Hobi

Telkomsel Kompasiana Blogspot

Dolanan Bocah Yang Semakin Jarang

Nama-nama permainan saat saya kecil masih teringat jelas dalam memory, masa kecil adalah msa terindah saat hidup belum terbebani dengan tanggung jawab. Permainan seperti dengklek, sandemande. unclang, gobak slodor, bekel, dakon atau congklak, berbagai mainan dari wayang gambar.

Permianan-permainan itu adalah menemani masa kecilku, yang sekarang aku bandingkan dengan perkembangan putra-putriku yang pasti semakin tidak mengenal permainan jaman ibu dan ayahnya.

Ah anak sekarang semua terprogram serba mesin, dunia maya dan imajinasi virtual. Jarang sekali saat ini terutama  kita kaum yang hidup di metropolitan atau kota-kota besar lain, saat bulan purnama di riuhkan dengan anak-anak yang bermain petak umpet di halaman depan rumah atau hanya duduk-duduk di depan sambil berdendang “Yo prokonco dolanan ing njobo, padhang wulan…wulane kaya rino, rembulane-ne sing awe-awe ngelingake ojo padha turu sore.” (sekilas inti dari lagu jawa ini adalah ayo teman-teman bermain di luar saat bulan purnama, yang mengingatkan kita untuk jangan tidur sore hari.

Masih aku ingat permainan masa bocah yang sering aku mainkan bersama teman-teman saat sore hari atau liburan di rumah .

A. Permainan di Luar Rumah seperti :

1. Dengklek (loncat dengan satu kaki diangkat)

Permainan perorangan atau berpasangan, dengan menggambar 6 kotak mendatar di tanah dengan kayu atau serpihan batu, bisa juga dengan kapur tulis bila kita bermainnya di lantai. Bila berpasangan maka di buat 1 lagi yang sama berdempelan. Kita sendiri memegang pecahan genting untuk di lempar pada setiap kotak, satu persatu kita lempar pecahan genting pada 6 kotak yang tersedia, kita akan berhenti main bila pecahan genting yang kita mainkan tidak pas masuk ke dalam area kotak yang satu persatu kita lempar setiap kali kita selesai mengengklekan kaki kita dari dari kotak ke kotak lain atau pas melempar menyentuh garis kotakan. Pada kotak yang terdapat pecahan genting (kita sebut gaco) maka kita harus loncat. Begitu seterusnya samapi kita selesaikan 6 kotak yang ada dilanjutkan dengan menyusur. Menyusur itu pecahan genting dilempar diluar kotak tertinggi lalu kita posisi engklek, kita giring pecahan genting memasuki kotak perkotak, tidak boleh berhenti pas garis batas kotak, bila kena garis maka kita mati dan harus mengulang setelah lawan kita meneruskan bagian  permainannya sendiri.

2.Sande Mande (Engklek dengan kaki di taruh batu untuk dilemparkan)

Permainan perorangan, dengan cara memasangkan sebuah batu yang agak besar Kemudian kita bergantian menembakan batu yang ada di kaki kita kea rah batu yang terpasang dengan jarak lemparan pecahan genting yang sebelumnya kita lempar dari batu yang terpasang. Lemparan terjauh dialah yang bermain untuk menembakan batu dikakinya ke batu yang terpasang. Satu, dua,tiga…Deeer batu di punggung kaki dengan engklek  bisa membentur batu besar yang terpasang berarti dapat point.

 3.Unclang

Unclang adalah permainan perorangan dengan karet, karet yang biasa dipakai untuk mengikat plastik. Permainan ini kita biasanya mencari tembok yang ada sisa tempatnya. Bukan tembok full, dulu saya kerap bermainan di surau kampung karena pinggir surau ada space selebar karet plastik. Menentukan pemain awal adalah dengan melempar karet yang jadi gaco kita, paling deket dengan tembok bahkan bisa tinggal di pas tembok maka dialah yang mempunyai kesempatan untuk memperoleh karet plastik dengan melempar karet plastic yang kita kumpulkan terlebih dahulu. Misalnya sekali bermain kita kumpulkan per-orang 20 karet plastick, juka bermain 3 orang maka orang yang 1 mendapat kesempatan bermain dia akan mendapat kesempatan banyak untuk memperoleh karet tersebut, orang ke 2 sisa dari karet yang jatuh dari space tembok dan seterusnya hingga 60 karet habis.

 4.Gobak Slodor (Permainan Beregu)

Bermain Gobak Slodor dulu kerap aku mainkan di lapangan bulu tangkis karena pas banget dengan space yang kita perlukan , biasanya setiap regu terdiri dari  5 orang. Penjaga garis pintu 1, 2, 3,4 yang mendatar dan 5 adalah 1 orang yang memegang hak berlari dari ujung ke ujung (slodor). Permainan yang cukup melelahkan karena setiap orang harus menjaga lawannya agar masuk ke setiap labirin yang harus dijaga, bila salah satu lolos bisa melewati 1 labirin ke labirin hingga akhirnya bisa balik ke pintu start maka dikatakan gol, mulai angka penilain tercetak. Salah satu permainan yang memerlukan kekompakan dan kehati-hatian dalam memasuki labirin karena bila lawan bisa memegang bagian tubuh kita maka akan gugur, dalam hal ini lawan yang memegang slodor biasanya orang yang lincah karena setiap saat dia bisa berlari menangkap orang yang lengah sesuai hak dia bisa berlari dari garis ujung start ke akhir ujung labirin.

B.Permainan Dalam Rumah seperti :

1.Bekel (bola bekel dan kuningan kuda)

Permainan bekel menggunakan bola berwarna-warni yang terbuat dari karet dan biji berbentuk khusus yang terbuat dari kuningan. Permainan lebih dimainkan oleh anak-anakperempuan. Bekel merupakan permainan melontarkan bola ke atas dan menangkapnya kembali. Tetapi pada saat bersamaan harus mengambil atau mengubah posisi biji-biji yang ada sesuai peraturan tingkat kesulitan yang dijalankan.

2.Dakon

Dakon adalah suatu permainan tradisional. Di luar Jawa, permainan ini lebih dikenal dengan nama congklak. Permainan dakon dilakukan oleh dua orang. Pada papannya terdapat dua baris dengan 5,6,7 atau 9 lobang kecil yang saling berhadapan dan 2 lobang besar di kedua sisinya. Dalam permainan mereka menggunakan ( jumlah lobang kecil x 7 ) buah biji. Umumnya bijinya adalah kerang, batu-batuan atau kelereng.

Itulah sekelumit dolanan masa bocah dulu, yang semakin jarang kita jumpai. Bila ada kesempatan dengan anak aku kenalkan mereka permainan-permainan ini, semoga bisa terlestarikan.

Ilustrasi : diunduh dari google

Advertisements
Hobi

Hobi: Sehat dan Antik

TULISAN PERNAH DIMUAT DI HARIAN GEMA

(Rubrik khusus dari pelajar, oleh pelajar dan untuk pelajar)

3 OKTOBER – 1993

Masih berkaitan saat usia remaja (share collection)

KOLOM : OPINI – HOBY

SEHAT DAN ANTIK

Sepeda unta beberapa kurun waktu ini sempat pudar, tergeser oleh hadirnya sepeda-sepeda balap yang beraneka ragam dari Federal, Mustang, Phonix, Mountain, Jembolai, Comando, Bre-ak Stone dan masih banyak lagi merek-merek beserta harga yang tergantung dari mutu sepeda tersebut.

Dengan segala perlengkapan bentuk yang memang eksklusif membuat orang-orang enggan untuk mengayuh sepeda unta yang polos tanpa aksesoris pengubah berat dan ringan kayuhan.

Dan pit unta ini semakin nyata pudar, kenyataan setiap ada bicyle sport event sepeda unta nggak nongol. Padahal panitia tidak mengharuskan peserta memakai federal dan lainnya itu. Berbagai alasan dikemukakan gengsilah, kunolah, malulah gak mengikuti jaman dan banyak alas an.

Kemajuan jaman yang semakin modern, mengganti segala usang diganti dengan yang baru, memang harus begini. Orang-orang yang tetap setia sepeda unta semakin jarang, paling orang-orang yang terhitung tidak muda, dan mereka para pedagang jajan pasar, sayuran de el el.

Ah, tapi itu hanyalah cerita lalu. Ternyata kemajuan jaman tidak membuat sepeda unta terpuruk. Sepeda unta juga seperti pakaian, di mana orang mulai jemu dengan mode yang berlangsung maka mereka mencari hal-hal yang bar.

Kesan yang antic, klasik membuat daya tarik sendiri. Dan mendorong kita ingin kembali memakainya.

Ternyata sepeda unta tidak menurunkan gengs, tidak juga kampungan. Dengan bersepeda unta tubuh jadi sehat, ramai dan pastinya polusi jadi berkurang. Sepeda unta yang antic ini ngetrend kembali rasanya ada perasaan khusus. Nggak Cuma pelajar yang ber-unta ria, penyanyi juga.

Contohnya Ismi Aziz dengan lagunya yang bertitle Kasih atau Franky dengan lagunya Langitpun Hitam.

Riilnya hal-hal yang penting dengan bersepeda unta menjadikan tubuh kita sehat, bisa juga membuat keakraban dengan teman-teman sesame pengendara sepeda unta atau pun bukan yang membawa kesan atau memori indah, dan keantikannya tak membuat gengsi kita turun. Nggak lah ya…

Akhire, met bersepa unta lah….

By :

Noorhani Dyani L (Nenny)

SMAN I – A2 Purbalingga

Jl MT Haryono

Purbalingga 53312