Sejarah

Reportase Perundingan Linggarjati

COLOM : REPORTASE WIDYAWISATA (CERIA-240-1991)

PERUNDINGAN LINGGARJATI

Kita mengenal perundingan Linggarjati yang dilaksanakan pada tanggal 10 November 1946. Perundingan Linggarjati terjadi disebabkan, pada pertengahan bulan November 1945, cabinet Presidentil (Mohamad Hatta) diganti cabinet Parlementer (Sutan Syahrir). Melihat kenyataan kegoyahan keadaan di Indonesia yang sangat berbahaya jika tidak segera dilakukan penertiban, Sekutu yang bertanggung jawab atas kestabilan keadaan di Asia Tenggara, khususnya di Indonesia, segera mengambil langkah-langkah menyelesaikan persengketaan Indonesia Belanda melalui meja perundingan. Terjadinya perundingan Linggarjati di gedung Linggarjati yang terletak di kota Kuningan, kira-kira 30 cm dari kota Cirebon.

  • Tahun 1918, ditempat ini berdiri gubuk milik Jasitem.
  • Tahun 1921 oleh seorang Belanda bernama Tersana, gubuk itu di rombak jadi semi permanenen.
  • Tahun 1930 dibangun menjadi permanent dan menjadi runah tinggal Van Ost Dome (orang Belanda).
  • Tahun 1935, dikontrak oleh Heiker (orang Belanda) dan dijadikan hotel yang bernama Rustoord.
  • Tahun 1942 Jepang menjajah Indonesia dan hotel ini diganti menjadi Hokay Ryokan.
  • Tahun 1945 setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia hotel ini diberi nama Hotel Merdeka.
  • Tahun 1946 igedung ini berlangsung peristiwa bersejarah yaitu perundingan antara pemerintahan Indonesia dan pemerintahan Belanda yang menghasilkan naskah Linggarjati sehingga gedung ini sering disebut GEDUNG PERUNDINGAN LINGGARJATI.
  • Tahun 1948-1950, sejak aksi militer tentara II gedung ini dijadikan markas tentara Belanda.
  • Tahun 1950-1975 ditempati oleh Sekolah Dasar Negeri Linggarjati.
  • Tahun 1975 Bung Hatta dan Bung Syahrir berkunjung dengan membawa pesan bahwa gedung ini akan dipugar oleh Pertamina, tetapi usaha ini hanya sampai pembuatan bangunan sekolah untuk Sekolah Dasar Negeri Linggarjati.
  • Tahun 1976 gedung ini oleh pemerintah diserahkan kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan untuk dipugar dan dijadikan MEMORIAL.

Pertama kita memasuki gedung ini, akan kita lihat sebuah patung yang terdapat tulisan isi perjanjian hasil dari perundingan Linggarjati. Masuk ke dalam gedungnya akan kita jumpai foto-foto yang menceritakan peristiwa perundingan Linggarjati, foto-foto ini terpampang sepanjang tembok yang kita lewati . Di ruang terdepan merupakan kamar tidur Prof. Ir.Schermerhorn. Di depan ini terdapat dua buah tempat tidur disampingnya sebuah wastavel. Jendela-jendela terbuka lebar udara semilir segar masuk ke ruangan.

Dibelakang kamar tidur Prof. Ir.Schermerhorn, di sebelah kanannya terdapat tiga buah kamar yang ditempati oleh delegasi Indonesia. Dari tiga kamar tersebut bagian tengah merupakan ruang Doirama Miniatur, di dalam ruang ini terpampang, lapisan kuningan yang bertuliskan : Naskah Persetoedjoean Linggardjati yaitu (1) Linggardjati 10-15 November 1946, (2) Ditandatangani di Djakarta tanggal 25 Maret 1947.

Sedangkan di depan kamar yang ditempati delegasi Indonesia juga terdapat tiga kamar tidur yang di tempati oleh delegasi Belanda. Sampailah kita pada ruang terjadinya sidang. Pelaksanaan sidang dilakukan oleh delegasi Indonesia yang terdiri dari Sutan Syahrir, Mr Susanto Tirtoprodjo, Dr A.K Gani, Mr Moehamad Roem. Mereka duduk di bagian sebelah kiri, sebagai penengah kedua pihak adalah Lord Killearn. Sedangkan yang duduk di sebelah kanan adalah delegasi Belanda yang terdiri dari Prof.dr Shermerhorn, Dr Van Mook, Mr Van Pool, Dr F. De Boer dan sebagai saksi adalah Dr Leimena, Dr Soedarsono, Mr Amir Syarifudin, Mr Ali Budiardjo.

Ruang sidang ini berbentuk empat persegi panjang dan cukup luas. Sebelah kiri ruang sidang menuju belakang kita sampai keruang pertemuan antara Presiden Soekarno dengan Lord Killearn yang dilanjutkan akan menuju kamar Lord Killearn.

Dalam gedung terawat rapi ini terdapat kamar mandi beserta WC sebanyak empat buah, satu kamar sertika, satu ruang makan, tiga gudang.

Advertisements
Sejarah

Mengenal Pak Dirma Melalui Monumen

Jendral Soedirman lahir pada 24 Januari 1916 di Desa Bantar Barang, Rembang, KabupatenPurbalingga. Beliau diambil anak angkat oleh kakak ibunya yang menjabat Asisten Wedana, yang kemudian setelah pension pindah ke Cilacap.

Jendral Soedirman adalah pejuang, pemimpin yang sangat patut diteladanin. Cara hidupnya bersahaja; tidurpun dia lebih suka di lantai dengan selembar tikar. Tak ada kamus untuk manja dan berputus asa.

Salah satu keberhasilannya adalah ketika berhasil mengusir tentara sekutu dari Ambarawa dalam peristiwa “Palagan Ambarawa” yang waktu itu ia masih berpangkat kolonel.

Kemudian dilantik menjadi Panglima Besar. Sayang, tiga tahun kemudian menderita sakit dan harus menjalani opersai paru. Jendral Soedirman terpaksa hidup hanya dengan satu paru saja. Meskipun begitu semangatnya tidak pernah reda.Tetap tegar memimpin perang gerilya dengan berat.

Jendral Soedirman terus berjuang dengan gagah dan berani hingga wafatnya, 29 Januari 1950 di Yogyakarta.

Untuk mengenang dan menghargai jasa-jasanya, pemerintah mengabdikan namanya untuk nama jalan raya juga untuk nama universitas negeri di Purwokerto.

Selain itu didirikan juga bangunan-bangunan atau patung-patung. Salah satunya adalah monument tempat lahirnya beliau yang terletak di Desa Bantar Barang, Kecamatan Rembang Purbalingga.

Monumen berjarak sekitar 24 km dari kota Purbalingga dan dapat di tempuh 45 menit dengan kendraan umum dari terminal Purbalingga. Tentu saja akan lebih sedikit waktu yang diperlukan jika memakai kendaraan pribadi.

Sebenarnya ada dua jalur yang dapat kita tempuh untuk mencapai lokasi monument. Rute pertama jaraknya sekitar 40 km, yaitu Purbalingga – Bobotsari, Losari-Rembang. Sedangkan rute kedua jaraknya 24 km yaitu Purbalingga-Kaligondang-Pengadegan-Rembang. Rute kedua inilah yang lebih dekat, rute ini juga yang dapat ditempuh hanya dengan sekali bus dari terminal Purbalingga.

Begitu turun dari kendaraan, maka sudah tepat berada di depan kompleks monument, kesan pertama yang terasakan adalah sejuk dan lapang. Di depan bangunan monument ada lapangan rumput hijau yang luas dan banyak ditumbuhi pohon-pohon rindang di tepinya. Lapangan ini dibelah seruas jalan panjang lebih kurang 50 m yang menghubungkan jalan raya dengan gapura monument.

Sebelum mencapai gapura bisa ditemui sebuah kendaraan lapis baja, tank yang ditempatkan di gapura. Tank ini berwarna hijau lumut dan berkesan sangat aggah. Di sebelah kanan kiri tank berdiri dengan gagah pula dua buah meriam dengan warna senada.

Monumen tempat lahir Jendral Soedirman ini memang cukup luas. Untuk kompleks bangunan monumen saja luasnya 50 meter kali 100 meter, sedangkan luas keseluruhan berikut tanah lapangnya adalah 2 hektar.

Di kompleks bangunan monument yang diresmikan pada 21 Maret 1977 ini ada tiga bangunan utama. Rumah duplikat, mushola dan aula (balai pertemuan). Selain itu juga ada bangunan gudang dan kamar kecil. Bangunan-bangunan itu dikelilingi tembok yang tidak begitu tinggi dan diantara bangunan-bangunan itu ditata taman yang teratur dan indah.

Begitu melewati gapura, akan terlihat sebuah relief memanjang setinggi dua meter. Relief ini menceritakan tentang kehidupan Jendral Soedirman sejak lahir hingga wafatnya. Tertulis juga motto dari beliau : “Percayalah dan yakinlah bahwa kemerdekaan sebuah Negara yang didirikan diatas timbunan/runtuhan ribuan korban jiwa, harta, benda dari rakyat dan bangsanya tidak dapat dilenyapkan oleh manusia siapapun juga.”

Kemudian di belakang itu terdapat bangunan rumah duplikat. Bangunan ini terbuat dari kayu dan anyaman bambo dengan nuansa Jawa yang kental. Pada salah satu kamar dirumah Jendral Soedirman dilahirkan.

Disebelah kiri rumah duplikat terdapat bangunan aula (balai pertemuan), aula ini adalah sebuah bangunan terbuka yang juga bernapaskan Jawa. Selain ruang terbuka, ada dua buah ruang yang tertutup. Salah satunya dipergunakan sebagai ruang perpustakaan mini yang cukup lengkap. Ada ratusan buku dikoleksi disini, sebagian besar buku-buku tentang beliau.

Menurut pengelola monument, perpustakaan mini ini didirikan pada tahun 1983 atas inisiatif dan bantuan masyarakat Rembang yang hidup diperantauan. Tentu saja pada mulanya koleksi buku di perpustakaan ini tidak begitu banyak, namun kemudian jumlah koleksinya semakin bertambah karena mendapat bantuan dari berbagai pihak.

Tepat di depan aula terdapat patung Jendral Soedirman dalam pakain kepanduannya. Patung yang gagah diresmikan 23 Juni 1990 pada saat pembukaan Perkemahan Wirakarya Nasional 90 yang bertempat di lokasi monument tersebut.

Bangunan utama yang terakhir adalah mushola. Mushola ini terletak disebelah kanan rumah duplikat. Jendral Soedirman sering shalat di mushola ini jika kebetulan tidak sedang bergerilya atau ke Cilacap. Sampai sekarang mushola ini masih tetap terpakai, utamanya untuk pelaksanaan shalat Jumat warga sekitar monument.

Untuk terakhir, bolehlah kita kaji pesan dari Jendral Soedirman yang terdapat di ruang tempat beliau dilahirkan; “Janganlah bimbang dalam menghadapi macam-macam penderitaan karena makin dekat cita-cita kita tercapai makin berat penderitaan yang harus kita alamai.”


(ditulis kembali med 09082010-by nenny-hery w-ananto- SMAN 1 Purbalingga – pernah di muat di BERNAS-GEMA -17-10-1993)