Write Without Boundaries

Cerita Anak

Penghujung Tahun Juara 3 Lomba HOKI

Motivasi Menulis Anak

my-kids-book

link : http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=25&jd=Selamat%2C+Inilah+Para+Pemenang+Lomba+Tulis+HOKI+2016%21&dn=20161218232402

http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=5&jd=LOMBA+TULIS%3A+Mengajari+Dengan+Senang+Tanpa+Menggurui&dn=20161207054947

LOMBA TULIS: Mengajari Dengan Senang Tanpa Menggurui
Oleh : Noorhani Dyani Laksmi | 08-Des-2016, 03:13:12 WIB

KabarIndonesia – Resolusi tahun 2017 kali ini adalah kembali pada ketertarikan menulis anak yang sempat banyak tertunda karena di tahun 2016 rasa penasaran bisa menerbitkan tulisan novel-novel remaja dan dewasa. Juga penasaran menulis novel non fiksi jadi aktivitas menulis anak yang sebenarnya menjadi karir awal genre saya terjun di dunia menulis tahun ini tidak terlalu produktif di genre ini.

Dan tahun ini 27 buku yang saya hasilkan 1 novel teenlit, 1 novel romance, 1 novel fiksi, 1 novel romance duet dengan Ariny penulis Kau Begitu Sempurna, 1 buku kumpulan dongeng anak, mengerjakan 2 buku non fiksi tunggal client tentang Buku Pintar Pengurusan Jenasah penulis Suhartini Ashari,S.TH.I.,M.Kom.I. dan buku Basic English penulis Ahmad Juma Khatib,S.S,M.Si, dan 21 buku antologi .

Tahun 2016 ini saya evaluasi untuk menulis anak ternyata hanya 1 buku dongeng yang saya terbitkan dan ada beberapa naskah masih berjuang di meja redaksi media beberapa majalah anak-anak, hanya saja sampai akhir tahun ini sepertinya belum ada khabar baiknya.

Baiklah penghujung tahun 2106 dan akan memasuki tahun 2017 saya rindu ingin kembali meramaikan penulisan anak-anak lagi karena memang anak-anak adalah sosok yang membuat saya menikmati hidup lebih indah.

Kehadiran dua puteri saya menyempurnakan nikmat yang Allah telah limpahakan dalam kehidupan saya. Sejak kehadiran Icha puteri pertama, saya yang dari kelas 3 Sekolah Dasar menyukai hobi menulis cerita anak menjelang anak-anak tidur berusaha untuk membacakan buku-buku cerita anak, dongeng, fabel.

Sampai sekarang kakak Icha yang sudah kelas 3 Sekolah Dasar dan adiknya Fayre kelas 1 Sekolah Dasar setiap jelang tidur maunya didongengin dulu karena memang sudah menjadi kebiasaan sejak mereka balita. Tapi karena mereka sekarang sudah bisa membaca kita bergantian membaca cerita yang menemani jelang tidur.

Sungguh ada kepuasaan tersendiri saat bisa membacakan atau mendongengkan tulisan yang saya buat sendiri, sepertinya mereka lebih menghayati dan terimajinasi dengan cerita hasil karya ibunya dibandingkan jika saya hanya membacakan karya orang lain.

Ada kebahagiaan mengalir di dalam hati, itu hanya bercerita untuk dua puteri saya saja coba bayangkan bila ternyata banyak yang menyukai cerita-ceita menulis anak kita yang berbobot dengan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan? Rasanya tak akan ada habisnya kita mentransformasi pada pikiran anak-anak yang masih bersih dan muat banyak pengetahuan baru diisi dengan mengajari nilai-nilai kehidupan dengan cerita, dongeng dengan cara senang dan tanpa menggurui.

Membuat tulisan anak dan menceritakan secara tidak sadar memberitahu nilai-nilai kebaikan yang ada dalam cerita saat mereka membacanya. Tulian yang kita buat dengan didongengkan atau mereka membaca sendiri akan terserap dalam pikiran mereka.

Saya mencoba kembali ke masa lalu saat saya kecil alangkah senangnya setiap mendapat majalah baru anak-anak, apa yang saya baca seolah saya merasakan sendiri dan tanpa sadar saya praktekan dalam kehidupan.

Kisah-kisah waktu saya kecil dan membekas dalam pikiran adalah seperti serial Si Tini, Deni Manusia Ikan, Grim, HC Andersen disana banyak mengajarkan kasih sayang, cinta teman, persahabatan, kebaikan hati dan itu secara tak langsung menjadi tertanam dalam pikiran saya bahwa Tuhan menyukai hal-hal kebaikan dan setiap kejahatan akan selalu ada akibatnya.

Cerita anak itu sangat efektif untuk membentuk karakter-karakter kebaikan pada anak-anak. Sebagai penulis bisa menulis cerita buat anak dengan baik, cerita disukai anak-anak dan membuat anak-anak senang sekaligus tertanam budi pekerti di pikirannya tentu saja selain amalan yang baik ada banyak kepuasan bathin yang tidak dinilai dengan sekedar materi dalam hati penulis.

Nah untuk menghasilkan buku yang menarik buat anak-anak dan apa yang dibutuhkan anak-anak agar berminat membaca apa yang kita tulis bukanlah hal yang mudah.

Pertama yang pasti penulis anak dia adalah sosok yang menyukai dunia anak, banyak ingin tahu apa yang menjadi trend anak-anak sekarang agar diekspresikan dalam sebuah cerita, dongeng, fabel yang sebenarnya mengacu pada banyak permasalahan, pengajaran, budi pekerti dan pesan moral yang tersirat di dalamnya secara tidak terang-terangan.

Bila sudah memenuhi syarat meyukai dunia anak dan ingin tahu seluk beluk aktivitas anak pasti akan mudah menemukan ide-ide penulisan yang sedang dibutuhkan saat ini.

Seperti yang baru-baru saat ini mungkin secara tidak langsung adanya aksi 212 melihat banyak orang tua menceritakan topik aksi damai yang digelar di Monas juga anak-anak sekarang yang pastinya ikut mendengar secara tidak langsung berbagai polemikk bahkan mungkin sesekali melihat dari gadget orang tuanya jadi ikutan heboh dengan kerumunan orang-orang yang sangat ramai. Sehingga menimbulkan berbagai persepektif susdut pandangan anak-anak sendiri kalau berkumpul seperti apa yang dilhat dan didengar semata itu pasti hal yang baik, hal yang damai dan sesuatu yang harus dicontoh. Dalam kenyataan belum tentu hal yang bergerombol itu juga baik, seperti demo anarkis, protes-protes jalanan yang tidak jelas.

Mungkin kita bisa menjelaskan dengan cerita bahwa bergerombol asalakan mempunyai tujuan yang jelas seperti musyawarah, berdamai tidak ada kemarahan dan bersatu dalam bentuk fabel, cerita anak umum atau bahkan dongeng akan lebih mudah difahami daripada kita menjelaskan ini aksi damai membela sebuah golongan. Anak tidak akan mengerti.

Selain suka akan dunia anak yang kedua untuk menjadi penulis anak juga adanya dorongan dalam hati ini menanamkan hal-hal kebaikan untuk generasi penerus, dengan adanya kesukaan dan niat baik pasti akan mudah kita merangkai kata-kata untuk disampaikan pada anak-anak hal-hal positif kehidupan.

Ketiga adalah terus juga banyak membaca tulisan teman-teman penulis anak, bahkan kalau perlu saling mengenal agar bisa bertukar pikiran segala hal yang sepertinya sedang dibutuhkan oleh pasar, karena pasti penerbit pun banyak melakukan survey untuk mendapatkan naskah anak yang tengah diperlukan sehubungan dengan beragam perilaku anak-anak yang perlu dibimbing dengan dunia litearasi.

Kalau saya pribadi ingin mengikuti workshop penulisan anak, karena selama ini saya belajar otodidak dengan mengamati kedua puteri saya dengan teman-temannya, anak murid saya di sebuah Sekolah Dasar Silaturahim dan anak-anak di Sanggar Rumah Hijau yang saya kelola.

Setiap hari berkumpul dengan anak-anak saya jadi secara langsung bahkan tidak langsung selalu mengamati setiap perilaku anak-anak yang beragam, dari anak yang baik dan anak yang sangat bandel. Tapi itulah anak-anak sebenarnya! Anak-anak yang akan mencontoh apa yang dilihat, didengar, dibaca dalam kesehari-harian. Jadi berilah bacaan anak-anak yang baik yang bisa diterima dengan menyenangkan dan menarik.

Anak-anak bisa diandaikan mereka buku putih yang perlu coretan tangan yang indah dan tepat sehingga akan membantu pembentukan perilaku yang baik buat mereka. Jadi keempat yang dibutuhkan seorang penulis sesekali juga sepertinya workshop untuk lebih mengenal teknis penulisan anak agar kelihatan menarik setelah banyak melakukan survey dan pengamatan terhadap perilaku anak-anak di sekelilingnya.

Saya menyadari menulis anak sepertinya genre penulisan yang akan saya tekuni seterusnya walau genre novel romance, teenlit dan non fiksi masih juga menggoda untuk dikerjakan, tapi 2017 ini saya mempunyai resolusi akan menulis cerita anak lebih banyak dari sebelum-sebelumnya.

Sebuah impian saya di tahun 2017 adalah bisa membuat PicBook, semoga dengan dimuatnya tulisan ini akan ada yang mengajak saya untuk berkolaborasi mewujudkan satu resolusi di tahun 2017 menulis Picture Book atau buku bergambar dan bisa menjadi bahan saat saya mendongeng untuk dua puteri saya menjelang tidur dan anak-anak didik saya di sekolahan SD Silaturahim, anak asuh di SD Sabilina dan Sanggar Hijau.

Dan sepertinya saya tetap ingin menjadi bagian di dunia penulis sebagai penulis anak-anak yang produktif yang bisa mengajari anak-anak dimanapun dengan literasi saya dengan senang tanpa menggurui.

Noorhani Dyani Laksmi_shadow teacher dan penulis.


Tulisanku di Koran Berani dan Majalah Berani Agustus – September 2012

Beberapa tulisan di muat di koran Berani dan majalah Berani Edisi Agustus – September

surat info pemuatan

 

Tim Bersepeda Lingkungan di Berani Magazine

Cerita Anak Bersambung Hitungan Kancil dan Buaya


Cernak Di Muat Di Lampung Post 4 Dec 2011

Ini link nya :

http://www.lampungpost.com/dunia-anak/17555-kisah-sepasang-sepatu-.html

 

Enjoy Reader !


Di Muat Majalah MENTARI – Tahun XXVIII Minggu Ke V Mei 2011

Hitungan Kancil Dan Buaya

“Wah kita  harus cepat mencari tempat baru, semua tanaman sayur dan buah semakin menipis,penghuni di sini terlalu padat. Kita harus mencari lahan baru yang lebih menjajikan.” Pikir keluarga kancil yang mulai dihantui rasa takut akan kelaparan.

Memang Hutan Linggar pada awalnya sangat nyaman bagi kehidupan kancil dan binatang-binatang lain tetapi semakin hari yang menetap di daerah hutan Linggar semakin banyak, sehingga kerap kali terjadi perebutan makanan di antara mereka. Hukum rimba yang berlaku siapa yang kuat dan perkasa dialah yang menang dan menguasai daerah.

cerita selanjutnya bisa dilihat di HKDB


Cernak : Dinda Tidak Bodoh!

Beberapa hari ini nilai-nilai Dinda selalu dibawah angka enam, padahal sebelumnya Dinda selalu memperoleh nilai di atas angka delapan. Bunda Fitri heran dengan merosotnya nilai Dinda.

“Dinda, apakah kamu ada masalah Nak ? ” Bunda Fitri menanyakan apa yang mungkin terjadi dengan putri kesayangannya.

“Tidak Bunda, Dinda tidak kenapa-kenapa hanya saja Dinda memang kurang konsentrasi.”

Beberapa kali Bunda Fitri menanyakan, Dinda selalu menjawab tidak ada masalah dengan dirinya, sehingga Bunda Fitri hanya bisa bersabar dan tetap mencari tahu masalah turunnya nilai putri kesayangannya.

Dinda sebenarnya sudah bisa memahami materi apa yang akan menjadi ulangan di kelasnya, tetapi berkali Dinda mencoba membaca tulisan yang ada menjadi buram, dan Dinda semakin kesulitan bila dia pas kebagian duduk di agak belakang dan samping papan tulis. Dinda hanya bisa meraba soal yang tertulis dan menjawab dengan ragu-ragu setipa pertanyaan yang ada tercatat. Sepertinya ada yang tidak beres dengan matanya.

“Aduh kenapa jadi tulisan buram semua ya? aku tidak bisa melihat dengan jelas, jangan-jangan mataku sakit? Aduh bagaimana ini?” Dinda merasa ketakutan sendiri.

Rasa resah menggelayuti pikiran sepanjang pelajaran sekolah, tiba-tiba “Dinda, coba kamu jawab pertanyaan nomor 11.” Tiba-tiba suara Bu Guru Ani mengejutkan lamunannya.

Dinda terkaget-kaget, dan kembali dia hanya melihat sekumpulan semut putih yang berbaris, tulisa di papan tulis benar-benar menjadi kabur kadang nampak menjadi dua tulisan yang bertumpuk.

Dinda mulai membaca dengan gemetar ” Z aaat h h hijjjau daaaun padaa tangaan…”

“Haaahaaahaaa, haaahaaahaaa…huuu.” Suara murid-murid kelas 3 B menertawakan Dinda yang tergagap-gagap membaca dan salah.

“Ah Dinda malu-maluin kelas kita nih!” Seru Dodo yang memang suka usil di kelas.

“Dinda ternyata nggak bisa baca! Anak bodoh” Seru Dodi yang kembaran Dodo, yang sama usil dengan kembar identiknya.

“Dinda, ayo teruskan no 11.” Bu Ani agak keras, tapi juga agak curiga karena Dinda mengernyitkan matanya dan kebingungan.

Dinda malu dan berlari ke luar kelas, matanya terasa panas dan air mata mengalir perlahan.Kesal dan malu di bilang anak bodoh oleh si kembar Dodo Dodi.

Di taman sekolah Dinda duduk menenangkan hatinya.

“Dinda kamu sakit?” Tiba-tiba bu guru Ani sudah ada di sampingnya.

Dinda menggelengkan kepala, “Pasti bu guru Ani akan menanyakan hal yang sama seperi Bunda.” bisik hati Adinda.

“Ibu tahu, kamu bukan anak bodoh. Nilai kamu merosot hampir 2 minggu ke belakang, dan tadi Ibu memperhatikan setiap gerak-gerik kamu. Saat ulangan dan saat pelajaran Ibu. Sepertinya kamu ada masalah dengan penglihatan ya?” Selidik bu guru Ani.

Adinda tidak bisa membohongi apa yang barusan bu guru Ani katakan, karena memang bu guru Ani tahu persis gerak-geriknya di kelas.

“Sudah hampir 2-3 minggu ini mata saya menjadi sangat buram Bu Guru, tapi saya takut bila harus ke dokter dan memakai kacamata seperti orang tua.”

“Dinda, akan lebih parah bila kamu tidak mau berterus terang ke orang tua kamu akan kondisi kamu yang sebenarnya, kamu bisa tidak naik kelas kalau membiarkan hal ini.” Nasehat bu guru Ani.

“Apa yang kamu takutkan sebenarnya hanya ketakutan sesaat, dengan berkaca mata bukan berarti kamu anak cacat kok! juga bukan berarti kamu seperti orang yang sudah tua sayang, itu hanya proses yang terjadi dari diri kita.”

“Maksud Bu Guru?”

“Dinda harus bilang ke Bunda, dan Bunda akan antar kamu ke optik untuk di periksa, pecayalah itu tidak sakit dan bila memang perlu memakai kaca mata pasti Bunda akan memilihkan yang pas buat kamu, biar tetap cantik.” Panjang lebar bu guru Ani menerangkan.

“Tapi Bu Guru nanti aku di ejek-ejek jadi si ‘Bolooor’, Dinda teringat sepupunya yang pakai kaca mata yang tebal sekali, lalu dipanggil si ‘Bolooor’ duh nama yang nggak keren sama sekali di telinganya, apalagi sampai melekat menjadi ‘Dinda Si Bolor’.

“Dinda, siapa yang berani ngjek-ngejek nanti Ibu Guru nasehati. Ibu rasa kamu tidak akan jadi ‘Si Bolor’ asal kamu dengar saran dokter agar lebih menjaga kesehatan mata.” Kata bu Ani yang ikutan geli dengan sebutan Si Bolor barusan terlontar dari Dinda.

Sesampainya di rumah Dinda menyerahkan surat dari bu guru Ani buat bundanya, dan “Ya ampun Dinda, ternyata selama ini kamu ada masalah dengan penglihatan, kenapa setiap Bunda tanya kamu tidak berterus terang ?”

“Hmmm benar kamu takut dijuliki ‘Si Bolor’, seperti kata bu guru Ani.” tanya Bunda Fitri lanjut.

Dinda mengangguk.

“Dinda, Dinda…sudah ayo tidur siang nanti sore kita ke optik.”

Hari Senin yang cerah, Dinda sudah memakai kaca mata dan sekarang tidak lagi kesulitan membaca tulisan yang ada di papan tulis. Tidak ada lagi sekumpulan semut putih juga tulisan dobel membayang, dan teman-teman kelasnya semua memaklumi. Tidak ada panggilan Si Bolor juga. Ternyata cek kesehatan mata juga tidak sengeri bayangan Dinda sebelumnya.

Ilustrasi : Google.com

link :DUMALANA


Cernak : Perlombaan Menyusun Perangko

PERLOMBAAN MENYUSUN PERANGKO

Fay tidak bisa tidur karena besok adalah waktu untuk mengikuti perlombaan menyusun perangko.

Fay tidak ingin kalah dalam perlombaan besok, apalagi mengumpulkan perangko-perangko bekas adalah hobby Fay.

Fay sudah mengumpulkan perangko bekas sejak kelas 2 Sekolah Dasar dan sudah 1 tahun ini Fay berburu perangko bekas. Berawal dari Mbak Icha,  kakak Fay yang mengikuti Najwa sahabatnya suka membeli perangko bekas di toko buku dan berburu perangko bekas dari bekas-bekas surat Eyang jaman dahulu yang menumpuk di gudang menjadikan kegiatan yang menyenagkan bagi Fay.

Perangko-perangko di mata Fay sangat unik, sebuah kertas kecil dengan sejuta cerita. Perangko yang memuat berbagai foto, Fay mengelompokan perangko dalam negeri menurut jenisnya dan untuk perangko luar negeri dikelompokan per negara.

“Sel tukeran perangko Bung Karno 2 Sen dengan 5 Sen dong, aku belum punya koleksi yang 5 Sen.” Usul Fay.

“Baiklah, kebetulan aku ada 2 dan aku tidak punya Bung Karno yang 2 Sen jadi lengkap koleksi kita.” Gisel sahabat Fay setuju. Jadilah 2 sahabat kecil saling barter perangko bekas.

“Fay minggu depan seri apa yang kamu ikutkan perlombaan menyusun perangko ?” Tanya Gisel mengenai perlombaan filatelis.

“Aku masih bingung juga nih, rahasia dong kamu kan juga ikut lomba kan?” Kata Fay.

Gisel tersenyum, “He he iya ya rahasia juga.”

Dan seminggu tiada terasa, Fay berdebar di arena perlombaan menyusun perangko yang diselenggarakan perkumpulan Filatelis Indonesia.

Perlombaan dimulai, Fay mulai menggunting plastik sampul serapih mungkin, digunting segi empat, dan mulai melipatkan plastik ke perangko-nya sehingga perangko menjadi bersampul plastik dan terlindung. Kemudian bagian belakang direkatkan dengan selotip tapi tidak sampai mengenai kertas perangko. Semua dilakukan hati-hati dan cermat.

Waktu terus berjalan tidak terasa 1 jam yang disediakan panitia akan habis. Fay tergesa merampungkan lipatan terakhir dan menyelesaikan susunan terakhir.

Selesailah seri perangko  bunga-bunga kuno tersusun rapi.

Akhirnya pengumuman pemenang dibacakan Fay berdebar menanti.

” Untuk juara pertama di raih oleh Jasmine dengan perangko serial Bung Karno, juara ke dua di raih oleh Naura perangko serial Hasil Bumi Indonesia, dan terakhir juara ke tiga diraih oleh Fayre dengan serial Bunga Indonesia.” Kata MC Acara Filatelis 2011.

“Bunda aku juara ke tiga.”  Antara kecewa tapi senang Fay maju ke depan menerima piala dan piagam penghargaan.

Bunda bertepuk dan memberi Fay selamat dengan senyum bangga.

“Maaf Bunda Fay belum bisa juara pertama.”

“Fay dalam perlombaan jangan hanya mengutamakan menang, karena menang dan kalah adalah selalu menjadi badian dalam pertandingan, utamakan sportifitas dan membangun kepercayaan diri.”

Fay mangangguk-angguk, tetap bertekad untuk terus menekuni hobby nya, karena dengan filatelis Fay banyak memperoleh pengetahuan.

Selamat Pagi Adik-adik : Tekuni yang menjadi hobby karena dengan tekun dan serius akan menghasilkan suatu prestasi.

ilustrasi : koleksi pribadi dan google.com

Menyimak dan comment cerita lain yuk :

http://dumalana.com/2011/04/14/cernak-hitungan-kancil-dan-buaya/#more-4367

Write without boundaries – https://noorhanilaksmi.wordpress.com/
Noorhani Laksmi

Noorhani Laksmi
View all posts by Noorhani Laksmi

Cernak : Di Muat Koran Kompas Minggu 05 Juni 2011

KOMPAS ANAK

HATI YANG TULUS           

Di pinggir kerajaan Tujuh Pelangi hiduplah seorang kakek tua bersama cucu perempuannya yang bernama Mercy. Setiap hari mereka berdua bersama-sama berkebun, menanami halaman rumah dengan berbagai macam bunga yang kemudian diolah menjadi minyak wangi yang sangat harum, kemudian mereka jual di pasar yang terletak ditengah kerajaan.

Kakek Robin namanya, amat menyayangi Mercy…baginya Mercy adalah segala-galanya, apapun yang diinginkan oleh cucunya pasti akan dipenuhi, demikian pula sebaliknya Mercy pun amat menyayangi satu-satunya orang yang amat dekat dan merawatnya sejak kecil.

 Matahari bersinar cerah, terasa hangat, Mercy dan kakek Robin asyik menyiangi tanaman bunganya, tiupan angin yang berhembus terasa segar dan wangi karena banyak sekali bunga-bunga bermekaran dan siap untuk diolah menjadi pewangi tubuh.

“Kakek, Mercy mau memetik bunga mawar yang disebelahsanaya…biar besok kita bisa buat minyak wangi dan lusa kita jual ke pasar…Mercy ingin membeli pakain hangat buat kita…sebentar lagi musim dingin akan tiba…”kata Mercy.

“Iya Mercy, kakek setuju …sekalian kita beli persediaan makan buat musim dingin, Mercy biar kakek saja yang memetik bunga mawar karena duri-durinya kadang sangat kejam, bisa melukaimu…kamu terusin pekerjaan ini saja…” kata kakek Robin.

Mercy pun melanjutkan untuk menyiangi dan kakek Robin mulai memetik bunga mawar yang siap untuk dijadikan minyak wangi.

Berdua mereka asyik bekerja hingga sore hari menjelang, tiba-tiba…

“Aduh..,aduh…Mercy tolong kakek…”

Kakek Robin ternyata tertusuk duri mawar dan langsung pingsan.

“Kakek, Kakek …kenapa…Tolooong..toloong…tolooong…!” teriak Mercy ketakutan.

 Terbayang jika kakeknya meninggal dan harus dengan siapa lagi ia akan hidup…akankah menjadi gadis sebatang kara?

Sudah beberapa hari Kakek Robin tertidur, beberapa tabib sudah dipanggil untuk membangunkan dari tidurnya tapi tak seorangpun yang mampu.

“Kakek bangunlah..Mercy takut, Kakek harus dengan siapa lagi Mercy hidup…Kakek jangan tinggalkan Mercy…” tangis Mercy, sekeras apapun Mercy menangis kakek tercintanya tidak beranjak untuk bangun juga.

Untuk melanjutkan hidupnya Mercy tetap bekerja mengurus tanaman-tanamannya dan mencoba untuk membuat minyak wangi sendiri, walaupun hasilnya tidak sebanyak jika kakek bersamanya, dan dengan sabar merawat kakeknya walaupun dia sendiri tidak tahu harus menunggu berapa dari  mati suri, tak kunjung bangun dari tidurnya.

Setiap malam Mercy selalu berdoa memohon agar diberi kesempatan untuk kesembuhan kakeknya dan membahagiakan sisa hidup kakeknya.

“Kakek apa yang harus Mercy lakukan biar Kakek bis sehat kembali…?” ratap Mercy sambil membelai dahi kakeknya, air matanya terus menetes hingga akhirnya rasa lelah,capai membuat dia tertidur di sebelah kakek Robin.

“Mercy…jangan takut, aku adalah peri Mawar yang tinggal di kebun kamu…jangan bersedih kakekmu tertusuk oleh duri jahat yang dimiliki peri Duri Racun yang memang jahat sekali, Peri Duri adalah saudaraku…sebenarnya sudah lama ia ingin mencelakai kamu atau kakek Robin, dia tidak suka jika mawar-mawar kalian olah menjadi minyak wangi…di negeri kami sebenarnya kami sangat bahagia dan menghargai jika kalian menjadikan kami sesuatu yang bermanfaat. Karena Tuhan memang menciptakan kami untuk memenuhi kebutuhan manusia, tetapi Peri Duri Racun selalu berselisih paham dengan kami, menurut dia lebih baik mawar mati membusuk saja dari pada diolah menjadi minyak wangi, dia tidak suka  jika kalian olah menjadi minyak wangi.

Tetapi percayalah kakek mu akan sembuh dengan cara meneteskan  sari tetes bunga mawar kehidupan. yang harus kamu temukan, saranku pergilah kamu ke arah matahari terbit anakku yang cantik…tidak usah khawatir meninggalkan kakek mu, percayalah aku akan menjaganya…

Mercy terbangun dari mimpinya, rasanya apa barusan diucapkan oleh peri Mawar hanya satu-satunya jalan untuk menyembuhkan kakeknya.

Mercy sudah bertekad untuk menemukan sari tetes bunga mawar kehidupan demi kesembuhan kakek tercinta.

Pagi sekali matahari terbit, Mercy mulai melakukan perjalanan ke arah matahari terbit, panas, dingin yang silih berganti menerpa tubuhnya tak dihiraukan hingga pada suatu hari ia berpapasan dengan seorang anak muda yang kelaparan dan compang-camping pakainnya.

“Bagi sedikit makananmu …aku sangat lapar…, sudah  tiga hari ini cuaca yang dingin dan hujan membuat aku sakit dan tidak menemukan apapun yang bisa aku makan…hampir semua pintu rumah aku ketuk…,tak seorangpun mau menolongku…” iba pemuda compang-camping tersebut.

Sekilas Mercy menatap pemuda yang ada di depannya, sepertinya masih muda tetapi wajah dan pakainnya sangat kotor, bau lagi! Tapi Mercy mersa kasihan dengan wajahnya yang sangat memelas dan kelaparan.

“Jangan khawatir aku masih ada bekal…makanlah…” kata Mercy.

Pemuda compang-camping, langsung melahap habis bekal Mercy tanpa si

“Teriam kasih gadis yang pemurah hati, kalau boleh tahu mau kemanakah kau pergi?” tanya pemuda tersebut.

Mercy pun menceritakan apa yang menimpa kakeknya dan harus menemukan sari tetes bunga mawar kehidupan yang dia sendiri masih bingung dimana akan menemukannya.

“Yah aku pernah mendengar sari tetes bunga mawar kehidupan yang kau maksud sepertinya tumbuh di lembah  Alpenia terletak dimana matahari terbit, berjalanlah terus menuju matahari terbit…aku hanya bias mendoakan kamu akan menemukanny

Mercy terasa mempunyai kekuatan dan semangat baru karena pemuda itu meyakinkan jalan yang ditempuhnya sudah benar, walau bekalnya habis.

 Menopang hidupnya adalah air minum yang tersisa ….

Ditengah perjalan …tiba-tiba …”Nak tolong Nenek…haus sekali rasanya…dari kemarin nenek tidak menemukan setetes airpun…” rintih seorang.

“Oh kasihan sekali…minumlah Nek…” tawar Mercy.

Tiba-tiba Mercy bertemu dengan seorang nenek yang akan mati kehausan, dan Mercy juga menceritakan masalah yang sedang dihadapinya.

“Alangkah bahagianya kakekmu mempunyai cucu yang cantik dan berhati tulus, lanjutkan perjalananmu Nak, Nenek percaya kamu akan menemukan sari tetes bunga mawar kehidupan”

Angin bertiup semakin kencang rasa lapar, haus ditahannya, hanya kain hangat yang melindungi Mercy dari terpaan alam…

Kembali Mercy bertemu dengan kakek renta …”Nak tolong Kakek sangat kedinginan…” ratap seorang kakek tua yang menggigil kedinginan.

Tanpa ragu-ragu Mercy langsung memakaikan kain hangatnya kepada kakek tua tersebut, dan melanjutkan perjalanan tanpa bekal apapun…semuanya sudah habis…”Terima kasih ya Nak, kakek merasa lebih hangat…lanjutkan perjalananmu…doa kakek menyertaimu…”

Lapar, haus dan dingin menyerang Mercy hingga rasanya sudah tidak sanggup lagi untuk berjalan…akhirnya di tepi sungai dan diseberangnya ada sekuntum mawar biru yang memancarkan keemasan…”Oh itukah mawar kehidupan yang aku cari…, indah sekali sinar yang dipancarkan…”

Mercy menyeberangi sungai tapi badannya sangat lemah, ia pun tak dapat menahan arus sungai yang deras, dan Mercy hanyut tak sadarkan diri…namun dia sekilas teringat ada  tangan yang sangat kuat menariknya dari air.

Mercy tersadar dan tidak tahu dimana dia berada, tempat tidurnya sangat indah dan baju yang dia pakai juga sangat indah bak puteri raja.

“Dimana aku…aku harus menemukan sari tetes bunga mawar kehidupan.

“Tenanglah Mercy kamu ada di istana aku, jangan khawatir kakekmu akan sembuh karena kamu telah berhasil menemukan sari tetes bunga mawar kehidupan dengan berbagai ujian…” kata pemuda tampan.

“Siapakah kamu sebenarnya, dan kenapa aku jadi di sini…”

“Ingatlah aku pemuda kelaparan yang kamu tolong dalam perjalananmu, aku sebenarnya seorang pangeran yang sedang mencari permaisuri yang berhati tulus…seorang nenek dan kakek yang kamu tolong mereka adalah raja dan ratu orang tuaku…., aku ikuti perjalananmu sampai akhirnya kamu menemukan yang kamu cari dan aku menolongmu ketika kamu hanyut…terimalah sari tetes bunga mawar kehidupan ini untuk kesembuhan kakekmu.”

“Oh terima kasih…” mata Mercy berbinar karena kakeknya akan sembuh dan akan bersama lagi.

Setelah ditetesin dengan sari tetes bunga mawar kehidupan, kakek Robin bangun dari tidur panjangnya. Mercy sangat berbahagia karena dapat hidup kembali bersama kakek yang sangat dicintai, kini dia juga mempunyai banyak saudara setelah dipersunting Pangeran Alfon sang pemuda compang-camping yang sudah ditolongnya.

 Karena berbudi tulus dalam menolong orang Mercy menjadi permaisuri yang dicintai oleh rakyatnya (Bunda Nenny-Cimanggis-Bogor-rewrite 30072010)