Kejiwaan

10 Cara untuk Membesarkan Anak yang Tidak Pemarah

Written by Pelangi TC
Monday, 17 October 2011 17:18
   

Menjadi orangtua bukanlah pekerjaan yang mudah, semua orangtua pasti setuju dengan pernyataan ini. Terutama jika sudah berhubungan dengan perkembangan emosional anak-anak kita. Ada sepuluh cara yang bisa Anda lakukan untuk membesarkan anak-anak yang tidak pemarah :

1. Menjadi seorang pelatih emosional.
Anda bisa menjadi pelatih yang hebat untuk anak Anda. Ingatlah tips berikut di dalam pikiran Anda:
– Buatlah hal ini menjadi tujuan utama. Ingatlah selalu bahwa anak yang tidak pemarah, biasanya akan tumbuh menjadi orang dewasa yang dewasa secara emosional.
– Selalu aktif dan bersedia membantu saat Anda berinteraksi dengan anak Anda.
– Bersikap proaktif.
– Tekankan hal-hal yang positif.
– Selalu fokus pada solusi daripada masalahnya.

2. Mulailah sedini mungkin dan berbicara kembali.
Perlu diingat, dalam membesarkan anak yang tidak pemarah, tidak ada kata ‘terlalu cepat’. Ini dapat dimulai pada saat anak berusia 3 bulan, saat bayi mulai bisa mengkomunikasikan emosi tentang apa yang mereka inginkan. Itulah saat dimana Anda perlu untuk berbicara kembali kepada anak Anda. Kata-kata dan nada suara Anda yang menenangkan memberi arti bahwa Anda nyaman dengan emosi Anda dan anak. Jangan tunjukkan bahwa Anda takut dengan kemarahan anak Anda. Hal itu akan membuat anak Anda menyalahgunakan kemarahan yang ia miliki.

3. Ciptakan “waktu mendidik”.
Jangan menunggu sampai anak Anda sedang marah untuk mengajarkannya cara mengontrol emosi. Ambil inisiatif dan buatlah kesempatan sehingga mereka dapat belajar untuk mengatasi perasaan-perasaan negatif. Anda bisa menciptakan “waktu mendidik” dengan cara mengajak anak Anda bermain sebuah game. Saat ia mengalami kekalahan atau merasa dicurangi, itulah saat dimana Anda bisa memancing mereka untuk mengkomunikasikan emosi yang mereka rasakan.

4. Jadilah contoh yang positif.
Perlu diingat, Anda tidak dapat mengajarkan sesuatu yang tidak dapat Anda lakukan. Maksudnya, jika Anda sendiri tidak dapat mengontrol emosi, bagaimana Anda bisa mengharapkan anak Anda dapat melakukannya? Jika Anda ingin anak-anak Anda tumbuh menjadi seorang dewasa tanpa tabiat buruk, cobalah untuk menjadi orangtua yang penyayang, hangat, dekat, lembut, tenang, dan santai.

5. Letakkan “aku” di dalam emosi.
Selalu koreksi anak Anda saat ia mengatakan sesuatu seperti, “dia bikin aku marah!” sebagai gantinya, ajari ia untuk mengatakan, “aku marah saat dia …” ini adalah inti dari pengontrolan diri, yaitu bertanggung jawab atas emosi yang kita rasakan. Anak-anak harus mengerti sedini mungkin bahwa tidak ada siapapun yang memiliki kekuatan untuk membuat mereka merasakan sesuatu, baik itu rasa takut, marah, sedih, ataupun gembira. Kekuatan tersebut berada di dalam diri mereka sendiri.

6. Pelabelan perasaan yang tepat.
Sebelum anak Anda dapat mengekspresikan perasaannya dengan cara yang tepat dan membangun, ia perlu sebuah kamus emosi. Anda perlu mengajarinya untuk mendeskripsikan sejelas mungkin apa yang sebenarnya ia rasakan, dan lalu membantunya menemukan label / nama yang tepat dengan emosi yang dirasakannya.

7. Identifikasi penyebab.
Jangan hanya berpuas hati ketika buah hati Anda dapat mengidentifikasi dengan tepat apa yang sedang ia rasakan; selanjutnya tanyakanlah kepadanya, mengapa ia merasakan perasaan itu. Anda mungkin sering berpikir bahwa Anda mengetahui mengapa anak Anda marah, tetapi seringkali Anda salah. Jangan berasumsi. Bertanyalah.

8. Ajari anak teknik pemecahan masalah.
Mengatasi emosi negatif merupakan keterampilan yang harus dipelajari oleh anak Anda. Mereka membutuhkan bantuan untuk mengatasi perasaan negatif dan juga penyebabnya. Fokuskan pemecahan masalah dengan cara yang konstruktif dan tidak agresif.

9. Pilihlah alternatif ketiga.
Ada dua alternatif ketika seseorang sedang menghadapi sebuah masalah / emosi negatif. Ini disebut dengan fight-or-flight response. Flight berarti mereka menghindar dari sumber kemarahan dan memilih untuk tidak berurusan dengan hal tersebut. Fight berarti mereka menyerang sumber kemarahannya secara langsung, baik secara fisik maupun verbal. Alternatif ketiga yang disarankan disini adalah “pergi menghindar di awal, tapi kemudian kembali lagi untuk membahas masalahnya.”

10. Ajari anak perbedaan antara “menginginkan” dan “mendapatkan”.
Anak-anak perlu diajari sedini mungkin perbedaan antara “menginginkan sesuatu” dan “mendapatkan sesuatu”. Sesekali mengatakan ‘tidak’ kepada anak Anda adalah sesuatu hal yang perlu. Kadang, anak Anda akan menerima kata ‘tidak’ dari seseorang, dan ia perlu mengetahui bagaimana merespon ketika ia tidak mendapatkan apa yang ia inginkan.

(disadur dari Anger Management for Dummies – W. Doyle Gentry, PhD

sumber penulisan (link) : TCPELANGI

Advertisements
Kejiwaan

Arti Ayah Untuk Seorang Gadis Kecil

Aku mendapatkan dari status facebook dan terusterang ini membuatku terharu. Seharusnya kisah ini dalam bahasa Inggris tetapi aku lebih suka mengartikannya dalam bahasa kita, karena putriku harus ikut membacanya agar ia tahu betapa beruntungnya ia masih memiliki ayah.

Gadis kecil itu sedang bersiap-siap ke sekolah, ia menghabiskan sarapan paginya penuh semangat. Hari ini adalah hari dimana ia harus berbicara tentang ayah. Ibu kelihatan kuatir karena tahu apa yang hadapi putrinya nanti. Ia berbisik agar si kecil yang ceria tak usah masuk sekolah saja hari ini, tetapi si anak berkuncir dua itu hanya tertawa dan berkata ini’”ini kesempatan memberitahu teman-temanku siapa sebenarnya ayahku, ibu”

Mereka tiba di ruang pertemuan sekolah. Ruangan itu ramai dengan para ayah yang menemani putra-putri mereka, malah beberapa dari ibu mereka juga ikut mendampingi. Hanya si gadis kecil yang duduk bersama ibunya. Ibunya menunduk menyembunyikan kegalauan sementara si putri sibuk menyapa teman-temannya dengan riang.

Satu persatu anak-anak maju ke depan, bercerita tentang ayah mereka. Si gadis kecil memperhatikan dengan seksama membuat si ibu semakin gundah. Tangannya yang gemetar tak mampu mengusir kekuatiran menunggu giliran si gadis kecil.

Akhirnya tibalah giliran si gadis kecil. Saat ia berdiri, sang ibu sempat ragu namun si gadis kecil meraih tangannya dan mengajaknya ke depan. Mereka berjalan di tengah pandangan sinis orang-orang yang berbisik “ayah macam apa yang tak bisa menemani putrinya di hari sepenting ini.” Si ibu duduk di mana seorang ayah seharusnya duduk menemani si gadis kecil dan di depannya si gadis kecil memulai kisahnya tentang ayah.

“Ayah yang kukenal bukanlah ayah yang menemaniku bermain bola, bukan ayah yang bisa menciumku setiap saat dia inginkan, bukan ayah yang bisa kusambut ketika ia pulang kerja, juga bukan ayah yang bisa membelaku saat aku diganggu anak yang nakal, dia  juga bukan ayah yang bisa menemaniku saat aku sedang sakit, bahkan ayah tak pernah mengucapkan selamat ulang tahun untukku walaupun sekali saja. Tetapi bukan karena ayahku jahat atau terlalu mementingkan pekerjaannya, ayahku mungkin terlalu baik hingga Tuhan ingin ayah bersamaNya. Aku tak membenci Tuhan karena aku tahu Tuhan sangat sayang padaku dan Ayah, Tuhan pasti punya rencana lain untuk kami hingga ia memisahkan aku dan ayah.”

Gadis kecil terdiam dan memandang kesekelilingnya, menatap wajah-wajah di hadapannya, “Ayah memang tak pernah ada di sisiku, tapi ia menemaniku setiap saat. Setiap kali aku bersedih, aku hanya tinggal menutup mataku sejenak dan memanggil namanya. Ia akan datang meskipun cuma aku yang tahu karena hatiku merasakannya. Ketika aku rindu menatap wajahnya, foto ayah akan menemaniku dalam tidur. Ayah memang tak bisa mengajariku bermain ataupun belajar, tapi ia mengajariku menjadi anak yang mandiri karena aku tak punya ayah yang membantuku, aku belajar menjadi anak yang berani karena tak ada ayah yang membelaku, aku belajar menjadi anak berprestasi karena aku ingin ayahku bangga di surga sana, aku ingin berhasil menjadi dokter karena aku ingin ibu punya alasan untuk melanjutkan hidupnya.”

Lalu ia diam sejenak, menutup mata dan berbisik, “aku beruntung karena ada ibu yang menemaniku, yang membantuku mengenal ayah sejak aku bayi dan aku tahu ayah ada di sini, melihatku dengan senang karena aku sudah memperkenalkannya pada semua agar semua orang tahu betapa berartinya ayah bagiku. Suatu hari nanti jika aku bisa bertemu dengannya di surga, aku akan berkata aku mencintainya dan selalu bangga menjadi anaknya.”

Semoga Para ayah sekarang menyadari betapa berartinya kehadiran mereka untuk anak-anak mereka. :)
 
Sumber link : RUMAHBUNDA
Kejiwaan

Rahasia 90 / 10

Rahasia 90/10

Rahasia 90/10 memang luar biasa!

Apa Rahasia 90/10?

10% kehidupan dibuat oleh hal-hal yang terjadi terhadap kita.

90% kehidupan ditentukan oleh bagaimana kita bereaksi / memberi respon.

Apa artinya?

Kita sungguh-sungguh tidak dapat mengontrol 10% kejadian-kejadian yang menimpa kita. Kita tidak dapat mencegah kerusakan mobil. Pesawat mungkin terlambat, dan mengacaukan seluruh jadwal kita.

Seorang supir mungkin menyalip kita di tengah kemacetan lalu-lintas. Kita tidak punya kontrol atas hal yang 10% ini.

Yang 90% lagi berbeda. Kita menentukan yang 90%!

Bagaimana? Dengan reaksi kita. Kita tidak dapat mengontrol lampu merah, tapi dapat mengontrol reaksi kita.

Jangan biarkan orang lain mempermainkan kita, kita dapat mengendalikan reaksi kita!

Mari lihat sebuah contoh.

Engkau sedang sarapan bersama keluarga. Adik perempuanmu menumpahkan secangkir kopi ke kemeja kerja mu. Engkau tidak dapat mengendalikan apa yang telah terjadi itu.

Apa yang terjadi kemudian akan ditentukan oleh bagaimana engkau bereaksi. Engkau mengumpat. Engkau dengan kasar memarahi adik mu yang menumpahkan kopi. Dia menangis. Setelah itu, engkau melihat ke istri mu, dan mengkritiknya karena telah menaruh cangkir kopi terlalu dekat dengan tepi meja.

Pertempuran kata-kata singkat menyusul.

Engkau naik pitam dan kemudian pergi mengganti kemeja. Setelah itu engkau kembali dan melihat adik perempuan mu sedang menghabiskan sarapan sambil menangis dan siap berangkat ke sekolah. Dia ketinggalan bis sekolah.

Istrimu harus segera berangkat kerja. Engkau segera menuju mobil dan mengantar adik mu ke sekolah. Karena engkau terlambat, engkau mengendarai mobil melewati batas kecepatan maksimum. Setelah tertunda 15 menit karena harus membayar tilang, engkau tiba di sekolah. Adikmu berlari masuk. Engkau melanjutkan perjalanan, dan tiba di kantor terlambat 20 menit, dan engkau baru sadar, bahwa tas kerjamu tertinggal.

Hari-mu begitu buruk.

Engkau ingin segera pulang. Ketika engkau pulang, engkau menemukan ada hambatan dalam hubungan dengan istri dan adikmu.

Kenapa?

Karena reaksimu pagi tadi.

Kenapa hari mu buruk?

a) Karena secangkir kopi yang tumpah?

b) Kecerobohan adikmu?

c) Polisi yang menilang?

d) Karena dirimu sendiri?

Jawaban-nya adalah D.

Engkau tidak dapat mengendalikan tumpahnya kopi itu. Bagaimana reaksi-mu 5 detik kemudian itu, yang menyebabkan hari mu Menjadi buruk.  Ini yang mungkin terjadi jika engkau bereaksi dengan cara yang berbeda. Kopi tumpah di kemejamu. Adikmu sudah siap menangis. Engkau dengan lembut berkata “Tidak apa-apa sayang, lain kali kamu lebih hati-hati ya”.

Engkau pergi mengganti kemejamu dan dan tidak lupa mengambil tas kerjamu. Engkau kembali dan melihat adikmu sedang naik ke dalam bus sekolah. Istrimu menciummu sebelum engkau berangkat kerja.

Engkau tiba di kantor 5 menit lebih awal, dan dengan riang menyalami Para karyawan. Atasanmu berkomentar tentang bagimana baiknya hari ini buat mu.

Lihat perbedaannya. Dua skenario yang berbeda. Keduanya dimulai dari hal yang sama, tapi berakhir dengan berbeda.

Kenapa?

Karena REAKSI kita.

Sungguh kita tidak dapat mengontrol 10% hal-hal yang terjadi. Tapi yang 90% lagi ditentukan oleh reaksi kita.

From : Cintaku Dewi (dosen – pengajar di Yogyakarta)

Kejiwaan

Cintailah Apa Adanya

Suami saya adalah seorang insinyur, saya mencintai sifatnya yang alami dan Saya menyukai perasaan hangat yang muncul dihati saya ketika saya bersandar di bahunya yang bidang.

Tiga tahun dalam masa perkenalan, dan dua tahun dalam masa pernikahan,saya harus akui, bahwa saya mulai merasa lelah, alasan-alasan saya mencintainya dulu telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan. Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-benar sensitif sertaberperasaan halus. Saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak yang menginginkan permen.

Tetapi semua itu tidak pernah saya dapatkan.

Suami saya jauh berbeda dari yang saya harapkan. Rasa sensitif-nya kurang. Dan ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang romantis dalam pernikahan kami telah mementahkan semua harapan saya akan cinta yang ideal.

Suatu hari, saya beranikan diri untuk mengatakan keputusan saya kepadanya, bahwa saya menginginkan perceraian.

“Mengapa?”, dia bertanya dengan terkejut. “Saya lelah, kamu tidak pernah bisa memberikan cinta yang saya inginkan”. Dia terdiam dan termenung sepanjang malam di depan komputernya, tampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu, padahal tidak.

Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang bisa saya harapkan darinya? Dan akhirnya dia bertanya, “Apa yang dapat saya lakukan untuk merubah pikiranmu?”.

Saya menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan pelan, “Saya punya pertanyaan, jika kau dapat menemukan jawabannya di dalam hati saya, saya akan merubah pikiran saya: Seandainya, saya menyukai setangkai bunga indah yang ada di tebing gunung dan kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan mati.

Apakah kamu akan melakukannya untuk saya?” Dia termenung dan akhirnya berkata, “Saya akan memberikan jawabannya besok.”. Hati saya langsung gundah mendengar responnya.

Keesokan paginya, dia tidak ada di rumah, dan saya menemukan selembar kertas dengan oret-oretan tangannya dibawah sebuah gelas yang berisi susu hangat yang bertuliskan …

“Sayang, saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi ijinkan saya untuk menjelaskan alasannya.” Kalimat pertama ini menghancurkan hati saya. Saya melanjutkan untuk membacanya.

“Kamu bisa mengetik di komputer dan selalu mengacaukan program di PC-nya dan akhirnya menangis di depan monitor, saya harus memberikan jari-2 saya supaya bisa membantumu dan memperbaiki programnya. Kamu selalu lupa membawa kunci rumah ketika kamu keluar rumah, dan saya harus memberikan kaki saya supaya bisa mendobrak pintu, dan membukakan pintu untukmu ketika pulang. Kamu suka jalan-jalan ke luar kota tetapi selalu nyasar di tempat-tempat baru yang kamu kunjungi, saya harus menunggu di rumah agar bisa memberikan mata saya untuk mengarahkanmu. Kamu selalu pegal-pegal pada waktu “teman baikmu” datang setiap bulannya, dan saya harus memberikan tangan saya untuk memijat kakimu yang pegal. Kamu senang diam di rumah, dan saya selalu kuatir kamu akan menjadi “aneh”.

Dan harus membelikan sesuatu yang dapat menghiburmu di rumah atau meminjamkan lidahku untuk menceritakan hal-hal lucu yang aku alami. Kamu selalu menatap komputermu, membaca buku dan itu tidak baik untuk kesehatan matamu, saya harus menjaga mata saya agar ketika kita tua nanti, saya masih dapat menolong mengguntingkan kukumu dan mencabuti ubanmu. Tanganku akan memegang tanganmu, membimbingmu menelusuri pantai, menikmati matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan warna-warna bunga yang bersinar dan indah seperti cantiknya wajahmu.

“Tetapi sayangku, saya tidak akan mengambil bunga itu untuk mati. Karena, saya tidak sanggup melihat air matamu mengalir menangisi kematianku. Sayangku, saya tahu, ada banyak orang yang bisa mencintaimu lebih dari saya mencintaimu. Untuk itu sayang, jika semua yang telah diberikan tanganku, kakiku, mataku, tidak cukup bagimu. Aku tidak bisa menahan dirimu mencari tangan, kaki, dan mata lain yang dapat membahagiakanmu.”

Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat tintanya menjadi kabur, tetapi saya tetap berusaha untuk membacanya.

“Dan sekarang, sayangku, kamu telah selasai membaca jawaban saya. Jika kamu puas dengan semua jawaban ini, dan tetap menginginkanku untuk tinggal di rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang sedang berdiri disana menunggu jawabanmu. Jika kamu tidak puas, sayangku, biarkan aku masuk untuk membereskan barang-barangku, dan aku tidak akan mempersulit hidupmu. Percayalah, bahagiaku bila kau bahagia.”

Saya segera berlari membuka pintu dan melihatnya berdiri di depan pintu dengan wajah penasaran sambil tangannya memegang susu dan roti kesukaanku.

Oh, kini saya tahu, tidak ada orang yang pernah mencintai saya lebih dari dia mencintaiku.

Itulah cinta, di saat kita merasa cinta itu telah berangsur-angsur hilang dari hati kita karena kita merasa dia tidak dapat memberikan cinta dalam wujud yang kita inginkan, maka cinta itu sesungguhnya telah hadir dalam wujud lain yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Seringkali yang kita butuhkan adalah memahami wujud cinta dari pasangan kita, dan bukan mengharapkan wujud tertentu.

Kejiwaan

Nobody Perfect!

Original Tulisan pernah di muat di Cita Cinta Oktober 2001 di kolom Jejak Pendapat

MENCOBA BEREMPATI

Yang namanya kekurangan dalam kepribadian memang sulit untuk dihindarkan. Mungkin hanya bisa ditoleransi. Itupun kalau kita benar-benar memahami apa yang menjadi kekurangan pada diri kita . Untuk bisa menyamarkan kekurangan itu, pertama kita harus menyadari bahwa kita mempunyai sifat yang belum tentu bisa diterima oleh semua orang. Kita harus ekstra hati-hati dalam bersikap, berpikir sebelum bertindak.

Semua akhirnya kembali pada diri kita untuk selalu pandai menempatkan sifat-sifat yang kita miliki dan mungkin bisa dijadikan pertimbangan, kita harus selalu berempati dengan apa yang ada. Siapa tahu itu bisa meredam kekurangan kita, yang mungkin selalu menguasai orang lain dan tidak mau mengalah. Jadi solisinya adalah pengendalian diri dengan selalu mencoba mengerti posisi orang lain dan punya niat baik bahwa segala sesuatu yang kita lakukan bukan untuk merugikan orang lain.Oke! (Nenny-Cirebon)

Review-Tulisan “Mencoba Berempati”

Masih seputar mengumpulkan tulisan2 yang sempat terselip … lama karena kesibukan kerja tidak sempat menekuni hobby lama, sebenernya saya ingin menulis lebih dalam mengenai diri kita dan orang lain that’s real live….” NO BODY PERFECT!”.

Dalam kehidupan kita tidak akan menjumpai pribadi orang yang sempurna..karena hakikatnya kesempurnaan hanyalah Dia… Allah SWT pencipta kita.

Kesempurnaan dan kekurangan fisik atau pun attitude pada diri kita adalah sesuatu yang harus tetap kita syukuri. Apapun wujud diri kita itu adalah anugerah yang telah di berikan Allah kepada kita.

Apabila fisik lahir kita secara keseluruhan jelek, itu pasti kata orang lain …tapi dalam diri kita (tidak akan terima dibilang Jelek) apalagi orang tua yang melahirkan kita, jadi tetap yakin kalau kita tidak jelek, itu memberi keyakinan bahwa Allah sudah menciptakan bentuk kita sebaik-baiknya. Sangat disayangkan beberapa orang yang masih suka mengoperasi ini – itu bentuk wajahnya, yang hidung kurang mancunglah, yang mata kurang belok lah, yang kulit kurang putih lah, yang alis kurang tebal lah…rela berjuta-juta uang untuk merubah apa yang telah di ciptakan oleh Allah. Dengan alasan keperluan dunia entertainment, tidak perlu sampai mengoperasi wajah berulang-ulang, apalagi untuk menyamai wajah sempurnya si “BARBIE” (jadi inget mainan Icha anaku) Sayang…sayang sekali, padahal itu original dari sang pencipta, sangat disayangkan kita merubah-rubahnya. Akan lebih bijaksana bila kita merawatnya, seputar merawat dan selama ada dana lebih jauh-jauh bermanfaat, karena merawat yang sudah diberikan Nya juga merupakan salah satu cara kita bersyukur (tapi jangan berlebihan dalam mengkonsumtif).

Apabila Attitude rasanya Allah tidak menganugerahi sifat yang buruk pada umatnya, jadi mudah-mudahan kita istiqomah tetap di jalan Nya. Sadar sekali pasti banyak sisi buruk atas sikap yang ada pada diri kita. Rasa iri, marah, dengki, pelit, tidak mau kalah, curang, tidak jujur bersemayam dalam diri kita yang timbul tenggelam karena situasi dan kondisi. Mungkin hanya iman, agama yang akan mengendalikan kita untuk mensiasati sikap-sikap buruk yang bersemayam. Dengan sholat (bagi kaum muslim), berdoa jadi kita bisa mengendalikan diri kita. Memahami bener bahwa kita kadang cenderung melakukan kesalahan didorong rasa tidak mau terkalahkan dengan orang lain, mencoba berpikir lebih jernih dan lebih jujur dari dalah hati? Jujur apakah kita sebenernya salah atau benar? Sebenernya hati yang terdalam yang paling dalam dan murni tahu itu “jujur atau tidak?” maknya akan sangat baik jika kita mempunyai masalah kita merenung untuk mereview dan berbicara dengan hati kita lebih dalam, sudah jujurkah kita…? Dengan masalah kita? Sudahkah kita berdamai dengan hati nurani kita. Apalagi jika menyangkut dengan orang-orang terdekat seperti dalam keluarga…rasanya sikap BEREMPATI coba kita memahami andai kita di posisi mereka…Akankah kita juga bersikap seperti itu…? Hal ini membuat kita lebih mudah menerima dan memaafkan orang lain jika melakukan kesalahan kepada kita.

Tulisan ini hanyalah mereview kembali…mungkin di bulan Ramadhan ini…dengan lebih bersyukur akan fisik yang sudah di anugerahi dari Allah, kesehatan, sikap dan mau memahami orang lain akan lebih menjadikan kita pribadi yang lebih sabar, lebih bersyukur dan lebih memberi akan orang lain…Amin…Amin Ya Rabil ‘alamin.

Selamat Menunaikan Ibadah Puasa…semoga kembali ke Fitrah….

Kejiwaan

Membuka Hati

Oleh: Sulaiman Budiman (Dari buku Ubah Slogan Menjadi Tindakan)

“Amatilah sesuatu dengan hati, bukan hanya dengan mata atau pikiran.”

Konon pada jaman dahulu, di sebuah desa terdapat sebuah kuil yang menyimpan seribu genta yang kemudian tenggelam bersamaan dengan bencana banjir besar yang menimpa desa tersebut.  Menurut cerita penduduk desa tersebut, pada saat-saat tertentu mereka sering mendengar suara genta itu berbunyi dengan indah dari dasar sungai.

Berita itu pun menyebar ke berbagai pelosok desa, sehingga akhirnya sampai ke telinga seorang pemuda yang merasa penasaran dan ingin membuktikan sendiri kebenaran cerita tersebut. Suatu hari pemuda itu berjalan menyusuri tepi sungai dan mencoba untuk mendengarkan suara gema tersebut.

Namun, setelah berhari-hari menunggu, ia tidak mendengar apa pun, yang ada hanya suara katak dan jangkrik dari sela-sela rerumputan yang tumbuh di sepanjang tepi sungai tersebut. Akhirnya, ia curiga bahwa itu semua kabar bohong yang disampaikan oleh orang-orang iseng dan tidak bertanggung jawab. Ia memutuskan untuk kembali pulang ke desanya dan mulai melupakan tentang keindahan suara genta genta yang diceritakan orang.

Anehnya, ketika ia hendak melangkahkan kakinya, tiba-tiba dari dasar sungai terdengar suara yang merdu dan lembut, bersahut sahutan laksana suara para malaikat dari surga yang tengah menyanyikan tembang kehidupan. Mendengar suara merdu itu, ia menjadi sangat terharu, air matanya tiba-tiba menetes membasahi pipinya.

Ia pun bersujud mengucap syukur dan memanjatkan doa atas kebesaran Tuhan yang telah menciptkan segala keindahan di alam semesta ini.

Dalam kehidupan ini, kita sering kali memaksakan diri untuk mendapatkan semua yang kita inginkan, tetapi kita sering kali kecewa karena tidak memperoleh apa yang kita inginkan. Namun, ketika kita berserah diri dan membuka hati untuk mendengarkan, kita malah mendapatkan semua yang kita inginkan.