Kisah Inspiratif

Kisah Inspiratif : Ayah Terima Kasih

Sumber Kisah Inspiratif : LINKINSPIRATIF

Tak ada kata yang pantas terucap untukmu ayah. Mungkin engkau bukan orang terdekat. Mungkin engkau juga bukan yang selalu berada disampingku, saat aku bahagia, kecewa bahkan saat aku bersedih hingga meneteskan air mata.

Saat anak-anak pergi sekolah dengan ayahnya yang juga pergi bekerja, kita tidak pernah melakukanya karena kau yang harus berangkat lebih dulu saat matahari belum menampakan cahayanya.

Saat anak-anak menunggu kepulangan ayahnya untuk bermain bersama, tidak dengan aku yang selalu terlelap saat menunggu kepulanganmu yang begitu larut. Andai dapat ku beli waktu kerjamu kala itu, aku rela membayarnya dengan uang jajanku untuk bisa bermain bersamamu.

Kita mungkin bukan pasangan yang baik. Kau sibuk dengan urusanmu, sedangkan aku bermain dengan semua khayalanku.

Saat aku mulai tumbuh besar, kita mulai punya waktu untuk bersama. Tapi bukan untuk bermain melainkan melakukan pekerjaan yang tidak aku inginkan. Seolah kau menindasku, aku jadi tidak suka denganmu. Aku membenci semua tentangmu. Kau marahi aku jika melakukan pekerjaan yang tidak sesuai dengan maumu. Kau buat aku merasa lemah dengan ucapan-ucapan kasarmu. Ingin rasanya kau segera tiada dari duniaku, mengakhiri semua penderitaan dalam kehidupanku.

Pernah sekali aku menyalahkanmu atas apa yang terjadi dalam hidupku. Kusadari kau menangis saat ku terbangun sejenak dari tidur lelapku. Lama setelah itu, kupandangi wajahmu saat tertidur lelap, terbayang kerja keras yang kau lakukan untuk membesarkanku. Terbayang letih yang tersimpan dalam dirimu atas kerja keras yang kau lakukan untuk memenuhi kebutuhanku. Seakan tak tahu apa jadinya diri ini jika tanpa kehadiranmu. Tak ingin rasanya kehilanganmu dari sisiku.

Kini aku telah dewasa. Tumbuh menjadi seorang pemuda mandiri yang juga tidak dapat melupakan kasih sayang keluarganya. Kau ajarkan aku menjadi seorang yang siap menjalani kerasnya hidup tanpa melupakan kelembutan hati. Kau ajarkan padaku bagaimana menjadi pribadi yang kuat tanpa melupakan setiap orang punya kelemahan. Kau tanamkan padaku mencapai keberhasilan tanpa melupakan kalau setiap orang pasti pernah mengalami kegagalan. Kau buat aku berdiri di jalan yang penuh dengan hambatan dan rintangan agarku dapat menaklukan kerasnya kehidupan. Kau jadikan aku sebagai seorang pemimpin yang sanggup memimpin dirinya sebelum mempunyai kesempatan untuk memimpin orang lain. Dan yang jauh lebih penting dari itu semua adalah kau membuat aku merasa bangga atas semua yang telah kau lakukan untukku.

Karena itulah, aku selalu berdoa ”semoga Tuhan selalu memberi yang terbaik untukmu”
Untuk setiap detak yang terjadi dalam nadi dan jantungku, hatiku berkata ”Terima Kasih Ayah”

Advertisements
Kisah Inspiratif

Tetanggaku Chinese

Saya share dari e-mail yang masuk ke inbox from makmun13@yahoo.com. Indahnya persahabatan tanpa memandang etnic, andai semua orang seperti ini tak akan ada peperangan dan pertengkaran. Peace the word….

 

Tetanggaku Chinese

“Ma……..Mama, Bu Mita udah pulang!” celoteh yang biasa kudengar setiap kali aku baru pulang mengajar dan baru mau membuka pintu pagar. Rumah yang terletak di hadapan rumahku itu selalu ramai dengan celoteh anak-anak kecil, si kembar dan si bungsu. Ketiganya laki-laki semua.

Aku menengok dan tertawa melihat celoteh mulut-mulut kecil itu. Mereka berebutan naik ayunan bahkan celah-celah pagar untuk bisa mengintipku dari balik pagar yang ditutupi fiberglass.

“Iya, kenapa sayang? Ibu masuk dulu, ya?” Aku menyahut sambil membuka pagar.

“Ibu capek ya? Habis ngajar ya?” ah, anak itu sebenarnya santun. Pasti kalimat itu ditirunya dari sang mama. Biasanya sang Mama berada di dalam sambil membaca majalah atau menonton televisi. Papanya masih berdagang di pasar Kecapi, wilayah Pondok Gede, sebuah toko emas miliknya sendiri.

Siang itu, terik matahari meruapkan hawa panas pada tekanan atmosfir yang begitu pengap, menggigit seluruh permukaan kulitku, membuat suhu tubuhku meningkat. Bajuku basah di bagian punggung dan dada oleh keringat yang mengucur deras. Hal pertama yang ingin kulakukan adalah segera masuk ke kamar dan melucuti seluruh pakaian dinasku. Seperti biasanya aku langsung berbaring sambil menikmati udara dingin dari AC kamarku yang sudah dinyalakan oleh anak sulungku yang tiba lebih dulu dari sekolahnya di sebuah SMP di bilangan Halim, Jakarta. Jika sudah begini, aku tak bisa mendengar kicauan bocah-bocah itu dengan jelas, karena jendela tertutup rapat.

Ya. Sebuah keluarga Tionghoa tinggal persis di hadapan rumahku. Keluarga kecil bahagia sejahtera. Terdengar klise, tapi ini fakta. Mareka pandai berbaur dengan lingkungan pribumi. Suami istri itu tak pernah memikirkan perbedaan warna kulit, mata, agama diantara kami. Aku muslim, berjilbab dan ia berpakaian biasa. Ia sering mengajakku pergi kemanapun yang kami inginkan kebetulan aku bisa menyetir mobil dan ia belum lancar berkendara di jalan raya. Dari itulah kami saling membutuhkan sebagai teman bercerita selama perjalanan yang biasanya kami tempuh berdua. Ke mal-mal seputar Jakarta bahkan ke Bandungpun kami tempuh sendiri, tanpa dampingan laki-laki, suamiku maupun suaminya. Ia menungguiku melaksanakan sholat di Mushalla mal. Kadang pula kami pergi bersama dengan anak-anak kami.

Bocah-bocah itu, si kembar laki-laki yang sangat lucu berusia 5 tahun dan adik bungsunya yang baru 2,5 tahun. Mereka bergaul dengan keluargaku tanpa memandang bahwa aku berkulit gelap bermata bulat lebar, artinya tidak sipit dan berkulit putih seperti keluarga mereka. Akupun tidak merasa canggung bergaul dengan mereka, karena keterbukaan mereka (atau keterbukaanku juga?) dalam bertegur sapa.

Setiap pagi kudengar suara-suara ribut mereka berceloteh riang hendak berangkat ke sekolahnya, sebuah TK di sekitar perumahan kami. Bahkan pada sore hari, ketika mereka sedang bermain di jalanan depan rumah, terdengar suara mereka dengan bahasa Indonesia yang sangat lancar. Kadang mengetuk-ngetuk pintu pagarku sekedar untuk mengadukan kenakalan adik atau kakaknya. Maklum lingkunganku adalah perumahan kelas menengah, BTN bertipe 45 yang sederhana.

“Pak Kardi…..Pak Kardi………..Tian belum mandi!” Atau, “Pak Kardi……..Pak Kardi………….Christoper main becek-becekan nih, gak mau pake sandal!” Aku tersenyum lucu. Meski yang dipanggil-panggil adalah suamiku, aku juga yang menyahut karena suamiku belum pulang dari kantor.

“Ayooo………..siapa yang gak mau mandi? Bukan anak pintar kalau gak mau mandi!” barulah yang disebut tadi buru-buru masuk pagar rumahnya, dan bilang,

“Aku mau mandi, aku mau mandi!” sambil terbirit-birit masuk dengan tidak bercelana.

Mamanyapun kadang kewalahan menghadapi kenakalan anak-anak itu. Bagiku, anak-anak tetaplah anak-anak. dengan kelincahan dan kepolosan tingkahnya tanpa dipengaruhi dunia pikiran orang dewasa. Tak peduli Cina, Jawa, Ambon, Batak atau Belanda sekalipun. Aku senang karena mereka memelihara wibawaku sebagai Ibu Guru. Mamanya selalu menekankan pada mereka bahwa aku adalah Ibu Guru.
“Awas lo, ada Bu Guru. Nanti mama bilangin ke Bu Guru!” begitu bila didapatinya anak-anaknya sulit makan ketika disuapi. Biasanya mereka menurut dan terbirit-birit masuk rumah dengan berteriak…………
“Bu Mita…………aku mau mandi!” sambil terbirit-birit masuk rumah dengan tertawa riang. Jika mereka sudah mandi, mereka akan memberikan laporan singkat padaku
“Bu……..Toper sudah mandi. Tian juga ! “ Dengan senang hati aku tertawa mendengar perbincangan mereka dari teras rumahku. Aku sama sekali tidak terusik dengan kehadiran mereka, karena mereka adalah tetangga yang menyenangkan dan tak terlalu usil pada tetangga sekitar.

Ci’ Abuy, begitu aku memanggil ibu dari si kembar, Christian dan Christoper, adalah sosok yang lugu. Tak terlalu bangga dengan ke-Cinaannya dan tak terlalu perduli tentang perbedaan etnis ini. Suatu hari aku mampir ke rumahnya sepulang mengajar, bercerita banyak hal tentang kejadian di sekolahku. Kutanyai anak-anak itu, “Ayo……..mana bukunya, Ibu mau lihat, sudah belajar apa saja? Sudah bisa nyanyi apa?” Mereka tertawa girang berebutan mengambil tas masing-masing dan menyerahkan buku-buku tulisnya padaku.

“Ini…….ini! Kokoh sudah sampai huruf sa pu! ” Si Kakak menghambur kehadapanku membolak-balik bukunya. Adiknya berebut menyela “Ini…..ini. Dedek sudah sampai sini!” ditunjuknya deretan huruf sa pi.

Aku tertawa mengamati buku-buku mereka. Kusuruh mereka menyanyi satu persatu bergantian, lagu-lagu TK yang biasa dinyanyikan anak-anak sekolah. Mereka segara menyanyikan lagu Pelangi-pelangi, Taman Kanak-kanak, Naik Kereta Api, dan sebagainya. Ah…….mereka lancar membawakan lagu-lagu itu. Lidahnya bukan lidah Cina, meski agak samar pengucapan huruf “r” nya.

Dengan wajah tulus aku bertepuk tangan ketika mereka selesai menyanyi. Kuberikan soal hitungan di buku mereka masing-masing, berebutan mereka menjawab adu cepat. Sambil tertawa-tawa bangga akan dinilai oleh Bu Guru yang sebenarnya bukan gurunya. Kunilai juga keduanya dengan angka seratus dengan tanda tanganku dibawahnya. Mereka kegirangan dan berebutan duduk disebelahku. Berbagai permen dan makanan disuguhkan padaku. Aku tertawa terpingkal-pingkal. Kubilang, “Tidak nak……Ibu sudah kenyang!”

Pernah suatu hari anakku yang bungsu berulang tahun. Seperti biasanya aku membuatkan nasi kuning dan kukirimkan pada tetangga sekitar, tanpa merayakannya dengan pesta di rumah. Hanya kusisipkan kata-kata dalam secarik kertas dari komputer bahwa hari ini 15 Desember Qonita berusia 7 tahun. Disertai tulisan permohonan ucapan doa dari tetangga sekitar sebagai penutup pada kartu ucapan itu..

Dua hari setelah itu Ci’ Abuy bertandang ke rumahku. Ia amat menyesal tidak dapat membantuku. Dengan ekspresi kecewa ia ungkapkan penyesalannya karena tak membantu. Yah, memang menurutku tak perlu memberi kabar karena aku terbiasa memasak sendiri apalagi dengan lauk yang tak banyak macam.

“Ibu kok gak ngasih tahu saya. ‘Kan saya bisa bantuin masak. Kok diam-diam sih?” ujarnya

“Ah, Cuma masak sedikit Ci’! Gampang kok, aku takut ngerepotin kalau minta bantuan!” jawabku tersenyum.

Ia biasa ringan tangan. Jika ia tidak sedang pergi kemana-mana kalau di RT ku ada acara khusus dan kami masak banyak, ia tidak berat hati terjun membantu meski bersimbah peluh di dapur siapapun. Padahal kulit putihnya yang bersih dan wajahnya yang cantik (agak sedikit di bawah Gong Li), sering kuanggap tak patut belepotan masakan dan berbau bumbu. Begitulah keakraban kami dalam bertetangga dengannya. Karena sikap dan pembawaannya, tak ada tetangga lainnya yang merasa keberatan dengan kehadirannya di wilayah kami atau bersikap aneh dan tertutup menghadapinya. Karena kutahu ia memang asyik dalam bergaul. Tidak pernah ada masalah dengan siapapun.

Pagi belum saja beranjak ketika suamiku menerima surat penempatan tugas di kota lain. Ya, kami harus pindah ke kota S. Ci’ Abuy begitu kaget mendengar kami akan pindah rumah.

Setelah rumah kami laku terjual dan pekan depan akan ditempati oleh orang lain. Kami segera siap-siap berkemas. Seluruh perabotan rumah sudah kami paketkan sedikit demi sedikit, tinggal furniture yang akan berangkat dengan truk bersamaan dengan kami di mobil lainnya.

Selama sepekan Ci’ Abuy membantuku membereskan barang-barang kami. Tetangga sekitar sudah kupamiti dan kumintakan ma’af jika keluarga kami banyak berbuat khilaf dan menyakitkan mereka. Tentu saja semua tetangga terperangah. Betapa tidak!

Kami menempati rumah ini sejak anak keduaku berusia 6 bulan sampai saat ini, sudah kelas V SD. Semua merasa kehilangan dengan kepergianku. Teman akrab maupun yang kurang akrab, tetangga baru maupun lama, dengan karakter yang berbeda-beda semua pasti akan meninggalkan kenangan manis, atau pahit sekalipun dan tak terlupakan di benak masing-masing.

Tahukah mengapa aku ceritakan semua ini? Tak lebih karena tetangga Cina-ku itu selalu menangis setiap kali membantuku mengepak barang-barangku, seolah kami memang sudah berpisah.

“Ya Ampuun……..Bu Mita, kenapa harus pergi sih? Saya jadi sedih, gak punya teman yang bisa diajak ngobrol..” Isaknya dengan hidung memerah menahan tangis. Dari tadi kulihat ia menahan sedu sedannya.

“Nanti siapa lagi yang bisa ngawasin Kokoh Dedek. Mereka cuma menurut sama Bu Mita. Ya Ampun Dedek….Kokoh………Bu Mita mau pindah! Kita gak bisa ketemu lagi deh….” suaranya lirih sambil menengok anak-anaknya.

Si Kembar Kokoh dan Dedek terbengong-bengong di samping mamanya yang sedang memasang-masang lak ban buat menutup dus buku-bukuku. Mereka tak mengerti bagaimana harus bersikap. Tapi kutahu mereka sedih, menatapku dengan termangu dan pandangan mata memelas. Aku menangis juga. Kupeluki anak itu satu persatu. Meski jilbabku bersimbah keringat karena mondar-mandir berjongkok dan berdiri mengurusi barang-barang dan airmata di pipiku berlinangan, Kokoh dan Dedek tak perduli. Kedua bocah itu memelukku erat. Si Bungsu Ah Se (Lexi) memandang adegan itu dengan bengong. Ia belum mengerti toh usianya baru 2 tahun.
“ Ci’………nanti kita telepon-teleponan ya. Jangan sampai putus hubungan. Sekali sekali mainlah ke sana!” Wanita cantik itu mengusap air matanya lagi!

Esoknya, pagi-pagi sekali selepas Subuh kami akan berangkat. Beberapa tetanggaku menunggui keberangkatan kami. Kusuruh anakku mencium tangan mereka semua, satu persatu. Suamiku memeluk bapak-bapaknya dan aku memeluk ibu-ibunya satu persatu. Semua terisak mengucapkan selamat jalan. Yang paling menyisakan kenangan bagiku adalah pribadi Ci’ Abuy. Ia diam-diam menitipkan masakannya yang merupakan makanan favoritku.
“Buat bekal di jalan Bu. Gak pake B lho!” ujarnya. Tentu saja aku tahu karena ia tak doyan B meski Cina. Duh, jam berapa ia bangun dan memasak untuk kami? Aku makin terharu. Kusambut paket itu. Berat amat! Tapi aku simpan juga. Nanti di jalan baru aku buka jika kami ingin makan. Ci’ menangis melambaikan tangannya ketika kami berangkat pelan-pelan. Akupun begitu. Christopher dan Christian si kembar belum bangun, Lexi si bungsu juga masih terlelap, toh pagi itu masih gelap.

Selang satu jam ketika hari sudah terang, diperjalanan aku membuka dus berat berisi makanan yang masih hangat itu. Ada fuyung hai dengan saus khasnya, kailan cah sapi dan nasi putih cukup untuk berlima. Semua diletakkan dalam wadah rapat. Ups, dibawah wadah makanan ada dus rapi terbungkus kertas kado rapat sekali. Kuangkat bungkusan itu. Berat juga! Tak sabar kubuka bungkusnya, aha, rupanya dua buah buku tebal-tebal. Dia tahu aku senang membaca). Satu berjudul La Tahzan yang terkenal itu, satunya lagi kisah cinta Nabi Muhammad dengan Khadijah dengan cover tebal berwarna pink. Kedua-duanya cukup mahal bagiku.

Betapa girang hatiku! Kupeluki kedua buku itu. Ia masih ingat, waktu itu ketika aku ajak dia ke toko buku, aku ingin sekali membeli kedua buku itu, namun aku meletakkannya kembali di rak buku, tidak jadi. Uangku sudah tak cukup, karena kubelikan novel-novel sastra dan psikologi. Sepanjang perjalanan pulang dari toko buku itu aku berceloteh tentang betapa bagusnya buku itu,
“Sayang uangku sudah habis untuk membeli buku-buku ini Ci’ !” keluhku saat itu ketika baru keluar dari tempat parkir. Ah, rupanya adegan itu ia ingat dalam-dalam.
Ia belikan kedua buku itu untukku sebagai kenang-kenangan. Tak peduli bahwa buku-buku itu adalah buku-buku Islam. Ikatan batin antara kami begitu kuat meski kami berbeda etnis. Aku membatin dalam hati, pasti Tuhan punya cara tersendiri untuk membalas ketulusannya. Ketulusan Ci’ Abuy, tetangga Cinaku itu……………

Jakarta, 26 Desember 2006

Kisah Inspiratif

Jangan Ngambek Berkepanjangan Terhadap Orang Yang Kamu Kasihi

 Bagi yang sudah pernah baca, kuluangkan waktu untuk sekali baca lagi…

Ini true story (diceritakan oleh Lu Did dan di edit oleh Lian Shu Xiang) kiriman teman Aileen Amanda.

Sebuah salah pengertian yang menghancurkan sebuah rumah tangga. Tatkala nilai akhir sebuahkehidupan sudah terbuka,tetapi segalanya sudah terlambat.  Membawa nenek utk tinggal bersama menghabiskan masa tuanya bersama kami,malah telah menghianati ikrar cinta yg telah kami buat selama ini,setelah 2 tahun menikah,saya dan suami setuju menjemput nenek di kampung utk tinggal bersama .Sejak kecil suami saya telah kehilangan ayahnya,dia adalah satu-satunya harapan nenek nenek pula yg membesarkannya dan menyekolahkan dia hingga tamat kuliah.

Saya terus mengangguk tanda setuju,kami segera menyiapkan sebuah kamar yg menghadap taman untuk nenek,agar dia dapat berjemur,menanam bunga dan sebagainya.

Suami berdiri d idepan kamar yg sangat kaya dgn sinar matahari,tidak sepatah katapun yg terucap tiba-tiba saja dia mengangkat saya dan memutar-mutar saya seperti adegan dalam film India dan berkata :”Mari,kita jemput nenek di kampung”.

Suami berbadan tinggi besar,aku suka sekali menyandarkan kepalaku ke dadanya yg bidang,ada suatu perasaan nyaman dan aman disana.Aku seperti sebuah boneka kecil yg kapan saja bisa diangkat dan dimasukan kedalam kantongnya.Kalau terjadi selisih paham diantara kami,dia suka tiba-tiba mengangkatku tinggi-tinggi diatas kepalanya dan diputar-putar sampai aku berteriak ketakutan baru diturunkan.Aku sungguh menikmati saat-saat seperti itu.

Kebiasaan nenek di kampung  tidak berubah.Aku suka sekali menghias rumah dengan bunga segar,sampai akhirnya nenek tidak tahan lagi dan berkata kepada suami:”Istri kamu hidup foya-foya ,buat apa beli bunga?Kan bunga tidak bisa dimakan?”

Aku menjelaskannya kepada nenek:”Ibu,rumah dengan bunga segar membuat rumah terasa lebih nyaman dan suasana hati lebih gembira.

“Nenek berlalu sambil mendumel,suamiku berkata sambil tertawa:”Ibu,ini kebiasaan orang kota,lambat laun ibu akan terbiasa juga.”

Nenek tidak protes lagi,tetapi setiap kali melihatku pulang sambil membawa bunga,dia tidak bisa menahan diri untuk bertanya berapa harga bunga itu,setiap mendengar jawabanku dia selalu mencibir sambil menggeleng-gelengkan kepala.Setiap membawa pulang barang belanjaan,dia selalu tanya itu berapa harganya ,ini berapa. Setiap aku jawab,dia selalu berdecak dengan suara keras.Suamiku memencet hidungku sambil berkata:”Putriku,kan kamu bisa berbohong.Jangan katakan harga yang sebenarnya.” Lambat laun,keharmonisan dalam rumah tanggaku mulai terusik.

Nenek sangat tidak bisa menerima melihat suamiku bangun pagi menyiapkan sarapan pagi untuk dia sendiri,di mata nenek seorang anak laki-laki masuk ke dapur adalah hal yang sangat memalukan.Di meja makan,wajah nenek selalu cemberut dan aku sengaja seperti tidak mengetahuinya.Nenek selalu membuat bunyi-bunyian dengan alat makan seperti sumpit dan sendok,itulah cara dia protes.

Aku adalah instrukstur tari,seharian terus menari membuat badanku sangat letih,aku tidak ingin membuang waktu istirahatku dengan bangun pagi apalagi disaat musim dingin.Nenek kadang juga suka membantuku di dapur,tetapi makin dibantu aku menjadi semakin repot,misalnya;dia suka menyimpan semua kantong-kantong bekas belanjaan,dikumpulkan bisa untuk dijual katanya.Jadilah rumahku seperti tempat pemulungan kantong plastik,dimana-mana terlihat kantong plastik besar tempat semua kumpulan kantong plastik.

Kebiasaan nenek mencuci piring bekas makan tidak menggunakan cairan pencuci,agar supaya dia tidak tersinggung,aku selalu mencucinya sekali lagi pada saat dia sudah tidur.Suatu hari,nenek mendapati aku sedang mencuci piring malam harinya,dia segera masukke kamar sambil membanting pintu dan menangis.Suamiku jadi serba salah,malam itu kami tidur seperti orang bisu,aku coba bermanja-manja dengan dia,tetapi dia tidak perduli.Aku menjadi kecewa dan marah.”Apa salahku?” Dia melotot sambil berkata:”Kenapa tidak kamu biarkan saja? Apakah memakan dengan pring itu bisa membuatmu mati?”

Aku dan nenek tidak bertegur sapa untuk waktu yg cukup lama,suasana mejadi kaku.Suamiku menjadi sangat kikuk,tidak tahu harus berpihak pada siapa? Nenek tidak lagi membiarkan suamiku masuk ke dapur,setiap pagi dia selalu bangun lebih pagi dan menyiapkan sarapan untuknya,suatu kebahagiaan terpancar di wajahnya jika melihat suamiku makan dengan lahap,dengan sinar mata yang seakan mencemohku sewaktu melihat padaku,seakan berkata dimana tanggung jawabmu sebagai seorang istri?

Demi menjaga suasana pagi hari tidak terganggu,aku selalu membeli makanan diluar pada saat berangkat kerja.Saat tidur,suami berkata:”Lu di,apakah kamu merasa masakan ibu tidak enak dan tidak bersih sehingga kamu tidak pernah makan di rumah?” sambil memunggungiku dia berkata tanpa menghiraukan air mata yg mengalir di kedua belah pipiku.Dan dia akhirnya berkata:”Anggaplah ini sebuah permintaanku,makanlah bersama kami setiap pagi.”Aku mengiyakannya dan kembali ke meja makan yg serba canggung itu.

Pagi itu nenek memasak bubur,kami sedang makan dan tiba-tiba ada suatu perasaan yg sangat mual menimpaku,seakan-akan isi perut mau keluar semua.Aku menahannya sambil berlari ke kamar mandi,sampai disana aku segera mengeluarkan semua isi perut.Setelah agak reda,aku melihat suamiku berdiri didepan pintu kamar mandi dan memandangku dengan sinar mata yg tajam,diluar sana terdengar suara tangisan nenek dan berkata-kata dengan bahasa daerahnya.Aku terdiam dan terbengong tanpa bisa berkata-kata.Sungguh bukan sengaja aku berbuat demikian!

Pertama kali dalam perkawinanku,aku bertengkar hebat dengan suamiku,nenek melihat kami dengan mata merah dan berjalan menjauh suamiku segera mengejarnya keluar rumah.

Menyambut anggota baru tetapi dibayar dengan nyawa nenek.

Selama 3 hari suamiku tidak pulang ke rumah dan tidak juga  meneleponku.Aku sangat kecewa,semenjak kedatangan nenek di rumah ini,aku sudah banyak mengalah,mau bagaimana lagi?Entah kenapa aku selalu merasa mual dan kehilangan nafsu makan ditambah lagi dengan keadaan rumahku yang kacau,sungguh sangat menyebalkan.Akhirnya teman sekerjaku berkata:”Lu Di,sebaiknya kamu periksa ke dokter.”Hasil pemeriksaan menyatakan aku sedang hamil.Aku baru sadar mengapa aku mual-mual pagi itu.Sebuah berita gembira yg terselip juga kesedihan.Mengapa suami dan nenek sebagai orang yg berpengalaman tidak berpikir sampai sejauh itu?

Di pintu masuk rumah sakit aku melihat suamiku,3 hari tidak bertemu dia berubah drastis,muka kusut kurang tidur,aku ingin segera berlalu tetapi rasa iba membuatku tertegun dan memanggilnya.Dia melihat ke arahku tetapi seakan akan tidak mengenaliku lagi,pandangan matanya penuh dengan kebencian dan itu melukaiku.Aku berkata pada diriku sendiri,jangan lagi melihatnya dan segera memanggil taksi.Padahal aku ingin memberitahunya bahwa kami akan segera memiliki seorang anak.Dan berharap aku akan diangkatnya tinggi-tinggi dan diputar-putar sampai aku minta ampun tetapi mimpiku tidak menjadi kenyataan.Didalam taksi air mataku mengalir dengan deras.Mengapa kesalah pahaman ini berakibat sangat buruk?

Sampai di rumah aku berbaring di ranjang memikirkan peristiwa tadi,memikirkan sinar matanya yg penuh dengan kebencian,aku menangis dengan sedihnya.Tengah malam,aku mendengar suara orang membuka laci,aku menyalakan lampu dan melihat dia dgn wajah berlinang air mata sedang mengambil uang dan buku tabungannya.Aku menatapnya dengan dingin tanpa berkata-kata.Dia seperti tidak melihatku saja dan segera berlalu.Sepertinya dia sudah memutuskan utk meninggalkan aku.Sungguh lelaki yg sangat picik,dalam saat begini dia masih bisa membedakan antara cinta dengan uang.Aku tersenyum sambil menitikan air mata.

Aku tidak masuk kerja keesokan harinya,aku ingin secepatnya membereskan masalah ini,aku akan membicarakan semua masalah ini dan pergi mencarinya di kantornya.Di kantornya aku bertemu dengan seketarisnya yg melihatku dengan wajah bingung.”Ibunya pak direktur baru saja mengalami kecelakaan lalu lintas dan sedang berada di rumah sakit.Mulutku terbuka lebar.Aku segera menuju rumah sakit dan saat menemukannya,nenek sudah meninggal.Suamiku tidak pernah menatapku,wajahnya kaku.Aku memandang jasad nenek yg terbujur kaku.Sambil menangis aku menjerit dalam hati:”Tuhan,mengapa ini bisa terjadi?”

Sampai selesai upacara pemakaman,suamiku tidak pernah bertegur sapa denganku,jika memandangku selalu dengan pandangan penuh dengan kebencian.Peristiwa kecelakaan itu aku juga tahu dari orang lain,pagi itu nenek berjalan ke arah terminal,rupanya dia mau kembali ke kampung.Suamiku mengejar sambil berlari,nenek juga berlari makin cepat sampai tidak melihat sebuah bus yg datang ke arahnya dengan kencang.Aku baru mengerti mengapa pandangan suamiku penuh dengan kebencian.Jika aku tidak muntah pagi itu,jika kami tidak bertengkar, jika dimatanya,akulah penyebab kematian nenek.

Suamiku pindah ke kamar nenek,setiap malam pulang kerja dengan badan penuh dengan bau asap rokok dan alkohol.Aku merasa bersalah tetapi juga merasa harga diriku terinjak-injak.Aku ingin menjelaskan bahwa semua ini bukan salahku dan juga  memberitahunya bahwa kami akan segera mempunyai anak.Tetapi melihat sinar matanya,aku tidak pernah menjelaskan masalah ini.Aku rela dipukul atau dimaki-maki olehnya walaupun ini bukan salahku.Waktu berlalu dengan sangat lambat.Kami hidup serumah tetapi seperti tidak mengenal satu sama lain.Dia pulang makin larut malam.Suasana tegang didalam rumah.

Suatu hari,aku berjalan melewati sebuah café,melalui keremangan lampu dan kisi-kisi jendela, aku melihat suamiku dengan seorang wanita didalam.Dia sedang menyibak rambut sang gadis dengan mesra.Aku tertegun dan mengerti apa yg telah terjadi.Aku masuk kedalam dan berdiri di depan mereka sambil menatap tajam kearahnya.Aku tidak menangis juga tidak berkata apapun karena aku juga tidak tahu harus berkata apa.Sang gadis melihatku dan ke arah suamiku dan segera hendak berlalu.Tetapi dicegah oleh suamiku dan menatap kembali ke arahku dengan sinar mata yg tidak kalah tajam dariku.Suara detak jangtungku terasa sangat keras,setiap detak suara seperti suara menuju kematian.Akhirnya aku mengalah dan berlalu dari hadapan mereka,jika tidak mungkin aku akan jatuh bersama bayiku dihadapan mereka.

Malam itu dia tidak pulang ke rumah.Seakan menjelaskan padaku apa yang telah terjadi.Sepeninggal nenek,rajutan cinta kasih kami juga sepertinya telah berakhir.Dia tidak kembali lagi ke rumah,kadang sewaktu pulang ke rumah,aku mendapati lemari seperti bekas dibongkar.Aku tahu dia kembali mengambil barang-barang keperluannya.Aku tidak ingin menelepon dia walaupun kadang terbersit suatu keinginan untuk menjelaskan semua ini.Tetapi itu tidak terjadi, semua berlalu begitu saja.

Aku mulai hidup seorang diri,pergi check kandungan seorang diri.Setiap kali melihat sepasang suami istri sedang check kandungan bersama,hati ini serasa hancur.Teman-teman menyarankan agar aku membuang saja bayi ini,tetapi aku seperti orang yg sedang histeris mempertahankan miliknya.Hitung-hitung sebagai pembuktian kepada nenek bahwa aku tidak bersalah.

Suatu hari pulang kerja,aku melihat dia duduk didepan ruang tamu.Ruangan penuh dengan asap rokok dan ada selembar kertas diatas meja,tidak perlu tanya aku juga tahu surat apa itu.2 bulan hidup sendiri,aku sudah bisa mengontrol emosi.Sambil membuka mantel dan topi aku berkata kepadanya:”Tunggu sebentar,aku akan segera menanda tanganinya”.Dia melihatku dengan pandangan awut-awutan demikian juga aku.Aku berkata pada diri sendiri,jangan menangis,jangan menangis.Mata ini terasa sakit sekali tetapi aku terus bertahan agar air mata ini tidak keluar.Selesai membuka mantel,aku berjalan ke arahnya dan ternyata dia memperhatikan perutku yg agak membuncit.Sambil duduk di kursi,aku menanda tangani surat itu dan menyodorkan kepadanya.”Lu di,kamu hamil?” Semenjak nenek meninggal,itulah pertama kali dia berbicara kepadaku.Aku tidak bisa lagi membendung air mataku yg menglir keluar dengan derasnya.Aku menjawab:”Iya,tetapi tidak apa-apa.Kamu sudah boleh pergi”.Dia tidak pergi,dalam keremangan ruangan kami saling berpandangan.Perlahan-lahan dia membungkukan badanya ke tanganku,air matanya terasa menembus lengan bajuku.Tetapi di lubuk hatiku,semua sudah berlalu,banyak hal yg sudah pergi dan tidak bisa diambil kembali.

Entah sudah berapa kali aku mendengar dia mengucapkan kata:”Maafkan aku,maafkan aku”.Aku pernah berpikir untuk memaafkannya tetapi tidak bisa.Tatapan matanya di cafe itu tidak akan pernah aku lupakan.Cinta diantara kami telah ada sebuah luka yg menganga.Semua ini adalah sebuah akibat kesengajaan darinya.

Berharap dinding es itu akan mencair,tetapi yang telah berlalu tidak akan pernah kembali.Hanya sewaktu memikirkan bayiku,aku bisa bertahan untuk terus hidup.Terhadapnya,hatiku dingin bagaikan es,tidak pernah menyentuh semua makanan pembelian dia,tidak menerima semua hadiah pemberiannya tidak juga berbicara lagi dengannya.Sejak menanda tangani surat itu,semua cintaku padanya sudah berlalu,harapanku telah lenyap tidak berbekas.

Kadang dia mencoba masuk ke kamar untuk tidur bersamaku,aku segera berlalu ke ruang tamu,dia terpaksa kembali ke kamar nenek.Malam hari,terdengar suara orang mengerang dari kamar nenek tetapi aku tidak perduli.Itu adalah permainan dia dari dulu.Jika aku tidak perduli padanya,dia akan berpura-pura sakit sampai aku menghampirinya dan bertanya apa yang sakit.Dia lalu akan memelukku sambil tertawa terbahak-bahak.Dia lupa,itu adalah dulu,saat cintaku masih membara,sekarang apa lagi yg aku miliki?

Begitu seterusnya,setiap malam aku mendengar suara orang mengerang sampai anakku lahir.Hampir setiap hari dia selalu membeli barang-barang perlengkapan bayi,perlengkapan anak-anak dan buku-buku bacaan untuk anak-anak.Setumpuk demi setumpuk sampai kamarnya penuh sesak dengan barang-barang.Aku tahu dia mencoba menarik simpatiku tetapi aku tidak bergeming.Terpaksa dia mengurung diri dalam kamar,malam hari dari kamarnya selalu terdengar suara pencetan keyboard komputer.Mungkin dia lagi tergila-gila chatting dan berpacaran di dunia maya pikirku.Bagiku itu bukan lagi suatu masalah.

Suatu malam di musim semi,perutku tiba-tiba terasa sangat sakit dan aku berteriak dengan suara yg keras.Dia segera berlari masuk ke kamar,sepertinya dia tidak pernah tidur.Saat inilah yg ditunggu-tunggu olehnya.Aku digendongnya dan berlari mencari taksi ke rumah sakit.Sepanjang jalan,dia mengenggam dengan erat tanganku,menghapus keringat dingin yg mengalir di dahiku.Sampai di rumah sakit,aku segera digendongnya menuju ruang bersalin.Di punggungnya yg kurus kering,aku terbaring dengan hangat dalam dekapannya.Sepanjang hidupku,siapa lagi yg mencintaiku sedemikian rupa jika bukan dia?

Sampai dipintu ruang bersalin,dia memandangku dengan tatapan penuh kasih sayang saat aku didorong menuju persalinan,sambil menahan sakit aku masih sempat tersenyum padanya.Keluar dari ruang bersalin,dia memandang aku dan anakku dengan wajah penuh dengan air mata sambil tersenyum bahagia.Aku memegang tanganya,dia membalas memandangku dengan bahagia,tersenyum dan menangis lalu terjerambab ke lantai.Aku berteriak histeris memanggil namanya.

Setelah sadar,dia tersenyum tetapi tidak bisa membuka matanya aku pernah berpikir tidak akan lagi meneteskan sebutir air matapun untuknya,tetapi kenyataannya tidak demikian,aku tidak pernah merasakan sesakit saat ini.Kata dokter,kanker hatinya sudah sampai pada stadium mematikan,bisa bertahan sampai hari ini sudah merupakan sebuah mukjijat.Aku tanya kapankah kanker itu terdeteksi? 5 bulan yg lalu kata dokter,bersiap-siaplah menghadapi kemungkinan terburuk.Aku tidak lagi perduli dengan nasehat perawat,aku segera pulang ke rumah dan ke kamar nenek lalu menyalakan komputer.

Ternyata selama ini suara orang mengerang adalah benar apa adanya,aku masih berpikir dia sedang bersandiwara. Sebuah surat yg sangat panjang ada di dalam komputer yg ditujukan kepada anak kami.”Anakku,demi dirimu aku terus bertahan,sampai aku bisa melihatmu.Itu adalah harapanku.Aku tahu dalam hidup ini,kita akan menghadapi semua bentuk kebahagiaan dan kekecewaan,sungguh bahagia jika aku bisa melaluinya bersamamu tetapi ayah tidak mempunyai kesempatan untuk itu.Didalam komputer ini,ayah mencoba memberikan saran dan nasehat terhadap segala kemungkinan hidup yg akan kamu hadapi.Kamu boleh mempertimbangkan saran ayah.

“Anakku, selesai menulis surat ini,ayah merasa telah menemanimu hidup selama bertahun –tahun. Ayah sungguh bahagia.Cintailah ibumu, dia sungguh menderita,dia adalah orang yg paling mencintaimu dan adalah orang yg paling ayah cintai”. Mulai dari kejadian yg mungkin akan terjadi sejak TK,SD,SMP,SMA sampai kuliah,semua tertulis dengan lengkap didalamnya.Dia juga menulis sebuah surat untukku.

“Kasihku, dapat menikahimu adalah hal yg paling bahagia aku rasakan dalam hidup ini.Maafkan salahku,maafkan aku tidak pernah memberitahumu tentang penyakitku.Aku tidak mau kesehatan bayi kita terganggu oleh karenanya.Kasihku,jika engkau menangis sewaktu membaca surat ini,berarti kau telah memaafkan aku.Terima kasih atas cintamu padaku selama ini.Hadiah-hadiah ini aku tidak punya kesempatan untuk memberikannyapada anak kita.Pada bungkusan hadiah tertulis semua tahun pemberian padanya”.

Kembali ke rumah sakit,suamiku masih terbaring lemah.Aku menggendong anak kami dan membaringkannya diatas dadanya sambil berkata:”Sayang,bukalah matamu sebentar saja,lihatlah anak kita.Aku mau dia merasakan kasih sayang dan hangatnya pelukan ayahnya”.Dengan susah payah dia membuka matanya,tersenyum anak itu tetap dalam dekapannya,dengan tanganya yg mungil memegangi tangan ayahnya yg kurus dan lemah.Tidak tahu aku sudah menjepret berapa kali momen itu dengan kamera di tangan sambil berurai air mata.

Teman2 terkasih,aku sharing cerita ini kepada kalian,agar kita semua bisa menyimak pesan dari cerita ini.Mungkin saat ini air mata kalian sedang jatuh mengalir atau mata masih sembab sehabis menangis,ingatlah pesan dari cerita ini :”Jika ada sesuatu yg mengganjal di hati diantara kalian yg saling mengasihi,sebaiknya utarakanlah jangan simpan didalam hati.Siapa tau apa yg akan terjadi besok? Ada sebuah pertanyaan:Jika kita tahu besok adalah hari kiamat,apakah kita akan menyesali semua hal yg telah kita perbuat? atau apa yg telah kita ucapkan? Sebelum segalanya menjadi terlambat,pikirlah matang2 semua yg akan kita lakukan sebelum kita menyesalinya seumur hidup.

Kisah Inspiratif

Kisah bijak dari China

Kisah Bijak Dari China

Seorang Guru berkumpul dengan murid-muridnya. Lalu beliau mengajukan 6 pertanyaan :

– Pertanyaan 1 :

Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini ?  Muridnya ada yang menjawab :

“orang tua”, “guru”, “teman”, “kerabatnya”.

Ternyata yang paling dekat dengan kita adalah “kematian”. Sebab kematian adalah pasti adanya.

– Pertanyaan 2 :

Apa yang paling jauh  dari diri kita di dunia ini ?

Muridnya ada yang menjawab : “negara Cina”, “bulan”, “matahari”.

Ternyata yang paling benar adalah “masa lalu”. Siapa pun kita,

bagaimana pun kita dan betapa kayanya kita,  tetap kita tidak bisa kembali ke masa lalu.

Sebab itu kita harus menjaga hari ini, hari-hari yang akan datang.

– Pertanyaan 3 :

Apa yang paling besar di dunia ini ?

Muridnya ada yang menjawab “gunung”, “bumi”, “matahari”.

Ternyata yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah”nafsu”.

Banyak manusia menjadi celaka karana menuruti hawa nafsunya.

Segala cara dihalalkan demi mewujudkan impian nafsu duniawi karena

itu kita harus hati-hati  dengan hawa nafsu ini.

– Pertanyaan 4 :

“Apa yang paling berat di dunia ini ?”.

 Di antara muridnya ada yang menjawab : “baja”, “besi”, “gajah”.

Ternyata yang paling berat adalah “memegang janji”.

– Pertanyaan 5 :

“Apa yang paling ringan di dunia ini ?”.

Ada yang menjawab “kapas”,”angin”, “debu”, “daun-daun”.

Ternyata  yang paling ringan di dunia ini adalah”meninggalkan ibadah”.

– Lalu pertanyaan 6 : “Apakah yang paling tajam di dunia ini ?.

Muridnya menjawab dengann serentak… “pedang !”

Ternyata yang paling tajam adalah “lidah manusia” karena melalui lidah,

manusia dengan mudahnya menyakiti hati, melukai perasaan !

” I hear and I forget. I see and I remember. I do and I understand.

Thanks for sharing sahabat Mimi

Nice Day!

Kisah Inspiratif

Young Lady and Her Wishes

rom : Nugroho ( accjkt@tresnamuda.co.id)

Kisah ini adalah kisah nyata karena saya membacanya dari majalah Fortune.

Judulnya : Young and Pretty Lady wishes to marry a rich guy & jawaban fantastic dari seorang ahli keuangan :

Seorang wanita memposting sebuah pertanyaan melalui forum terkenal dengan bertanya : “Apakah yang harus saya lakukan agar dapat menikah dengan pria kaya?”

Saya akan jujur dengan apa yang saya katakana.saya berusia 25 tahun, saya sangat cantik, bergaya dan memiliki selera yang tinggi. Saya berharap menikah dengan pria kaya berpenghasilan pertahun $500 ribu (+/- 5.5M) atau lebih.

Anda mungkin akan berkata kalau saya termasuk perempuan materialistis, tapi kelompok penghasilan s.d 1 juta masih termasuk kelas menengah di NY.

Permintaan saya tidak setinggi itu , adakah pria di forum ini yang berpenghasilan $500 ribu per tahun? Apakah anda semua telah menikah? Saya ingin bertanya apa yang harus aku lakukan untuk dapat dengan menikah orang-orang seperti anda?

Diantara pria yang pernah berpacaran denganku, yang terkaya hanya berpenghasilan $250 ribu dan kelihatannya ini batas tertinggi yang pernah saya capai. Jika seseorang ingin pindah ke perumahan mewah di wilayah barat NY Garden, penghasilan $250 ribu tentu tidak cukup.

Beberapa hal yang ingin saya tanyakan :

    1. Dimanakah kebanyakan para pria kaya bertemu & berkumpul ? Mohon nama dan alamat bar, restaurant dan gym yang sering dikunjungi?
    2. Rentang usia berapakah yang dapat memenuhi criteria saya?
    3. Kenapa wajah istri0istri orang kaya terkesan biasa-biasa saja? Saya telah bertemu dengan beberapa gadis yang tidak cantik dan menarik tapo mereka bisa menikah dengan pria kaya?
    4. Apa pertimbangan anda dalam menentukan istri dan siapakah yang bisa menjadi pacar anda?

Terus terang tujuan saya sekarang adalah menikah.

Terima Kasih

Gadis Jelita

Dan inilah jawaban dari seorang ahli keuangan dari Wall Street Financial

Dear Gadi Jelita,

Saya membaca email anda dengan antusias, saya yakin sebenarnya banyak gadis-gadis yang memiliki pertanyaan senada dengan anda. Ijinkan saya untuk menganalisa anda dari sudut pandang seorang investor professional. Penghasilan tahunan saya lebih dari $500 ribu yang tentu memenuhi criteria anda. Jadi saya harap setiap orang percaya bahwa jawaban saya cukup kredibel dan tidak membuang waktu.

Dari sudut pandang pebisnis, menikah dengan anda adalah keputusan yang buruk.

Jawabannya sangat sederhana dan akan saya jelaskan, kesampingkan dulu detil-detil yang anda tanyakan. Sebenarnya apa yang ingin anda lakukan adalah pertukaran antara “kecantikan” dan “uang”.

Si A akan menyediakan kecantikan dan si B akan membayar kecantikan tersebut. Kelihatannya cukup adil dan wajar. Tapi ada permasalahan fatal di sini. Kecantikan anda akan sirna, tapi uang saya tidak akan hilang tanpa alas an yang jelas.

Faktanya adalah mungkin uang saya akan meningkat dari tahun ke tahun, tapi anda tidak akan bertambah cantik tiap tahunnya. Karena itu dari sudut pandang ekonomi : saya adalah asset yang ter-apresiasi sedangkan anda adalah asset yang ter-depresiasi.

Depresiasi yang anda alami bukan depresiasi normal, tapi depresiasi eksponensial.Jika hanya ini asset anda nilai anda akan sangat mencemaskan 10 tahun kemudian.

Dengan menggunakan istilah yang kami gunakan di Wall Street setiap perdagangan memiliki posisi.

Berpacaran dengan anda juga memiliki “posisi perdagangan”.

Jika nilai asset yang didagangkan menurun, maka kami akan menjualnya.

Bukan ide yang baik untuk mempertahankannya, begitu juga dengan pernikahan yang anda inginkan .Saya sangat kejam untuk berkata seperti ini, tapi untuk membuat keputusan bijak, asset yang menurun nilainya akan dijual atau disewa.

Pria dengan penghasilan $500 ribu tentu bukan orang yang bodoh. Kami akan berpacaran dengan anda, tapi kami tidak akan menikahi anda.

Saran saya lupakan mencari petunjuk bagaimana cara menikahi pria kaya. Usahakan agar anda dapat membuat diri anda kaya dengan berpenghasilan $500 ribu, lebih berpeluang dari pada mencari pria kaya yang bodoh.

Semoga jawaban saya dapat membantu.

Tertanda

JP Morgan

Illustration source : google

Re-publish : 6 Sep 14:54

Beberapa Menaggapi :

1. Supriyadi Joko Tarub : hehehehe . . . inspiratif bagi perempuan yang belum sadar. Bahwa kecantikan, kekayaan hanya titipan (tidak abadi) saja, jika tidak bisa mengelola dan menjaga akan sia-sia belaka.

Balasan : hmm..betul terima kasih buat kunjungannya salam kompasiana

2. showcross : sangat inspiratifff

Kisah Inspiratif

Stop Violence of Child!

Sungguh mengharukan……

 

Sepasang suami isteri – seperti pasangan lain di kota-kota besar  meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah sewaktu bekerja. Anak  tunggal pasangan ini, perempuan cantik berusia tiga setengah tahun.  Sendirian ia di rumah dan kerap kali dibiarkan pembantunya karena sibuk  bekerja di dapur. Bermainlah dia bersama ayun-ayunan di atas buaian yang  dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga dan lain-lain di halaman  rumahnya.

Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dan ia pun mencoret lantai  tempat mobil ayahnya diparkirkan , tetapi karena lantainya terbuat dari  marmer maka coretan tidak kelihatan. Dicobanya lagi pada mobil baru  ayahnya. Ya… karena mobil itu bewarna gelap, maka coretannya tampak  jelas. Apalagi anak-anak ini pun membuat coretan sesuai dengan  kreativitasnya.

Hari itu ayah dan ibunya bermotor ke tempat kerja karena ingin  menghindari macet. Setelah sebelah kanan mobil sudah penuh coretan maka  ia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya,  gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut  imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh si pembantu  rumah.

Saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami istri itu melihat mobil  yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran yang masih lama  lunasnya. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus  menjerit, “Kerjaan siapa ini !!!” …. Pembantu rumah yang tersentak  engan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah  adam ketakutan lebih-lebih melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi  diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan ‘ Saya tidak  tahu..tuan.” “Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?”  hardik si isteri lagi.

Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari  kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata “Dita yg membuat gambar itu  ayahhh.. cantik…kan!” katanya sambil memeluk ayahnya sambil bermanja  seperti biasa.. Si ayah yang sudah hilang kesabaran mengambil sebatang  ranting kecil dari pohon di depan rumahnya, terus dipukulkannya  berkali-kali ke telapak tangan anaknya . Si anak yang tak mengerti apa  apa menagis kesakitan, pedih sekaligus ketakutan.

Puas memukul telapak  tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya.

Sedangkan Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas  dengan hukuman yang dikenakan. Pembantu rumah terbengong, tidak tahu  harus berbuat apa… Si ayah cukup lama memukul-mukul tangan kanan dan  kemudian ganti tangan kiri anaknya. Setelah si ayah masuk ke rumah  diikuti si ibu, pembantu rumah tersebut menggendong anak kecil itu,  membawanya ke kamar.

Dia terperanjat melihat telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil  luka-luka dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu.  Sambil menyiramnya dengan air, dia ikut menangis. Anak kecil itu juga  menjerit-jerit menahan pedih saat luka-lukanya itu terkena air. Lalu si  pembantu rumah menidurkan anak kecil itu. Si ayah sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokkan harinya, kedua belah  tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu ke majikannya. “Oleskan  obat saja!” jawab bapak si anak.

Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang  menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si ayah konon mau memberi  pelajaran pada anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah  menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu, meski setiap hari  bertanya kepada pembantu rumah. “Dita demam, Bu”…jawab pembantunya  ringkas. “Kasih minum panadol aja ,” jawab si ibu.

Sebelum si ibu masuk  kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Dita  dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya.

Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu  badan Dita terlalu panas. “Sore nanti kita bawa ke klinik.. Pukul 5.00  sudah siap” kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah  dibawa ke klinik.

Dokter mengarahkan agar ia dibawa ke rumah sakit  karena keadaannya susah serius. Setelah beberapa hari di rawat inap  dokter memanggil bapak dan ibu anak itu. “Tidak ada pilihan..” kata  dokter tersebut yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong  karena sakitnya sudah terlalu parah dan infeksi akut…”Ini sudah  bernanah, demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya

harus  dipotong dari siku ke bawah” kata dokter itu. Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti  berputar, tapi apa yg dapat dikatakan lagi.

Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si ayah bergetar tangannya menandatangani surat persetujuan pembedahan. Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan  habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga keheranan melihat kedua  tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian  ke wajah pembantu rumah.

Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua  menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan  air mata. “Ayah.. ibu… Dita tidak akan melakukannya lagi…. Dita tak  mau lagi ayah pukul. Dita tak mau jahat lagi… Dita sayang ayah..sayang  ibu.”, katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa  sedihnya. “Dita juga sayang Mbok Narti..” katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuat wanita itu meraung histeris.

“Ayah.. kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil.. Dita janji tidak  akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Dita mau makan nanti ?…  Bagaimana Dita mau bermain nanti ?… Dita janji tidak akan  mencoret-coret mobil lagi, ” katanya berulang-ulang. Serasa hancur hati  si ibu mendengar kata-kata anaknya.

Meraung-raung dia sekuat hati namun  takdir yang sudah terjadi tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah  jadi bubur. Pada akhirnya si anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa  kedua tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus  dipotong meski sudah minta maaf…Tahun demi tahun kedua orang tua  tersebut menahan kepedihan dan kehancuran bathin sampai suatu saat Sang  Ayah tak kuat lagi menahan kepedihannya dan wafat diiringi tangis penyesalannya yg tak bertepi…, Namun…., si Anak dengan segala  keterbatasan dan kekurangannya tersebut tetap hidup tegar bahkan sangat  sayang dan selalu merindukan ayahnya..

Kisah Inspiratif

Seorang Anak Kolong Jembatan Berkisah

Mataku nanar melihat orang-orang yang berpuasa itu kok rasanya beraaaat sekali, aduh lemas, waktu bukanya lama sekali….keluhan-keluhan mereka bukanlah apa-apa karena puasaku tidak hanya di bulan ini, puasa ku terlalu banyak aku lewati , kemarin-kemarin, sat ini dan waktu-waktu yang akan datang. Akan tahukah mereka penderitaan aku…, hari ini ada yang ku makan tapi besok, akankah sampah-sampah pungutan aku bertukar dengan sekepal nasi.

Aku si anak kolong jembatan, terlahir dari peristiwa kelam…andai aku bisa memilih…tidak mau aku dilahirkan dari rahim orang tua yang tidak jelas, yang hanya memenuhi nafsu syahwat semata… aku dibuang layaknya bungkus nasi yang isinya sudah mengenyangkan, buang aja bungkusnya!…sakit hatiku tersayat-sayat sembilu…sakit yang menjadi borok, yang tak bisa mengering lagi…otaku menghujat kepada Allah , ini tidaklah adil …kenapa musti aku yang menjadi anak terbuang dan bukan janin lain…

Allah ku…apa yang harus aku syukuri rasanya kemalangan, kemiskinan dan kepapan yang aku rasa…orang yang memungut aku dari bayi tidak memberikan sedikit saja kasih sayang layaknya orang tua mencintai anak kandungnya…aku dijadikan pekerja jalanan, memulung, mengamen dengan menahan rasa lapar yang amat sangat.

Ayah Bunda kemanakah kalian, teganya kalian membuang aku…?

Aku tidak peduli dengan status sosialku…jangan teruskan bicara status sosial tak ada yang peduli…Allah aku ingin seperti orang-orang didepanku ini…mereka lapar dan haus di Ramadhan ini saja, sebulan dengan imbalan kembali fitrah.

Salahkah aku dengan kemarahan ini Allah… aku harus bergelut dengan KAMTIB yang setiap saat mengintai, bernafsu menagkap pemulung-pemulung kecil, dikejar seperti anjing pesakitan, tak peduli darah mengucur dari kaki ku yang tertusuk-tusuk , lariiiii…ayah bunda dendamku semakin membara.

Rasanya tidak ada orang yang lebih malang dari aku…Allah dimanakah Kau berada, tidak adakah ruang nyaman untukku…Allah orang-orang didepanku dengan berpuasa 1 bulan lalu berlebaran denga pakain yang indah-indah, makanan yang berlimpah. Allah aku sudah berpuasa berbulan-bulan nasib aku tetap tidak lepas dari kejaran KAMTIB, rasa lapar, hina dan sakit.

Allah bukan lagi lebaran yang aku tunggu, karena itu hanyalah hari tiada makna buat ku, Allah mungkinkah yang terbaik ambilah nyawaku, peluklah aku ya Allah … karena satu keyakinanku hanya Engkaulah yang akan menghangatkan aku dari panas, dinginnya alam…

 

Beberapa hari kemudian…….

Ditemukan seorang anak kecil kira-kira berusia 10 tahun ditemukan terbujur kaku di kolong Jembatan Muara Serayu, diduga tetanus dan kelaparan. Dikakinya tertancap paku……tidak diketahui siapa keluarganya, karena sampai berita ini di turunkan tak satupun yang mengakui mengenalnya….

Catatan buat kita : Di atas langit masih ada langit, Perlu 1 bulan untuk menahan lapar, haus, nafsu amarah dan kedengkian ….kesulitan hidup yang sekarang kita rasakan… adalah sepenggal perjalanan, masih banyak di luar sana yang lebih-lebih susah, sengsara tidak hanya 1 bulan bahkan bertahun – tahun bahkan sampai akhir hayat….. Slamat Shaum….sucikan hati kita…. bersyukur, ikhlas akan lebih arif …..