicabut nyawa ternyata kita sedang melakukan keburukan, misalnya sehabis berpergian dari tempat buruk, atau sehabis suami marah atau tidak ridha dengan kita, maka itu tidak dapat dikatakan husnul khatimah.

Jadi, kalau syahid itu pasti husnul khatimah. Namun tidak semua yg husnul khatimah itu syahid.

Maka, sekarang marilah mumpung kita masih hidup di dunia, beramal kebaikan sebanyak mungkin yang kita bisa.

Standar kita dikatakan beramal baik atau tidak hanya ada 3 : yaitu jika menurut Allah, RasulNya, dan orang sholih atau rang mukmin bahwa kita baik, maka kita benar telah menjadi orang baik. Seperti firman Allah di surat At Taubah (9) ayat 105 sebagai berikut :
وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.

Maka, sekali lagi, teruslah beramal kebaikan sebanya-banyaknya agar jiwa-jiwa kita saat waktunya dipanggil Allah nanti merupakan jiwa-jiwa yang tenang. Semoga Allah tempatkan jiwa-jiwa kita di sisiNya yang terbaik dan kita semua termasuk orang-orang yang beruntung. Aamiin YRA.

Wallohu’alam bishshowwab…

Notulen : BundaFaFaLa (Bunda Faiz _2B)

Penyelaras aksara : Bunda Icha 2A

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s